- 12:39 WIB
- 11:28 WIB
- 12:42 WIB
- 13:11 WIB
- 13:10 WIB
- 13:07 WIB
- 13:07 WIB
- 13:05 WIB
- 13:03 WIB
- 12:54 WIB
Pasien Terus Bertambah
Terserang Penyakit karena Gunakan Air Keruh
Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 11:19 WIB • TIM PADEK • 225 klik

Kotopanjang, Padek—Kondisi korban galodo atau banjir bandang di Kotopanjang, Limaumanih makin rentan terserang penyakit. Hingga hari ketiga, semakin banyak warga terserang diare dan gatal-gatal di tenda-tenda pengungsian dan permukiman.
Jumlah korban galodo yang terserang penyakit ini diperkirakan bakal terus bertambah, menyusul sulitnya mendapatkan air bersih. Bukan saja untuk kebutuhan makan cuci kakus, kebutuhan air bersih juga diperlukan untuk membersihkan rumah dan permukiman yang terendam lumpur.
Akibatnya, para korban galodo terpaksa membiarkan rumahnya kumuh oleh lumpur. Di lingkungan kompleks perumahan, juga masih berlumpur.
Pasokan air bersih dari Pemko dan donatur hanya cukup untuk minum. Karena itu, masyarakat berharap pada pemerintah dan donatur memprioritaskan bantuan air bersih agar ancaman penyakit tidak merebak.
Pantauan Padang Ekspres di lokasi kemarin (27/5) siang, pembangunan belly (jembatan darurat) belum juga terealisasi hingga kemarin. Untuk akses sementara, warga menggunakan tiga pohon kelapa. Untuk pembangunan jembatan tersebut, warga bergotong royong. Mereka berharap jembatan dari pohon kelapa itu membuka akses masyarakat ke luar.
Hingga kemarin, aliran air Batang Cupak masih keruh meski air sudah menyusut. Meski begitu, warga setempat masih memanfaatkan air sungai itu untuk kebutuhan MCK.
Dua posko bencana di tempat itu, juga banyak dikunjungi masyarakat sekitar. “Sungai yang selama ini menjadi tumpuan kami, tak bisa lagi dimanfaatkan. Airnya keruh. Di sungai itu juga banyak bangkai ternak yang mati diseret galodo. Kalau untuk minum, bantuan air cukup. Cuma untuk kebutuhan lainnya tidak memadai,” ucap Aminah, warga Kotopanjang.
Akibat minimnya air bersih, warga gampang terserang penyakit. Seperti gatal-gatal dan diare. “Jadi serba salah. Tak dimanfaatkan salah dan dimanfaatkan juga salah. Tapi mau bagaimana lagi, itu kebutuhan vital kami. Kalau bantuan makanan, alhamdulillah sudah berlebih-lebih. Cuma saja, bagi kami yang rumahnya hanyut, butuh pakaian dan peralatan memasak. Karena semua benda-benda dalam rumah diseret air bah,” tuturnya.
Aminah juga berharap infrastruktur di tempat tinggalnya, segera diperbaiki dan tidak hanya menggunakan jembatan darurat. “Takut juga melewati jembatan darurat itu. Apalagi usia saya sudah tua juga. Kalau tak hati-hati bisa terjatuh. Mudah-mudahan infrastruktur tersebut segera dapat diperbaiki,” ucapnya.
Lain lagi cerita warga Kotopanjang, Deni Satria Putri. Sejak galodo, dia tak pernah mandi. “Sungai yang selama ini tempat MCK tak bisa lagi dimanfaatkan. Airnya keruh. Bantuan air bersih hanya cukup untuk minum. Tapi karena gerah, terpaksa mandi juga pakai air keruh. Tapi sekarang sudah agak mendingan kondisi airnya,”ujarnya.
Deni tak pernah menduga mengalami musibah seperti itu. “Bisa tak mandi berhari-hari,” ucapnya.
Petugas kesehatan Posko Kesehatan Kantor Penyelenggara Pelabuhan (KPP) Risnalda, menyebutkan penyakit yang banyak dikeluhan korban galodo di Kotopanjang adalah diare, batuk, pilek dan gatal-gatal karena pasokan air bersih terbatas.
Meski begitu, masyarakat masih banyak mengonsumsi air bercampur lumpur itu untuk cuci dan mandi meski tidak layak dikonsumsi. “Itulah yang menyebabkan banyak warga terserang diare dan gatal-gatal di sini,” jelasnya.
Sejak posko kesehatan dibuka di Kotopanjang, banyak masyarakat datang berobat. Tidak hanya dari golongan usia tua, tapi juga anak- anak.
Karena itu, Risnalda mengingatkan masyarakat tidak memanfaatkan air sungai yang masih keruh itu, untuk kebutuhan mandi dan cuci.
“Air sungai tersebut diperkirakan masih banyak mengandung penyakit, ditambah lagi banyak bangkai ternak di sungai,” tegasnya.
Secara terpisah, Kepala Bidang Pengendali Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang, dr Feri Mulyani mengatakan, masyarakat yang terserang penyakit, karena kondisi di lokasi bencana masih parah. Sumber air juga masih buruk, sehingga tidak tertutup kemungkinan berbagai penyakit akan terus menyerang para korban banjir bandang.
“Kepada masyarakat yang terserang berbagai penyakit, diharapkan melaporkan diri ke Posko Kesehatan. Sebab barbagai obat-obatan telah disediakan oleh Dinas Kesehatan dan menyediakan tim medis,” ungkapnya. (ayu/rdi)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?