- 06:26 WIB
- 06:25 WIB
- 06:24 WIB
- 06:23 WIB
- 06:19 WIB
- 06:16 WIB
- 06:08 WIB
- 06:06 WIB
- 06:05 WIB
- 12:39 WIB
Hamparan Zaitun Penuhi Bukit dan Lembah Wilayah
Menemukan Semangat Kebangkitan Islam di Granada, Benteng Terakhir Islam di Eropa (1)
Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 13:40 WIB • ABDUL ROKHIM -- Granada • 256 klik
Andalusia di Spanyol Selatan adalah situs yang tak bisa diabaikan dalam proses terbentuknya Eropa mutakhir. Dari kawasan seberang Afrika Utara itulah terletak pondasi bagi ekonomi, ilmu pengetahuan, seni, dan budaya Eropa modern.
MESKIPUN satu daratan, secara kasat mata, akan terlihat perbedaan antara wilayah Spanyol Selatan dan Utara, bahkan dengan semua kota utama di Eropa seperti Roma, Paris, London, dan Athena. Dari jendela kereta Renfe Alteria yang bertolak dari Stasiun Atocha Renfe di jantung Kota Madrid, perbedaan itu terlihat dari kontur alam yang berbukit-bukit, desain bangunan, serta warga asli Spanyol Selatan yang disapa dan diajak berbincang di sepanjang perjalanan selama 5,5 jam.
Memasuki wilayah Granada, hamparan bukit-bukit yang penuh dengan tanaman zaitun, asparagus, dan apel langsung menggantikan pemandangan bangunan flat, kawasan pergudangan, dan hamparan perumahan yang selalu terlihat saat masih di wilayah Madrid, masuk Getafe, hingga Manzanare.
Rakesh Saldanha, warga Inggris keturunan India yang sudah 20 tahun bekerja dan menetap di Granada, menceritakan, di Spanyol Selatan yang meliputi wilayah Granada, Cordoba, dan Sevilla, iklim lebih hangat. ”Saat musim panas ini, matahari bersinar terik sehingga suhu sama panas dengan di Afrika. Sedangkan jika musim dingin, meskipun kadang ada salju, dinginnya tak seekstrem di (Spanyol) Utara,” ceritanya sambil menenggak cola dalam kaleng saat berbincang di kantin kereta api yang nyaman.
Cahaya matahari yang melimpah dan musim dingin yang pendek itu membuat 918.702 penduduk (hasil sensus 2010) di kawasan yang juga populer disebut sebagai Semenanjung Andalusia itu menjadikan agrobisnis dan turisme sebagai mesin utama perekonomian.
”Selain menghasilkan jutaan euro, dua sektor bisnis itulah yang membuat warga Selatan lebih ramah,” ujarnya.
Ingin membuktikan cerita Saldanha, penulis mencoba menyapa beberapa penumpang yang disebut Saldanha sebagai warga asli Granada yang juga sedang melepas dahaga dan bosan di kantin kereta. Dengan hanya berbekal ”ola” (apa kabar) dan ”gracias” (terima kasih), penulis pun diajak bergabung dalam majelis makan dan minum mereka dengan senang hati.
Semangkuk tapas (makanan khas Spanyol yang berupa kudapan kecil beraneka rasa) langsung te hidang gratis di depan.
Sayang, saat bergabung, giliran penulis yang terbengong-bengong karena mereka saling bicara dengan nada keras dan cepat dan diselingi tawa, tanpa ada satu pun kata yang dimengerti. Untung, di samping, ada Saldanha yang membantu menerjemahkan beberapa pertanyaan seperti nama, berasal dari mana, dan ada bisnis apa di Granada.
”Mereka senang karena Anda jauh dari Indonesia, memilih Granada menjadi target liputan,” jelas Saldanha. Meskipun terhalang bahasa, kehangatan sambutan warga asli Granada tak bisa disembunyikan. Pengalaman pertama yang menyenangkan di kereta itu harus diakhiri ketika kereta Renfe Alturia memasuki Estacion de Granada. (bersambung)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?