- 12:39 WIB
- 11:28 WIB
- 12:42 WIB
- 13:11 WIB
- 13:10 WIB
- 13:07 WIB
- 13:07 WIB
- 13:05 WIB
- 13:03 WIB
- 12:54 WIB
Aksi Genderang Seruling Pikat Pengunjung
Beramadhan di Kapal Dewaruci yang Keliling Dunia, Rute AS-Porto (4/Habis)
Padang Ekspres • Selasa, 24/07/2012 12:40 WIB • SURYO EKO PRASETYO -- Boston • 438 klik
Pagi buta (5/7) hujan deras mengguyur Distrik Seaport, Boston Selatan. Itu hujan pertama sejak Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci bersandar di Boston. Hingga pukul 07.30 waktu setempat, hujan belum reda meski tak begitu deras. Akibatnya, lapangan di Boston South Fish Pier masih basah sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan apel pagi seperti hari-hari biasanya.
Pagi itu memang tak ada apel. Sebagai gantinya, para ABK (anak buah kapal) diperintahkan memasang tenda di tengah geladak. Dengan tenda itu, aktivitas di atas geladak tidak terganggu meski hujan masih rintik-rintik.
Yang juga terlihat agak berbeda pagi itu adalah posisi kapal yang lebih rendah dari bibir dermaga. Bahkan, menjelang subuh, sekitar pukul 03.00, posisinya lebih rendah 3-4 meter. Itu terjadi karena garis pasang-surut air laut yang terbilang ekstrem. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit air laut mulai pasang sampai akhirnya kembali seperti semula sekitar pukul 09.00. Malah saat siang hingga sore, ganti posisi badan kapal yang naik 2-3 meter.
Meski masih pagi, ada saja warga yang datang di dermaga untuk melihat-lihat Dewaruci dan tiga kapal asing lain yang sandar berjajar. Umumnya warga sekitar pelabuhan yang sedang berolahraga. Tak lupa, mereka berfoto di depan kapal-kapal layar istimewa itu dengan menggunakan kamera handphone masing-masing.
Menjelang siang, kompleks Boston Fish Market Corporation sudah ramai dengan warga yang antre untuk bisa masuk ke geladak KRI Dewaruci. Mereka berbondong-bondong mendatangi dermaga. Mulai para orangtua, anak-anak muda, hingga para balita yang digendong mama masing-masing atau diletakkan di kereta dorong naik ke geladak kapal. Mereka tampak penasaran dengan berbagai ornamen yang menghiasi kapal tua tersebut.
Suasana tambah meriah ketika para pengunjung mendapat suguhan marching band kadet AAL Genderang Seruling (GS) Jala Gita Taruna di halaman Boston South Fish Pier. Aksi para taruna AAL angkatan ke-59 yang masuk tahun akademik 2010 itu membuat warga Boston dan sekitarnya terpukau. Mereka tampil kompak, rancak, dan lincah. Penampilan GS itu juga satu-satunya penampilan marching band yang menyemarakkan OpSail 2012 sekaligus atraksi terakhir GS sebelum pulang ke Indonesia.
Dalam aksi itu, marching band yang dipimpin mayoret Sertukad Faishal Dwi tersebut juga mengiringi prosesi penyerahan tanda mata Dewaruci kepada tiga kapal layar negara sahabat peserta OpSail 2012. Barisan marching band yang dimainkan 50-an kadet itu kemudian menuju kapal Cisne Branco yang berbendera Brasil. Kemudian dilanjutkan ke kapal Buque Escuela Guayas (Ekuador) dan Gloria (Kolombia) yang sandar bersebelahan.
Sebelum menyerahkan kenang-kenangan KRI Dewaruci kepada perwira kapal negara sahabat, GS menunjukkan penampilan rancaknya. Empat penabuh tambur yang mengenakan kostum ala walrus (anjing laut) berputar-putar dan meliuk-liuk sambil mengangkat tambur yang cukup besar itu. Mereka lalu menyusun tiga drum membentuk segi tiga yang kemudian dinaiki sang mayoret, Faishal Dwi. Dari atas drum, Faishal memberikan aba-aba hormat kepada para perwira kapal negara sahabat. Acara dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata Dewaruci kepada komandan tiga kapal asing tersebut.
Kehadiran para taruna AAL dalam pelayaran keliling dunia itu melengkapi aktivitas seluruh kru Dewaruci. Selain praktik pelayaran dan misi diplomasi sebagai duta bangsa, para kadet turut mengenalkan budaya tradisional Indonesia. Sejumlah kesenian tari daerah dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua mereka tampilkan.
Kadet AAL yang mengikuti pelayaran itu sebanyak 101 orang. Mereka terdiri atas 42 kadet korps pelaut, 23 anggota korps Marinir, 17 kadet korps teknik, 10 kadet korps elektronik, dan 9 kadet korps suplai. Mereka berlayar dari Miami hingga Boston pada akhir Juni di bawah kendali Komandan Latihan Letkol Laut (P) Baharudin Anwar.
Selama pelayaran, mereka digembleng dengan materi kepemimpinan, etika, kerja sama, dan pembinaan fisik untuk bertahan di laut serta menjalankan serangkaian simulasi. Kapal Dewaruci menjadi salah satu kawah candradimuka untuk pembentukan karakter pelaut yang tangguh.
Tinggal berbulan-bulan di atas kapal berdimensi 58,5 meter x 9,5 meter memang cepat membentuk hubungan emosional antarpelaut. Hubungan persaudaraan di kalangan pelaut yang disebut seaman brotherhood membuat latar belakang daerah asal, status ekonomi dan sosial, hingga agama dikesampingkan. (***)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?