Kamis, 23 Mei 2013 - 13 Rajab 1434 H 07:53:59 WIB
RAKYAT SUMBAR

Terperangkap Air Bah, Selamat Berkat Zikir dan Doa Kepada Allah

Keluarga Incung Korban Banjir Bandang

Padang Ekspres • Minggu, 05/08/2012 11:17 WIB • RIKI SUARDI - Padang • 817 klik

Incung beserta istrinya bersyukur masih diselamatkan Allah SWT

Duka mendalam masih begitu terasa bagi korban banjir bandang yang terjadi pada, Selasa, (24/7). Sawah, ladang serta rumah warga yang berada di sekitar aliran Batang Kuranji dan aliran Batang Harau, porak-poranda akibat banjir tersebut. Tapi bagi Incung, 51, peristiwa yang mengerikan itu merupakan pelajaran berharga dalam sejarah hidupnya. Dia bersama istri serta dua orang anaknya, selamat dari air bah setelah berzikir dan memohon perlindungan kepada yang maha kuasa.

 

Sore itu (31/7) Padang Ekspres mengunjungi bebe­rapa kawasan yang ikut tersa­pu galodo di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh. Kawa­san itu merupakan salah satu yang terkena dampak banjir bandang. Dari kejauhan tim Padang Ekspres melihat se­buah pondok yang terbuat dari seng dan karton bekas.  Di sekeliling pondok itu, juga tampak batu-batu besar yang terseret arus galodo.

 

Dari cerita yang berhasil dihimpun, ternyata sebelum kejadian pondok tersebut dike­lilingi sawah dan ladang. Na­mun dalam satu malam, itu beru­bah menjadi bentaran Sungai Batang Kuranji. Di bedeng tersebut, terlihat se­orang pria berbadan ceking tengah duduk bersama se­orang wanita. Incung, dia memperkenalkan diri pada Padang Ekspres, sedangkan wanita yang disebelahnya ada­lah Nunung, 48, istri dari Incung.

 

Sehari-hari, Incung dan Nunung bekerja mengarap sawah dan ladang orang lain yang berada di kawasan tem­pat tingalnya. Saat ditemui Padang Ekspres, sepasang suami-istri ini terlihat me­mandangi bekas sawah dan ladang yang telah delapan tahun mereka garap itu, beru­bah menjadi bentaran Sungai Batang Kuranji. Menurut pe­ngakuan mereka, sebelum “petaka” itu datang, padi yang telah menguning di sawah, rencananya akan panen se­minggu kemudian,  sedangkan hasil ladang berupa pisang, terong, dan bingkuang bakal dipanen secepat mungkin.

 

Namun rencana itu sirna setelah terjadinya galodo ter­besar dan terparah dalam dasawarsa ini.

 

Kendati begitu, nasib mu­jur masih bergelantung kepada Incung dan Nunung, serta dua orang anak mereka, Andi, 20, dan Yusniade Fitri, 18. Sebab saat kejadian naas itu, mereka terperangkap air bah di dalam pondok yang berukuran 4 x7 meter persegi. Namun, berkat berzikir dan memohon perto­longan kepada yang maha kuasa, mereka akhirnya se­lamat.

 

“Kami tidak menyangka selamat dari luapan Sungai Batang Kuranji yang arusnya begitu deras,” kata bapak lima orang anak ini.

 

Mereka tak menyangka bahwa Allah SWT, masih sa­yang kepada mereka dan ma­sih memberikan kesem­patan untuk tetap hidup didunia ini. Padahal, disekeliling gubuk kecil yang mereka tempati sejak empat tahun silam itu, sudah dipenuhi batu-batu besar yang diseret arus galodo.

 

Incung juga menceritakan bahwa sesaat sebelum keja­dian, dia bersama istri dan dua anaknya, tengah menunggu detik-detik berbuka dari dalam pondok. Tidak berapa lama kemudian, mereka mendengar suara azan berkumandang. Selesai suara adzan tersebut, mereka mendengar suara ge­muruh yang begitu keras, se­hingga  mereka langsung ber­hamburan keluar pondok un­tuk mencari tahu dari mana sumber datangnya suara itu.

 

Rupanya, suara gemuruh tersebut berasal dari arah sungai yang berjarak sekitar 100 meter dari pondok yang mereka huni. Dari arah sungai, mereka melihat  air dan batu bergulung-gulung menuju pon­dok mereka. “Saat kejadian itu, kami bertahan untuk tidak pergi kemanapun. Sebab kalau pergi, kami pasti akan terseret arus. Untuk itu, kami putuskan untuk tetap berada di dalam pondok. Kemudian kami lang­sung berzikir dan memohon perlindungan kepada Allah,” kata Incung dengan logat ja­wanya.

 

Sebelum masuk ke dalam pondok, lanjut Incung, dia langsung berlarian ke arah kandang kambing, dan kan­dang ayam kampung yang sedang mengeram telur. Setiba dikandang, dia meminta pada Allah agar semua ternaknya selamat. Bahkan disaat itu, Incung juga bergumam pada ternak-ternaknya untuk ikut berzikir dan memohon per­lindungan kepada yang maha kuasa. Sekitar pukul 19.30 WIB, air bah terus membesar.

 

Incung kembali ke dalam pondok. Dia melihat di luar cuaca mulai tidak bersahabat. Angin kencang serta hujan lebat terus menguyur pondok mereka. Pondok reot keluarga ini hanya diterangi cahaya lentera dan senter. Sembari terus berzikir diikuti anggota keluaga lainnya, dari dalam pondok kedua bola mata In­cung terus tertuju kearah hulu Sungai Batang Kuranji. Dari dalam pondok, dia terus me­lihat batu-batu besar yang bergulung-gulung merencong ke arah sisi kiri dan sisi kanan pondok mereka.

 

“Andai saja batu itu be­gulung-gulung secara vertikal, maka batu tersebut akan meng­hantam pondok yang kami tempati ini. Namun ber­kat berzikir dan terus memo­hon pertolongan kepada Allah, akhirnya  kami selamat dari banjir bandang itu,” ungkap­nya lirih.

 

Dari dalam pondok, Incung juga melihat beberapa ternak seperti sapi, kerbau, serta peralatan rumah tangga se­perti kulkas, lemari dan lain sebagainya, ikut begulung-gulung terseret arus galodo bersama batu-batu besar. Orang­-orang yang berada di Kapalo Koto, sebut Icung, juga sempat mengira dia bersama istri dan anak-anaknya telah terseret arus banjir bandang, karena pondok yang dia huni berada sekitar 100 meter dari sungai Batang Kuranji.

 

“Kami sempat dikira orang sudah hanyut, karena saat kejadian itu, luapan Sungai Batang Kuranji yang mengalir deras, mencapai jalan utama Dr M Hatta yang berjarak sekitar 300 meter dari sungai Batang Kuranji. Sementara pondok kami, hanya berjarak sekitar 100 meter dari sungai Batang Kuranji. Jadi mustahil kalau kami bisa selamat. Na­mun karena Allah masih sa­yang sama kami, maka Allah menunjukkan kekuasaannya pada saat itu,” imbuhnya.

 

Sekitar pukul 23.00 WIB, air berangsur-angsur surut. Kemudian, dia bersama is­trinya langsung melihat  ter­nak-ternaknya yang berada di dalam kandang. “Alham­du­lilah, semua ayam dan kam­bing yang saya “suruh” untuk berzikir dan berdoa, selamat dari banjir. Padahal saat ke­jadian, air sempat mencapai paha orang dewasa, dan arus­nya sangat kuat,” bebernya. 

 

Dia juga mengatakan, saat melihat kondisi ternak-ter­naknya, dia bersama istri serta dua orang anaknya, sempat menyaksikan kejadian aneh, yaitu seekor induk kambing yang berusaha menye­la­mat­kan dua ekor anak kam­bing dengan cara mengangkat anak kambing ke atas pundak induk kambing tersebut, sehingga tidak terseret arus. Incung yakin, jika dia tidak “meminta” ternak-ternaknya untuk ikut berzikir, maka tentu semua ternak-ternaknya akan hanyut, dan pondoknya juga ikut ter­seret arus. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kebangkitan, Manufacturing Optimisme

BERBICARA kebangkitan nasional di hari-hari seperti sekarang mungkin segera tergelincir ke arah pesimisme. Derasnya arus informasi memungkinkan manusia Indonesia menerima informasi jenis apa pun. Tetapi, kecenderungan ”naluriah” manusia selalu suka mengerumuni insiden. Karena itulah, jalanan kadang macet berat ketika ada kecelakaan, sekalipun orang yang celaka sudah minggir.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Rabu, 22 Mei 2013

Pelapor Bisa Ajukan Praperadilan

Jaan patah samangaik .................!

 

Disdik Siapkan PPDB Online

Lai dijamin ndak adoh titipan lai..............?

 

Lelang Proyek Gedung Parkir Dipertanyakan

Ado lo tacium baun busuk tu................................?