- 11:27 WIB
- 12:48 WIB
- 12:47 WIB
- 12:46 WIB
- 12:46 WIB
- 12:45 WIB
- 12:43 WIB
- 12:42 WIB
- 12:42 WIB
- 12:41 WIB
Alokasi Gas Membengkak
Pemerintah Dinilai Senang Impor Gas
Padang Ekspres • Senin, 17/09/2012 13:10 WIB • • 213 klik
Jakarta, Padek—Pemerintah dinilai belum sepenuh hati menerapkan kebijakan sektor gas. Sebab, perencanaan dan komitmen untuk menjadikan gas sebagai tumpuan energi masa depan belum dibarengi perencanaan yang matang.
Wakil Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, bagaimana pemerintah bisa menyukseskan rencana tersebut bila masalah infrastruktur terus-terusan menjadi kendala utama dalam pengembangan sektor gas.
“Selama ini yang jadi permasalahan mendasar adalah perencanaan pemerintah yang tidak komprehensif. Rencana yang disampaikan dan komitmen kerap kali berbeda dalam menyelesaikan masalah, tidak dijalankan dengan baik,” kata Komaidi di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, sumber gas Indonesia kebanyakan berada wilayah bagian timur. Namun, yang paling banyak mengonsumsi gas malah industri di wilayah Indonesia bagian barat. Dengan begitu, perlu infrastruktur yang memadai untuk mendistribusikan gas tersebut. “Sayangnya pemerintah justru memilih mengimpor gas. Ini kan lucu,” ujarnya.
Padahal, jika pemerintah mau membangun infrastruktur seperti terminal penyimpanan gas, pipa distribusi dan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) dengan memberikan insentif fiskal yang cukup bagi pelaku usaha, maka pasokan gas dalam negeri bisa tercukupi.
Apalagi Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup banyak dibanding bahan bakar minyak (BBM). “Percepat dong pembangunan infrastrukturnya kalau memang serius untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tegasnya.
Ketua Komite Tetap Bidang Hulu Migas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Firlie Ganinduto mengatakan, pemanfaatan minyak sebagai bahan bakar utama sektor industri dan transportasi jadi isu penting saat ini. Tingginya permintaan terhadap energi fosil tersebut telah membentuk paradigma baru.
“Sudah saatnya energi gas menggantikan minyak sebagai bahan bakar utama. Paradigma itu terbentuk seiring menipisnya kandungan minyak dalam perut bumi,” kata Firlie.
Karena itu, dia menilai perlu adanya naskah akademik untuk dijadikan acuan dalam penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Migas lantaran pembahasannya telah bergulir lama di DPR. “Pada prinsipnya Kadin menyetujui adanya revisi terhadap Undang-Undang Migas No. 22 Tahun 2001 selama tujuannya untuk kepentingan nasional,” ujarnya.
Kepala Dinas Hubungan Kemasyarakatan dan Kelembagaan BP Migas A Rinto Pudyantoro mengakui, kurangnya terminal penerima gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). Menurut dia, selama ini terminal LNG baru terdapat di lepas pantai utara Jakarta. “Ini membuat produksi LNG tidak mampu diserap secara maksimal. Akibatnya, kami terpaksa mengirim ke pasar spot internasional untuk menghindari potensi kehilangan yang lebih besar,” kata Rinto.
Dia menjelaskan, secara keseluruhan alokasi gas untuk domestik terus membengkak sejak 2003. Dari 2,38 triliun kaki kubik menjadi 20,52 triliun kaki kubik pada 2011. Peningkatan terbesar untuk alokasi industri dari hanya 0,1 triliun kaki kubik pada 2003 menjadi 10,18 triliun kaki kubik pada 2011.
Selanjutnya, alokasi untuk kelistrikan yang pada 2003 hanya 1,18 triliun kaki kubik, saat ini telah mencapai 7,01 triliun kaki kubik. “BP Migas akan selalu memprioritaskan pasokan gas untuk pasar domestik. Tetapi hal ini mustahil dilaksanakan tanpa adanya ketersediaan infrastruktur,” terangnya.
Sebelumnya, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik membantah penilaian ketidakseriusan pemerintah dalam menata kelola sektor energi (gas). “Siapa bilang tata kelola energi kita tidak serius. Tangguh yang dulunya 100 persen ekspor dan nol untuk dalam negeri mulai tahun 2013 setuju memberikan 230.000 BBTUD untuk kebutuhan domestik,” kata Wacik. (jpnn)
[ Red/Administrator ]
Kebangkitan, Manufacturing Optimisme
BERBICARA kebangkitan nasional di hari-hari seperti sekarang mungkin segera tergelincir ke arah pesimisme. Derasnya arus informasi memungkinkan manusia Indonesia menerima informasi jenis apa pun. Tetapi, kecenderungan ”naluriah” manusia selalu suka mengerumuni insiden. Karena itulah, jalanan kadang macet berat ketika ada kecelakaan, sekalipun orang yang celaka sudah minggir.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Pelapor Bisa Ajukan Praperadilan
Jaan patah samangaik .................!
Disdik Siapkan PPDB Online
Lai dijamin ndak adoh titipan lai..............?
Lelang Proyek Gedung Parkir Dipertanyakan
Ado lo tacium baun busuk tu................................?