Jum'at, 24 Mei 2013 - 14 Rajab 1434 H 05:14:46 WIB
PRO SUMBAR

Tahan Sakit demi Anak

Yulmaini, Enam Bulan Tanpa Perawatan

Padang Ekspres • Minggu, 15/07/2012 08:36 WIB • EKA RIANTO -- Padang • 434 klik

Yulmaini dirawat oleh anaknya di Rumah Sakit Siti Rahmah.

Di usianya yang memasuki 40 tahun, Yulmaini belum merasakan kebahagian hidup. Dua kali menikah, dia gagal mempertahankan mahligai rumah tangganya. Pertama dia minta cerai karena suaminya sering mengasarinya. Kedua, dia ditinggal pergi suaminya yang kawin lagi dengan wanita lain.

 

Hidup bahagia bersama keluarga tentu menjadi impian setiap orang. Memiliki suami yang setia dan sayang keluarga diharapkan setiap wanita. Beda dengan Yulmaini. Dua kali membangun mahligai rumah tangga berakhir dengan perceraian.

 

Bahkan kehidupan Yun panggilan akrab Yulmaini se­ma­kin sulit karena harus meng­hidupi delapan orang anaknya sendiri dengan kon­disi kesehatan yang semakin memburuk.

 

Ketika ditemui Padang Ekspres (11/7), Yun tergolek lemah di ruangan perawatan Rumah Sakit Siti Rahmah Padang. Cuaca di pagi hari itu sungguh cerah. Meskipun di­ rua­ngan itu masih tercium bau obat-obtan, tapi dengan ma­suknya sinar mataharai dari balik tirai jendela mem­buat suasana terasa hangat dan segar.

 

Tubuh Yun terlihat kurus, tulang-tulangnya terlihat jelas. Di pagi itu, dia terlihat lebih segar. Pasalnya dia sudah dirawat sejak beberapa hari sebelumnya. Dari keterangan Yun, dia menderita penyakit paru-paru. ”Dokter bilang sama saya, kalau paru-paru saya telah rusak parah. Maka­nya badan saya jadi kurus, hanya tinggal kulit pembalut tulang,” imbuhnya sedih.

 

Sebelum dirawat, Yun ha­rus menahan sakit sekitar enam bulan lamanya tanpa perawatan medis. Ya, enam bulan lalu Yun sudah tidak kuasa menahan sakit di paru-parunya. Untuk berobat tidak punya uang, sehingga hanya bisa pasrah di rumah.  Sebelum terbaring di rumah, Yun memaksakan untuk terus bekerja menghidupi dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

 

Suaminya telah me­ning­galkannya bersama delapan orang anak.  Ya, dia menikah pada uisa 20 tahun. Selama 10 tahun menikah, dia baru me­nge­tahui kalau suaminya ini suka menggunakan kekerasan. Salah sedikit, tidak segan-se­gan suaminya menendang pa­ha atau memukul bagian tu­buhnya.

 

Yun mengisahkan kalau pernikahannya ini, merupakan penjodohan yang dilakukan oleh keluarganya. Dia tidak bisa menolak karena keluarga telah sepakat untuk menjo­dohkannya. Dari suami perta­manya ini, Yun memiliki tiga orang putra.

 

”Salah atau terlambat mem­­­­­buat makanan, suaminya akan menendang atau me­nam­par. Anak-anak juga se­ring di cambuk dengan ikat pinggang sehingga membekas biru-biru dikulit mereka,” ujar­nya lirih.

 

Selain itu, suaminya ter­kadang marah dengan alasan tidak masuk akal. Tidak jarang pula Yun harus menerima tamparan jika suaminya ini memukul anaknya karena Yun menghentikan pukulan pada anak-anaknya.

 

Sering mengalami prilaku seperti itu dari suaminya, Yun akhirnya memutuskan untuk melaporkan suaminya ke poli­si. Tidak beberapa lama, sua­minya ditangkap dan dije­bloskan dalam penjara selama enam bulan. Selama persi­dangan itu, pengadilan agama juga memutuskan untuk me­nga­bulkan keinginan Yun un­tuk bercerai dengan sua­minya ini.

 

”Saya sudah tidak tahan lagi, apalagi anak-anak juga sering mendapatkan prilaku kasar oleh bapaknya. Jadi saya laporkan ke polisi dan me­minta cerai saat suami dipe­rikasa polisi karena alasan tersebut. Sejak ditahan dia tidak mau ketemu lagi dengan suaminya ini,” ujarnya.

 

Beberapa tahun menjanda dan menghidupi tiga orang anaknya dengan usaha sendiri, akhirnya Yun juga mene­mu­kan jodoh lagi. Kali ini tidak ada penjodohan, melainkan suka sama suka, sehingga Yun memilih untuk kembali me­nikah. Tapi sungguh disa­yangkan, meskipun tidak suka main tangan, ternyata suami keduanya ini suka menikah.

 

Setelah memiliki anak dari suami keduanya ini, dia baru me­ngetahui kalau dia meru­pakan istri ke tiga. ”Suami saya yang kedua memiliki banyak istri. Saya dan anak-anak di­ting­gal suami karena me­milih menikah lagi dengan wanita lain,” ujarnya lirih.

 

Dengan suami keduanya ini, Yun memiliki lima orang anak. Dan disaat itulah, dia bersama suaminya ini hijrah ke Rengat Riau. Yun dan de­lapan orang anaknya diting­galkan begitu saja oleh sua­minya di Rengat. Disaat itu, wanita kelahiran Padang ini memilih untuk bertahan de­ngan menjalani berbagai pe­kerjaan seperti tukang cuci dan jualan sayuran.

 

Nah, disaat di Rengat ini­lah penyakit Yun mulai parah. Sebelum Yun berangkat ke Rengat ikut suaminya, Yun telah merasakan sedikit sakit di bagian dadanya tapi dita­hannya saja karena tidak me­miliki cukup uang untuk dipe­riksa. Yun hanya berobat ala ka­darnya saja seperti pengo­batan kampung.

 

Tekat Yun untuk tidak mem­­biarkan anak-anaknya men­derita. Dia rela bekerja apa­pun, tapi disisi lain, kesetan Yun me­nurun drastis dan pada akhir­nya dia memilih untuk kembali ke rumah orangtunya di RT 04 RW 06 Kelurahan Pampangan Nan XX Keca­matan Lubuk Begalung.

 

Sesampai di Padang, Yun tetap bekerja apapun yang bisa dikerjakanya. Seperti mem­buat lemang ketan dan lain­nya. Terynata, ketika bekerja membuat lemang inilah pe­nyakit Yun semakin parah dan pada akhirnya enam bulan lalu Yun betul-betul tidak bisa ber­buat apa-apa dan terbaring lemah di rumah kontrakannya.

 

Padang Ekpres yang sem­pat mengunjungi rumahnya di Kelurahan Pampangan Nan XX ini ter­kejut karena boleh dika­takan rumah yang dimak­sudkan Yun ini umpama gu­buk di sawa-sawah. Bangunan tersebut sudah terlihat miring, dan atapnya sudah terlihat berkarat dan ada yang terlepas. Dinding-dingnya dibuat dari ka­yu dan ada yang telah bolong.

 

Parahnya, digubuk yang uku­rannya tidak lebih dari 3x5 me­ter ini dihuni oleh delapan orang. Anak-anak Yun dan orang­tuanya. Orangtua Yun, Nurmainis juga tidak bisa be­kerja keras lagi karena usianya sudah tua.

 

Yun mengakui, kalau pe­nyakitnya ini sering diabaikan ka­­rena mengingat anak-anak­nya. Dia bisa saja menggu­na­kan penghasilannya yang tidak menentu ini untuk bero­bat. Tapi dia memilih untuk mem­biayai kebutuhan anak-anak­nya. “Anak saya banyak, mere­ka ini tentu butuh uang belanja dan pakaian. Jadi sakit saya ti­dak saya obati serius,” ujarnya.

 

Meskipun bekerja terus, penghasilan Yun tetap tidak mencukupi kebutuhan keluar­ganya, apalagi mantan sua­minya tidak pernah memberi anak-anaknya uang. Untung saja tiga orang anaknya yang besar sudah bisa dikatakan mandiri dengan mencari uang sendiri dan pergi merantau ke daerah Riau.

 

Tiga orang anaknya ini se­ngaja tidak diberi tahu pe­nyakit Yun karena tidak mau anaknya ini merasa sedih dan kembali ke Padang. “Biarkan dulu mereka mencari uang, jika sudah me­miliki cukup uang anak saya itu berjanji akan membawa saya dan adik-adiknya yang lain untuk tinggal di tempat yang lebih layak lagi,” ujarnya.

Saat ini harapan Yun ada­lah sembuh. Setelah keluar rumah sakit, dia ingin mencari modal untuk berjualan. Ka­rena dalam fikirannya berjua­lan tentu tidak begitu me­maksa tubuhnya untuk bekerja ke­rasa. “Kalau masih sera­butan kerjanya, saya sudah tidak sdanggup lagi. Saya ingin buka warung di sekitar ru­mah,” ujarnya.

 

Yun menambahkan kalau beban firkiranya sedikit ber­kurang karena biaya pengo­batan di rumah sakit ditang­gung oleh pemilik rumah sakit Siti Rahmah. Selain memi­kirkan modal, saat ini Yun juga memikirkan dua anaknya (anak ke 4 dan 5) yang seha­rusnya bersekolah. Yun ingin anaknya b isa sekolah  karena ingin melihat anak-anaknya sukses.

 

“Saya tahu biaya sekolah sekarang gratis, tapi untuk uang belanja dan pakainnya harus kemana saya carikan. Untuk makan saja susuh. Saya ingin anak saya bersekolah dengan layak sehingga tidak bernasib jelek seperti saya ini,” ujarnya lirih.  (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Menunggu Aksi Chatib Basri

PRESIDEN akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Muhammad Chatib Basri untuk mengemban tugas sebagai menteri keuangan (Menkeu). Mencermati situasi pe­rekonomian mutakhir, perekonomian dunia masih labil (eksternal) dan stimulasi dari APBN masih lemah (internal), dapat dikatakan, Chatib berada dalam momentum yang kurang kondusif. Tidak berlebihan jika ada yang menilai Chatib berada pada situasi the right man on the right place, but the wrong time.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Kamis, 23 Mei 2013

Pelajar Sindikat Curanmor Diringkus

Kan di sakola ndak adoh diajakan maliang doh..........................................!

 

Masyarakat Sipil Meradang

Maju taruih.................................................!


Panwaslu Cuek, LSM Kapak Lanjut ke Pusat

Patuik didukuang tu.......................................!