Jum'at, 24 Mei 2013 - 14 Rajab 1434 H 21:16:48 WIB
NASIONAL

Tak Suka Pidato, Sering Labrak Protokoler

16 Jam Bersama Menteri BUMN, Dahlan Iskan

Padang Ekspres • Selasa, 03/07/2012 10:50 WIB • SANNY ARDHY -- Padang • 2648 klik

Menteri BUMN, Dahlan Iskan membawa goreng pisang dan makanan mangkuk

Banyak cerita lucu dan menarik saat Menteri BUMN, Dahlan Iskan melakukan kunjungan kerja selama 16 jam di Padangpariaman dan Padang, Sabtu (30/6) malam-Minggu (1/7) siang. Pejabat negara yang selalu mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana dasar hitam dan sepatu kets ini, memilih tampil merakyat daripada dilayani oleh aturan protokoler kementerian.

 

CERITA lucu dan menarik ini, dimulai saat tiba di Bandara International Minangkabau (BIM), Sabtu (30/6), sekitar pukul 21.30 WIB. Sejumlah tamu, mulai unsur pemerintahan, peja­bat BUMN, pengurus Lembaga Kera­pa­tan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar dan tokoh pers, saat itu sudah standby menunggu Dahlan di ruangan very important person (VIP) BIM.

 

Sesuai skedul protokoler dan panitia pe­nyambutan tamu, memang meren­ca­nakan Dahlan turun di ruang VIP. Man­tan Dirut PT PLN (Persero) ini naik pesa­wat Garuda Airlines dari Bandara Soe­karno Hatta, Jakarta, pukul 19.00 WIB. Sesuai jadwal, ia akan tiba pada pukul 20.40 WIB. Namun, hingga pukul 21.00 WIB, Dahlan belum juga muncul.

 

Gemuruh mesin pesawat pun terde­ngar. Sejumlah tamu pun beranjak dari tem­pat duduk, kemudian gegas menuju pin­tu penyambutan ruang VIP.

 

Termasuk puluhan wart­a­wan media cetak dan elektronik yang sudah standby sejak pukul 19.30 WIB. Semua mengira, itu pe­sawat Garuda yang dinaiki Dah­lan. Namun semuanya ke­cele. Tak ada tanda-tanda Dah­lan tiba.

 

Tak lama setelah itu, sejum­lah panitia penyambutan tamu dari PT Semen Padang (PT SP), ka­sak kusuk. Mereka feeling, Dah­lan akan turun di pintu ke­datangan reguler (non VIP). Se­bagian panitia pun langsung ber­ge­gas ke pintu kedatangan regu­ler, termasuk para warta­wan yang membentuk dua tim. Tim pertama, ke pintu kedatangan reguler. Tim kedua, tetap stan­dby di ruangan VIP. 

 

15 menit kemudian, gemu­ruh mesin pesawat kem­bali ter­dengar, landing di BIM. Ta­mu-ta­mu pun kembali beran­jak dari kur­sinya, bergegas ke pintu ke­datangan VIP. 10 menit ditung­gu, Dahlan tak juga mun­cul. Wako Padang, Fauzi Bahar pun juga dibuat bingung. “Di mana Pak Menteri turun,” tanya Fauzi ke­pada sejumlah wartawan.

 

“Menurut jadwal panitia, di VIP, Pak Wali,” jawab rekan-re­kan wartawan. Mendengar ja­waban itu, Fauzi tetap standby di ruangan VIP bersama Wabup Pa­dangpariaman, Damsuar dan pu­luhan tamu lainnya. Benar saja, Dahlan memilih turun di pin­tu kedatangan reguler (non VIP). Ia tiba sendiri tanpa dika­wal ajudan. Sambil jalan ke luar, ia selalu melempar senyum ke­pada orang-orang di sekitar ban­dara.

 

“Yuk, kita ke VIP. Kasihan di sana, tamu-tamu sudah lama nunggu,” kata Dahlan kepada sejumlah wartawan. Dahlan pun naik ke mobil Toyota Alphard warna hitam B 2476 SZ. Setiba di pintu kedatangan VIP, Dahlan pun disambut hangat. Seluruh tamu disalaminya satu per satu. Tak lama setelah itu, ia pun masuk ke aula VIP.

 

Tak tampak gurat keletihan di wajahnya. Ia selalu terlihat se­mangat. Di hadapan seluruh ta­mu di aula VIP, Dahlan mengu­cap­kan permohonan maaf. “Pe­sa­wat saya delay hampir satu jam. Ada penumpang yang dike­ta­hui sakit jantung di dalam pe­sawat. Terpaksa ia turun. Pen­carian barang-barangnya di ba­gasi, juga lama. Mohon maaf,” tu­tur Dahlan sambil mengang­kat kedua tangannya.

 

Permohonan maaf kedua juga disampaikan Dahlan, diri­nya tak bisa berlama-lama di Pa­dang dan Padangpariaman. “Men­dadak, sebelum saya be­rang­­kat tadi, saya ditelepon pro­to­koler presiden. Oleh pr­e­siden, sa­ya diminta untuk berangkat ke Aus­tralia, Minggu (1/7) siang. Ja­di, agenda saya yang semula sam­pai Minggu (1/7) pukul 14.00 WIB di sini, terpaksa di­per­cepat. Minggu (1/7) pukul 10.00 WIB, saya sudah harus balik ke Jakarta,” ulas wartawan senior ini.

 

Di balik kunjungannya sela­ku Menteri BUMN, Dahlan juga memiliki misi khusus datang kali ini ke Padangpariaman dan Pa­dang, Sabtu (30/6)-Minggu (1/7). Pria lulusan Pondok Pesan­tren (Ponpes) Sabilil Mut­taqien, Ma­getan, Jawa Timur ini me­nga­ku ingin mempelajari lebih da­lam soal aliran Tarekat Satta­ri­yah di Ranah Minang. Ini se­mua didasari banyaknya ja­maah Tarekat Sattariyah di Jatim.

Keinginan itu diutarakan Dah­lan di hadapan pengurus LKAAM Sumbar, Wako Padang, Fauzi Bahar dan Wabup Pa­dang­pariaman, Damsuar di rua­ngan VIP BIM, saat itu. “Ke­luarga saya juga banyak dari pe­san­tren. Kini, kami juga punya pon­pes keluarga. Makanya terta­rik mempelajari Sattariyah ka­re­na berasal dari Ranah Mi­nang,” tukas pria kelahiran Ma­getan, 17 Agustus 1951 ini.

 

“Saya janji akan kembali da­tang ke sini dalam waktu de­kat. Na­mun bukan selaku Men­teri BUMN, melainkan se­laku priba­di, orang biasa,” tu­turnya. Tak sampai 15 menit, se­kretaris pribadi (sepsri) Dah­lan, Mamik Slamet mengi­ngatkan Dahlan. Di Masjid Raya Kasang, Keca­ma­­tan Batanganai, Padang­pa­ria­man, ratusan jamaah su­dah lama menunggu.

 

“Mohon maaf yang ketiga. Agenda saya sangat padat se­kali. Saya harus segera ke Ma­s­jid Ra­ya Kasang,” ungkap Dah­lan di ak­­hir silaturahmi de­ngan pe­ngurus LKAAM Sum­bar. Ma­lam itu, pengurus LKAAM menyam­pai­kan mak­sud­nya untuk me­ngang­kat Dah­lan sebagai war­ga kehor­matan orang Minang.

 

Sekitar pukul 22.15, Dahlan tiba di Masjid Raya Kasang. Di sana, ia disambut hangat jamaah ibu-ibu dari majelis taklim. Se­patu kets bertuliskan DI (Dah­lan Iskan, red) pun ditaruh­nya di teras masjid bersama ratusan sandal jamaah lainnya.

 

Dalam waktu singkat, Dah­lan menceritakan bagai­mana perjuangan hidup­nya melawan ganasnya penyakit kanker hati hing­ga ditawari Presiden SBY men­jadi Menteri BUMN. Tak sampai 30 menit, Dahlan pun bersiap untuk pamit. Matanya pun tertuju pada lapek pisang di de­kat pintu masjid. “Kue ini saya ba­wa ya buk. Saya mau makan kue ini dalam mobil,” celetuk­nya.

 

Perjalanan pun dilanjutkan ke Ponpes Hamka, Kecamatan Batang Anai. Di luar, para santri telah menunggu Dahlan dengan mem­bawa obor. Melihat ba­nyak­­nya santri di luar, Dahlan pun turun. “Saya jalan kaki aja ke dalam. Bagi yang ingin naik mo­bil, silakan. Bagi yang ingin ikut sama saya jalan kaki, ayok,” ajak Dahlan kepada sejumlah pa­nitia penyambutan.

 

Melihat Dahlan jalan, Wako Fauzi Bahar pun juga turun dari mobil dinas Camry BA 1 A warna hitam. Para wartawan pun juga bergegas turun dari mobil, ikut jalan kaki bersama Dahlan. “Jadi teringat saat nyantri dulu. Itung-itung pemanasan sebelum jalan se­hat di Semen Padang, besok pagi (Minggu, red),” kata Dahlan ke­pada Wako Fauzi Bahar di sam­pingnya. Mendengar per­kataan tersebut, Fauzi terta­wa. “Lebih sehat Pak Menteri seper­ti­nya dibanding saya,” canda Fauzi kepada Dahlan.

 

Sepanjang perjalanan, Dah­lan merangkul anak santri. Setelah 10 menit berjalan kaki se­jauh 1 km, Dahlan disambut si­riah jo carano dan makan ba­jam­ba bersama santri. Usai ma­kan, mic pun diserahkan ke Dah­lan untuk memberi sam­bu­tan. “Saya tak mau berpidato. Si­lakan tanya apa saja, asal jangan politik,” ujar Dahlan membuka pembicaraan.

 

Mendengar hal tersebut, sa­lah seorang santri maju ke de­pan. Namanya M Ikhsan, dari santri Aliyah (setingkat SMA). “Ke­napa bapak memilih pesan­tren Hamka untuk dikunjungi,” ta­nya Ikhsan.

 

“Saya sangat mengagumi figur Hamka. Saya banyak mem­baca buku-bukunya. Selu­ruh buku-buku Hamka masih saya sim­pan sampai sekarang di ru­mah. Yang pasti, Ponpes Ham­ka ini harum namanya di luar. Makanya saya penasaran ingin datang ke sini. Dan ter­nyata, me­mang benar, pesantrennya me­mang bagus,” tambah Dah­lan.

 

Ada lebih kurang satu jam Dah­lan di Ponpes Hamka. Ia le­bih menyemangati anak santri un­tuk tetap rajin. “Anak santri yang rajin, nantinya bisa jadi men­teri,” ujar Dahlan menye­mangati.

 

Dahlan pun melanjutkan kun­jungan ke Ponpes Darul Ulum, Aiapacah, Kecamatan Ko­totangah, Padang. Di sinilah, Ke­tua Yayasan Ponpes Darul Ulum, Afrizal menyampaikan pe­san anak santri agar Dahlan ber­sedia menginap di Ponpes Da­rul Ulum. Mendengar per­min­taan ter­sebut, Dahlan me­ngangguk. Ses­pri Dahlan ber­gegas meng­hampiri Dahlan, berbisik. Seper­tinya, Mamik memberi saran agar Dahlan tetap menginap di Wisma Indarung (WI), sesuai jadwal protokoler.

 

Seperti diketahui, protokoler me­ngatur schedule istirahat Dah­lan di WI. Ini dikarenakan jad­wal Dahlan yang terlalu me­pet, karena pukul 10.00 sudah harus take off. Sementara Ming­gu (1/7) pukul 06.30, Dah­lan dijadwalkan melepas bendera start jalan sehat di PT SP. “Saya putuskan, saya bermalam di sini. Barusan saya dapat kabar dari protokoler Istana, bahwa saya nggak apa-apa jika tiba Minggu (1/7) siang di Jakarta. Sampai jumpa Subuh, saya mau tidur dulu,” ujar Dahlan.

 

Dahlan tak sendiri, ia dite­mani Wako Fauzi Bahar dan Dirut PT Semen Gresik, Dwi Su­cipto tidur di asrama ponpes. Se­bagian rombongan, memilih is­tirahat di WI. Saat Subuh Mu­barakah, Dahlan menge­nakan sa­rung memberikan tausiyah. Hing­ga ke atas mobil pun, ia te­tap menggunakan sarung me­nuju PT SP, pukul 06.00.

 

“Di atas mobil saja nanti, sa­ya tukar celana,” kata Dahlan. Ia pun sempat meminta kue ma­ngkuk kepada jamaah pon­pes. “Kue ini saya bawa ya buk. Saya ingin makan di atas mobil,” imbuh Dahlan.

 

Usai jalan sehat, Dahlan diserbu sejumlah warga, terma­suk wartawan dan pejabat pem­da untuk foto bareng. Dah­lan pun mempersilakan setiap orang yang ingin berfoto dengan­nya. Tak ada yang mela­rang, ka­rena ajudannya memang tak ada. Sespri, Mamik Slamet pun juga tak mempermasalakan.

 

Dahlan sangat menikmati acara. Beberapa kali ia menggen­dong anak kecil di dekat pang­gung utama. “Karena hari sudah panas, tak baik jika pidato pan­jang-panjang. Kalau hari panas-panas gini, lebih baik kita mi­num,” kata Dahlan menutup sam­butan, yang diikuti tawa hadirin.

 

Waktu Dahlan sudah sema­kin mepet. Di tempat yang sama, ia diundang PWI Sumbar ber­sila­turahmi dengan sejumlah an­g­­gota PWI kabupaten/kota, ter­­masuk tokoh pers Sumbar, di antaranya Sutan Zaili Asril dan Bas­ril Djabar. Dalam kesem­patan itu, Dahlan menyemangati war­tawan bahwa kerja war­tawan itu tak bisa diintervensi, sama halnya dengan seniman.

 

Sekitar pukul 09.30, Dahlan menuju Masjid Nurul Iman, silaturahmi bersama Majelis Tak­lim. Sejumlah jamaah me­num­pahkan curahan hatinya kepada Dahlan. “Tolong kami, pak. Kian hari, hidup kian susah. Ke mana kami hendak menga­du,” ujar salah seorang jamaah.

 

Saking histerisnya, ada se­or­ang jamaah melontarkan perta­nyaan sambil menangis. Hampir satu jam Dahlan di sana. Ia pun dilepas jamaah dengan lantunan Asmaul Husna. Duduk di jen­jang masjid sambil me­makai se­patu, Dahlan pun masih dike­rubuti sejumlah jamaah yang ingin berfoto.

 

Dari Masjid Nurul Iman, Dah­lan mengunjungi Hotel Grand Inna Muara. Dahlan se­nang, BUMN bisa mem­bangun hotel mewah sekel­as Inna Muara di Padang. Di sana, Dahlan ha­nya 10 menit untuk kemudian me­­nuju Gubernuran, meng­ha­diri seminar wirausaha ber­sama Gubernur Irwan Pra­yitno. Di Gubernuran. Satu jam lamanya menghadiri seminar, Dahlan pun pamit pukul 12.50, menuju Rumah Makan Lamun Ombak, Khatib Sulaiman untuk makan siang.

 

Setelah itu, Dahlan me­lan­jutkan perjalanan ke BIM, pu­lang ke Jakarta dengan Ga­ruda pukul 14.00. “Sampai kete­mu lagi. Salam untuk semua­nya,” pung­kas Dahlan. Begitu pa­dat­nya kunjungan Dahlan. Se­lama 16 jam di Padang dan Pa­dang­pariaman, ia menghadiri sem­bilan acara. Rata-rata 1 jam 50 menit setiap acara. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Ujian Nasional

Hari ini pengumuman ujian nasional (UN) SMA sederajat 2013 diumumkan kepada siswa. Rekapitulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemen­dikbud) ada 2.678.575 siswa dinyatakan lulus ujian. Sedangkan 8.851 siswa lainnya divonis gagal atau tidak lulus. Di tingkat provinsi, Sumatera Barat tak masuk sepuluh besar nasional, jauh kalah dari Bali yang menempatkan 5 siswanya di 12 besar tertinggi dengan nilai UN murni.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Jumat, 24 Mei 2013

Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil

Tungkek mambaok rabah mah ...........!

 

Anak Nagari Manggopoh Demo

Jaan amuah dikicuah lai..........................!

 

Masyarakat Sipil Cecar Kajati

Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!