Rabu, 22 Mei 2013 - 12 Rajab 1434 H 07:42:16 WIB
NASIONAL

Setelah Hidup Diperpanjang Lima Tahun

Padang Ekspres • Senin, 06/08/2012 14:21 WIB • • 486 klik

Dahlan Iskan

Hari ini, Senin 6 Agustus 2012, genap lima tahun saya “hi­dup baru”. Allahu Akbar! Ka­lau teringat begitu parahnya ko­n­disi badan saya lima tahun yang lalu, ra­sanya tidak terba­yangkan saya ma­sih bisa hidup hari ini. Allahu Akbar! Apalagi dengan kualitas hi­dup yang nyaris sempurna se­perti sekarang ini. Allahu Akbar!

 

Sejak saya muntah darah tu­juh tahun lalu, dan kemudian di­ke­tahui sepanjang saluran pen­cer­naan saya sudah penuh de­ngan gelembung darah yang siap pecah (akan diikuti dengan muntah darah atau buang air darah), harapan hidup waktu itu ham­pir hilang.

 

Harapan hidup itu lebih tipis lagi setelah diketahui bahwa lim­pa saya sudah membesar. Su­dah tiga kali lipat lebih besar da­ripada limpa normal. Itu ber­arti limpa tersebut sudah siap me­le­dak yang men­jadi penye­bab ke­matian ka­pan saja. Apa­la­gi sta­tus hati saya yang terkena vi­rus hepatitis B pun sudah me­ning­kat menjadi sirosis, me­ngeras dan tidak berbentuk ha­ti lagi.

 

Vonis bahwa umur saya mak­simal tinggal enam bulan lagi harus saya terima setelah di­pastikan bahwa hati saya su­dah penuh dengan kanker. Uk­u­ran kankernya pun sudah be­s­ar-besar. Sudah ada yang 2 cm, 4 cm, dan 6 cm. Bibit-bibit kan­ker lain masih puluhan jum­lahnya.

 

Saya tidak akan lupa ucapan se­orang dokter ahli di Singapura, yang sudah begitu pasrahnya. Ter­utama ketika saya mengeluh ke­sakitan setiap kali mengena­kan sepatu. Kaki saya sudah beng­kak begitu besarnya. Sepatu saya tidak muat lagi.

 

“Ya ganti sepatu saja!” ujar dok­ter yang pasiennya 80 per­sen orang dari Indonesia itu. Pa­da­hal, waktu itu saya meng­ha­rap­kan jalan keluar bagai­mana agar bengkak kaki saya itu bisa di­atasi. “Tidak ada jalan lain. Ganti sepatu. Kalau bengkaknya sudah lebih besar lagi, ganti sepatu lagi!”

 

Saya tidak jengkel dengan uca­pannya itu. Bahkan, saya ter­se­nyum karena terasa ada lu­cu­nya. Itulah cara dokter me­maksa saya untuk menjalani trans­plantasi. Tidak ada jalan lain lagi.

 

Hanya transplant yang bisa me­nyelamatkan. Itu pun tidak bisa transplant separuh hati (di­ambilkan dari hati istri atau anak atau pendonor) karena se­luruh hati saya sudah hancur. Ha­rus hati sepenuh hati yang ber­arti hanya bisa didapat dari orang yang meninggal.

 

Kalaupun itu bisa didapat dan kalaupun itu nanti sukses, ka­ta dokter tersebut, paling ha­nya bisa menambah umur lima ta­hun. Saya juga tidak akan lupa uca­pan dokter itu berikut­nya: “Ta­pi, tambah umur lima tahun kan lumayan. Waktu itu nanti umur Anda kan sudah 61 tahun. Su­dah lebih pantas meninggal.”

 

Saya memang akrab dengan dok­ter itu, sehingga sekeras apa pun ucapannya tidak membuat saya kecewa. Sang dokter juga tahu bahwa saya cukup intelek un­tuk menerima kata-kata yang meskipun bernada keras, tapi sangat ilmiah.

 

Mengapa hasil transplant itu ha­nya bisa memperpanjang umur lima tahun? Secara ilmiah, bisa diterangkan begini: virus he­patitis B dan sel-sel kanker hati saya itu, logikanya, sudah ikut beredar di darah. Artinya, virus hepatitis B dan sel-sel kan­ker hati saya itu sudah bera­da di ma­n­a-mana. Ketika saya men­da­patkan hati baru dan hati baru ter­sebut dilewati darah yang su­dah membawa virus hepatitis B dan sel-sel kanker, virus dan sel-sel tersebut otomatis hinggap lagi di hati yang baru.

 

Lalu, virus hepatitisnya ber­kem­­bang lagi, hati menjadi siro­sis lagi, muntah darah lagi, beng­kak lagi, dan kanker mera­jalela lagi.

 

Teori seperti itulah yang mem­buat tekad untuk melaku­kan transplant kadang mengen­dur. Untuk apa transplant. Ma­hal sekali dan belum tentu ber­ha­sil. Berhasil pun hanya untuk lima tahun. Pun, tambahan hi­dup lima tahun itu belum tentu bi­sa dinikmati. Bisa jadi, kualitas hi­dup pascatransplant tersebut ada­lah kualitas hidup yang sangat rendah: harus minum ba­nyak obat, sering masuk ru­mah sakit, menyusahkan keluarga, dan menghabiskan banyak uang.

 

Tapi, orang hidup itu tidak boleh pesimistis.

 

Tidak boleh putus asa.

 

La taiasu!

 

La tahzan!

 

Ingat ajaran agama: Ber­ikhtiar itu bukan mubah, bukan sunah, tetapi wajib!

 

Jadilah saya memutuskan transplantasi hati.

 

Tapi, saya juga tidak terlalu ber­harap banyak. Takut kecewa. Orang yang tidak berharap ba­nyak bisa lebih bahagia. Ter­m­a­suk, saya tidak mem­bayangkan bah­wa setelah transplant nanti saya bisa jalan-jalan jauh. Saya pi­kir, saya nanti bisa hidup, tapi de­ngan aktivitas yang terbatas. Ka­lau sebelum transplant saya putuskan membeli helikopter, antara lain untuk persiapan siapa tahu bisa membantu mobi­li­tas saya.

 

Allahu Akbar!

 

Transplantasi hati saya ber­hasil.

 

Kualitas hidup saya setelah trans­plant ternyata tidak sele­mah seperti yang saya bayang­kan. Ternyata, saya bisa bekerja, bisa ke mana-mana dan bisa di ma­na-mana. Saya bisa ber­ola­h­raga setiap hari selama 1,5 jam!

 

Bahkan, kalau Monas lagi hu­jan, saya bisa berolahraga de­ngan cara menaiki tangga da­ru­rat gedung-gedung penca­kar la­ngit milik BUMN di Jakarta: ge­dung Ke­menterian BUMN di de­kat Mo­nas, gedung Pertamina di de­kat Masjid Istiqlal, gedung BTN di Harmoni, gedung Bank Man­diri di Jalan Gatot Subroto, ge­dung Bank Rakyat Indonesia di de­kat Jembatan Semanggi, dan ter­akhir gedung Bank BNI di de­kat patung Jenderal Sudir­man. Tidak ada lagi gedung ting­gi milik BUMN yang belum saya naik-turuni.

 

Rekor amatir saya: 16 menit naik, 12 menit turun!

 

Pada ulang tahun kelima Se­nin hari ini, tidak ada acara kh­u­sus karena ada dua kali si­dang kabinet. Tapi, kemarin, se­hari penuh, 1.000 penghafal Al Qu­ran (hufadz) berkumpul di Ja­karta untuk khataman. Nanti so­re istri saya yang pertama, ke­dua, ke­tiga, dan keempat yang, hehe..., semuanya ber­nama Naf­siah Sabri, me­ngundang ke­lompok pengajian ibu-ibu un­tuk berbuka bersama.

 

Selama empat tahun hidup baru, saya selalu berada di lokasi yang berbeda. Ketika baru seta­hun “hidup baru”,  saya berada di Kashmir yang saat itu lagi amat tegang oleh perang sau­dara. Tahun kedua saya sudah diajak Bapak Presiden SBY ke USA, Meksiko, Peru, dan Brazil. Saya agak waswas menempuh perjalanan begitu jauh dan berat saat itu. Tapi,  ternyata tidak ada masalah yang besar.

 

Tahun ketiga saya ke Tiong­kok untuk check-up total. Tahun ke­empat, tanpa disangka-sang­ka, saya menjadi CEO PLN dan me­ngundang 1.000 hufadz un­tuk khataman Al Quran.

 

Allahu Akbar!

 

Hari ini, lima tahun terlewati de­ngan penuh berkah. Allah mem­berikan nikmat jauh mele­bihi dari yang saya gambarkan. Jauh sekali.

 

Semula, tidak lama setelah saya siuman dari pengaruh anes­tesi selama 13 jam, setelah saya menyadari bahwa operasi sa­ya berhasil (meski masih un­tuk se­mentara), setelah saya mengu­cap­kan rasa syukur, saya pun ber­te­kad untuk tidak lagi ma­u me­ngu­rus perusahaan. Ter­uta­ma ka­rena selama dua tahun saya sa­kit toh perusahaan tetap berkem­bang.

 

Lalu, saya hanya ingin mau me­ngerjakan tiga hal saja: men­jadi guru jurnalistik, m­e­nulis bu­ku, dan kembali mengurus pe­santren keluarga. Kebetulan, ke­luarga kami memiliki lebih dari 100 buah madrasah yang terga­bung dalam Pesantren Sabilil Mut­taqien, yang didirikan oleh se­orang mursyid Tarekat Syatta­ri­yah. Saya merasa bersalah ka­rena selama itu saya terlalu sibuk “mencari duit” sehingga kurang ikut mengurus pesantren ini.

 

Sama sekali tidak memba­yangkan kalau suatu saat saya diminta oleh Bapak Presiden SBY untuk menjadi CEO PLN. Sa­ya su­dah merasa sangat ba­ha­gia ka­lau bisa menjadi guru jur­na­listik, menulis buku, dan me­ngu­rus pesantren. Tidak ada ba­ya­ngan sama sekali menjadi pe­jabat.

 

Saya pun sudah mencoba menolak mati-matian jabatan CEO PLN itu, tapi pada akhirnya ini: dengan memperpanjang umur saya, mungkin Allah pu­nya kehendak lain yang harus saya kerjakan. Saya pun mene­rima takdir itu. Pun ketika ke­mu­­dian harus menjadi menteri ne­gara BUMN.

 

Toh, saya masih tetap bisa mengajar jurnalistik, menulis buku, dan mengurus pesantren keluarga. Pekerjaan penting menjelang lima tahun “hidup baru” ini tentu harus saya laku­kan: memeriksa apakah ada sel-sel kanker di badan saya, sisa-sisa kanker yang dulu.

 

Allahu Akbar! Tidak ada. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Harapan Realistis di Piala Sudirman

PEREBUTAN lambang supremasi bulu tangkis dunia beregu campuran, Piala Sudirman, mulai berlangsung Minggu (19/5) di Kuala Lumpur, Malaysia. Tim-tim unggulan dengan mudah melewati hadangan pertama dengan mengalahkan rival-rivalnya secara meyakinkan. Tiongkok yang berada di grup 1 A secara meyakinkan menggilas India dengan skor telak 5-0. Begitu juga Denmark yang menjadi unggulan di grup 1 D menundukkan Singapura 4-1.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Selasa, 21 Mei 2013

Kesejahteraan Dokter Minim

Pi umumnyo dokter ko kayo ndak........?

 

Dana Bantuan tak Kunjung Turun

Juluak lah rami-rami .................................!

 

Lareh Sago Halaban Berjaya

Rakyaik lai sejahtera lo................................?