Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 05:21:52 WIB
RAKYAT SUMBAR

Ahli Menambang, tapi tak Patuhi Adat Istiadat

Dilema Penambang Luar Sumbar di Sijunjung

Padang Ekspres • Senin, 03/09/2012 13:53 WIB • • 1302 klik

Batang Palangki, salah satu lokasi penambangan emas di Kabupaten Sijunjung.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Falsafah itu pula yang dilabrak para pekerja tambang emas  dari luar Sumbar di Kabupaten Sijunjung. Mereka ahli melakukan pekerjaan berisiko tinggi, tapi membawa pengaruh buruk bagi pergaulan muda-mudi di daerah “Lansek Manih” ini.

 

Mereka didatangkan dari Kalimantan. Keahlian para “penambang impor” itu sangat dibutuhkan pengusaha tambang emas di Sijunjung. Terutama untuk per­tam­ba­ngan kapal dompeng. Dalam mencari emas, mereka nekat menyelam ke dalam lubang di dasar sungai dengan peralatan kompresor sebagai alat bantu pernapasan.

 

Selama ini, hanya pekerja asal Kalimantan ini yang mam­pu melakukan pekerjaan beri­siko tersebut.

 

Keberanian mereka patut diacungi jempol. Bayangkan, mereka mampu menyelam di air keruh dan dalam. Mereka membawa sebuah selang un­tuk menghisap batu dan pasir yang mengandung emas tanpa sedikit pun penerangan.

 

Sedikit saja ceroboh, maut langsung menanti ditimbun longsoran tebing. Mereka juga rawan terisap selang penyedot material tanah di dasar sungai. Saking tingginya daya isap penyedot itu, bisa memu­tus­kan pergelangan tangan.

 

Padang Ekspres menemui beberapa penambang emas itu pekan lalu. Di antaranya, Ir­mika, warga Ladangcengkeh, Nagari Tanjungampalu, Ke­camatan Koto VII. Dia angkat tangan melihat keberanian pekerja tambang asal Kali­mantan itu, menyelam di dasar sungai. Tak heran, banyak pengusaha tambang meng­gunakan tenaga mereka. “Pe­kerja lokal jarang yang berani,” ungkap Irmika.

 

Penghasilan tinggi menjadi daya tarik bagi mereka me­rantau ke Sijunjung. Jika se­dang hoki, mereka bisa men­dapat upah Rp 5 juta per ming­gu. Sebagai dampaknya, ek­o­no­mi masyarakat lokal ber­gairah.

 

Celakanya, keberadaan para “penambang impor” ini membawa mudarat bagi per­gaulan generasi muda se­tem­pat. Salah satunya, pergaulan bebas dan asusila. Mereka tidak mengikuti adat istiadat setempat.

 

Agustar Malin Penghulu, Wali Nagari Limo Koto Keca­matan Koto VII Sijunjung me­ngungkapkan, sejak para pe­nambang asal Kalimantan da­tang, marak kasus asusila di Sijunjung. “Ada kasus remaja yang dihamili dan ada juga anak dibawah umur yang dila­rikan pekerja pendatang itu,” ujarnya.

 

Setelah menghamili anak gadis setempat, para penam­bang itu menghilang. Ada juga yang dinikahi, namun setelah punya satu anak, istrinya di­ting­galkan. Selain perbuatan asusila, kasus kriminal lainnya juga marak terjadi.

 

Seperti pencurian di Na­gari Padanglawas, Kecamatan Koto VII pada Ramadhan lalu.

 

Pelakunya babak belur di­ha­jar warga karena ter­tangkap tangan membawa karpet pe­nya­ring yang berisi emas mur­ni.

 

Lalu, salah seorang pekerja asal Kalimantan ditangkap warga Batugondang, Nagari Limokoto, Koto VII, karena melarikan remaja 14 tahun, anak salah satu guru SD di Sijunjung. Pelakunya dijeblos­kan ke penjara Polres Si­jun­jung.

 

Mawardi, salah seorang pe­kerja pendatang asal Ka­li­mantan mengatakan, ben­turan itu ter­jadi karena per­be­daan adat dan budaya antara mereka dengan pribumi. Pria yang sudah tujuh ta­hun hidup dan berkeluarga di La­dang­ceng­keh Nagari Tan­jung­am­palu, itu menyebut me­reka berasal dari Suku Melayu dan Dayak di Kalimantan. “Ka­rena punya uang banyak, yang jadi korban pun mungkin ter­giur, sehingga menurut saja,” beber Mawardi, ketika ditemui di Kantor Wali Nagari Limo Koto beberapa waktu lalu.

 

Saat ini, hampir seribu pekerja tambang asal Kali­mantan di Sijunjung. Mereka tidak memiliki identitas jelas dan tidak didata wali jorong, wali nagari, maupun pengu­saha tambang.

 

Walaupun begitu, tidak semua warga Sijunjung meni­lai buruk pada pekerja pen­datang itu. Linda misalnya, pemilik kos yang ditempati warga Kalimantan di jalan raya Muarogambok. Menurutnya, warga Kalimantan yang me­nyewa tempat kosnya relatif sopan dan baik.

 

Menyikapi masalah ini, Agustar, Wali Nagari Limo­koto, berencana mendata se­mua pendatang asal Kali­man­tan. Salah satunya mewajibkan setiap pendatang baru mela­por ke wali nagari, berikut penanggung jawabnya.

 

“Kita berusaha mendata tem­patnya bekerja dan tempat ting­galnya. Bagi pengusaha tam­bang sebagai penanggung ja­wab, harus betul-betul mem­bina anggotanya,” jelas Agustar.

 

Selain aparat terkait, Agus­tar Malin Penghulu juga me­minta polisi menjaga kea­manan dan kenyamanan na­gari. “Yang jelas, ini tugas bersama, baik pemuda, ninik mamak dan masyarakat lain­nya. Peran ninik mamak dan orangtua serta masyarakat sangat besar dalam menjaga perilaku anak keme­na­kan,”tegas Malin Penghulu.

 

Anehnya lagi, jika di Dha­r­masraya dan Solok Selatan gencar dirazia pertambangan e­mas rakyat, di Sijunjung ke­be­radaannya terkesan dilin­dungi. (mg19)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!