- 06:26 WIB
- 06:25 WIB
- 06:24 WIB
- 06:23 WIB
- 06:19 WIB
- 06:16 WIB
- 06:08 WIB
- 06:06 WIB
- 06:05 WIB
- 12:39 WIB
Segera Ambil Langkah Konkret
Aktivis Lingkungan Hidup Nilai Pemda Lamban
Padang Ekspres • Rabu, 12/09/2012 11:32 WIB • TIM PADEK • 1377 klik

Batubusuk, Padek—Ancaman galodo atau banjir bandang susulan harus segera diantisipasi instansi terkait di Pemko Padang dan Pemprov Sumbar, menyusul tingginya curah hujan di Kota Padang sejak seminggu terakhir. Hingga kini, belum tampak upaya serius dari Pemko Padang melakukan upaya mitigasi air bah tersebut.
Karena itu, sejumlah aktivis lingkungan hidup dan pencinta alam, mendesak Pemko dan Pemprov segera mengambil langkah konkret untuk mencegah ancaman galodo yang lebih besar.
Desakan itu disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar, Khalid Saifullah, Project Manager FIELD-Bumi Ceria Syafrizaldi, Direktur Perhimpunan Qbar Sumbar Nurul Firmansyah dan Ketua Mapala Unand Tomi Handriyawan.
Dari pengamatan Padang Ekspres, Pemko dan Pemprov masih berkutat mencari penyebab bencana galodo. Jika Gubernur Irwan Prayitno mengklaim galodo disebabkan longsoran di puncak bukit yang membentuk embung,
Wali Kota Padang Fauzi Bahar justru menduga penyebab “tsunami darat” itu dipicu illegal logging.
Rencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang dan BPBD Sumbar menelusuri hulu Batang Kuranji dan Batang Lubukkilangan di gugusan Bukit Barisan, hingga kini belum juga dilakukan. Bahkan rencana pemotretan kondisi hutan di kawasan tersebut melalui udara, tak kunjung terealisasi.
Lambannya Pemko dan Pemprov mengantisipasi ancaman galodo susulan, menurut Khalid, sebagai bukti lemahnya komitmen kepala daerah di Sumbar terhadap kelestarian lingkungan. Kondisi ini sekaligus mencerminkan belum adanya kesadaran pemerintah daerah bahwa Sumbar swalayan bencana.
Terhadap temuan Tim Ekspedisi dari Sekretariat Bersama Pencinta Alam (Sekber PA) Sumbar, kata Khalid, sekaligus mementahkan pernyataan Gubernur Sumbar yang mengatakan galodo bukan akibat praktik pembalakan liar.
Khalid mengingatkan bahwa banyaknya sisa material galodo di hulu Batang Kuranji, merupakan ancaman serius bagi penduduk yang tinggal di sepanjang aliran Batang Kuranji dan Batang Lubukkilangan di sembilan kecamatan.
“Apalagi dari temuan teman-teman Sekber PA banyak lereng bukit yang retak dan longsor. Dengan tingkat kemiringan yang terjal, lereng-lereng bukit tersebut memberi daya dorong yang kuat jika terjadi longsor. Akibatnya, kekuatan galodo semakin dahsyat,” tegas Khalid.
Menurut Khalid, investigasi Tim Ekspedisi Sekber PA harus ditindaklanjuti Pemko dan Pemprov Sumbar untuk mengurangi risiko lebih besar. “Pemko dan Pemprov harus secepatnya melakukan pembersihan daerah aliran sungai dari sisa material galodo. Kemudian, lakukan penelitian atas retakan sejumlah perbukitan di kawasan itu. Selanjutnya, aksi pembalakan liar di kawasan itu harus dihentikan,” papar Khalid.
Menyikapi terus berulangnya bencana galodo di Batang Kuranji, Syafrizaldi mendesak Pemko dan Pemprov menindak tegas para pelaku, pembeking, toke dan penadah kayu hasil pembalakan. Setelah itu, terapkan sistem verifikasi legalitas kayu.
“Artinya, kayu-kayu hasil penebangan harus memiliki asal usul yang jelas, memiliki kelembagaan pengelolaan formal, tata kelola penebangan memperhatikan aspek lingkungan dan sosial,” para Aal, panggilan akrab Syafrizaldi.
LSM yang konsen terhadap program peningkatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana dan perubahan iklim ini, mengusulkan peningkatan kualitas kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan banjir bandang, harus dipersiapkan sejak sekarang.
Dengan begitu, kata Aal, muncul kesadaran masyarakat menjaga sendiri kelestarian lingkungan hidup. “Bila ini tercipta, masyarakat dengan sendirinya membantu pemerintah melakukan pembersihan material kayu di sepanjang hulu sungai (Padangjabiah dan Padangkaruah, Limaumanih),” jelasnya.
Syafrizaldi lalu mengusulkan penataan dan pemetaan ulang kawasan hutan suaka alam dan wisata Bukit Barisan I dan Tahura Bung Hatta.
Sementara Nurul Firmansyah dari Qbar, sejak awal meyakini setiap bencana alam tidak lain akibat kerusakan ekologi, terutama hutan di sepanjang Bukit Barisan I dan Tahura Bung Hatta. Kerusakan tersebut terkait lemahnya pengelolaan hutan yang terintegrasi antarsektor dan minimnya keterlibatan masyarakat lokal sekitar hutan.
“Ini karena tertutupnya akses masyarakat dalam mengelola hutan. Karena itu, perlu membuka akses masyarakat local dalam pengelolaan hutan (PHBM). Di sisi lain, izin eksploitatif muncul di kawasan ini yang tidak menguntungkan terhadap ekonomi masyarakat dan ekologi. Misalnya, izin eksploitasi bahan baku Semen Padang dalam kawasan hutan,” sindiri Nurul.
Nurul menambahkan, pengelolaan hutan bukan hanya terkait memanfaatkan kayu, tapi lebih luas lagi dengan pola local seperti parak (agroforest). “Catatan lainnya, mesti ada insentif khusus kepada masyarakat lokal untuk menjamin pengelolaan hutan yang lestari,” usulnya.
Sedangkan Ketua Mapala Unand Tomi Handriwayan menyatakan kesiapannya membantu Pemko bila melakukan pembersihan sisa material galodo di kawasan Patamuan, sekaligus menjaga kelestarian hutan Bukit Barisan.
Karena itu, baik Khalid, Syafrizaldi, Nurul, Tomi dan para pencinta alam yang tergabung dalam Sekber PA Sumbar, siap mendesak pemerintah agar benar-benar melestarikan alam, bukan sekedar celoteh belaka.
Seperti diberitakan, Tim Ekspedisi Sekber PA menemukan banyak titik longsoran di punggung-punggung bukit yang berjejer dari Patamuan hingga perbatasan Kabupaten Solok. Dampak galodo juga menyebabkan pelebaran sungai dengan skala kecil hingga dua kali lapangan sepakbola. Gelondongan kayu bekas ditebang secara ilegal maupun yang tercerabut dari akarnya karena derasnya arus air menumpuk di badan sungai yang berjumlah puluhan titik. Bebatuan berdiameter kecil hingga besar, sangat potensial terbentuknya embung-embung, atau titik tumpukan air.
“Galodo juga mengikis pinggiran sungai sepanjang 8 kilometer ke hulu tersebut. Tak hanya menyebabkan pohon bertumbangan, galodo juga menimbulkan erosi di sejumlah titik di pinggir sungai. Di sela-sela punggungan bukit juga bermunculan anak sungai baru yang diduga berasal dari mata air di perbukitan,” jelas Rico Rachmad dalam konferensi pers di Sekratariat Bivac, Ulakkarang, kemarin.
Akan Ditindaklanjuti
Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan dan Perkebunan (Dispernakhutbun) Padang Corri Saidan berjanji akan menjadikan temuan Sekretaris Bersama (Sekber) Pecinta Alam Sumbar sebagai bahan evaluasi untuk meminimalisir dampak bencana yang mungkin saja dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Sebelum tim Sekber turun ke lokasi, kami telah turun ke lokasi sama. Namun tidak menemukan kayu gelondongan. Namun, Dispernakhutbun hanya menemukan kayu-kayu besar dengan akar yang masih menempel,” kata Kepala Dispernakhutbun Padang Corri Saidan, kepada Padang Ekspres, kemarin ( 11/9).
Ia menyebutkan, jika ada penemuan terbaru dari tim Sekber PA tersebut, Dispernakhutbun akan melakukan antisipasinya. Sehingga dampak bencana dapat diminimalisir.
“Apalagi kerentanan tanah di kawasan tersebut cukup tinggi. Hal ini, tidak hanya berlaku untuk kawasan itu saja, namun juga berlaku untuk Sumbar. Akibat kerentanan tanah tersebut, kerap terjadi longsoran,” tuturnya. (mg18/ayu)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?