Senin, 20 Mei 2013 - 10 Rajab 1434 H 19:54:56 WIB
RAKYAT SUMBAR

Tanami Kudo-Kudo, Ajak Warga Lakukan Mitigasi

Kisah Seorang Nenek yang Menghadang Abrasi

Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 13:52 WIB • ZIKRINIATI ZN -- Padangpariaman • 411 klik

Hj Wismar mengelola pembibitan kecil di samping rumahnya.

Abrasi air laut di Pantai Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakantapakis, sudah memperlihatkan gejala yang semakin mengkhawatirkan. Dalam dua dekade terakhir, pinggiran pantai telah beralih antara 20 - 50 meter ke arah daratan. Sebuah penanda perubahan ikim telah terjadi.

 

HARUS diakui, kondisi cuaca ekstrem yang kerap terjadi di tengah laut mem­bawa dam­pak bagi masyarakat di wilayah ini. Namun tak demikian dengan Hj Wismar Wahab.  Nenek  62 tahun ini justru tak gentar ge­lom­bang pasang.

 

Tanahnya cukup luas di Korong Pasar Ulakan.  Dua buah rumah permanen berdiri kokoh di atas bidang tanah itu. Rumah orang tua Hj Wismar berhadap-hadapan dengan rumahnya sendiri.  Hala­man­nya cukup luas, bahkan boleh dikata sangat luas. Dengan bidang tanah 3 ha, Hj Wismar telah menata tanah itu dengan berbagai peruntukan.

 

“Masyarakat sini menyebut ta­nah ini Palak Tong Schin ka­rena dulunya merupakan ke­pu­nyaan orang Belanda bernama Tong Schin.

 

Saya memperuntukkan la­han dekat garis pantai sebagai tempat tanaman bakau tum­buh.  Agak ke darat, saya me­na­nami dengan berbagai tanaman yang bermanfaat seperti kayu, kelapa dan buah-bua­han. Se­bagian lagi, tanah ini dijadikan perlintasan bagi warga sekitar.  Sisanya buat bangunan rumah, kandang dan tempat pembibitan saya,” paparnya seraya men­cabuti rumput yang mulai me­nyamak di pembibitan kecilnya.

 

Lahan harus dipe­run­tuk­kan sesuai dengan fung­si­nya. Daerah yang dekat de­ngan pantai, biar­kan saja men­jadi hutan. Bila perlu dita­nami lebih banyak lagi tanaman pantai yang ber­man­faat selain bakau.

 

Ia banyak memunguti ana­kan bakau kudo-kudo, sebutan lokal untuk Aegiceras cor­ni­culata.  Menurutnya, jenis ini mendominasi wilayah itu.  Wa­lau banyak jenis tumbuhan lain, tapi kudo-kudo me­ru­pakan tem­pat tinggal berbagai biota laut.

 

“Saya pernah melihat udang bertelur di bawah akar­nya. Belakangan, ikan-ikan kecil juga kerap saya jumpai di situ,” katanya.

 

Hutan mangrove, kata Hj Wismar, baru belakangan ia pelajari.  Sepanjang hidupnya, hingga umur 7 tahun ia tinggal di Ulakan, lalu pergi merantau sampai usia 20 ta­hun. Se­pulang merantau, ia menetap di Ulakan dan tak pernah lebih mendalam memperhatikan lingkungan sekitar. ”Baru sete­lah bertemu Donna, saya sadar bahwa lingkungan sekitar be­rubah,” akunya.

 

“Awalnya, saya tidak ter­libat langsung dengan program FIELD-Bumi Ce­ria. Se­tahun setelah program ber­jalan, pengujung tahun 2011, saya diminta oleh ke­lompok sekolah lapangan untuk me­nilai hasil-hasil sekolah la­pangan. Ini aneh, saya yang tidak terlibat dalam sekolah lapangan kok diminta me­nilai?” paparnya.

 

Dari penilaian itu, jelas Hj Wismar, sudah ada kesadaran yang meningkat pada ma­syarakat Ulakan. Masyarakat sudah mulai berpikir bagai­mana caranya menahan abrasi pantai, sudah ada juga yang berpikir tentang bagaimana caranya menyelamatkan diri ketika terjadi tsunami serta perubahan-perubahan lain­nya.

 

“Saya melihat perubahan itu bukan hanya pada para alumni sekolah lapangan, tapi juga tetangga-tetangga me­reka,” jelasnya.

 

Perubahan itu justru me­ma­cu Hj Wismar melakukan sesuatu. ”Saya tertantang de­ngan hasil penilaian saya sen­diri. Masa orang lain yang harus peduli dengan ling­kungan di sini.  Mestinya saya sebagai orang asli yang berdiri paling depan. Apalagi, kan saya yang tinggal paling dekat dengan pantai,” paparnya.

 

Sejak saat itu, Hj Wismar rajin mengunjungi garis pantai yang membujur panjang di sekitar rumahnya. Tanaman mangrove jenis kudo-kudo menjadi favoritnya.  “Saya sudah siapkan beberapa poli­bag di rumah untuk menam­pung anakan kudo-ku­do. Ta­pai kebanyakan anakan itu saya ambil dari pohon induk lalu langsung saja dita­nam,” katanya.

 

Pengembangan jenis ba­kau ini tergolong sangat mu­dah, kata Hj Wismar, ana­kan hanya membutuhkan naungan dan tanah yang sedikit lembab atau berair. Waktu mengambil anakan dari permukaan tanah, usahakan agar akarnya tidak terganggu. Kalau me­mung­kinkan jangan dicabut, tapi digali di sekitar anakan se­hingga tanah lembabnya ter­bawa.  Sebelum itu, sediakan lubang kecil untuk menam­pung anakan. Ketika anakan dipindahkan, lanjutnya lagi, usahakan waktunya jangan lama-lama.  Dari pinggir pa­n­tai di dekat rumahnya, Hj Wismar menjelaskan prosedur sederhana pengembangan je­nis tanaman kudo-kudo.

 

Area Manager FIELD-Bumi Ceria, Madonna, yang disebut-sebut Hj Wismar me­nilai selama ini tanaman kudo-kudo jarang diminati warga Ula­kan. Ta­naman ini hanya dianggap se­bagai tanaman yang tumbuh liar dipinggir pantai berlumpur.  “Penye­ba­rannya pun tidak tera­tur, ter­gantung di mana buahnya jatuh dibawa angin atau arus,” katanya.

 

Menurut Madonna, hutan mangrove banyak terdapat di pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut. Walau tidak ter­pe­nga­ruh iklim, hutan mangrove sangat tergantung dengan campur tangan manusia.

 

“Hutan ini, jika dikem­bangkan dengan baik maka berfungsi sebagai penahan abrasi pantai,” kata Madonna.

 

James W Nybakken, seo­rang ahli biologi kelautan, dalam bukunya menyebutkan hutan mangrove dicirikan oleh tumbuhan dari 9 genus (Avi­cen­nia, Sueda, Laguncularia, Lumnitzera, Xylocarpus, Ae­gi­ceras, Aegialitis, Rhi­zop­hora, Bruguiera, Ceriops, dan Sonneratia), memiliki akar napas (pneumatofor), adanya zonasi (Avicennia/Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ce­riops, Nypa), tumbuh pada substrat tanah berlumpur/berpasir dan variasinya, de­ngan kadar salinitas atau kadar keasinan yang juga bervariasi. (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Jangan Anggap Serius Twitter

SAAT meluncurkan Twitter pada 2006, Jack Dorsey tentu tak menginginkan media tersebut digunakan untuk memfitnah, menjatuhkan, atau membunuh karakter seseorang. Namun, Twitter memang memberikan ruang yang bebas kepada siapa pun untuk menyampaikan pendapat, informasi, atau apa pun tanpa sensor.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Senin, 20 Mei 2013

Polda Geledah Tempat Hiburan

Lai sobok nan dicari Ndan..........................................?

 

Komitmen Kapolda Dipertanyakan

Tancap gas lah Pak...............!

 

Warga Ancam Tuntut PT AMP

Pajuangan taruih sampai dapek...........!