- 13:32 WIB
- 13:30 WIB
- 13:27 WIB
- 13:24 WIB
- 13:22 WIB
- 13:21 WIB
- 13:22 WIB
- 13:21 WIB
- 13:21 WIB
- 13:15 WIB
Dua Kali ke TPS, Sebulan tak Ketemu Anak
Bersama Riza Falepi saat Pemungutan Suara
Padang Ekspres • Jumat, 13/07/2012 13:25 WIB • FAJAR RILLAH VESKY -- Payakumbuh • 621 klik

Beberapa jam sebelum mengungguli perolehan suara sebagai wali kota Payakumbuh periode 2012-2017, Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku, dua kali mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). Janjinya membawa anak dan keponakan untuk jalan-jalan ke Lembah Harau, nyaris batal gara-gara tamu yang datang silih berganti. Untung Riza pandai membagi waktu.
”Ayolah, Datuak Riza sudah menunggumu dari tadi,” ujar Ketua Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, Haji Jayusman Rangkayo Mulie ketika mengajak Padang Ekspres menemani Riza Falepi memberikan hak suara di TPS 2, Koto Baru Balai Janggo, Payakumbuh Utara, Kamis (12/7) sekitar pukul 10.00 WIB.
Benar saja, saat Padang Ekspres tiba di Koto Baru Balai Janggo, Payakumbuh Utara, Riza sudah selesai memberikan hak suaranya. Bersama sang istri, Dr Henni Yusnita Falepi, senator lahir di Payakumbuh 17 Juni 1970 itu, sudah tiba pula di rumah ibunya, Rumah Gadang Suku Kampai, Nagari Koto Nan Gadang.
Setelah mengobrol sejenak, Padang Ekspres menawari Riza untuk kembali ke TPS.
“Mau apa kita kembali ke TPS? Ambil foto ya? Cobalah ditanya dulu ke PPS, apa boleh kita ngambil foto? Kalau PPS atau KPPS izin, kita pergi,” ujar Riza sambil meminta stafnya bernama Candra, menghubungi anggota KPPS.
Tidak sampai 15 menit, PPS Kotobaru bersama KPPS II Kotobaru, memberi izin buat Riza untuk mengambil foto di TPS disaksikan banyak masyarakat. Namun, alumni SD 5 Payakumbuh dan SMP 1 Payakumbuh tersebut, tidak mau langsung masuk ke dalam TPS untuk sekadar berpose. Sebaliknya, Riza mengantre dulu di kursi yang disediakan buat para pemilih.
Ketika anggota PPS dan KPPS sudah mempersilakannya masuk ke TPS yang memakai bangunan milik SDN 03 Kotobaru, Riza baru berani berpose.
Tidak sampai 5 menit di TPS, Riza pun kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki bersama Haji Jayusman Rangkayo Mulie. Di sepanjang perjalanan, Riza yang enjoy berjalan kaki, henti-hentinya disapa warga Kotobaru Balai Janggo. “Lah sudah miliah Tuak? Monang datuak beko mah (Datuak, sudah selesai memilih ya? Nanti, Datuk pasti menang),” ujar sejumlah warga. “Amiin, olah Da. Mokasih yo Da (Amin, sudah Uda. Terimah kasih Uda),” jawab Riza sambil melempar senyum.
Sesampai di depan rumahnya, Riza kembali mengajak Padang Ekspres masuk. Riza mengawali obrolan dengan membahas Pilgub DKI Jakarta. “Pilgub DKI Jakarta itu sungguh luar biasa. Jokowi yang dianggap gubernur dari kampung dan sering dijelek-jelekkan, malah bisa menang dari Fauzi Bowo dan Pak Hidayat. Sungguh luar biasa. Ini menandakan, kehendak rakyat tak dapat dilawan,” ujar pria yang pernah bersekolah di SMAN 3 Payakumbuh selama setahun, tapi kemudian melanjutkan di SMAN 13 Jakarta.
Setelah itu, pria yang menamatkan pendidikan S-1 di Teknik Elektro ITB pada tahun 1994 dan S-2 Tekno Ekonomi ITB pada tahun 2002, balik bertanya kepada Padang Ekspres, “Ayo tebak, Pilwako Payakumbuh, berapa putaran?.” Saat mendengar jawaban dua putaran dari Padang Ekspres, Riza hanya tersenyum.
“Saya yakin, satu putaran. Ini bukan takabur, bukan sombong. Ada kajian ilmiahnya. Berdasarkan survei Incost sebelum pemungutan suara, kita memperoleh 45,6 persen suara. Disusul pasangan lain, 27,5 persen, 13,2 persen, 6,4 persen, 3,9 persen, 2,4 persen, dan 1 persen. Biasanya, survei Incost tak meleset,” kata Riza.
Tak lama berselang, bekas pengurus Keluarga Mahasiswa Islam ITB, Pengajian Mahasiswa Minang ITB dan Muda-Mudi Gonjong Limo Bandung ini, didekati oleh seorang bocah. “Ini anak saya, namanya Aisyah Mardhiyyah. Kalau yang ini, namanya Muhammad Yusuf Abdurrahman. Kami sudah hampir sebulan tak ketemu, karena kesibukan Pilwako ini,” ujar Riza.
Rupanya, Riza yang aktif sebagai Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB (IA ITB) serta Perhimpunan Petani & Nelayan Sejahtera Indonesia, sudah membuat janji dengan anak dan keponakannya, untuk membawa mereka berjalan-jalan ke Lembah Harau.
Belum jadi berangkat ke Lembah Harau, tiba-tiba rumah Riza kembali didatangi banyak orang. Ada wanita yang berasal dari Nunang, mengaku masih punya pertalian darah dengan Riza, dan berharap Riza membantunya menyelesaikan persoalan tanahnya yang dipakai buat salah satu rumah dinas pejabat Pemkab Limapuluh Kota.
Dengan ramah, pembina Yayasan Raudhatul Jannah yang mengelola sekolah Islam terpadu TK, SD, SMP, dan SMA di Payakumbuh ini, melayani tamunya. “Saya tidak berjanji membantu Uni, nanti saya akan coba cari solusi. Tapi percayalah, saya tak bisa bela siapa-siapa, kecuali kebenaran,” ucap Riza.
Perempuan itu pun nampak mengerti, bahkan berterima kasih sebelum permisi pulang. Tidak lama berselang, orang-orang dekat Riza Falepi berdatangan. Di antaranya, nampak Ketua Relawan Anak Nagari Payokumbuah untuk Pemenangan Riza Falepi-Suwandel Muchtar, Anton Permana.
Kemudian, nampak pula Afrizal, bekas Ketua PKPI Sumbar, sekaligus calon anggota DPD RI pengganti Riza Falepi. Selain itu, terlihat Ketua Kerapatan Adat Nagari Koto Nan Gadang Heri Iswandi Datuak Rajo Mantiko Alam, Ketua PKPI Payakumbuh Metta Samainal, Ampang Nan Limo Koto Nan Gadang Jumhur, dan sejumlah politisi PKS.
12 Program Unggulan
Bersama mereka, Riza terlibat obrolan sampai masuk waktu Shalat Zuhur. Sebelum menunaikan shalat, Riza mengajak para tamunya makan bersama.
Menurut bekas pengurus DPD Partai Keadilan Kabupaten Bandung ini, dia bersama Suwandel Muchtar memiliki visi “Terwujudnya Payakumbuh menjadi Kota yang Maju, Sejahtera dan Religius, Pro-Rakyat, berbasis Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan yang berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dengan tagline, “Basamo Kito Bangun Payokumbuah”.
”Untuk mewujudkan visi tersebut, saya bersama Pak Wandel memiliki 12 misi. Di antaranya, menjadikan Payakumbuh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumbar, baik dari segi pertanian, perternakan, jasa, perdagangan, dan pariwisata,” papar Riza.
Kemudian, menerapkan tata kelola pemerintahan yang bersih berkualitas, jujur, akomodatif terbuka, santun, efektif, efisien, berkeadilan, dan akrab dengan masyarakat. Misi ini akan dievaluasi secara terus menerus dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Sedangkan program unggulan yang ditawarkan Riza-Wandel, menuntaskan pembangunan kampus Unand di Payakumbuh dalam 3 tahun. Menjadi pioneer dalam realisasi pembangunan Bandar Udara di Luhak Limo Puluah, baik dengan permodalan konsorsium pemerintah daerah maupun swastanisasi. Lalu, membangun kawasan Islamic Centre dan Masjid Agung Kota Payakumbuh.
”Kami juga ingin membangun serta meningkatkan sarana dan prasarana puskesmas, RSUD menjadi unit pelayanan kesehatan yang modern dan berkualitas, dengan konsep menajemen service excellent. Kami juga merencanakan program-program pinjaman bergulir Rp 1 miliar per kecamatan setiap tahun untuk pelaku UKM dan masyarakat,” beber Riza.
Di samping itu, Riza dan Wandel ingin membentuk bank pupuk dan bank peternak sebagai jaminan dan stabilisator keberlangsungan kegiatan usaha petani dan peternak. Kemudian, mengembangkan konsep Payakumbuh digital, dalam realisasi e-governance dan clean-governance, berbasis IT dengan standarisasi menajemen ISO-9001.
“Kita juga tawarkan program City Branding Kota Payakumbuh, sebagai kota kuliner (pusat oleh-oleh makanan spesifik), pusat budaya, pariwisata, jasa perdagangan agronomi dan etalase sumber daya alam dari Sumbar di tingkat nasional dan regional,” sebut Riza.
Semua program dan cita-cita tersebut, sebut Riza, tentu akan bisa diwujudkannya bila mendapat kepercayaan masyarakat. “Dan Alhamdulillah, masyarakat memberi kita kepercayaan. Kita tentu bersyukur sekali. Ini kemenangan masyarakat Payakumbuh,” sebut Riza. (***)
[ Red/Administrator ]
Hari ini pengumuman ujian nasional (UN) SMA sederajat 2013 diumumkan kepada siswa. Rekapitulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ada 2.678.575 siswa dinyatakan lulus ujian. Sedangkan 8.851 siswa lainnya divonis gagal atau tidak lulus. Di tingkat provinsi, Sumatera Barat tak masuk sepuluh besar nasional, jauh kalah dari Bali yang menempatkan 5 siswanya di 12 besar tertinggi dengan nilai UN murni.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil
Tungkek mambaok rabah mah ...........!
Anak Nagari Manggopoh Demo
Jaan amuah dikicuah lai..........................!
Masyarakat Sipil Cecar Kajati
Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!