Minggu, 26 Mei 2013 - 16 Rajab 1434 H 02:06:17 WIB
METROPOLIS

Pasien Terus Bertambah

Terserang Penyakit karena Gunakan Air Keruh

Padang Ekspres • Sabtu, 28/07/2012 11:19 WIB • TIM PADEK • 225 klik

Jumlah korban terserang penyakit

Kotopanjang, Padek—Kon­disi kor­ban galodo atau banjir bandang  di Kotopanjang, Limaumanih makin rentan terserang penyakit. Hingga hari ketiga, semakin banyak warga ter­serang diare dan gatal-gatal di tenda-tenda pengungsian dan per­mukiman.

 

Jumlah korban ga­lo­do yang terse­rang penyakit ini di­per­kirakan bakal terus bertambah, me­nyu­sul sulitnya men­da­patkan air bersih. Bukan saja untuk ke­butuhan makan cuci kakus, kebu­tuhan air bersih juga di­per­lukan untuk mem­ber­sih­kan rumah dan permu­kiman yang terendam lumpur.  

 

Akibatnya, para korban galodo terpaksa mem­biarkan rumah­nya kumuh oleh lumpur. Di ling­ku­­ngan kompleks pe­­ru­mahan, juga ma­sih berlumpur.

 

Pasokan air ber­sih dari Pemko dan do­natur hanya cukup untuk minum. Ka­rena itu, ma­­­­sya­rakat  ber­harap pada pe­me­­rintah dan do­natur mem­prio­ri­taskan ban­tuan air bersih agar anca­man penyakit tidak merebak.

 

Pantauan Padang Eks­pres di lokasi kemarin (27/5)  siang, pembangunan belly (jembatan darurat) belum juga terealisasi hingga kema­rin. Untuk akses sementara, warga meng­guna­kan tiga pohon kela­pa. Untuk pembangunan jembatan ter­se­but, warga bergotong royong. Mereka berharap jembatan dari pohon kelapa  itu mem­buka akses masyarakat ke luar.

 

Hingga kemarin, aliran air Batang Cupak masih  keruh meski air sudah  menyusut. Meski begitu, warga setem­pat masih memanfaatkan air su­ngai itu untuk kebutuhan MCK.

 

Dua posko bencana di tem­pat  itu, ju­ga  banyak dikunjungi masyarakat se­kitar. “Sungai yang selama ini menja­di tum­puan kami, tak bisa lagi diman­fa­atkan. Airnya  keruh. Di sungai itu juga ba­nyak bangkai ternak yang mati diseret ga­lodo. Kalau untuk minum, bantuan air cukup. Cuma untuk kebu­tuhan lain­nya tidak memadai,” ucap Aminah, war­ga Kotopanjang.

 

Akibat minimnya air bersih, warga gampang terserang pe­nya­kit. Seperti gatal-gatal dan diare. “Jadi serba salah. Tak dimanfaatkan salah dan diman­faatkan juga salah. Tapi mau bagaimana lagi, itu kebutuhan vital kami. Kalau bantuan ma­ka­nan, alhamdulillah sudah berlebih-lebih. Cuma saja, bagi kami yang rumahnya  hanyut, butuh pakaian dan peralatan memasak. Karena semua ben­da-benda dalam rumah diseret air bah,” tuturnya.

 

Aminah juga berharap  in­frastruktur di tempat tinggal­nya, segera diperbaiki dan tidak hanya menggunakan jembatan darurat. “Takut juga melewati jembatan darurat itu. Apalagi  usia  saya  sudah tua juga. Kalau tak hati-hati bisa terjatuh. Mudah-mudahan infrastruktur  tersebut segera dapat diper­baiki,” ucapnya.

 

Lain lagi cerita warga Koto­panjang, Deni  Satria  Putri. Sejak galodo, dia tak pernah mandi. “Sungai yang selama ini tempat MCK tak bisa lagi di­man­faatkan. Airnya keruh. Ban­tuan air bersih hanya cukup un­tuk minum. Tapi karena ge­rah, terpaksa mandi juga pakai air keruh. Tapi sekarang sudah agak mendingan kondisi air­nya,”ujarnya.

 

Deni tak pernah menduga  me­ngalami musibah seperti itu. “Bi­sa tak mandi berhari-ha­ri,” ucapnya.

 

Petugas  kesehatan Posko Kesehatan Kantor  Pe­nyeleng­gara Pelabuhan (KPP) Risnal­da, menyebutkan penyakit yang banyak dikeluhan korban galo­do di Kotopanjang  adalah di­are, batuk, pilek dan gatal-gatal kare­na pasokan air bersih terbatas.

 

Meski begitu, masyarakat masih banyak mengonsumsi air  bercampur lumpur itu untuk cuci dan mandi meski tidak layak dikonsumsi. “Itulah yang menyebabkan banyak warga terserang diare dan gatal-gatal di sini,” jelasnya.

 

Sejak posko kesehatan di­bu­ka di Kotopanjang, banyak masyarakat datang berobat. Tidak hanya dari golongan usia  tua, tapi juga anak- anak. 

 

Karena itu, Risnalda meng­ingatkan masyarakat tidak memanfaatkan air  sungai yang masih keruh itu, untuk kebu­tuhan mandi dan cuci.

 

“Air sungai tersebut diper­kirakan masih banyak mengan­dung penyakit, ditambah lagi  banyak  bangkai ternak di sungai,” tegasnya.

 

Secara terpisah, Kepala Bidang Pengendali Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Padang, dr Feri Mulyani mengatakan, masyarakat yang terserang penyakit, karena kondisi di lokasi bencana masih parah. Sumber air juga masih buruk, sehingga tidak tertutup kemungkinan berbagai penya­kit akan terus menyerang para korban banjir bandang.

 

“Kepada masyarakat yang terserang berbagai penyakit, diharapkan melaporkan diri ke Posko Kesehatan. Sebab barba­gai obat-obatan telah disedia­kan oleh Dinas Kesehatan dan menyediakan tim medis,” ung­kapnya. (ayu/rdi)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?