- 13:32 WIB
- 13:30 WIB
- 13:27 WIB
- 13:24 WIB
- 13:22 WIB
- 13:21 WIB
- 13:22 WIB
- 13:21 WIB
- 13:21 WIB
- 13:15 WIB
Tak Suka Pidato, Sering Labrak Protokoler
16 Jam Bersama Menteri BUMN, Dahlan Iskan
Padang Ekspres • Selasa, 03/07/2012 10:50 WIB • SANNY ARDHY -- Padang • 2648 klik

Banyak cerita lucu dan menarik saat Menteri BUMN, Dahlan Iskan melakukan kunjungan kerja selama 16 jam di Padangpariaman dan Padang, Sabtu (30/6) malam-Minggu (1/7) siang. Pejabat negara yang selalu mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana dasar hitam dan sepatu kets ini, memilih tampil merakyat daripada dilayani oleh aturan protokoler kementerian.
CERITA lucu dan menarik ini, dimulai saat tiba di Bandara International Minangkabau (BIM), Sabtu (30/6), sekitar pukul 21.30 WIB. Sejumlah tamu, mulai unsur pemerintahan, pejabat BUMN, pengurus Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar dan tokoh pers, saat itu sudah standby menunggu Dahlan di ruangan very important person (VIP) BIM.
Sesuai skedul protokoler dan panitia penyambutan tamu, memang merencanakan Dahlan turun di ruang VIP. Mantan Dirut PT PLN (Persero) ini naik pesawat Garuda Airlines dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, pukul 19.00 WIB. Sesuai jadwal, ia akan tiba pada pukul 20.40 WIB. Namun, hingga pukul 21.00 WIB, Dahlan belum juga muncul.
Gemuruh mesin pesawat pun terdengar. Sejumlah tamu pun beranjak dari tempat duduk, kemudian gegas menuju pintu penyambutan ruang VIP.
Termasuk puluhan wartawan media cetak dan elektronik yang sudah standby sejak pukul 19.30 WIB. Semua mengira, itu pesawat Garuda yang dinaiki Dahlan. Namun semuanya kecele. Tak ada tanda-tanda Dahlan tiba.
Tak lama setelah itu, sejumlah panitia penyambutan tamu dari PT Semen Padang (PT SP), kasak kusuk. Mereka feeling, Dahlan akan turun di pintu kedatangan reguler (non VIP). Sebagian panitia pun langsung bergegas ke pintu kedatangan reguler, termasuk para wartawan yang membentuk dua tim. Tim pertama, ke pintu kedatangan reguler. Tim kedua, tetap standby di ruangan VIP.
15 menit kemudian, gemuruh mesin pesawat kembali terdengar, landing di BIM. Tamu-tamu pun kembali beranjak dari kursinya, bergegas ke pintu kedatangan VIP. 10 menit ditunggu, Dahlan tak juga muncul. Wako Padang, Fauzi Bahar pun juga dibuat bingung. “Di mana Pak Menteri turun,” tanya Fauzi kepada sejumlah wartawan.
“Menurut jadwal panitia, di VIP, Pak Wali,” jawab rekan-rekan wartawan. Mendengar jawaban itu, Fauzi tetap standby di ruangan VIP bersama Wabup Padangpariaman, Damsuar dan puluhan tamu lainnya. Benar saja, Dahlan memilih turun di pintu kedatangan reguler (non VIP). Ia tiba sendiri tanpa dikawal ajudan. Sambil jalan ke luar, ia selalu melempar senyum kepada orang-orang di sekitar bandara.
“Yuk, kita ke VIP. Kasihan di sana, tamu-tamu sudah lama nunggu,” kata Dahlan kepada sejumlah wartawan. Dahlan pun naik ke mobil Toyota Alphard warna hitam B 2476 SZ. Setiba di pintu kedatangan VIP, Dahlan pun disambut hangat. Seluruh tamu disalaminya satu per satu. Tak lama setelah itu, ia pun masuk ke aula VIP.
Tak tampak gurat keletihan di wajahnya. Ia selalu terlihat semangat. Di hadapan seluruh tamu di aula VIP, Dahlan mengucapkan permohonan maaf. “Pesawat saya delay hampir satu jam. Ada penumpang yang diketahui sakit jantung di dalam pesawat. Terpaksa ia turun. Pencarian barang-barangnya di bagasi, juga lama. Mohon maaf,” tutur Dahlan sambil mengangkat kedua tangannya.
Permohonan maaf kedua juga disampaikan Dahlan, dirinya tak bisa berlama-lama di Padang dan Padangpariaman. “Mendadak, sebelum saya berangkat tadi, saya ditelepon protokoler presiden. Oleh presiden, saya diminta untuk berangkat ke Australia, Minggu (1/7) siang. Jadi, agenda saya yang semula sampai Minggu (1/7) pukul 14.00 WIB di sini, terpaksa dipercepat. Minggu (1/7) pukul 10.00 WIB, saya sudah harus balik ke Jakarta,” ulas wartawan senior ini.
Di balik kunjungannya selaku Menteri BUMN, Dahlan juga memiliki misi khusus datang kali ini ke Padangpariaman dan Padang, Sabtu (30/6)-Minggu (1/7). Pria lulusan Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilil Muttaqien, Magetan, Jawa Timur ini mengaku ingin mempelajari lebih dalam soal aliran Tarekat Sattariyah di Ranah Minang. Ini semua didasari banyaknya jamaah Tarekat Sattariyah di Jatim.
Keinginan itu diutarakan Dahlan di hadapan pengurus LKAAM Sumbar, Wako Padang, Fauzi Bahar dan Wabup Padangpariaman, Damsuar di ruangan VIP BIM, saat itu. “Keluarga saya juga banyak dari pesantren. Kini, kami juga punya ponpes keluarga. Makanya tertarik mempelajari Sattariyah karena berasal dari Ranah Minang,” tukas pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini.
“Saya janji akan kembali datang ke sini dalam waktu dekat. Namun bukan selaku Menteri BUMN, melainkan selaku pribadi, orang biasa,” tuturnya. Tak sampai 15 menit, sekretaris pribadi (sepsri) Dahlan, Mamik Slamet mengingatkan Dahlan. Di Masjid Raya Kasang, Kecamatan Batanganai, Padangpariaman, ratusan jamaah sudah lama menunggu.
“Mohon maaf yang ketiga. Agenda saya sangat padat sekali. Saya harus segera ke Masjid Raya Kasang,” ungkap Dahlan di akhir silaturahmi dengan pengurus LKAAM Sumbar. Malam itu, pengurus LKAAM menyampaikan maksudnya untuk mengangkat Dahlan sebagai warga kehormatan orang Minang.
Sekitar pukul 22.15, Dahlan tiba di Masjid Raya Kasang. Di sana, ia disambut hangat jamaah ibu-ibu dari majelis taklim. Sepatu kets bertuliskan DI (Dahlan Iskan, red) pun ditaruhnya di teras masjid bersama ratusan sandal jamaah lainnya.
Dalam waktu singkat, Dahlan menceritakan bagaimana perjuangan hidupnya melawan ganasnya penyakit kanker hati hingga ditawari Presiden SBY menjadi Menteri BUMN. Tak sampai 30 menit, Dahlan pun bersiap untuk pamit. Matanya pun tertuju pada lapek pisang di dekat pintu masjid. “Kue ini saya bawa ya buk. Saya mau makan kue ini dalam mobil,” celetuknya.
Perjalanan pun dilanjutkan ke Ponpes Hamka, Kecamatan Batang Anai. Di luar, para santri telah menunggu Dahlan dengan membawa obor. Melihat banyaknya santri di luar, Dahlan pun turun. “Saya jalan kaki aja ke dalam. Bagi yang ingin naik mobil, silakan. Bagi yang ingin ikut sama saya jalan kaki, ayok,” ajak Dahlan kepada sejumlah panitia penyambutan.
Melihat Dahlan jalan, Wako Fauzi Bahar pun juga turun dari mobil dinas Camry BA 1 A warna hitam. Para wartawan pun juga bergegas turun dari mobil, ikut jalan kaki bersama Dahlan. “Jadi teringat saat nyantri dulu. Itung-itung pemanasan sebelum jalan sehat di Semen Padang, besok pagi (Minggu, red),” kata Dahlan kepada Wako Fauzi Bahar di sampingnya. Mendengar perkataan tersebut, Fauzi tertawa. “Lebih sehat Pak Menteri sepertinya dibanding saya,” canda Fauzi kepada Dahlan.
Sepanjang perjalanan, Dahlan merangkul anak santri. Setelah 10 menit berjalan kaki sejauh 1 km, Dahlan disambut siriah jo carano dan makan bajamba bersama santri. Usai makan, mic pun diserahkan ke Dahlan untuk memberi sambutan. “Saya tak mau berpidato. Silakan tanya apa saja, asal jangan politik,” ujar Dahlan membuka pembicaraan.
Mendengar hal tersebut, salah seorang santri maju ke depan. Namanya M Ikhsan, dari santri Aliyah (setingkat SMA). “Kenapa bapak memilih pesantren Hamka untuk dikunjungi,” tanya Ikhsan.
“Saya sangat mengagumi figur Hamka. Saya banyak membaca buku-bukunya. Seluruh buku-buku Hamka masih saya simpan sampai sekarang di rumah. Yang pasti, Ponpes Hamka ini harum namanya di luar. Makanya saya penasaran ingin datang ke sini. Dan ternyata, memang benar, pesantrennya memang bagus,” tambah Dahlan.
Ada lebih kurang satu jam Dahlan di Ponpes Hamka. Ia lebih menyemangati anak santri untuk tetap rajin. “Anak santri yang rajin, nantinya bisa jadi menteri,” ujar Dahlan menyemangati.
Dahlan pun melanjutkan kunjungan ke Ponpes Darul Ulum, Aiapacah, Kecamatan Kototangah, Padang. Di sinilah, Ketua Yayasan Ponpes Darul Ulum, Afrizal menyampaikan pesan anak santri agar Dahlan bersedia menginap di Ponpes Darul Ulum. Mendengar permintaan tersebut, Dahlan mengangguk. Sespri Dahlan bergegas menghampiri Dahlan, berbisik. Sepertinya, Mamik memberi saran agar Dahlan tetap menginap di Wisma Indarung (WI), sesuai jadwal protokoler.
Seperti diketahui, protokoler mengatur schedule istirahat Dahlan di WI. Ini dikarenakan jadwal Dahlan yang terlalu mepet, karena pukul 10.00 sudah harus take off. Sementara Minggu (1/7) pukul 06.30, Dahlan dijadwalkan melepas bendera start jalan sehat di PT SP. “Saya putuskan, saya bermalam di sini. Barusan saya dapat kabar dari protokoler Istana, bahwa saya nggak apa-apa jika tiba Minggu (1/7) siang di Jakarta. Sampai jumpa Subuh, saya mau tidur dulu,” ujar Dahlan.
Dahlan tak sendiri, ia ditemani Wako Fauzi Bahar dan Dirut PT Semen Gresik, Dwi Sucipto tidur di asrama ponpes. Sebagian rombongan, memilih istirahat di WI. Saat Subuh Mubarakah, Dahlan mengenakan sarung memberikan tausiyah. Hingga ke atas mobil pun, ia tetap menggunakan sarung menuju PT SP, pukul 06.00.
“Di atas mobil saja nanti, saya tukar celana,” kata Dahlan. Ia pun sempat meminta kue mangkuk kepada jamaah ponpes. “Kue ini saya bawa ya buk. Saya ingin makan di atas mobil,” imbuh Dahlan.
Usai jalan sehat, Dahlan diserbu sejumlah warga, termasuk wartawan dan pejabat pemda untuk foto bareng. Dahlan pun mempersilakan setiap orang yang ingin berfoto dengannya. Tak ada yang melarang, karena ajudannya memang tak ada. Sespri, Mamik Slamet pun juga tak mempermasalakan.
Dahlan sangat menikmati acara. Beberapa kali ia menggendong anak kecil di dekat panggung utama. “Karena hari sudah panas, tak baik jika pidato panjang-panjang. Kalau hari panas-panas gini, lebih baik kita minum,” kata Dahlan menutup sambutan, yang diikuti tawa hadirin.
Waktu Dahlan sudah semakin mepet. Di tempat yang sama, ia diundang PWI Sumbar bersilaturahmi dengan sejumlah anggota PWI kabupaten/kota, termasuk tokoh pers Sumbar, di antaranya Sutan Zaili Asril dan Basril Djabar. Dalam kesempatan itu, Dahlan menyemangati wartawan bahwa kerja wartawan itu tak bisa diintervensi, sama halnya dengan seniman.
Sekitar pukul 09.30, Dahlan menuju Masjid Nurul Iman, silaturahmi bersama Majelis Taklim. Sejumlah jamaah menumpahkan curahan hatinya kepada Dahlan. “Tolong kami, pak. Kian hari, hidup kian susah. Ke mana kami hendak mengadu,” ujar salah seorang jamaah.
Saking histerisnya, ada seorang jamaah melontarkan pertanyaan sambil menangis. Hampir satu jam Dahlan di sana. Ia pun dilepas jamaah dengan lantunan Asmaul Husna. Duduk di jenjang masjid sambil memakai sepatu, Dahlan pun masih dikerubuti sejumlah jamaah yang ingin berfoto.
Dari Masjid Nurul Iman, Dahlan mengunjungi Hotel Grand Inna Muara. Dahlan senang, BUMN bisa membangun hotel mewah sekelas Inna Muara di Padang. Di sana, Dahlan hanya 10 menit untuk kemudian menuju Gubernuran, menghadiri seminar wirausaha bersama Gubernur Irwan Prayitno. Di Gubernuran. Satu jam lamanya menghadiri seminar, Dahlan pun pamit pukul 12.50, menuju Rumah Makan Lamun Ombak, Khatib Sulaiman untuk makan siang.
Setelah itu, Dahlan melanjutkan perjalanan ke BIM, pulang ke Jakarta dengan Garuda pukul 14.00. “Sampai ketemu lagi. Salam untuk semuanya,” pungkas Dahlan. Begitu padatnya kunjungan Dahlan. Selama 16 jam di Padang dan Padangpariaman, ia menghadiri sembilan acara. Rata-rata 1 jam 50 menit setiap acara. (***)
[ Red/Administrator ]
Hari ini pengumuman ujian nasional (UN) SMA sederajat 2013 diumumkan kepada siswa. Rekapitulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ada 2.678.575 siswa dinyatakan lulus ujian. Sedangkan 8.851 siswa lainnya divonis gagal atau tidak lulus. Di tingkat provinsi, Sumatera Barat tak masuk sepuluh besar nasional, jauh kalah dari Bali yang menempatkan 5 siswanya di 12 besar tertinggi dengan nilai UN murni.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil
Tungkek mambaok rabah mah ...........!
Anak Nagari Manggopoh Demo
Jaan amuah dikicuah lai..........................!
Masyarakat Sipil Cecar Kajati
Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!