- 13:32 WIB
- 13:30 WIB
- 13:27 WIB
- 13:24 WIB
- 13:22 WIB
- 13:21 WIB
- 13:22 WIB
- 13:21 WIB
- 13:21 WIB
- 13:15 WIB
Tahan Sakit demi Anak
Yulmaini, Enam Bulan Tanpa Perawatan
Padang Ekspres • Minggu, 15/07/2012 08:36 WIB • EKA RIANTO -- Padang • 435 klik

Di usianya yang memasuki 40 tahun, Yulmaini belum merasakan kebahagian hidup. Dua kali menikah, dia gagal mempertahankan mahligai rumah tangganya. Pertama dia minta cerai karena suaminya sering mengasarinya. Kedua, dia ditinggal pergi suaminya yang kawin lagi dengan wanita lain.
Hidup bahagia bersama keluarga tentu menjadi impian setiap orang. Memiliki suami yang setia dan sayang keluarga diharapkan setiap wanita. Beda dengan Yulmaini. Dua kali membangun mahligai rumah tangga berakhir dengan perceraian.
Bahkan kehidupan Yun panggilan akrab Yulmaini semakin sulit karena harus menghidupi delapan orang anaknya sendiri dengan kondisi kesehatan yang semakin memburuk.
Ketika ditemui Padang Ekspres (11/7), Yun tergolek lemah di ruangan perawatan Rumah Sakit Siti Rahmah Padang. Cuaca di pagi hari itu sungguh cerah. Meskipun di ruangan itu masih tercium bau obat-obtan, tapi dengan masuknya sinar mataharai dari balik tirai jendela membuat suasana terasa hangat dan segar.
Tubuh Yun terlihat kurus, tulang-tulangnya terlihat jelas. Di pagi itu, dia terlihat lebih segar. Pasalnya dia sudah dirawat sejak beberapa hari sebelumnya. Dari keterangan Yun, dia menderita penyakit paru-paru. ”Dokter bilang sama saya, kalau paru-paru saya telah rusak parah. Makanya badan saya jadi kurus, hanya tinggal kulit pembalut tulang,” imbuhnya sedih.
Sebelum dirawat, Yun harus menahan sakit sekitar enam bulan lamanya tanpa perawatan medis. Ya, enam bulan lalu Yun sudah tidak kuasa menahan sakit di paru-parunya. Untuk berobat tidak punya uang, sehingga hanya bisa pasrah di rumah. Sebelum terbaring di rumah, Yun memaksakan untuk terus bekerja menghidupi dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Suaminya telah meninggalkannya bersama delapan orang anak. Ya, dia menikah pada uisa 20 tahun. Selama 10 tahun menikah, dia baru mengetahui kalau suaminya ini suka menggunakan kekerasan. Salah sedikit, tidak segan-segan suaminya menendang paha atau memukul bagian tubuhnya.
Yun mengisahkan kalau pernikahannya ini, merupakan penjodohan yang dilakukan oleh keluarganya. Dia tidak bisa menolak karena keluarga telah sepakat untuk menjodohkannya. Dari suami pertamanya ini, Yun memiliki tiga orang putra.
”Salah atau terlambat membuat makanan, suaminya akan menendang atau menampar. Anak-anak juga sering di cambuk dengan ikat pinggang sehingga membekas biru-biru dikulit mereka,” ujarnya lirih.
Selain itu, suaminya terkadang marah dengan alasan tidak masuk akal. Tidak jarang pula Yun harus menerima tamparan jika suaminya ini memukul anaknya karena Yun menghentikan pukulan pada anak-anaknya.
Sering mengalami prilaku seperti itu dari suaminya, Yun akhirnya memutuskan untuk melaporkan suaminya ke polisi. Tidak beberapa lama, suaminya ditangkap dan dijebloskan dalam penjara selama enam bulan. Selama persidangan itu, pengadilan agama juga memutuskan untuk mengabulkan keinginan Yun untuk bercerai dengan suaminya ini.
”Saya sudah tidak tahan lagi, apalagi anak-anak juga sering mendapatkan prilaku kasar oleh bapaknya. Jadi saya laporkan ke polisi dan meminta cerai saat suami diperikasa polisi karena alasan tersebut. Sejak ditahan dia tidak mau ketemu lagi dengan suaminya ini,” ujarnya.
Beberapa tahun menjanda dan menghidupi tiga orang anaknya dengan usaha sendiri, akhirnya Yun juga menemukan jodoh lagi. Kali ini tidak ada penjodohan, melainkan suka sama suka, sehingga Yun memilih untuk kembali menikah. Tapi sungguh disayangkan, meskipun tidak suka main tangan, ternyata suami keduanya ini suka menikah.
Setelah memiliki anak dari suami keduanya ini, dia baru mengetahui kalau dia merupakan istri ke tiga. ”Suami saya yang kedua memiliki banyak istri. Saya dan anak-anak ditinggal suami karena memilih menikah lagi dengan wanita lain,” ujarnya lirih.
Dengan suami keduanya ini, Yun memiliki lima orang anak. Dan disaat itulah, dia bersama suaminya ini hijrah ke Rengat Riau. Yun dan delapan orang anaknya ditinggalkan begitu saja oleh suaminya di Rengat. Disaat itu, wanita kelahiran Padang ini memilih untuk bertahan dengan menjalani berbagai pekerjaan seperti tukang cuci dan jualan sayuran.
Nah, disaat di Rengat inilah penyakit Yun mulai parah. Sebelum Yun berangkat ke Rengat ikut suaminya, Yun telah merasakan sedikit sakit di bagian dadanya tapi ditahannya saja karena tidak memiliki cukup uang untuk diperiksa. Yun hanya berobat ala kadarnya saja seperti pengobatan kampung.
Tekat Yun untuk tidak membiarkan anak-anaknya menderita. Dia rela bekerja apapun, tapi disisi lain, kesetan Yun menurun drastis dan pada akhirnya dia memilih untuk kembali ke rumah orangtunya di RT 04 RW 06 Kelurahan Pampangan Nan XX Kecamatan Lubuk Begalung.
Sesampai di Padang, Yun tetap bekerja apapun yang bisa dikerjakanya. Seperti membuat lemang ketan dan lainnya. Terynata, ketika bekerja membuat lemang inilah penyakit Yun semakin parah dan pada akhirnya enam bulan lalu Yun betul-betul tidak bisa berbuat apa-apa dan terbaring lemah di rumah kontrakannya.
Padang Ekpres yang sempat mengunjungi rumahnya di Kelurahan Pampangan Nan XX ini terkejut karena boleh dikatakan rumah yang dimaksudkan Yun ini umpama gubuk di sawa-sawah. Bangunan tersebut sudah terlihat miring, dan atapnya sudah terlihat berkarat dan ada yang terlepas. Dinding-dingnya dibuat dari kayu dan ada yang telah bolong.
Parahnya, digubuk yang ukurannya tidak lebih dari 3x5 meter ini dihuni oleh delapan orang. Anak-anak Yun dan orangtuanya. Orangtua Yun, Nurmainis juga tidak bisa bekerja keras lagi karena usianya sudah tua.
Yun mengakui, kalau penyakitnya ini sering diabaikan karena mengingat anak-anaknya. Dia bisa saja menggunakan penghasilannya yang tidak menentu ini untuk berobat. Tapi dia memilih untuk membiayai kebutuhan anak-anaknya. “Anak saya banyak, mereka ini tentu butuh uang belanja dan pakaian. Jadi sakit saya tidak saya obati serius,” ujarnya.
Meskipun bekerja terus, penghasilan Yun tetap tidak mencukupi kebutuhan keluarganya, apalagi mantan suaminya tidak pernah memberi anak-anaknya uang. Untung saja tiga orang anaknya yang besar sudah bisa dikatakan mandiri dengan mencari uang sendiri dan pergi merantau ke daerah Riau.
Tiga orang anaknya ini sengaja tidak diberi tahu penyakit Yun karena tidak mau anaknya ini merasa sedih dan kembali ke Padang. “Biarkan dulu mereka mencari uang, jika sudah memiliki cukup uang anak saya itu berjanji akan membawa saya dan adik-adiknya yang lain untuk tinggal di tempat yang lebih layak lagi,” ujarnya.
Saat ini harapan Yun adalah sembuh. Setelah keluar rumah sakit, dia ingin mencari modal untuk berjualan. Karena dalam fikirannya berjualan tentu tidak begitu memaksa tubuhnya untuk bekerja kerasa. “Kalau masih serabutan kerjanya, saya sudah tidak sdanggup lagi. Saya ingin buka warung di sekitar rumah,” ujarnya.
Yun menambahkan kalau beban firkiranya sedikit berkurang karena biaya pengobatan di rumah sakit ditanggung oleh pemilik rumah sakit Siti Rahmah. Selain memikirkan modal, saat ini Yun juga memikirkan dua anaknya (anak ke 4 dan 5) yang seharusnya bersekolah. Yun ingin anaknya b isa sekolah karena ingin melihat anak-anaknya sukses.
“Saya tahu biaya sekolah sekarang gratis, tapi untuk uang belanja dan pakainnya harus kemana saya carikan. Untuk makan saja susuh. Saya ingin anak saya bersekolah dengan layak sehingga tidak bernasib jelek seperti saya ini,” ujarnya lirih. (***)
[ Red/Administrator ]
Hari ini pengumuman ujian nasional (UN) SMA sederajat 2013 diumumkan kepada siswa. Rekapitulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ada 2.678.575 siswa dinyatakan lulus ujian. Sedangkan 8.851 siswa lainnya divonis gagal atau tidak lulus. Di tingkat provinsi, Sumatera Barat tak masuk sepuluh besar nasional, jauh kalah dari Bali yang menempatkan 5 siswanya di 12 besar tertinggi dengan nilai UN murni.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil
Tungkek mambaok rabah mah ...........!
Anak Nagari Manggopoh Demo
Jaan amuah dikicuah lai..........................!
Masyarakat Sipil Cecar Kajati
Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!