- 12:38 WIB
- 12:38 WIB
- 11:58 WIB
- 11:04 WIB
- 12:37 WIB
- 12:24 WIB
- 12:23 WIB
- 12:22 WIB
- 12:11 WIB
- 12:11 WIB
Tanami Kudo-Kudo, Ajak Warga Lakukan Mitigasi
Kisah Seorang Nenek yang Menghadang Abrasi
Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 13:52 WIB • ZIKRINIATI ZN -- Padangpariaman • 411 klik

Abrasi air laut di Pantai Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakantapakis, sudah memperlihatkan gejala yang semakin mengkhawatirkan. Dalam dua dekade terakhir, pinggiran pantai telah beralih antara 20 - 50 meter ke arah daratan. Sebuah penanda perubahan ikim telah terjadi.
HARUS diakui, kondisi cuaca ekstrem yang kerap terjadi di tengah laut membawa dampak bagi masyarakat di wilayah ini. Namun tak demikian dengan Hj Wismar Wahab. Nenek 62 tahun ini justru tak gentar gelombang pasang.
Tanahnya cukup luas di Korong Pasar Ulakan. Dua buah rumah permanen berdiri kokoh di atas bidang tanah itu. Rumah orang tua Hj Wismar berhadap-hadapan dengan rumahnya sendiri. Halamannya cukup luas, bahkan boleh dikata sangat luas. Dengan bidang tanah 3 ha, Hj Wismar telah menata tanah itu dengan berbagai peruntukan.
“Masyarakat sini menyebut tanah ini Palak Tong Schin karena dulunya merupakan kepunyaan orang Belanda bernama Tong Schin.
Saya memperuntukkan lahan dekat garis pantai sebagai tempat tanaman bakau tumbuh. Agak ke darat, saya menanami dengan berbagai tanaman yang bermanfaat seperti kayu, kelapa dan buah-buahan. Sebagian lagi, tanah ini dijadikan perlintasan bagi warga sekitar. Sisanya buat bangunan rumah, kandang dan tempat pembibitan saya,” paparnya seraya mencabuti rumput yang mulai menyamak di pembibitan kecilnya.
Lahan harus diperuntukkan sesuai dengan fungsinya. Daerah yang dekat dengan pantai, biarkan saja menjadi hutan. Bila perlu ditanami lebih banyak lagi tanaman pantai yang bermanfaat selain bakau.
Ia banyak memunguti anakan bakau kudo-kudo, sebutan lokal untuk Aegiceras corniculata. Menurutnya, jenis ini mendominasi wilayah itu. Walau banyak jenis tumbuhan lain, tapi kudo-kudo merupakan tempat tinggal berbagai biota laut.
“Saya pernah melihat udang bertelur di bawah akarnya. Belakangan, ikan-ikan kecil juga kerap saya jumpai di situ,” katanya.
Hutan mangrove, kata Hj Wismar, baru belakangan ia pelajari. Sepanjang hidupnya, hingga umur 7 tahun ia tinggal di Ulakan, lalu pergi merantau sampai usia 20 tahun. Sepulang merantau, ia menetap di Ulakan dan tak pernah lebih mendalam memperhatikan lingkungan sekitar. ”Baru setelah bertemu Donna, saya sadar bahwa lingkungan sekitar berubah,” akunya.
“Awalnya, saya tidak terlibat langsung dengan program FIELD-Bumi Ceria. Setahun setelah program berjalan, pengujung tahun 2011, saya diminta oleh kelompok sekolah lapangan untuk menilai hasil-hasil sekolah lapangan. Ini aneh, saya yang tidak terlibat dalam sekolah lapangan kok diminta menilai?” paparnya.
Dari penilaian itu, jelas Hj Wismar, sudah ada kesadaran yang meningkat pada masyarakat Ulakan. Masyarakat sudah mulai berpikir bagaimana caranya menahan abrasi pantai, sudah ada juga yang berpikir tentang bagaimana caranya menyelamatkan diri ketika terjadi tsunami serta perubahan-perubahan lainnya.
“Saya melihat perubahan itu bukan hanya pada para alumni sekolah lapangan, tapi juga tetangga-tetangga mereka,” jelasnya.
Perubahan itu justru memacu Hj Wismar melakukan sesuatu. ”Saya tertantang dengan hasil penilaian saya sendiri. Masa orang lain yang harus peduli dengan lingkungan di sini. Mestinya saya sebagai orang asli yang berdiri paling depan. Apalagi, kan saya yang tinggal paling dekat dengan pantai,” paparnya.
Sejak saat itu, Hj Wismar rajin mengunjungi garis pantai yang membujur panjang di sekitar rumahnya. Tanaman mangrove jenis kudo-kudo menjadi favoritnya. “Saya sudah siapkan beberapa polibag di rumah untuk menampung anakan kudo-kudo. Tapai kebanyakan anakan itu saya ambil dari pohon induk lalu langsung saja ditanam,” katanya.
Pengembangan jenis bakau ini tergolong sangat mudah, kata Hj Wismar, anakan hanya membutuhkan naungan dan tanah yang sedikit lembab atau berair. Waktu mengambil anakan dari permukaan tanah, usahakan agar akarnya tidak terganggu. Kalau memungkinkan jangan dicabut, tapi digali di sekitar anakan sehingga tanah lembabnya terbawa. Sebelum itu, sediakan lubang kecil untuk menampung anakan. Ketika anakan dipindahkan, lanjutnya lagi, usahakan waktunya jangan lama-lama. Dari pinggir pantai di dekat rumahnya, Hj Wismar menjelaskan prosedur sederhana pengembangan jenis tanaman kudo-kudo.
Area Manager FIELD-Bumi Ceria, Madonna, yang disebut-sebut Hj Wismar menilai selama ini tanaman kudo-kudo jarang diminati warga Ulakan. Tanaman ini hanya dianggap sebagai tanaman yang tumbuh liar dipinggir pantai berlumpur. “Penyebarannya pun tidak teratur, tergantung di mana buahnya jatuh dibawa angin atau arus,” katanya.
Menurut Madonna, hutan mangrove banyak terdapat di pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut. Walau tidak terpengaruh iklim, hutan mangrove sangat tergantung dengan campur tangan manusia.
“Hutan ini, jika dikembangkan dengan baik maka berfungsi sebagai penahan abrasi pantai,” kata Madonna.
James W Nybakken, seorang ahli biologi kelautan, dalam bukunya menyebutkan hutan mangrove dicirikan oleh tumbuhan dari 9 genus (Avicennia, Sueda, Laguncularia, Lumnitzera, Xylocarpus, Aegiceras, Aegialitis, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, dan Sonneratia), memiliki akar napas (pneumatofor), adanya zonasi (Avicennia/Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Nypa), tumbuh pada substrat tanah berlumpur/berpasir dan variasinya, dengan kadar salinitas atau kadar keasinan yang juga bervariasi. (***)
[ Red/Administrator ]
SAAT meluncurkan Twitter pada 2006, Jack Dorsey tentu tak menginginkan media tersebut digunakan untuk memfitnah, menjatuhkan, atau membunuh karakter seseorang. Namun, Twitter memang memberikan ruang yang bebas kepada siapa pun untuk menyampaikan pendapat, informasi, atau apa pun tanpa sensor.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Polda Geledah Tempat Hiburan
Lai sobok nan dicari Ndan..........................................?
Komitmen Kapolda Dipertanyakan
Tancap gas lah Pak...............!
Warga Ancam Tuntut PT AMP
Pajuangan taruih sampai dapek...........!