Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 13:12:31 WIB
RAKYAT SUMBAR

Penambang Emas Liar Menghilang

Tokoh Masyarakat se-Dharmasraya Bahas Tambang Liar

Padang Ekspres • Jumat, 30/11/2012 09:25 WIB • Z ANITA & HIJRAH ADI SUKRIAL • 1107 klik

-

Dharmasraya, Padek—Se­telah bentrokan polisi dan penambang emas liar terjadi Sabtu-Minggu (23-24/11) lalu, aktivitas penambangan emas langsung berhenti. Para pe­nambang ilegal menghilang. Hanya ada kapal dan dompeng yang ditinggalkan penambang di lokasi eksploitasi. 

 

Polres Dharmasraya meng­klaim sejak insiden itu, akti­vitas penambangan di Dhar­masraya menurun drastis. Tidak hanya di Sitiung V, na­mun juga di sepanjang aliran Batang Hari.

 

“Kita bertekad Dhar­mas­raya benar-benar ber­sih dari aktivitas pe­nam­bangan ilegal,” te­gas Kapolres Dhar­masraya AKBP Chairul Aziz didampingi Kasat Reskrim Iptu La­zuar­di, kemarin (29/11).

 

Menurut Chairul, sejak penertiban di Aurjaya yang berakhir rusuh, aktivitas pe­nambangan emas liar menu­run drastis. Para penambang menghentikan ak­ti­vitas penambangan dengan sendirinya, yang sebelumnya ma­in kucing-kucingan dengan aparat. “Mi­salnya, saat pener­tiban di Muara Mo­mong di aliran Batang Hari. Beberapa hari ini tidak ada aktivitas penambangan. Ha­nya ada kapal-kapal lanting yang kosong. Kita menyita mesin-mesin kapal  10 unit dan peralatan lainnya, sementara tersangka nihil, karena se­muanya sudah melarikan diri,” ungkap Chairul Aziz.

 

Begitu juga di Kecamatan Kotobaru. Kapolsek Kotobaru AKP Yana J Widya mengklaim tidak menemukan seorang pun penambang. “Petugas hanya menemukan satu set mesin keong,” ucap Yana.

 

Selain menertibkan pe­nambangan liar, Polres Dhar­masraya terus mengem­bang­kan kasus penyanderaan Ka­pol­res di Aurjaya. Bersamaan dengan itu, Polres Dhar­mas­raya terus melakukan pemu­lihan psikis atau trauma warga Sitiung V Jorong Aurjaya, Kenagarian Kotopadang Keca­matan Kotobaru.

 

Bupati dan muspida juga mendatangi lokasi tersebut.

 

Bupati Adi Gunawan dan Wakil Bupati Syafruddin R, disambut gembira anak-anak SD 16 Aurjaya yang   terpaksa meliburkan diri karena trau­ma. Saat itu, bupati mengi­ngatkan warganya tidak me­lakukan penambangan liar. Dia meminta warga bekerja pada sektor perkebunan se­perti semula. “Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan semua sudah berakhir. Jangan lagi ada aktivitas penambangan liar. Jika masih ada, saya orang pertama yang tampil sebagai panglima memberantas akti­vitas tersebut. Cukup sudah yang terjadi selama ini dan saya tidak ingin lagi hal itu terulang. Banyak dampak ne­ga­tif yang ditimbulkan akibat aktivitas pertambangan liar,” tegas Adi Gunawan.

 

Pada kesempatan itu, war­ga meminta jaminan keama­nan dan kenyamanan pada bupati. “Sejak tragedi Sabtu-Minggu lalu, kami takut tinggal di rumah. Makanya tadi ma­lam kami lari mengungsi. Pa­dahal hujan deras. Ada juga yang lari ke hutan-hutan?” kata salah seorang warga yang diamini warga lainnya.

 

Menjawab keluhan itu, Adi Gunawan mengingatkan war­ga tidak mudah terprovokasi dengan berbagai isu yang ingin Dharmasraya ricuh. Bapak-bapak dan ibu-ibu aman, tidak ada penyerbuan oleh masya­rakat lain, juga tidak ada lagi penangkapan oleh aparat. Ka­lau­pun ada yang ditangkap itu untuk orang-orang yang ber­salah. Sebaiknya siapa yang terlibat agar menyerahkan diri se­cara baik-baik,” harap Bu­pati.

 

Di tempat terpisah, tokoh masyarakat Dharmasraya yang juga ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, M Sayuti Dt Rajo Pangulu mengatakan, dalam waktu dekat, LKAAM Dharmasraya bersama Pem­kab akan menggelar perte­muan akbar dengan ninik ma­mak, tokoh masyarakat, pe­rantau, wali nagari, dan wali jorong di Dharmasraya untuk mencari solusi pertambangan ilegal ini.

 

Sayuti menilai, sulitnya pemberantasan tambang liar di Dharmasraya selama ini dise­bab­kan dua hal. Pertama, ma­sya­rakat sudah telanjur meng­gantungkan hidup pada hasil tambang. Kedua, pe­negakan hukum lemah dan tidak kon­sisten. Karena itu, dosen Universitas Bung Hatta ini mengu­sulkan perlu kajian dan perun­dingan antara selu­ruh pihak berkepentingan di Dharmas­raya untuk mencari solusinya.

 

“Perlu kita kaji, apabila diberantas sampai tuntas, apakah ekonomi warga makin susah? Kemudian, apakah mungkin untuk dilegalkan? Saya rasa, tidak akan ada yang kelaparan kalau tambang d­i­hen­tikan. Dulu masyarakat hidup dari pertanian dan per­kebunan, tetap hidup kok. Lagi pula pekerjanya kan banyak dari luar Dharmasraya. Hanya oknum-oknum tertentu yang menangguk untung di tengah hancurnya lingkungan Dhar­masraya,” ulasnya.

 

Namun, Dt Rajo Pangulu tidak menolak apabila per­tambangan bisa dilegalkan. “Ka­lau bisa dilegalkan, harus je­las mana lokasi yang diper­bo­lehkan, bagaimana kom­pensasi terhadap perbaikan ling­ku­ngan, dan bagaimana agar ada pendapatan asli dae­rah (PAD),” jelas mantan ang­gota DPRD Sumbar ini. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Menunda Akuisisi BTN

MASIH teringat dari layar TV, wajah Budi Gunadi Sadikin semringah sepekan lalu. Kegembiraan bos Bank Mandiri yang baru berumur 40 tahun itu disebabkan terwujudnya impian yang dia idam-idamkan sejak lama. Yakni, mem­bawa bank yang dipimpinnya menjadi salah satu bank yang patut diperhitungkan di kancah ASEAN.

Butuh Listrik

Yth. Bapak kepala PLN...Kapan kampung kami (Kabupaten Pessel, Kecamatan Sutera Kenagarian Koto Nan 3 Selatan) akan dialiri listrik, padahal kampung kami bukan kampung terpencil..kami sekampung sangat berharap perhatian dan tindak lanjut dari bapak. Atas perhtian Bapak kami skmpg mengucapkan terima kasih. Wassalam.

Jumat ,25 April 2014

Perempuan Berpeluang Pimpin DPRD

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai.............................!

 

Puluhan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Jan sampai ndak panen lo Pak, ka kida suok beko...............................!

 

Korban Gigitan Musang Meninggal

Inalilallahi, awak ikuik baduka pak.................................................!