- 14:22 WIB
- 14:21 WIB
- 14:21 WIB
- 14:17 WIB
- 14:19 WIB
- 14:18 WIB
- 14:17 WIB
- 14:16 WIB
- 14:16 WIB
- 13:30 WIB
Indonesia Tersandera Kelas Menengah
Dahlan: Butuh Strong Leadership Daerah-Pusat
Padang Ekspres • Senin, 02/07/2012 13:00 WIB • TIM PADEK • 1730 klik

Padang, Padek—Langkah Indonesia meloncat menjadi negara maju terbelenggu middle class income trap atau perangkap masyarakat kelas menengah. Jeratan itu melilit semua sendi kehidupan berbangsa, terutama birokrasi. Jika bangsa Indonesia tak bisa melompati jebakan-jebakan itu, maka negeri ini tidak akan menjadi negara maju.
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mengemukakan itu ketika memberikan kuliah kewirausahaan di auditorium Gubernuran Sumbar, kemarin (1/7). Kendati memiliki waktu terbatas, Dahlan mampu membuka cakrawala pemikiran peserta kuliah umum terdiri dari mahasiswa, pejabat daerah, anggota legislatif dan lainnya. Dahlan menyampaikan apa adanya, termasuk mengkritik birokrasi pemerintahan.
“Birokrasi yang ada saat ini, tidak mendukung negara modern. Kalau tak berubah, maka bangsa Indonesia tak bisa meloncat menuju negara maju,”tegas Dahlan dalam acara yang dimoderatori Ketua Kadin Sumbar Asnawi Bahar. Elite daerah perlu memahami persoalan tersebut, dan harus mampu memetakan masalah yang ada.
Fase middle class income trap ini, menurut Dahlan, jamak terjadi di setiap negara yang akan menjadi negara modern atau maju. “Fase tersebut juga seperti sunatullah yang harus dijalani, bukan untuk dihindari,” ujar mantan Dirut PT PLN Persero tersebut. Ia mengatakan, masyarakat kelas menengah jumlahnya cukup besar dalam struktur masyarakat Indonesia. Masyarakat ini menginginkan alat transportasi yang canggih.
Mereka juga menginginkan akses internet serbacepat serta handphone dengan fitur-fitur canggih. Dahlan menyebut masyarakat kelas menengah tersebut memiliki sisi positif dan negatif. “Masyarakat kelas menengah itu cenderung selalu ingin enak dan cepat. Misalnya, saat mereka memiliki kapasitas listrik 1.300 watt, namun memaksakan diri untuk menggunakan AC. Padahal, dengan kapasitas daya segitu, tidak boleh menggunakan AC,” sindirnya.
Demikian juga saat harga bahan bakar minyak (BBM) akan dinaikkan, banyak masyarakat protes atas rencana kenaikan harga minyak tersebut. Akibatnya, memicu lahirnya jebakan seperti kemacetan. Kini, persoalan kemacetan tak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga Padang.
“Banyak keluhan soal kemacetan dan menuntut pemerintah mencari solusinya. Bahkan, tak sedikit membanding-bandingnya dengan Singapura dalam penataan transportasi. Namun perlu diingat, Singapura menerapkan aturan ketat sebelum membeli mobil. Warga harus mendapatkan izin dari pemerintah terlebih dahulu. Di mana harga izinnya jauh lebih mahal dibanding harga mobilnya,” jelas pria kelahiran 17 Agustus tersebut.
Apakah masyarakat Indonesia mau seperti itu? Dahlan tidak yakin itu bakal terjadi. “Untuk rencana kenaikan BBM saja sudah banyak masyarakat protes, apalagi jika kebijakan itu juga diberlakukan di Indonesia,” ucapnya.
Lantas siapa menanam jebakan itu? Dahlan menyebutkan bahwa jebakan itu hadir dengan sendirinya. “Kita tak dapat menghindari jebakan tersebut, seperti remaja harus melewati masa pubertasnya. Namun, kunci untuk melompati jebakan itu diperlukan strong leadership (pemimpin yang tangguh). Saya sudah menerapkan itu pada seluruh manajemen BUMN,”tegasnya.
Saat ini, menurutnya, banyak orang takut dan berusaha menghindari jebakan di depan matanya. Sikap inilah membuatnya tidak pernah keluar dari jebakan itu untuk selamanya. Makanya, untuk keluar, tak ada pilihan selain melompat lebih tinggi dan menaklukan jebakan itu. “Jangan pernah takut atau menghindari dari jebakan itu. Hadapi dan taklukkan jebakan tersebut,” ujar Dahlan memberi motivasi.
Kuatnya sikap pesimistis di tengah masyarakat, menurut Dahlan, juga menjadi hambatan tersendiri keluar dari jebakan. Mereka masih meragukan kemampuan bangsa sendiri. Buktinya, ketika Dahlan mengatakan Garuda Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dan Singapura Airlines, banyak orang meragukan hasil penilaian tersebut. Padahal, itu kondisi riilnya. Demikian juga saat semen Indonesia menjadi semen nomor 1 di Asia Tenggara, banyak pihak menyangsikannya. Virus pesimistis itu kini menjalar sampai ke kampung-kampung.
“Akhir tahun ini, saya akan ganti nama semen Gresik menjadi Semen Indonesia. Saat ini, satu-satunya lawan kita adalah semen dari Thailand. Makanya, untuk bisa mengalahkannya, Indarung VI harus segera dibangun,” katanya.
Dahlan mengatakan, tak banyak masyarakat tahu bahwa akhir tahun ini perusahaan kelapa sawit Indonesia sudah mampu mengalahkan Malaysia. Bahkan, ekonomi Indonesia juga telah mampu mengalahkan ekonomi negara Belanda. Diprediksi 2 tahun ke depan, ekonomi Indonesia akan mampu mengalahkan Spanyol.
“Indonesia akan tumbuh dengan kekuatan ekonomi yang cukup besar. Saya sudah minta agar Pelindo dan Bulog segera berbenah. Saat ini, antrean kapal di pelabuhan berminggu-minggu. Jika sudah masuk kapal Bulog, kapal lain tak bisa masuk. Saya sudah minta agar Bulog menggunakan kontainer dan tidak melakukan bongkar barang di pelabuhan, karena akan memakan waktu lama. Demikian juga untuk komoditi pupuk, saya juga minta diangkut dalam bentuk kontainer dan bukan dalam kantong ukuran 50 kg lagi,” paparnya.
Kapasitas pelabuhan juga akan ditingkatkan. Kalau sekarang pelabuhan Belawan hanya mampu menjadi tempat mendarat 800 kontainer, pelabuhan Batam hanya mampu menampung 900 kontainer, pelabuhan Surabaya hanya mampu menampung 1.300 kontainer. Ke depan fasilitas pelabuhan diperlebar, sehingga kapal-kapal besar bisa mendarat. Diharapkan 3.000 kontainer bisa mendarat ke pelabuhan-pelabuhan tersebut.
“Pelabuhan Teluk Bayur juga memiliki antrean cukup panjang, baik saat masuk atau bongkar. Kondisi yang sama juga terjadi di pelabuhan Dumai. Seluruh pelabuhan dari koridor timur ke barat harus berbenah. Sehingga, bisa lebih kompetitif dan efisien. Jika tak kompetitif dan efisien, maka tak akan banyak orang yang melirik,” jelasnya. Selain Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, juga terlihat hadir anggota DPR Refrizal, COO Riau Pos Group Padang Sutan Zaili Asril, General Manager Padang Ekspres Marah Suryanto, dan lainnya.
Sebelum mengisi kuliah kewirausahaan, Dahlan bertemu ibu-ibu majelis taklim Indonesia di Masjid Nurul Iman. Mereka berharap kedatangan Meneg BUMN bisa meningkatkan silaturahmi antarperusahaan BUMN dengan majelis taklim Indonesia. “Indonesia butuh figur seperti bapak Dahlan. Zaman sekarang mana ada pemimpin yang mau tidur di pesantren dan rendah seperti beliau. Apalagi sekelas menteri,” kata anggota majelis taklim, Ratna Wilis. Ketua Majelis Taklim Indonesia Padang Ratna Ridwan mengatakan, optimisme jamaah meningkat bahwa negeri ini masih ada pemimpin yang sederhana dan sungguh berniat mengubah bangsa ini. (rdo/ayu/ad)
[ Red/Administrator ]
DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang mengiringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.
Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar
Siswa Luar Serbu Padang
Batambah macet Padang mah.....................................!
Angin Ribut Landa Solok
Hati-hati beko talendo..........................!
Hanya 67 Persen Nikmati Air Bersih
Lai ndak sakik diare salabiahnyo tu..........................................?