Minggu, 26 Mei 2013 - 16 Rajab 1434 H 10:22:28 WIB
INTERNASIONAL

Hamparan Zaitun Penuhi Bukit dan Lembah Wilayah

Menemukan Semangat Kebangkitan Islam di Granada, Benteng Terakhir Islam di Eropa (1)

Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 13:40 WIB • ABDUL ROKHIM -- Granada • 256 klik

Andalusia di Spanyol Selatan adalah situs yang tak bisa diabaikan dalam proses terbentuknya Eropa mutakhir. Dari kawasan seberang Afrika Utara itulah terletak pondasi bagi ekonomi, ilmu pengetahuan, seni, dan budaya Eropa modern.

 

MESKIPUN satu dara­tan, secara kasat mata, akan terlihat perbedaan antara wila­yah Spanyol Selatan dan Utara, bahkan dengan semua kota utama di Eropa seperti Roma, Paris, London, dan Athena. Dari jendela kereta Renfe Al­te­ria yang bertolak dari Stasiun Atocha Renfe di jantung Kota Madrid, perbedaan itu terlihat dari kontur alam yang ber­bukit-bukit, desain bangunan, serta warga asli Spanyol Sela­tan yang disapa dan diajak ber­bincang di sepanjang pe­rja­la­nan selama 5,5 jam.

 

Memasuki wilayah Gra­na­da, hamparan bukit-bukit yang penuh dengan tanaman zaitun, asparagus, dan apel langsung menggantikan pemandangan bangunan flat, kawasan per­gu­dangan, dan hamparan pe­ru­ma­han yang selalu terlihat saat ma­sih di wilayah Madrid, ma­suk Getafe, hingga Manzanare.

 

Rakesh Saldanha, warga Inggris keturunan India yang sudah 20 tahun bekerja dan menetap di Granada, men­ceritakan, di Spanyol Selatan yang meliputi wilayah Gra­nada, Cordoba, dan Sevilla, iklim lebih hangat. ”Saat mu­sim panas ini, matahari ber­si­nar terik sehingga suhu sama pa­nas dengan di Afrika. Se­da­ng­k­an jika musim dingin, mes­kipun kadang ada salju, di­ngin­nya tak seekstrem di (Spa­nyol) Utara,” ceritanya sambil menenggak cola dalam kaleng saat berbincang di kantin kereta api yang nya­man.

 

Cahaya matahari yang me­lim­pah dan musim dingin yang pendek itu membuat 918.702 penduduk (hasil sensus 2010) di kawasan yang juga populer disebut sebagai Semenanjung Andalusia itu menjadikan ag­ro­bisnis dan turisme sebagai mesin utama perekonomian.

 

”Selain menghasilkan juta­an euro, dua sektor bisnis itu­lah yang membuat warga Se­la­tan lebih ramah,” ujarnya.

 

Ingin membuktikan cerita Saldanha, penulis mencoba menyapa beberapa pe­num­pang yang disebut Saldanha se­bagai warga asli Granada yang juga sedang melepas dahaga dan bosan di kantin kereta. Dengan hanya berbekal ”ola” (apa kabar) dan ”gra­cias” (terima kasih), penulis pun diajak bergabung dalam majelis makan dan minum mereka dengan senang hati.

 

Semangkuk tapas (ma­kanan khas Spanyol yang be­rupa kudapan kecil beraneka rasa) langsung te hidang gratis di depan.

 

Sayang, saat bergabung, giliran penulis yang ter­be­ngong-bengong karena me­reka saling bicara dengan nada keras dan cepat dan diselingi tawa, tanpa ada satu pun kata yang dimengerti. Untung, di samping, ada Saldanha yang membantu menerjemahkan beberapa pertanyaan seperti nama, berasal dari mana, dan ada bisnis apa di Granada.

 

”Mereka senang karena An­da jauh dari Indonesia, me­milih Granada menjadi target liputan,” jelas Saldanha. Mes­kipun terhalang bahasa, keha­nga­­tan sambutan warga asli Gra­­nada tak bisa disem­bu­nyi­kan. Pengalaman pertama yang me­­nye­nangkan di kereta itu ha­rus diakhiri ketika kereta Ren­fe Alturia memasuki Esta­ci­on de Granada.  (bersam­bung)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?