Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 07:46:23 WIB
METROPOLIS

Fauzi Bahar Luncurkan Buku Biografi

Padang Ekspres • Kamis, 16/08/2012 13:29 WIB • • 667 klik

M Yamin, Padek—Wali Kota Padang Fauzi Bahar genap berusia 50 tahun, hari ini (16/8). Untuk merayakan ulang tahunnya, Fauzi Bahar menggelar buka puasa bersama 5.000 anak yatim di Masjid Raya Sumbar, Jalan Khatib Sulaiman, Padang.

 

Dalam kesempatan itu, juga akan diluncur­kan buku biografi bertajuk “50 Tahun Fauzi Bahar Mengabdi dalam Gun­cang­an Bencana”. Bu­ku ter­sebut menceritakan ke­hidupan Fauzi Bahar yang lahir di  Ikuakoto, Ke­ca­matan Kototangah, Pa­dang pada 16 Agustus 1962.

 

“Ayahnya bernama Ba­­harudin Amin, lebih di­kenal dengan sebutan Wa­­li Bahar. Sebab, se­ma­sa agresi antara 1949 – 1951 menjabat sebagai wali nagari di Ko­to­tangah. Watak kepemim­pinan nampaknya dia terima dari ayahnya. Menjadi wali nagari di zaman agresi, zaman yang amat sulit, bukanlah pekerjaan yang mudah,” ujar Kabid Humas, Richardi Akbar, kepada wartawan, kemarin.

 

Ibunya Nurjanah Umar, tamatan Diniyah Put­ri Padangpanjang, seorang guru yang juga aktivis Muhammadiyah.

 

“Darah” ibundanya yang Mu­hammadiyah ini pulalah menanamkan dasar agama yang baik bagi Fauzi dalam membuat kebijakan bernuan­sa religi.

 

Misalnya mewajibkan kaum muslimah, terutama para pela­jar memakai jilbab, anak-anak menghafal Asmaul Hus­na serta Pesantren Rama­dhan, wajib zakat dan meng­hafal Juz Ama.

 

Kedua orangtuanya kini sudah tiada. Ibunya yang lahir 1925, meninggal tanggal 30 Maret 1996. Jangan mem­ba­yangkan, sebagai seorang anak yang ayahnya pernah menja­bat wali nagari, maka dia dan saudara-saudaranya akan hi­dup senang di masa itu. Di ma­sa kanak-kanak, sehari-hari ayahnya bekerja sebagai petani dengan peng­hasilan pas-pa­san.

 

Pada buku yang ditulis Makmur Hendrik, Khairul Jasmi dan kawan-kawan, itu ju­ga diceritakan, untuk men­cu­kupi kebutuhan hidup se­ha­ri-hari, anak laki-lakinya mulai dari Taufik Bahar, Fa­khri Ba­har, Fauzi Bahar hing­ga Fadli, diharuskan ber­jualan sayur-mayur. Karena masih kecil, Fahmi belum diikut­sertakan.

 

Kangkung dijual di Ikua­koto dan sekitarnya, sedang­kan bingkuang dijual di Pasar Raya. Kangkung dijual Rp 5 per ikat. Mereka membawa 100 ikat-150 ikat setiap hari. Rata-rata bisa terjual Rp 500 sehari. “Uang hasil penjualan sayur-mayur itulah yang mem­bantu biaya sekolah kami,” kenang Khalida Hanum ten­tang sekelumit keluarga Fauzi Bahar, yang kini jadi guru MTsN kakak tertua Fauzi Ba­har.  (ek)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Lokomotif tanpa Gerbong

KEPUTUSAN Ketua Umum Partai Persatuan Pem­ba­ngu­nan (PPP) Suryadharma Ali (SDA) berkoalisi dengan Partai Gerindra tanpa syarat, ternyata berbuntut panjang.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Rabu ,23 April 2014

18 Caleg Incumbent Lolos

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai...........................!

 

Kepsek Pemukul Siswa jadi Tersangka

Proses sesuai hukum, Pak polisi...................................!

 

DPRD Pessel Diisi Wajah Baru

Lah tibo lo masonyo mah..............................!