Kamis, 17 April 2014 - 16 Jumadil Akhir 1435 H 03:00:41 WIB
NASIONAL

Paspor Beres setelah di KTP Ditulis sebagai Lelaki

Sutika bin Marwapi Mendaftar Haji sebagai Perempuan, Berangkat sebagai Pria

Padang Ekspres • Rabu, 17/10/2012 11:27 WIB • THORIQ SHOLIKUL K - Surabaya • 482 klik

Sutika (tengah), calon jamaah haji kloter 69 asal Jember

Identitas Sutika yang “wanita tapi pria” terbongkar saat mengurus paspor. Pulang berhaji nanti, dia ingin kembali mengenakan kerudung seperti kesehariannya selama ini.

 

FOTO yang terpasang di buku kesehatan untuk calon jamaah haji (CJH) itu memperlihatkan seorang pe­rempuan yang mengenakan keru­dung. Tapi, di hall A2 Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, Senin (15/10) buku tersebut berada di tangan CJH pria bernama Sutika bin Marwapi. Ter­tukar?

 

Sama sekali tidak. Nama, alamat, tanggal lahir, serta beberapa identitas yang tertera di buku tersebut persis dengan data Sutika. Ya, “perempuan” itu memang Sutika. “Saya memang perempuan kok,” kata CJH dari Desa Cangkring Baru, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang waktu itu berpakaian layaknya CJH pria.

 

Jadilah Sutika yang berangkat ke Tanah Suci Senin malam, tepatnya pukul 22.00, dengan nomor penerbangan SV 5113 itu CJH dengan identitas “ganda”. Mendaftar haji sebagai perempuan, berangkat ke Tanah Suci sebagai laki-laki.

 

Semuanya bermula ketika Sutika yang sehari-hari berdagang di pasar itu mendaftar haji ke sebuah bank di Jember sembari membawa uang muka Rp 10 juta. Namun, pihak bank menyarankan Sutika yang sejak kecil merasa sebagai perempuan yang terjebak di tubuh lelaki tersebut langsung mendaftar ke Kantor Ke­menterian Agama (Ke­m­e­nag) Jember.

 

“Saya lalu ke Kemenag untuk mendaftar haji,” ungkap Sutika yang sehari-hari mengenakan kerudung dan lebih senang dipanggil Sutikah itu.

 

Di Kantor Kemenag Jember, Su­tika mendapat informasi tam­ba­han. Yakni, jika uang mu­ka yang disetorkan lebih ba­nyak, kesempatan berangkat ke Tanah Suci lebih cepat. Dia lalu me­nam­bah uang mukanya men­­j­adi to­tal Rp 20 juta. “Saya lang­sung da­pat antrean (be­rangkat) em­pat tahun kemudian,” tutur Su­tika yang berusia 42 tahun itu.

 

Sutika pun mendaftar seba­gai perempuan–sebagaimana kesehariannya–karena memang tak pernah merasa sebagai pria. Pi­­hak Kantor Kemenag Ka­bu­pa­ten Jember juga tidak curiga. Mung­kin karena pakaian, gaya, dan gerak-gerik Sutika memang tak ubahnya kaum hawa pada umumnya. Apalagi, KTP yang disetorkan ke Kantor Kemenag Jember juga menuliskan jenis kelaminnya sebagai perempuan.

 

Resmilah Sutika sebagai CJH perempuan. Dia jelas gi­rang. Maklum, berangkat ke Ta­nah Suci adalah cita-citanya se­jak kecil. Meskipun, dia me­nga­ku sempat ragu mendaftar haji mengingat kesehariannya seba­gai wanita tapi pria (waria). Na­mun, dorongan sejumlah rekan me­m­buat tekadnya membulat. Itu pun bukan tanpa cemooh dari lingkungan sekeliling, ter­ma­suk ketika dia sudah resmi ter­daftar sekalipun.

 

Ada saja yang mencibir: Iba­dahnya tidak akan diterima atau ke­berangkatannya ke Ta­nah Suci seperti menjemput azab. Su­tika tidak ambil pusing. Se­baliknya, dia belajar bersabar da­ri ce­moohan yang muncul dari orang-orang di sekitarnya terse­but.

 

Kisah yang mirip dengan pengalaman Sutika itu pernah terjadi pada 1990. Kala itu artis ser­babisa Dorce Gamalama yang ter­lahir sebagai pria dengan na­ma Dedi Yuliardi Ashadi juga sempat menjadi sorotan saat naik haji. Hanya, bedanya de­ngan Sutika, ketika itu Dorce sudah menjalani operasi ganti kelamin sebagai perempuan.

 

Persoalan identitas Sutika itu ak­hirnya terbongkar saat dirinya ha­rus mengurus paspor di Kan­tor Imigrasi Jember, tepatnya pa­da sesi wawancara. Sembari me­nghujani dia dengan berbagai per­tanyaan, sang petugas imi­gra­si te­rus memperhatikan sosok Su­ti­ka mulai atas hingga ba­wah. “Sa­ya dibilang aneh wak­tu itu,” ujar dia.

 

Jenis kelamin perempuan, papar Sutika menirukan petu­gas, tapi kok tubuhnya besar. Jari-jari tangan Sutika juga di­curigai. Karena itu, petugas men­desak Sutika agar mengaku soal identitas yang sebenarnya. “Ak­hir­nya, terbongkar kalau saya laki-laki,” jelasnya.

 

Buntutnya, paspor sebagai pe­rempuan pun tak bisa dia pe­roleh. Sebab, KTP menunj­uk­kan bahwa dia perem­puan, namun dalam realitas­nya masih lelaki. Jika dipaksakan, jelas dia akan bermasalah di imigrasi bandara.

 

Oleh pihak imigrasi, Sutika disarankan berganti KTP. Awal­nya, dia enggan menuruti saran itu. Dia kukuh berdalih bahwa di­rinya perempuan. Apalagi, Kan­­tor Kemenag Jember sudah men­catatnya sebagai CJH pe­rem­puan. Namun, beberapa te­man dekatnya memberikan pe­mahaman secara perlahan. Su­tika akhirnya luluh dan me­mi­lih mengikuti saran tersebut. “Sa­ya mengurus KTP baru dengan jenis kelamin laki-laki,” terang dia.

 

Pengurusan paspor tuntas se­telah identitasnya berubah. Dia pun berfoto tanpa menge­na­kan kerudung. “Kalau di foto pas­por ini, saya lelaki. Di buku ke­sehatan, saya perempuan,” celoteh dia.

 

Sutika masuk ke Asrama Haji Sukolilo Minggu lalu (14/10) sebagai lelaki. Dia menginap di hall A2 kamar 111 yang semua peng­huninya tentu saja berjenis ke­­lamin pria. Jelas itu tantangan ba­gi dia. Apalagi, tidak jarang di an­­tara para penghuni hall terse­but yang menggoda dia, meski mung­­kin dengan maksud ber­can­­da. “Saya sabar saja, anggap be­­lajar menahan emosi,” ujar­nya. “Toh, itu hanya guyon,” imbuh­nya.

 

Sementara itu, Wakil Sekre­taris I Panitia Penye­lenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya Sutarno menjelaskan, da­lam ibadah tidak ada istilah wa­ria. Sutika dianggap ber­kelamin laki-laki. Soal ting­kah lakunya yang sehari-hari mirip perempuan, itu hanya emosi dan kebiasaan.

 

“Fikih Islam tetap melihat kondisi yang sebenarnya. Yakni, laki-laki,” ungkapnya.

 

Tapi, Sutika tak terlalu mem­permasalahkan identitas terse­but. Yang terpenting bagi dia, di­rinya bisa beribadah lancar tan­pa halangan apa pun. Begitu pula sepulang nanti. “Pulang dari sa­na, ya saya tetap seperti se­mu­la. Menjadi seorang perem­puan, pakai kerudung lagi,” ucap dia.

 

Namun, tetap tebersit hara­pan dalam dirinya agar men­dapat petunjuk selama berhaji. Jika memang jati dirinya lela­ki, dia ingin menjadi sosok le­laki yang sebenarnya. “Doa itu pasti saya panjatkan di sa­na,” ujar dia. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!