Minggu, 26 Mei 2013 - 16 Rajab 1434 H 00:24:52 WIB
NASIONAL

Sempat Diculik Preman Cukong Kayu Liar

Ambrosius Ruwindrijarto, Aktivis Lingkungan Peraih Ramon Magsaysay

Padang Ekspres • Kamis, 02/08/2012 14:22 WIB • M DINARSA K - Bogor • 387 klik

Ambrosius Ruwindrijarto berjuang untuk keseimbangan lingkungan.

Perjuangan tak kenal lelah Ambrosius Ruwindrijarto berbuah manis. Kerja kerasnya sebagai aktivis lingkungan membuatnya menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan sekelas Nobel untuk tingkat Asia.

 

LAGU Always milik band rock kondang Bon Jovi mem­ba­­hana di Kedai Telapak, Bo­gor, Jawa Barat, Selasa malam (31/7). Seorang lelaki ber­ka­ca­mata tampak asyik ber­ceng­ke­rama dengan kawan-kawan­nya di salah satu sudut kedai. Dia­lah Ambrosius Ru­win­drijarto.

 

Dia adalah pionir Perkum­pulan Telapak yang berke­du­du­kan di Bogor. Sosok bersa­ha­ja itu tengah menjadi bahan pem­bicaraan di kalangan kole­ga­nya se­sama aktivis lingku­ngan ka­rena baru saja di­umum­kan se­bagai penerima Ra­mon Mag­say­s­ay Award 2012 untuk kate­gori Emergent Leader.

 

Lelaki yang biasa disapa Ru­wi itu sama sekali tidak me­nyang­ka bahwa dirinya akan men­jadi salah seorang di an­tara enam penerima peng­har­gaan yang juga kerap dise­but sebagai no­bel tingkat Asia itu. “Saya se­dang nyetir saat pon­sel saya ber­bunyi. Saat saya ang­kat, yang te­lepon ternyata Pre­siden RMAF (Ra­mon Mag­saysay Award Foun­dation) Carmencita Abella.

 

Tentu saja saya kaget dan tidak percaya,” urai Ruwi.

 

”Saya sempat berpikir itu penipuan lewat telepon. Tapi, tidak lama kemudian datang pengumuman resmi via e-mail,” sambungnya, lantas tertawa.

 

Lelaki kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 14 November 1971, itu bergabung dengan lima peraih penghargaan Ramon Magsaysay 2012 lainnya. Yaitu, Chen Shu-chu dari Taiwan, Ro­mulo Davide (Filipina), Kulan­dei Francis (India), Syeda Rizwana Hasan (Bangladesh), dan Yang Saing Koma (Kamboja).

 

Ruwi pun resmi masuk klub pe­nerima penghargaan Ramon Mag­saysay dari Indonesia. Dia me­nyusul jejak be­berapa tokoh, an­tara lain man­tan ketua umum PP Mu­ham­ma­diyah M Syafii Maarif, man­tan Presiden Ab­dur­rah­man Wahid (Gus Dur), war­ta­wan Atmakusumah Astraat­mad­ja, penulis Pramoedya Anan­ta Toer, dan mantan Gu­ber­­nur DKI Jakarta Ali Sadi­kin.

 

Pada 25 Agustus mendatang dia berangkat ke Filipina. Selan­jutnya, prosesi penyerahan award dilakukan di Philippine Con­vention Center (PCC), Manila, pada 31 Agustus. Ruwi me­rasa belum layak menerima peng­hormatan bergengsi terse­but. “Apa yang saya lakukan se­be­narnya belum apa-apa. Se­bab, be­lum banyak orang yang ber­ge­rak demi kelestarian ling­ku­ngan,” katanya.

 

“Penghargaan itu saya mak­nai sebagai tambahan energi un­tuk bekerja lebih keras demi me­wujudkan kelestarian lingku­ngan hidup dan ekonomi berba­sis kerakyatan,” sambung Ruwi.

 

Bagi Ruwi, bersentuhan de­ngan alam bebas bukan ba­rang baru. Dia melakukannya sejak ber­status mahasiswa di Fakultas Ke­lautan Institut Pertanian Bo­gor (IPB). Kala itu dia kerap me­langlang ke alam bebas bersa­ma La­walata, unit kegiatan mah­a­sis­wa (UKM) di kampusnya. Se­telah lulus pada 1997, dia mem­ben­tuk Telapak bersama empat ka­wannya.

 

Motivasi awalnya adalah ingin tetap bekerja di bidang lingkungan hidup. Garis merah ge­rakan Ruwi dkk adalah tujuan me­wujudkan kelestarian alam ser­ta membangun ekonomi ber­basis kerakyatan bagi nela­yan, pe­tani, dan masyarakat adat. Ru­wi menjadi ketua organisasi itu pada 2006–2012.

 

Perkumpulan Telapak te­rus ber­kembang. Organisasi terse­but kini beranggota 240 orang dari beragam latar bela­kang pro­fesi. Lewat orga­nisasi itu pula, Ru­wi berjuang mem­bongkar ke­jahatan lingkungan yang ma­rak terjadi di Tanah Air.

 

Salah satu program yang kini di­garap Ruwi adalah pen­da­m­pi­ngan masyarakat adat Dayak Be­nuaq di Muara Tae, Ku­tai Barat, Ka­limantan Ti­mur. Ruwi menje­las­kan, mas­yarakat Dayak Be­nuaq terusir dari hutan saat za­man kera­jaan dan era kolonial Be­l­anda. Me­reka kembali meng­huni hu­tan itu setelah Indonesia mer­deka. Namun, belaka­ngan mereka kem­bali terusir se­telah ma­suknya sejumlah kor­po­rasi yang diberi pe­me­rintah kon­sesi untuk me­ngel­ola tanah adat me­lalui hak pe­ngelolaan hutan (HPH).

 

”Kami menemani mereka un­t­uk berjuang mendapatkan hak atas tanah adat mereka. Se­bagai pemilik tanah secara his­toris, mereka punya hak un­tuk tidak menjual tanah mere­ka,” papar Ruwi.

 

Telapak mengapresiasi lang­­­­­kah pemerintah dalam pe­nge­­­l­­­o­laan hutan. Tapi, hasil­nya ma­sih parsial. Dibutuhkan so­lusi ho­listik yang me­ngun­tung­kan se­mua pihak dalam me­nye­lesai­kan masalah yang di­se­butnya sebagai sebuah ben­­cana ekologi.

 

Menurut dia, salah seorang bi­rokrat di pemerintah revo­lu­sio­ner yang punya ide-ide ce­mer­lang adalah Menteri BUMN Dah­lan Iskan. Ruwi menyimpan keinginan untuk berjumpa de­ngan Dahlan dan berbagi ide.

 

Berhadapan dengan kor­po­rasi-korporasi besar tentu me­ngun­dang risiko. Intimidasi, pen­­­culikan, sampai penyiksaan per­­­n­ah dia alami. Tapi, se­ma­ngat Ruwi tidak kendur. Dua be­las tahun lalu dia terlibat kon­frontasi dengan cukong-cu­kong kayu illegal logging di Pangka­lan Bun, Kalimantan Tengah. Dia juga diculik dan disiksa oleh pre­man suruhan para juragan itu.

 

Namun, Ruwi enggan men­­­je­­laskan lebih jauh ten­tang pe­ris­tiwa tersebut. “Mung­kin itu ka­rena keti­daktahuan mereka saja. Pa­dahal, sebenarnya apa yang coba kami raih itu mem­ba­wa ke­baikan bagi semua. Bagi pi­hak korporasi juga,” te­rang­nya.

 

Ruwi beruntung karena men­dapat sokongan penuh dari sang istri. Ruwi menuturkan, da­lam sebulan, dirinya bisa sam­pai tiga minggu traveling dan ha­­nya menyisakan sepekan di ru­­mah. Dia berkeliling tak ha­nya un­tuk melakukan pen­dam­pi­ngan, tapi sekaligus meman­tau unit-unit usaha Tela­pak yang menjadi penopang keuangan organisasi tersebut. Antara lain; Koperasi Hutan Jaya Lestari di Konawe, Sulawesi Tenggara; dan Koperasi Giri Mukti Wana Tirta di Lam­pung Tengah yang meng­hasilkan furnitur ramah ling­kungan.

 

Jika luang, Ruwi meman­faat­kan waktunya untuk Maringi Re­jeki, putri semata wayangnya yang berumur lima tahun. “Saya sudah mengenalkan Ling-Ling (panggilan anaknya, red) dengan alam. Sejak umur enam bulan, dia saya ajak ke alam bebas,” ucap dia. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?