Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 10:12:05 WIB
NASIONAL

Baru Sebulan Lalu Belanda Tahu Dalang Sesungguhnya

Kisah Pasukan M, Pelaku Pertempuran Laut Pertama dalam Sejarah RI

Padang Ekspres • Rabu, 05/12/2012 11:50 WIB • RIDLWAN H - Jakarta • 1086 klik

Almarhum Kol (Pur) Markadi.

Suatu hari pada April 1946, pasukan laut Indonesia yang diwakili Pasukan M (Markadi) berhasil memukul pasukan Belanda di perairan Bali. Itulah pertempuran laut pertama yang dimenangi pasukan Indonesia sejak kemerdekaan. Kisah heroik tersebut tertuang dalam buku berjudul Pasukan M yang menjadi kado Hari Armada 2012 hari ini.

 

WAJAH Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Soeparno tampak sangat semringah. Di pelataran gedung utama Mabes TNI-AL Cilangkap Senin lalu (3/12), orang nomor satu di Korps Baju Putih itu dengan antusias menyambut seorang ibu sepuh yang masih tampak anggun. Meski berjalan dengan perlahan, ibu itu mengumbar senyum kepada Soeparno. “Bagaimana kabarnya Ibu? Sehat selalu ya?” kata Soeparno.

 

Tangan laksamana asal Surabaya tersebut menjabat dengan erat. Ibu itu adalah Oni Markadi, istri almarhum Kolonel (pur) Markadi Pudji Rahardjo. Hari itu, keluarga Markadi memberikan bantuan hibah kepada keluarga besar TNI-AL.

 

Selain KSAL, tampak Wakil KSAL Laksamana Madya Mar­setio, Kadispenal Laksamana Pertama Untung Suropati, serta para pejabat teras TNI-AL. Ke­luarga Markadi memberikan dua unit ambulans dan pera­latan ICU untuk RSAL Min­tohardjo. “Bapak Markadi ada­lah senior dan pendahulu kami yang sangat berjasa bagi Ang­katan Laut,” ungkap Soe­parno.

 

Keluarga Markadi juga mem­biayai riset serta penulisan buku tentang Pasukan M, se­buah pasukan lintas laut yang ber_perang kali pertama di tengah laut dengan Belanda pada 1946. Soeparno dan Oni lantas melihat-lihat dua unit ambulans sambil berbincang akrab. “Kami berharap tidak ada anggota TNI-AL yang sampai masuk mobil ini ya. Jadi, semua harus sehat terus,” kata Oni.

 

Keluarga Markadi memang terus berupaya menjaga nama baik almarhum. Setiap tahun mereka mengadakan bakti sosial di Monumen Operasi Lintas Laut di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. “Kami harap per­juangan para pendahulu, para pahlawan, siapa saja itu, tidak dilupakan,” tegasnya.

 

Buku berjudul Pasukan M, Menang tak Dibilang, Gugur tak Dikenang diluncurkan pada Senin malam. Penulisan buku itu digagas Wakil KSAL Lak­sa­mana Madya TNI Marsetio pada medio 2012 dan ditulis Iwan Santosa serta Wenri Wanhar dengan editor Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Ka­dispenal) Laksamana Pertama TNI Untung Suropati.

 

Mereka melakukan riset ke berbagai tempat. Di antaranya, Jembrana (Bali), Denpasar, Banyuwangi, Lawang (Malang), Surabaya, serta riset sejarah dan kepustakaan ke Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH) Den Hague, Museum KNIL Bronbeek, Arnhem KITLV Leiden, serta Nederlands Ins­tituut voor Oorlog Docum­entatie (NIOD) Amsterdam.

 

Laksamana Soeparno me­nilai, Pasukan M adalah pasukan pertama yang paling berani melakukan operasi di tengah laut. “Sekarang bayangkan, melempar granat dalam jarak sangat dekat ke kapal Belanda. Itu butuh perhitungan yang sangat cermat dan berani,” ungkapnya.

 

Buku Pasukan M, lanjut dia, akan digunakan sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah TNI-AL. “Ilmu almarhum Kolonel Mar­kadi harus diturunkan ke ge­nerasi muda. Terutama tentang keberaniannya,” katanya.

 

Uniknya, Belanda baru tahu bahwa insiden April 1946 itu didalangi Kapten Markadi. “Itu baru mereka ketahui sebulan lalu setelah tim riset kami ke Belanda. Jadi, memang sangat hebat pasukan ini,” ujarnya.

 

Kadispenal Laksma Untung Suropati mengiyakan. “Benar. Saat kami ke Belanda, mereka baru tahu dan paham bahwa dalangnya adalah Kapten Mar­kadi,” katanya. Untung me­mi­mpin langsung tim yang mel­akukan riset ke Negeri Tulip itu.

 

Pasukan M adalah pasukan yang dibentuk untuk meny­elamatkan Bali yang diduduki tentara Sekutu. Pendaratan Sekutu di Bali dimulai pada Oktober 1945 di Kota Singaraja. Terjadi insiden penurunan ben­dera Merah Putih yang me­man­cing kemarahan pemuda se­tempat.

 

Saat Sekutu dan Belanda mendarat di Bali, Overstee (Let­kol) I Gusti Ngurah Rai sebagai perwira tertinggi Tentara Re­pub­lik Indonesia (TRI) untuk Sunda Kecil sedang berada di Yogyakarta guna berkonsultasi dengan Markas Besar TRI men­ge­nai pembinaan Resimen Sun­da Kecil dan cara-cara meng­hadapi Belanda. Pendaratan Sek­utu dan Belanda berlanjut hingga 3 Maret 1946.

 

Melihat gerak maju pasukan Sekutu dan Belanda di Bali, Resimen Sunda Kecil diperintah untuk menyiapkan serangan di Bali. Semula Overstee Ngurah Rai meminta persenjataan dari Markas TRI di Yogyakarta. Na­mun, akhirnya diputuskan dik­irim Pasukan Kapten Markadi dan Pasukan Kapten Albert Waroka. Mereka dikenal secara umum sebagai Pasukan M yang me­­ngadakan operasi amfibi pertama TNI melintasi Selat Bali dari titik keberangkatan Ban­yuwangi ke pantai barat Pulau Bali di sekitar Jembrana.

 

Dalam buku Pasukan M, mengutip kesaksian I Nyoman Nirba, salah seorang anggota Pasukan M yang masih hidup, dikisahkan Kapten Markadi mempersiapkan pasukan secara serius. Anak buahnya secara disiplin berlatih untuk meni­ngkatkan keterampilan, mulai pertempuran perorangan hi­ngga operasi pendaratan.

 

­Mantan komandan Kompi Polisi Tentara (Provos) TRI Laut Malang tersebut hendak me­mastikan sendiri ke­berhasilan operasi dengan me­ngikuti pela­yaran survei meda­n bersama personel ALRI Pangkalan X Banyuwangi. Bah­kan, seminggu sebelum pendaratan, dia me­ngir­imkan empat tim inteli­jen untuk mengumpulkan in­for­masi pantai pendaratan, baik kon­disi geografis terutama tem­pat-tempat yang aman unt­uk pendaratan maupun kondisi sosial politik masyarakat serta kekuatan, penempatan, dan patroli pasukan Belanda.

 

Sehari sebelum hari H, Ka­pten Markadi masih mengirim beberapa anak buahnya ke Bali. Mereka ditugaskan menjadi pemandu untuk menuntun pe­ndaratan rekan-rekannya begitu perahu-perahu Pasukan M su­dah terlihat dari pantai. Kodenya berupa api berbentuk segi tiga. Jadi, bila pasukan pendarat melihat api berbentuk segi tiga, berarti pantai itu aman didarati.

 

Sejumlah literatur meny­ebutkan, Markadi meng­hu­bungkan tanggal penye­berangan itu dengan hari lahirnya, yaitu 9 April 1927. Tampaknya, perwira muda tersebut bermaksud me­rayakan ulang tahunnya yang ke-19 di Bali. Sore menjelang ma­lam pada 4 April 1946, Pa­sukan M bergerak dari asrama Su­kowidi ke embarkasi Pela­buhan Boom Banyuwangi. Sebagian ber­jalan menyusuri te­pi pantai, sebagian lagi bergerak lew­at jalan besar sambil be­rpura-pura berlatih perang-pe­rangan. Itu dilakukan untuk mengelabui ma­ta-mata Belanda yang diper­kirakan berada di Banyuwangi.

 

Namun upaya mengelabui Belanda tidak berhasil. Malahan terjadi pertarungan heroik berla­ng­sung kira-kira 15 menit. Per­tem­puran disebut-sebut sebagai pertempuran laut pertama yang dimenangi angkatan perang Indonesia setelah proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam pertem­pu­ran tersebut, korban dari Pa­sukan M adalah satu orang gu­gur atas nama Sumeh Darsono dan satu orang mengalami luka tembak, yaitu Tamali.

 

Markadi lahir pada 9 April 1927 dengan nama lengkap Markadi Pudji Rahardjo. Karena Restrukturisasi dan Rasio­na­lisasi (RERA) TNI 1948, Mar­kadi yang semula pentolan Angkatan Laut mau tak mau menjadi Angkatan Darat. Dia wafat pada 21 Januari 2008 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

 

“Itulah jiwa besar beliau. Sebagai prajurit, walau be­rangkat dari TNI-AL, karena negara memerintahkan, beliau bersedia berpindah baju,” ungkap Laksma Untung Su­ropati. (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!