- 12:23 WIB
- 12:22 WIB
- 12:22 WIB
- 12:21 WIB
- 12:20 WIB
- 12:19 WIB
- 12:18 WIB
- 12:17 WIB
- 12:16 WIB
- 12:15 WIB
Bantuan Pusat Belum Bisa Cair
Mensos: Data Harus by Name by Address
Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 11:22 WIB • GUSTI AYU GAYATRI • 402 klik

Padang, Padek—Korban galodo atau banjir bandang di Padang Selasa (24/7) lalu, harus bersabar mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos). Pasalnya, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri belum berani menyalurkan bantuan karena adanya perbedaan data kerugian antara Pemprov Sumbar dan Pemko Padang.
Pemko Padang mengklaim kerugian akibat banjir bandang mencapai Rp 263,9 miliar, Sedangkan Pemprov Sumbar menaksir kerugian hanya Rp 40 miliar.
Menyikapi ini, Mensos meminta Pemprov dan Pemko melakukan sinkronisasi data, sehingga data tersebut lebih akurat dan by name by address.
Sepanjang data tersebut belum ada sinkronisasi, Mensos belum dapat menyalurkan bantuan.
Mensos juga belum bisa memperkirakan jumlah bantuan untuk rehabilitasi rumah atau uang lauk untuk korban galodo. “Saya belum dapat memastikan berapa nominalnya. Saya masih menunggu data by name by address dulu,” ujar Mensos saat mengunjungi lokasi bencana kemarin. Untuk sementara, Kemensos baru mengucurkan anggaran Rp 250 juta.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengaku sudah melakukan inventarisasi dampak banjir bandang. “Total kerugian Rp 40,6 miliar. Banjir bandang melanda 24 kelurahan pada 7 kecamatan,” ujar Irwan kepada wartawan, kemarin (27/7).
Jumlah rumah penduduk yang rusak 878 unit. Rinciannya, rusak berat 95 unit, rusak sedang 534 unit, dan rusak ringan 249 unit. Sedangkan sarana pendidikan ada 2 sekolah rusak berat. Sarana kesehatan hanya 1 unit mengalami kerusakan.
Rumah ibadah 11 unit rusak berat, 4 unit rusak ringan. Bangunan irigasi 11 unit rusak berat, 1 unit rusak sedang. Infrastruktur jembatan rusak berat 5 unit dan 1 unit rusak sedang. “Lalu 7 payang nelayan hilang dan rusak berat, serta 28 mesin longtail hilang dan rusak berat,” papar Gubernur.
Sementara data versi Pemko Padang, kerugian mencapai Rp 263,9 miliar. “Total kerugian infrastruktur Rp 253,9 miliar, sektor pendidikan Rp 920 juta, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perkebunan Rp 5,5 miliar, dan permukiman Rp 4,3 miliar,” jelas Wali Kota Padang Fauzi Bahar.
Terhadap perbedaan data kerugian itu, Gubernur menilai wajar. “Ya proses pendataan kan masih berlangsung. Saya rasa itu bukan suatu persoalanlah. Nanti bisa dicocokan lagi,” imbuhnya.
Selama masa tanggap darurat, korban galodo masih membutuhkan bantuan air bersih dan pakaian. Sedangkan bantuan logistik, sejauh ini sudah memadai. Begitu pula bantuan alat berat dan mobil pemadam kebakaran untuk membersihkan material galodo di sejumlah permukiman penduduk.
Bila upaya pembersihan ini tidak cepat dilakukan, warga rentan terserang berbagai penyakit. Untuk di lokasi pengungsian, bantuan tenaga medis cukup memadai. Hanya saja, belum menjangkau kawasan kompleks perumahan yang juga membutuhkan bantuan tenaga medis.
Saat ini, pos-pos kesehatan lapangan dan dapur umum sudah ada di setiap kecamatan. Bantuan pembersihan perumahan dan fasilitas umum didukung alat berat, damkar, truk tanki air (mengerahkan bantuan dari 6 BPBD kabupaten/kota se-Sumbar dan relawan/LSM/perusahaan).
Polemik Penyebab Galodo
Selain perbedaan data kerugian, Gubernur dan wali Kota Padang juga berbeda dalam menilai penyebab galodo. Versi Gubernur, penyebab banjir bandang bukan akibat illegal logging, tapi lebih akibat fenomena alam.
“Patahan kayu dan ranting-ranting serta longsoran bukit, membentuk kantong air selama 12 tahun. Ketika hujan deras Selasa (24/7) lalu, kantong air berisi bebatuan dan kayu itu jebol. Ini dikuatkan tidak adanya infrastruktur jalan untuk illegal logging di areal hutan. Ini berbeda dengan kawasan hutan di Kabupaten Solok dan Solok Selatan,” ucapnya.
“Posisi Sumbar di patahan semangka, membuat perbukitan mudah retak. Longsoran tersebut bersatu dan membuat kantong air selama puluhan tahun. Begitu hujan deras, kantong air itu jebol,” tambah mantan ketua Komisi X DPR RI ini.
Sedangkan Wako Fauzi Bahar, sejak awal sudah menyatakan galodo dipicu maraknya pembalakan liar di hulu Batang Kuranji di kawasan Bukit Barisan Limaumanih dan Batang Arau di kawasan Indarung.
“Penyebab banjir bandang akibat aktivitas penebangan hutan. Tapi, penebangan hutan itu bukan usaha perdagangan, tapi memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Sifatnya hanya untuk pemenuhan kebutuhan saja, bukan diperjualbelikan,” katanya.
Terhadap kedua argumen itu, Mensos menegaskan bahwa bencana alam tidak akan terjadi secara tiba-tiba tanpa ulah tangan manusia. “Tak mungkin peristiwa alam itu terjadi begitu saja, pasti ada campur tangan manusia. Yang terpenting sekarang bagaimana korban bencana bisa mendapatkan bantuan secepatnya,” tegasnya.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar Khalid Saifullah dengan tegas menyebut penyebab galodo maraknya pembalakan liar di hulu sungai. Hulu sungai mendapatkan tekanan kuat, sehingga terjadi degradasi kawasan hutan.
“Penyebab banjir bandang tidak terlepas dari kekeliruan pemanfaatan tata ruang. Mana kawasan permukiman dan bukan, tidak dipatuhi secara konsisten. Padang pinggir kota dalam konteks tata ruang semestinya menjadi ruang nonpermukiman, tapi berubah menjadi permukiman penduduk,” kata Khalid.
Pengamat tata ruang Universitas Bung Hatta (UBH), Eko Alvares melihat, penyebab banjir dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, masyarakat tidak peduli dengan lingkungan sehingga saluran air tersumbat, selain karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang daerah resapan air.
Permasalahan kedua, faktor alam mengingat topografi Padang dekat dari laut dan aliran sungainya bermuara ke laut. “Topografi Padang memang rawan banjir. Buktinya, sejak zaman dulu (Belanda) telah dibuatkan saluran air utama seperti banda bakali untuk mengatasi permasalahan banjir, tapi saat ini masyarakat tidak mendukungnya,” tutur Eko.
Sedangkan pengamat lingkungan UBH, Prof Nasfryzal Carlo menduga terjadi penggundulan hutan ulah tangan-tangan serakah. Pemerintah daerah berlomba-lomba merivisi RTRW untuk mengambil alih lahan hutan dengan alasan untuk pembangunan. Karena itu, Carlo mengingatkan pemerintah daerah menyetop pembukaan lahan baru untuk perkebunan, pertambangan dan permukiman agar ancaman banjir lebih besar tidak menjadi kenyataan.
Mengantisipasi ancaman galodo lainnya, Gubernur mengingatkan Wako Padang meninjau kondisi hulu Batang Airdingin. “Rencananya Wako turun ke sana melihat apakah masih ada kantong air atau tidak di hulu sungai. Jika masih ada, tumpukan material dibersihkan,” ucapnya.
Di tempat terpisah, Direktur Darurat BNPB Harmensyah menenggat Pemprov Sumbar merampungkan pembuatan rencana anggaran biaya (RAB) perbaikan infrastruktur darurat hingga besok Minggu (29/7).
“Bantuan segera akan dikucurkan bila sudah diketahui berapa anggaran yang dibutuhkan untuk perbaikan darurat infrastruktur vital, masing-masing 9 unit irigasi, 3 intake PDAM yang rusak, 95 unit rumah penduduk rusak berat, 4 unit jembatan putus, serta normalisasi Batang Kuranji dan Batang Arau. Soal anggaran tak perlu khawatir, dananya sudah ada. Yang penting pemerintah daerah segera buat RAB,” ujar mantan kepala BPBD Sumbar itu.
Harmensyah mengingatkan masyarakat tidak boleh terlalu lama terkurung di lokasi bencana. Pasalnya, bisa menimbulkan masalah baru, yakni wabah penyakit. Untuk itu, pada masa tanggap darurat pemerintah daerah harus cepat membersihkan rumah masyarakat dari lumpur. “Pasokan air bersih harus all out, jangan menunggu perbaikan intake PDAM. Masyarakat sangat membutuhkan air tidak hanya untuk memasak dan mencuci, tetapi juga membersihkan badannya,” katanya. (*)
[ Red/Administrator ]
KOMISI Yudisial (KY) baru saja memilih pemimpin baru. Lembaga pengawas para hakim itu kini dipimpin Suparman Marzuki. Dia menggantikan Eman Suparman yang sudah 2,5 tahun menjadi ketua KY. Pria kelahiran 2 Maret 1961 tersebut sebelumnya menjabat ketua bidang pengawasan hakim dan investigasi. Suparman akan dibantu Abbas Said sebagai wakil ketua KY.
Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar
Hasil Pleno PAN Tuai Polemik
Namo e politik tu iyo ado polemik......!
333 JCH Batal Berangkat
Basaba sajo, nan pantiang adoh niaik ...............................................!
Bemokrat Serahkan Hand Traktor
Lai ndak udang balik bak wan tu..............?