- 12:23 WIB
- 12:22 WIB
- 12:22 WIB
- 12:21 WIB
- 12:20 WIB
- 12:19 WIB
- 12:18 WIB
- 12:17 WIB
- 12:16 WIB
- 12:15 WIB
Saatnya Bangun Gerakan Kepedulian Sosial
Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 13:46 WIB • * • 622 klik
MINDSET (pola pikir) ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah setiap musibah terjadi, sudah saatnya diubah. Sudah saatnya ada gerakan bersama melibatkan seluruh elemen masyarakat turut terlibat dalam pembangunan kesejahteraan sosial.
Demikian mengemuka dalam diskusi Menteri Sosial RI Salim Segaf Al Jufri bersama Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan sejumlah pejabat Kemensos ketika bersilaturahmi ke redaksi Padang Ekspres, kemarin (27/7). Dalam kunjungan yang diterima Pemimpin Perusahaan Padang Ekspres Two Efly dan Pemred Montosori itu, Salim Segaf Al Jufri menjelaskan, pintu masuk membangun gerakan itu bisa datang dari berbagai pihak dengan cara membangun kemitraan melibatkan berbagai pihak. “Kalau semua memberikan kontribusi, semua bisa teratasi. Semangat kebersamaan ini yang ingin kita bangun,” ujarnya.
Dia menyadari, peran media sangat besar dalam menyampaikan setiap program yang dilakukan Kementerian Sosial. “Media diharapkan berperan dalam penanggulangan permasalahan sosial, karena pemberitaan itu penting untuk menggugah masyarakat,” katanya.
Politisi PKS ini menjelaskan, permasalahan sosial terjadi karena masih tingginya tingkat kemiskinan. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin bertambah lebar di Indonesia akhir-akhir ini.
Untuk itu, kemiskinan harus diselesaikan. Namun, dia menyayangkan banyak daerah tidak memprioritaskan Dinas Sosial dalam penanganan masalah sosial.
Walaupun begitu, mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi ini menegaskan, Kementerian Sosial terus berusaha meningkatkan semangat masyarakat untuk bersama-sama menangani masalah sosial.
Misalnya, memberikan bantuan rumah yang dikerjakan bersama-sama tanpa upah, dan membeli bahannya dengan harga tidak terlalu tinggi.
“Indonesia butuh orang yang mampu menjembatani antara orang miskin dengan mampu. Karena, sebenarnya masyarakat Indonesia jati dirinya mempunyai kepedulian. Tinggal bagaimana kita membangkitkannya,” terang cucu dari ulama besar Palu, yaitu Sayyid Idrus bin Salim Al Jufrie ini.
Jika ada orang yang memulai, alumni Universitas Madinah ini merasa, akan banyak orang dan lembaga lain mengikutinya. Yang penting ada database akurat. “Buktinya, ketika kita (Kemensos, red) membangun rumah atau melaksanakan program bedah kampung, hal itu diberitakan media dan diketahui oleh pihak swasta. Mereka berbondong-bondong ikut membantu,” papar pria kelahiran di Surakarta, Jawa Tengah, 17 Juli 1954 ini.
Pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat peduli terhadap peningkatan kesejahteraan sosial, menurutnya, terjadi karena dia melihat masyarakat peduli terhadap bencana alam, namun tidak peduli terhadap bencana sosial.
Kepedulian Sosial Terkikis
Selain membicarakan pentingnya peningkatan kesejahteraan sosial, dalam diskusi yang juga dihadiri Wakil Pemimpin Umum Padang Ekspres Sukri Umar, Wapemred Nashrian Bahzein dan Heri Sugiarto, Asisten Redaktur Pelaksana Rommi Delfiano, Koordinator Liputan Sanny Ardhy dan awak redaksi Padang Ekspres itu, dibahas pula soal mulai hilangnya kesetiakawanan dan kepedulian sosial di tengah-tengah masyarakat.
Itu terbukti kian menjamurnya anak jalanan di Padang, anak miskin makan pasir di Padangpariaman, dan kasus busung lapar di sejumlah daerah tertinggal di Sumbar. Realitas sosial ini sungguh ironi di tengah Sumbar yang terkenal kuat kultur adat istiadatnya. Yaitu, selain mempunyai keluarga, warga Minangkabau juga memiliki ninik mamak, kaum, dan nagari. “Kalau saja masing-masing pihak menjalankan fungsinya dan mempunyai kepedulian terhadap orang terdekat, ini tidak mesti terjadi,” kata Montosori.
Hal senada disampaikan Sukri Umar. Bencana alam berawal dari bencana sosial atau krisis kepedulian. Terjadi pembiaran terhadap penyimpangan yang akhirnya dianggap biasa alias permisif.
Karena itu, Nashrian Bahzein mengusulkan kepada Kemensos melalui dinas sosial sebagai leading sector di daerah, menebar virus gerakan kekuatan masyarakat sipil untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keminangan yang tergerus zaman.
Menanggapi itu, Mensos meminta jajarannya di daerah membuat gerakan pemberantasan anjal di Padang, dengan menggandeng media, masyarakat, LSM dan perguruan tinggi sebagai model. “Mari kita keroyok persoalan anjal di Padang ini bersama. Harus ada target, dalam tahun ini anjal di Padang tuntas,” kata Mensos memberi semangat. (ad/bis)
[ Red/Administrator ]
KOMISI Yudisial (KY) baru saja memilih pemimpin baru. Lembaga pengawas para hakim itu kini dipimpin Suparman Marzuki. Dia menggantikan Eman Suparman yang sudah 2,5 tahun menjadi ketua KY. Pria kelahiran 2 Maret 1961 tersebut sebelumnya menjabat ketua bidang pengawasan hakim dan investigasi. Suparman akan dibantu Abbas Said sebagai wakil ketua KY.
Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar
Hasil Pleno PAN Tuai Polemik
Namo e politik tu iyo ado polemik......!
333 JCH Batal Berangkat
Basaba sajo, nan pantiang adoh niaik ...............................................!
Bemokrat Serahkan Hand Traktor
Lai ndak udang balik bak wan tu..............?