Rabu, 23 April 2014 - 22 Jumadil Akhir 1435 H 15:02:48 WIB
RAKYAT SUMBAR

Burung Murai Terancam Punah

Akibat Perburuan dan Penjualan Ilegal Solok, Padekā€”Populasi berĀ¬bagai jenis burung berkicau teran

Padang Ekspres • Sabtu, 01/12/2012 11:58 WIB • • 1764 klik

Solok, Padek—Populasi ber­bagai jenis burung berkicau terancam punah. Hal itu dise­babkan maraknya penang­kapan ilegal di sejumlah ka­wasan di Kabupaten Solok. Yang paling banyak diburu adalah jenis kacer hitam putih alias murai kampung (cop­sychus saularis).

 

Menurut warga, sudah dua tahun jarang terdengar bunyi kicauan burung murai di areal perkebunan maupun hutan. Burung lainnya seperti cendet, pentet alias burung paek-paek keluarga turdidae, kutilang, branjangan, serta berebah di lembah, juga jarang terdengar kicauannya.        

 

Para peburu dengan ber­bagai peralatan terus mengi­n­car satwa bernilai ekonomis itu. Dari penuturan sejumlah peburu burung, satu ekor mu­rai kampung yang baru dida­pat bisa dipasarkan minimal Rp 100 ribu.  

 

Selain murai, jenis burung berkicau lainnya seperti cucak hijau alias murai daun ber­topeng hitam, robin, cucak jenggot yang lazim berhabitat di dalam hutan, juga terancam punah. Murai batu sebagai salah-satu endemik Sumatera di hutan Kabupaten Solok kian langka.

 

“Burung berkicau bernilai tinggi sekarang sudah sulit dijumpai. Meskipun ada, sa­ngat sedikit jumlah­nya. Se­perti di hutan Hilirangumanti, Tigolurah, dan hutan belahan utara sekitar Kecamatan X Koto Diatas, kondisinya sama saja,” ujar Solin,40, salah-seorang pemikat burung da­lam perbincangannya dengan Padang Eksres, Selasa (27/11).

 

Pemikat burung yang ber­pengalaman ini menjelaskan, dari sekian banyak jenis bu­rung berkicau yang paling diminati konsumen adalah varietas burung berkicau pen­dendang, angresif, dan ber­birahi tinggi. Biasanya varietas ini kerap berpopulasi di pe­dalaman hutan dengan arena bermain paling disukai adalah pohon-pohon besar dan tinggi. Terlebih bila ada pohon besar sedang berbuah, biasanya me­ngun­dang banyak jenis burung untuk bermain di sana.

 

Selain di pepohonan tinggi, keluarga burung berkicau juga suka berhabitat di lembah-lembah yang dibawahnya me­ngalir anak sungai.  

 

Dari pengamatan Solin yang mengaku telah 10 tahun menekuni  pemikat burung, ternyata pekicau di areal lem­bah suka mencelupkan badan ke air di saat pukul 12.00 siang. “Untuk menangkapnya, perlu kesabaran dan strategi khusus sembari mengandalkan bu­rung pikat sejenis,” imbuhnya.

 

Ketua Himpunan Peles­tarian Hutan Andalan (HPHA) Sumbar, Syafrizal Ben m­e­ngatakan, menurunnya jumlah populasi burung hingga di ambang kepunahan, dise­bab­kan kurang agresifnya instansi terkait dalam melaksanakan fungsi pengawasan. Semen­tara penangkapan tanpa kon­trol terus terjadi, sejalan kian meningkatnya jumlah pecandu burung berkicau di berbagai daerah.

 

“Mengantisipasi kondisi terburuk, instansi berwenang perlu melakukan penangkaran satwa liar/dilindungi, serta memperkuat jaringan kerja sama dengan organisasi terkait lainnya. Bila tidak diantisipasi, murai kampung suatu saat bakal langka,” jelasnya. (t)

 

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Lokomotif tanpa Gerbong

KEPUTUSAN Ketua Umum Partai Persatuan Pem­ba­ngu­nan (PPP) Suryadharma Ali (SDA) berkoalisi dengan Partai Gerindra tanpa syarat, ternyata berbuntut panjang.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Rabu ,23 April 2014

18 Caleg Incumbent Lolos

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai...........................!

 

Kepsek Pemukul Siswa jadi Tersangka

Proses sesuai hukum, Pak polisi...................................!

 

DPRD Pessel Diisi Wajah Baru

Lah tibo lo masonyo mah..............................!