Senin, 20 Mei 2013 - 10 Rajab 1434 H 05:07:21 WIB
EKONOMI BISNIS

Swasembada Kedelai Mesti Konkret

Padang Ekspres • Senin, 06/08/2012 14:09 WIB • • 215 klik

Jakarta, Padek—Menteri Perta­nian (Mentan) kembali berkoar-koar bisa melakukan swasembada kedelai pa­da 2014. Padahal, hingga kini ma­salah lahan dan rendahnya harga jual menjadi kendala utama pening­katan produksi komoditi tersebut. Sus­wono mengatakan, pihaknya te­rus berusa­ha menggenjot produksi ke­delai dalam negeri guna mencapai target swa­sembada. Menurutnya, langkah awal yang dilakukan dengan me­nyiap­kan tambahan lahan untuk produksi.

 

Menurut dia, pihaknya sudah be­r­diskusi dengan Kepala Badan Per­tanahan Nasional (BPN) Hendar­man Supandji untuk bisa meman­fa­atkan ta­nah telantar yang jumlah­nya men­capai 7,5 juta hektare. Ke­menterian Pertanian, kata Suswo­no, sudah dijanjikan akan diberikan 2 juta hektare tanah untuk mening­katkan produksi pertanian. Ironis­nya, saat ini baru 13 ribu hektare tanah telantar yang statustusnya clear and clean.

 

“Kita sudah diskusi selama ku­rang lebih satu bulan untuk peman­faatan lahan telantar. Apalagi petani kita kan lahannya sempit dan harus bersaing dengan petani-petani rak­sasa dari Amerika,” papar Suswono, kemarin. Selain itu, hambatan paling be­sar terhadap produksi kedelai dalam negeri, yakni kurangnya minat petani untuk menanam kedelai kare­na harganya murah.

 

Suswono mengatakan, produksi ja­gung per hektarenya bisa mencapai 7-8 ton bahkan ada yang sampai 9 ton. Dengan harga Rp 2.300 per kg, pa­ra pe­tani bisa menghasilkan Rp 18 juta per hek­tare. Ini berbeda dengan ke­delai. De­ngan luasan lahan yang sama, petani ha­nya bisa mempro­duksi 2 ton. Jika har­ganya Rp 5 ribu per kg mereka hanya bisa dapatkan Rp 10 juta sekali panen.

 

“Idealnya, harga untuk kedelai satu setangah kali harga beras. Dengan harga tersebut sudah dipas­tikan margin keuntungan akan sa­ngat bagus,” katanya.

 

Menurutnya, berdasar penelitian Litbang Kementan, produksi kedelai bisa mencapai 2,7 juta ton per hek­ta­re. Tapi sekarang ini rata-rata pro­duksi nasional 1,5 juta ton. Karena itu, pi­hak­nya akan melakukan road­map ulang.

 

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Achmad Suryana mengakui, produktivitas kedelai nasional dalam lima tahun terakhir stagnan. Saat ini, produksi kedelai nasional hanya 779.000 ton per tahun, sementara kebutuhan nasional 2,2 juta ton per tahun. “Lebih banyak impornya,” katanya.

 

Suryana mengatakan, situasi itu terjadi lantaran banyak faktor, seperti peningkatan jumlah penduduk, alih fungsi lahan pertanian dan rendah­nya harga kedelai.

 

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, keinginan pemerintah untuk bisa swasembada kedelai pada 2014 ha­nya mimpi. Pasalnya, kebijakan pe­merintah tidak pro terhadap pe­ning­katan dan kesejahteraan petani. “Kalau kebijakannya masih seperti sekarang, rasa-rasanya kayak mimpi, ke­cuali ada upaya langsung yang funda­mental. Yang penting itu langkah konkret, bukan omong doang (omdo),” katanya.

 

Enny mencontohkan, kebijakan pembebasan bea masuk (BM) impor kedelailah yang membuat produksi kedelai nasional sulit meningkat. Padahal, BM itu bisa digunakan untuk pemberian insentif benih kualitas unggul guna memperbaiki hasil kedelai.(jpnn)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Unas bukan Segalanya

HIRUK pikuk ujian nasional (unas) seolah tidak ada habisnya.

Ketika publik menanti sikap tegas pemerintah seiring dengan amburadulnya pelaksanaan Unas 2013, muncul keputusan lain yang tak kalah mengejutkan. Yakni, sikap tegas pemerintah menghapus unas untuk level sekolah dasar (SD) dan sederajat. Ya, mulai tahun depan tidak ada lagi unas bagi siswa SD!

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 18 Mei 2013

Wako: Tertibkan Baliho

Mada bana, sapu habih se lai  ..........!

 

Polda Diminta Usut Temuan BPK

Lai ndak adoh main mato ......................?

 

Kapolres Bantah Pembunuh 2 Gadis Kabur

Bisa lo nyo luluih di lubang mancik tu........?