Sabtu, 25 Mei 2013 - 15 Rajab 1434 H 01:56:05 WIB
NASIONAL

Pilih Pulang meski Digaji Rp 100 Juta di Luar Negeri

Perjuangan Yudiutomo Imardjoko Hidupkan BatanTek yang Mati Suri

Padang Ekspres • Sabtu, 14/07/2012 12:42 WIB • AHMAD BAIDHOWI -- Jakarta • 630 klik

Yudiutomo di depan bengkel nuklir PT Batan Teknologi, Tangerang Selatan.

Ilmuwan nuklir di Indonesia termasuk langka, apalagi yang reputasinya sampai diakui dunia. Salah satu yang langka itu adalah Ir Yudiutomo Imardjoko MSc PhD, peneliti nuklir yang baru-baru ini menemukan teknik pengayaan uranium tingkat rendah.

 

UNTUK ukuran seorang direktur uta­ma PT Batan Teknologi (BatanTek), ruang kerja Yudiutomo terbilang seder­ha­na. Luasnya hanya  sekitar 6x5 meter de­­ngan seperangkat meja kursi kerja ser­ta sofa untuk tamu di dekat pintu. Se­lain itu, ada sebuah lemari setinggi 1,5 meter yang berisi buku-buku dan berkas-berkas pen­ting BUMN di bidang industri tekno­logi nuklir tersebut.

 

Tidak ada hiasan atau barang lain yang ”mewarnai” kantor yang terletak di Ge­dung 70 dalam kompleks Pusat Pene­li­tian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Tangerang Selatan, Banten, tersebut. 

 

Dari luar, gedung 70 yang menjadi kan­tor pusat BatanTek lebih mirip se­buah pabrik. Apalagi, bagian belakang ba­­ngunan difungsikan sebagai bengkel atau workshop.

 

Yudiutomo, yang oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan disebut sebagai nya­wa baru PT BatanTek, memulai obro­lan dengan bercerita singkat tentang per­ja­lanan hidupnya.

 

Lahir di Yogyakarta, 15 Ma­ret 1963, Yudi mengaku sudah menyukai ilmu nuklir sejak di SMAN 1 Yogyakarta.

 

“Saat pelajaran fisika dijelas­kan tentang adanya atom, yang uku­rannya sangat kecil tapi ener­ginya luar biasa besar, itu me­mancing keingintahuan sa­ya,” kata Yudi di kantornya Rabu lalu (4/7).

 

Keingintahuan tersebut me­ngan­tarnya masuk ke Fakul­tas Tek­nik Nuklir di Universitas Gad­jah Mada (UGM). Berkat pres­­tasi akademiknya, setelah me­­raih gelar sarjana, Yudi lang­sung diterima sebagai dosen di almamaternya dengan status ca­lon pegawai negeri sipil (CPNS). Tetapi, hanya berselang enam bulan, Yudi harus meninggalkan UGM karena mendapat beasis­wa untuk memperdalam ilmu nuklir di Iowa State University pada jenjang S-2 dan S-3.

 

Hebatnya, dia mampu me­raih gelar MSc dan PhD dalam waktu enam tahun. Capaian itu me­ngukuhkan Yudi sebagai orang Indonesia termuda yang berhasil merengkuh gelar doktor di usia 32 tahun pada 1995.

 

Kehebatan ilmu Yudi di bi­dang nuklir sudah menonjol se­jak menimba ilmu di Negeri Pa­man Sam. Salah satu bukti­nya, dia pernah meme­nangkan kom­petisi pembuatan penam­pung limbah nuklir di AS. Itu terjadi pa­da era 1990-an ketika pem­e­rin­tah AS dipusingkan de­ngan ma­kin banyaknya lim­bah nuklir dari 100 lebih pembangkit listrik te­naga nuklir (PLTN)-nya. Kare­na it­u, pemerintah AS lalu mem­bu­ka tender pembuatan penam­pung limbah nuklir.

 

Saat itu, ratusan ilmuwan nu­klir dari seluruh dunia saling adu ke­mampuan mendesain pa­nam­pung limbah nuklir. Yudi tam­pil dengan desain kontainer lim­bah nuklir yang membuat ba­nyak ilmuwan nuklir lain terce­ngang.

 

Sebelumnya, penanganan lim­bah nuklir membutuhkan tiga jenis kontainer. Yakni kon­tai­­ner untuk pengambilan lim­bah dari reaktor, lalu dipin­dah ke kontainer menuju tempat pe­nyim­panan, dan terakhir ke kon­tainer ketiga untuk ditanam di da­lam tanah.

 

“Semakin sering dipindah, ri­siko bocornya radiasi makin be­sar. Waktu itu saya meran­cang multipurpose kontainer. Jadi, mulai dari pengambilan, trans­portasi, dan penyimpanan lim­bah cukup dengan satu kon­tainer,” ujarnya.

 

Kontainer tersebut diran­cang untuk bisa ditanam dengan ke­dalaman 400-600 meter di ba­­wah tanah dan mampu berta­han hingga 10.000 tahun sampai lim­­bah nuklir bisa terurai secara ala­mi. Rancangan Yudi itu dini­lai paling bagus dan aman. Karena itu, layak masuk dalam lembaran Departemen Energi AS dan memenuhi kualifikasi untuk ikut tender pembuatan kontainer limbah nuklir.

 

Sayangnya, hingga kini pe­me­rintah AS terus mengulur-ulur tender pembuatan kon­tainer limbah nuklir tersebut, se­hingga karya Yudi belum bisa di­manfaatkan meski sudah dipa­tenkan atas nama dirinya.

 

Kemampuan otak Yudi mem­buat Prof Daniel Bullen, do­s­ennya, kepincut dan me­minta di­rinya untuk ikut mengajar tek­nik nuklir di Iowa State University. Tawaran gajinya pun meng­giur­kan, yakni USD 8.000 atau se­kitar Rp 16 juta per bulan (kurs saat itu Rp 2.000/USD). Na­mun, tawaran itu ditolaknya. Se­bab, sejak awal, Yudi memang su­dah berniat untuk mengem­bang­kan ilmu nuklir di Indonesia dengan menjadi dosen di Teknik Nuklir UGM.

 

“Status saya saat itu masih CPNS. Gajinya masih Rp 200 ribu per bulan,” ujarnya lantas tertawa.

 

Rasa nasionalisme dan jiwa pen­didik yang mengalir dalam da­rahnya, lebih dari segalanya. Ka­rena itu, putra almarhum Prof Imam Barnadib-Prof Sutari Bar­nadib tersebut lebih senang pu­lang ke Indonesia dan meng­ab­dikan ilmunya di almamater. Se­lain mengajar, Yudi menjadi di­rektur Pusat Studi Energi UGM dan menjadi konsultan ber­bagai perusahaan energi.

 

Setelah 25 tahun mengajar, Yudi mencoba tantangan baru. Dia menjadi konsultan energi PBB di New York, AS. Namun, garis hidup seperti menun­tun­nya untuk kembali ke Indone­sia. Baru 5 bulan menjadi kon­sultan PBB, Yudi mendapat informasi adanya lowongan posisi direksi di PT BatanTek, sebuah BUMN yang bergerak di bidang nuklir. Hatinya pun tergerak untuk menyumbangkan tenaga dan ilmunya di tanah air.

 

Dia pun harus merelakan gaji USD 11.000 per bulan (se­kitar Rp 100 juta) dan berbagai fa­­silitas mewah sebagai kon­sul­tan PBB. “Saya kemudian ki­rim CV (curriculum vitae), ikut fit and proper test, dan alham­du­lil­lah diterima,” katanya lan­tas ter­senyum.

 

Suami dari Dr Diatri Nari Ra­tih itu akhirnya diangkat se­bagai direktur utama PT Ba­tanTek pada 26 Juli 2011. Meski menjadi orang nomor satu, Yudi tidak bisa berleha-leha di kursi dirut. Sebab, saat itu, BatanTek ter­ancam gulung tikar karena se­jak 2010 Badan Tenaga Atom In­ternasional atau International Ato­mic Energy Agency (IAEA) me­larang pengayaan uranium ting­kat tinggi untuk produksi ra­dioisotop. Padahal, selama ini bis­­nis utama BatanTek mem­pro­duksi radioisotop untuk ke­butuhan kedokteran. Dalam du­nia medis modern, radioiso­top sangat diperlukan karena bisa menghasilkan diagnosis de­ngan tingkat presisi tinggi.

 

Dalam kondisi seperti itu, Yu­di kemudian mengajak Dr Kus­nanto, sahabatnya saat m­e­nim­ba ilmu di UGM, untuk ber­gabung sebagai direktur pro­duk­si BatanTek. Keduanya lan­tas ber­sepakat untuk berjuang ber­sama “sehidup semati”. Bahkan, un­tuk menghemat biaya, mere­ka me­mutuskan untuk mengon­trak sebuah rumah untuk diting­gali berdua. Anak dan istri ma­sing-masing ditinggal di Yog­ya­karta. Dengan tinggal seru­mah, me­reka bisa mem­bahas masalah kan­tor hingga tidak mengenal waktu.

 

Kini usaha yang tidak kenal lelah dua ilmuwan nuklir itu mem­buahkan hasil konkret. Me­reka berhasil menemukan tek­nik baru pengayaan uranium ting­­kat rendah untuk mem­pro­duksi radioisotop. Oleh Men­teri BUMN Dahlan Iskan, teknik yang belum dikenal di dunia ilmu nuklir ini kemudian dina­mai “Formula YK” yang berasal dari gabungan nama Yudiu­to­mo-Kusnanto.

 

Temuan teknik baru itu pun mu­lai dipraktikkan. Mulai No­vem­ber 2011, BatanTek kem­bali bisa memproduksi radioisotop. Klien-klien BatanTek yang sebe­lum­­nya pindah ke produsen lain balik lagi ke BatanTek. Di anta­ranya 11 rumah sakit di Indonesia. Juga pembeli dari luar negeri se­perti Malaysia, Vietnam, Fili­pina, Jepang, Bangladesh. Agus­tus nanti, BatanTek mulai me­ngi­rim radioisotop ke Tiongkok.

 

Hingga kini hanya ada dela­pan negara yang mem­produksi ra­dioisotop untuk keperluan me­dis. Di antaranya Indonesia, Ka­nada, Australia, Belgia, Be­lan­da, dan Hongaria. Kebutuhan ra­dioisotop di dunia mencapai 12.000 curie per minggu. Kebu­tu­­han itu tumbuh 10 persen per ta­­hun. Artinya, saat ini dibu­tuh­kan reaktor berkapasitas lima kali lipat atau 60.000 curie un­tuk bisa memenuhi kebu­tuhan tersebut.

 

Menurut cerita Yudi, dalam per­temuan produsen ra­dioiso­top sedunia di Italia dua pe­kan la­lu, produsen asal Kana­da me­nyatakan bahwa mereka akan meng­hentikan produksi radio­iso­top karena usia reaktor nu­klir­nya sudah lebih dari 50 ta­hun. Mereka sebenarnya su­dah mem­bangun reaktor baru, na­mun dibatalkan oleh pe­merintah karena ada kesalahan teknis.

 

“Padahal, saat ini Kanada memasok 40 persen kebutuhan radioisotop dunia. Kalau mereka ber­henti, terbuka peluang sangat be­sar bagi BatanTek untuk me­ngambil pelanggan-pelang­gan mereka, khususnya di kawasan Asia atau negara yang masih bisa kita jangkau,” jelasnya.

 

Karena itu, meski kini sudah me­nguasai sebagian besar pasar Asia, BatanTek siap membidik pa­sar yang jauh lebih besar. Yudi pun menyusun rencana pem­ba­ngunan reaktor baru dengan ka­pasitas sampai 22.000 curie per minggu. Saat ini BatanTek ba­ru mampu memproduksi ra­dioiso­top 1.600 curie per ming­gu.

 

Dengan teknologi terbaru yang lebih efisien, dibutuhkan dana investasi sekitar Rp 1,6 tri­liun untuk membuat reaktor de­ngan kapasitas 22.000 curie per minggu. Jika reaktor baru bisa berproduksi, omzet Ba­tanTek yang saat ini sekitar Rp 3 miliar per minggu bisa meningkat hingga Rp 44 miliar per minggu atau sekitar Rp 2,2 triliun per ta­hun. Dengan dukungan sum­ber daya manusia (SDM) yang mum­puni, dia optimistis Ba­tanTek mampu menjadi pe­main besar di Asia, bahkan dunia. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Ujian Nasional

Hari ini pengumuman ujian nasional (UN) SMA sederajat 2013 diumumkan kepada siswa. Rekapitulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemen­dikbud) ada 2.678.575 siswa dinyatakan lulus ujian. Sedangkan 8.851 siswa lainnya divonis gagal atau tidak lulus. Di tingkat provinsi, Sumatera Barat tak masuk sepuluh besar nasional, jauh kalah dari Bali yang menempatkan 5 siswanya di 12 besar tertinggi dengan nilai UN murni.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Jumat, 24 Mei 2013

Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil

Tungkek mambaok rabah mah ...........!

 

Anak Nagari Manggopoh Demo

Jaan amuah dikicuah lai..........................!

 

Masyarakat Sipil Cecar Kajati

Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!