Sabtu, 19 April 2014 - 18 Jumadil Akhir 1435 H 16:51:34 WIB
BERITA DAERAH

Kota Bukittinggi

Padang- Bukittinggi Rp 30 Ribu

Nofrizon: Dishub dan Organda Harus Turun Tangan

Padang Ekspres • Berita Ekonomi • Jumat, 16/11/2012 13:45 WIB • EDISON JANIS • 1039 klik

Bukittinggi, Padek—Libur ta­hun baru Islam atau yang lebih di­kenal dengan tahun baru Hi­jriah yang jatuh pada hari Ka­mis (16/11) yang disusul de­ngan libur ber­sama, membuat ke­terse­dia­an angkutan umum, ter­uta­ma angkutan antar kota da­lam pro­vinsi (AKDP) menjadi be­r­ku­rang. Akibatnya, mamaksa para penumpang menaiki travel liar. Hanya saja karena tidak ada­nya pengawasan pihak ter­kait, travel liar yang kebera­daannya adalah ile­gal itu, menaikan ongkos se­enak­nya sampai Rp 30 ribu hing­ga Rp 35 ribu/orang, untuk ju­ruan Padang-Bukittinggi, tan­pa diantarkan ke alamat.

 

Tingginya tarif yang ditetap­kan, tarnyata tidak berban­ding lurus dengan pelayanan. Pasal­nya, travel liar yang pada umum­nya memanfaatkan ken­daraan pri­badi jenis Toyota Avanza dan Xe­nia, menaikan penumpang sam­pai 10 orang, termasuk so­pir. Selama dalam perjalanan, tra­vel liar yang pada umumnya di­kemudikan para sopir yang ugal-ugalan tidak pula meng­hi­dupkan pendingin (AC, red) se­hingga para penumpangnya me­ngalami kelelahan.

 

Tingginya tarif yang dite­tap­kan serta minimnya pela­ya­nan, membuat beberapa ma­sya­rakat yang menumpang travel liar itu ber­­keluh kesah kepada anggota DRPD Sumbar, agar para wakil rak­yat itu turun tangan dan men­­des­ak Pemprov Sumbar dan Or­ganda Sumbar untuk mem­beri­kan pelayanan kepada mas­ya­rakat dengan menambah ang­kutan umum serta meng­henti­kan beroperasinya travel liar.

 

”­Betul. Saya sudah men­da­pat dari masyarakat beta­pa tidak bu­ruknya pelayanan travel liar. Su­dahlah ongkos Padang-Bukit­ting­­gi dipungut Rp 30 ribu sam­pai Rp 35 ribu/orang, pela­ya­nan­nya sangat buruk, karena ken­­daraan sejenis Toyota Avan­za dan Zenia diisi 9 orang pe­num­pang, dan tidak dihi­dupkan AC selama perjalanan. Ini betul-be­tul keterlaluan,” tegas anggota DPRD Sumbar, Nofrizon, kepa­da Padang Ekspres, kemarin.

 

Selain meminta Pemprov dan Polda Sumbar menertibkan travel liar, politisi dari Partai Demokrat (PD) ini juga meminta Pemprov Sumbar dan Organda mencarikan solusi pada saat-saat libur, libur bersama dan li­bur panjang seko­lah dengan me­ngoperasikan bus-bus stand-by yang dimiliki peru­sa­haan swas­ta maupun Pem­prov Sum­­bar, sehingga semua penum­pang bisa ter­layani.

 

”Misalnya, saat libur dan li­bur bersama kan banyak bus-bus berbadan besar milik peru­sahaan swasta seperti ANS dan NPM serta Pemprov Sumbar serta UNP dan Unand yang tidak ber­ope­rasi. Pemprov dan Organ­da Sum­bar seharusnya bisa m­e­man­faat­kannya mengatasi leda­kan pe­numpang ke daerah pada tu­juan seperti Bukittinggi, Paya­kum­buh, Solok dan Painan, se­hing­ga semua penumpang terla­yani,” jelasnya kepada koran ini, ke­marin.

 

Jef dan Andi, penumpang tra­vel liar jurusan Padang-Bukit­ting­gi, mengatakan, keberadaan tra­vel liar sebenarnya cukup mem­­­bantu saat terjadi lonjakan pe­­numpang. Namun karena ong­­kos yang ditetapkan cukup ting­gi serta tidak diimbangi de­ngan pe­layanan yang bagus, ke­bera­daan travel liar itu harus di­habiskan. Ten­tunya Pemprov dan Organda Sum­bar harus men­carikan solu­si­nya, seperti me­ngo­perasikan bus-bus ber­ba­dan besar yang saat ini banyak stand-by di sejumlah PO,” jelas­nya.

 

Keberadaan travel liar yang je­las-jelas melanggar aturan itu, me­­nurut keduanya, diduga telah di­atur sedemikian rupa dan ada per­mainan oknum-oknum pe­tu­­­gas, sehingga tidak satupun tra­vel liar yang kena razia petu­gas saat beroperasi.

 

Secara ka­sat mata dapat di­lihat di de­pan Minang Plaza Pa­dang dan Sim­pang Aur Bu­kit­tinggi, tempat mangkalnya travel liar. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!