Jum'at, 24 Mei 2013 - 14 Rajab 1434 H 18:08:10 WIB
NASIONAL

KPK Incar Jenderal Bintang Tiga

Setelah Gubernur Akpol Tersangka

Padang Ekspres • Rabu, 01/08/2012 13:43 WIB • • 686 klik

Penyidik KPK mengumpulkan barang bukti di kantor Korlantas Mabes Polri

Jakarta, Padek—Ini pert­a­ma kalinya seorang jende­ral polisi aktif dijadikan tersang­ka korupsi. Komisi Pem­be­ran­tasan Korupsi (KPK) be­ra­ni  “menilang” mantan Ke­pala Korlantas Mabes Polri Ir­jen Pol Djoko Susilo dalam du­gaan kasus korupsi proyek pe­nga­daan simulator SIM. Meski sempat mendapatkan te­kanan, KPK pun berjanji me­ngem­bang­kan kasus ini sam­pai tun­tas. Termasuk, me­n­yelidiki ke­mungkinan aliran dana pada jenderal polisi berpangkat lebih tinggi yang diduga terlibat.

 

”Sejak 27 Juli, KPK sudah meningkatkan kasus korupsi pengadaan simulator dari pe­nye­­lidikan ke penyidikan de­ngan ter­sangka DS (Djoko Susilo) yang pernah menjabat sebagai Korlantas Mabes Polri,” kata juru bicara KPK Johan Budi, ke­marin (31/7). Djoko yang se­karang menjabat sebagai Gu­bernur Akademi Kepolisian (Ak­pol) itu dijerat dengan pasal Pa­sal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Un­dang-Undang Pembe­rantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Nah, berdasarkan pasal ter­se­­­but, Djoko diduga menya­lah­g­u­nakan jabatannya untuk mem­­perkaya diri sendiri dan pi­hak lain dan dilakukan secara ber­sama-sama. Nah, dengan pa­sal dilaku­kan secara bersama-sa­ma itu KPK kini tengah mem­buru ke­ter­­li­batan pihak lain, termasuk jen­­de­ral polisi yang pangkatnya lebih ting­gi. “Kalau memang dite­mukan dua alat bukti yang cukup, siapa pun akan ditetapkan seba­gai tersang­ka,” kata Johan de­ngan nada te­gas. 

 

Kasus ini sendiri bermula pa­da Januari 2011 Korlantas Ma­bes Polri melakukan penun­ju­kan kepada PT Citra Mandiri Me­talindo untuk menyediakan alat simulator kendaraan untuk tes SIM. Tender itu berupa pe­ngadaan 700 simulator sepe­da mo­tor senilai Rp 54,453 miliar dan 556 simulator mobil senilai Rp 142,415 miliar.

 

PT Citra Mandiri Metalindo men­subkan pengadaan barang ke PT Inovasi Teknologi pim­pinan Bambang Sukotjo.  Dalam dokumen surat perintah kerja yang diteken pejabat pembuat ko­mitmen, Wakil Kepala Korps La­­lu Lintas Brigadir Jenderal Di­dik Purnomo, disepakati har­ga si­mulator sepeda motor adalah Rp 77,79 juta per unit dan simula­tor mobil Rp 256,142 juta per unit.

 

Padahal, harga asli dari PT Ino­vasi per unit simulator sepe­da motor hanya Rp 42,8 juta dan si­mulator mobil Rp 80 juta per unit. Artinya perusahaan Citra Mandiri  itu memperoleh untung lebih dari 100 persen, yakni Rp 116 miliar.

 

Nah, selisih Rp 100 miliar ini di­duga tak dinikmati sendiri me­lain­kan dibagi-bagi ke sejum­lah pe­jabat Korlantas maupun peja­bat Mabes Polri. “Selain ter­sang­ka DS, seorang jenderal bin­tang tiga diduga juga ikut me­nerima pem­berian dari pengusaha,” ujar sum­ber JPNN kemarin. 

 

Memang bukan suatu hal yang mudah bagi KPK untuk me­nangani kasus korupsi di tu­buh Polri. Sebab, selain sama-sa­ma penegak hukum, para pe­nyi­dik KPK juga berasal dari pe­nyi­dik-penyidik Mabes Polri. Na­­mun, KPK membuktikan bah­­wa mereka merupakan ko­misi yang tidak takut meng­hadapi tekanan dan kepentingan manapun.

 

Buktinya saat melakukan pen­g­geledahan di kantor Kor­lan­tas Mabes Polri Senin (30/7) malam, penyidik KPK sempat di­h­alang-halangi oleh rekannya sen­diri dari penyidik Bareskrim Ma­bes Polri yang meluncur ke lo­kasi penggeledahan sekitar pu­kul 22.00. Kondisi malam itu sem­pat memanas. “Kita awalnya be­nar-benar silent, termasuk pa­da rekan-rekan wartawan . Tu­juannya agar dokumen ba­rang bukti tidak dihilangkan,” katanya. 

 

Sumber di KPK itu menga­takan, rupanya pengge­ledahan sam­pai juga ke telinga para pe­nyidik Bareskrim. Bahkan, me­reka sempat bertindak tegas ke petugas KPK. Petugas KPK yang jumlahnya mencapai 30 orang itu diminta untuk segera meng­hen­tikan penggeledahan dan “di­kurung” tidak diperkenankan keluar dari kantor Korlantas.

 

Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, petugas KPK pun menurut. “Padahal, se­jak sore penggeledahan berja­lan lancar. Orang-orang lantas (lalu-lin­tas) koperatif. Tiba-tiba pe­nyidik Bareskrim datang dan me­ngalah menuruti permintaan me­reka,” katanya.

 

Mendapat tekanan di lapa­ngan, tim KPK langsung me­ngon­tak pimpinannya. Ternyata pim­p­i­nan KPK masih terus me­man­tau perkembangan anak buah­nya di lapangan. Begitu men­dapat te­lepon dari tim di la­p­a­ngan, Abra­ham Samad, Bam­bang Wid­jo­janto dan Bus­yro Mu­qod­das turun ke lapangan. Ba­ru kali ini pim­pinan KPK ter­jun langsung ke lo­kasi peng­geledahan.

 

Mereka tiba di sana sekitar pu­­kul 23.00 dan ditemui Ka­ba­res­krim Mabes Polri Kom­jen Pol Sutarman. Ketiga pimpi­nan itu menggelar rapat dadakan ber­sa­ma Sutarman. Sumber ter­se­but mengatakan bahwa Su­tar­man melobi agar KPK tidak mem­­bawa berkas-berkas doku­men yang hen­dak disita KPK. Ala­­­sannya, Ba­reskrim juga se­dang menyidik k­a­­sus yang sama dan me­mer­lu­kan dokumen ter­se­but.

 

Tapi pimpinan KPK berku­kuh harus mendapatkan berkas itu. “Ta­pi lobi-lobi itu tidak ber­lang­sung baik-baik dan tidak pa­nas. Tapi yang panas yang di ba­wah-bawah (tim penyidik),” im­buhnya.

Akhirnya pertemuan itu men­capai kata sepakat. Kese­pa­katannya adalah, penyidik KPK boleh terus melakukan peng­geledahan, namun barang buk­ti itu tidak tidak boleh dibawa ke luar dulu dan dikumpulkan di sa­lah satu ruangan di Korlantas yang kemudian disegel dan bisa di­bawa ke gedung KPK.

 

Petugas Korlantas sangat ter­tutup pada wartawan. Tidak ku­rang ada delapan Provost yang melarang para peliput ma­suk. Fotografer JPNN yang ber­hasil menyusup memotret di de­kat lobi gedung Korlantas pu­kul 05.30 pagi melihat pe­nyidik KPK me­nge­pak doku­men-doku­men itu dengan segel bertulis KPK. Ketua KPK Abraham Sa­mad yang da­tang berjaket, tam­pak ikut meme­riksa doku­men. Hasil perte­muan antara Abra­ham, Bambang dan Timur ada­lah adanya joint investigation atau penyidikan gabu­ngan anta­ra KPK dan Mabes Polri. “Prin­sip­nya, dua institusi sepa­kat un­tuk mem­berantas korupsi. KPK mena­ngani ter­sangka DS pihak Mabes mena­ngani pejabat pem­buat komit­mennya,” kata Abr­a­ham Samad usai perte­muan di ruang pribadi Kapolri selama satu jam.

 

Dalam pertemuan itu dise­pa­kati semua dokumen boleh di­bawa ke KPK. Namun, jika nan­ti ada dokumen yang dibu­tuh­kan penyidik Mabes Polri, ha­rus di­serahkan kembali. “Kita tun­tas­kan korupsi bersama-sama, se­mua sama di mata hukum,” ka­ta Kapolri Jenderal Timur Pra­dopo.

 

Ditanya soal tersangka dari versi Mabes Polri, Timur enggan mem­buka. “Nanti ya Dik, ini ma­sih berjalan, terima kasih ya Dik,” katanya lantas buru-buru ma­suk ke ruangan ditemani Ka­ro­penmas Mabes Polri Brig­jen Boy Rafli Amar.

 

Dipantau sejak 2012

 

Berdasarkan informasi yang di­kumpulkan, KPK sebenarnya su­dah memantau dugaan ko­rup­­si ini sejak Januari 2012 si­lam. Diam-diam komisi anti­ko­rupsi itu mengumpulkan bahan ke­terangan untuk mendalami ka­sus tersebut. Selain itu, KPK juga memantau persidangan pim­pinan PT Inovasi Teknologi Bam­bang Sukotjo di Pengadilan Negeri Bandung yang didakwa melakukan penggelapan.

 

Rupanya, tim penyidik Di­rek­torat Tipikor Bareskrim Ma­­bes Polri juga melakukan pe­ny­e­lidikan. Belakangan mere­ka me­ningkatkan menjadi penyi­dikan. “Ini sebelumnya sudah diperiksa Propam, lalu Irwasum, lalu ke Bareskrim,” kata Kadiv­hu­mas Polri, Irjen Anang Iskan­dar. 

 

Di bagian lain, Menko Polhu­kam Djoko Suyanto menga­ta­kan, dirinya sudah melakukan ko­­munikasi dengan ketua KPK dan Kapolri terkait dengan pe­na­nganan kasus dugaan korup­si simulator uji SIM. Dia memin­ta agar penanganannya tetap se­suai dengan ketentuan yang ber­laku.

 

Hal itu untuk menghindari ter­ulangnya konflik yang dikenal de­ngan cicak vs buaya. “Jangan sam­pai nuansa seperti zaman la­lu, cicak buaya, KPK vs Polri ti­dak terjadi lagi,” kata Djoko di sela rapat terbatas,  di Kemen­dikbud, kemarin (31/7). (kuh/rdl/dim/fal/pri/jpnn)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Ujian Nasional

Hari ini pengumuman ujian nasional (UN) SMA sederajat 2013 diumumkan kepada siswa. Rekapitulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemen­dikbud) ada 2.678.575 siswa dinyatakan lulus ujian. Sedangkan 8.851 siswa lainnya divonis gagal atau tidak lulus. Di tingkat provinsi, Sumatera Barat tak masuk sepuluh besar nasional, jauh kalah dari Bali yang menempatkan 5 siswanya di 12 besar tertinggi dengan nilai UN murni.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Jumat, 24 Mei 2013

Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil

Tungkek mambaok rabah mah ...........!

 

Anak Nagari Manggopoh Demo

Jaan amuah dikicuah lai..........................!

 

Masyarakat Sipil Cecar Kajati

Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!