Rabu, 19 Juni 2013 - 10 Sya'ban 1434 H 20:53:06 WIB
NASIONAL

Indonesia Tersandera Kelas Menengah

Dahlan: Butuh Strong Leadership Daerah-Pusat

Padang Ekspres • Senin, 02/07/2012 13:00 WIB • TIM PADEK • 1730 klik

Meneg BUMN Dahlan Iskan berbincang-bincang dengan jamaah taklim Masjid Nurul Ima

Padang, Padek—Langkah Indonesia meloncat menjadi negara maju terbelenggu middle class income trap atau perangkap masyarakat kelas menengah. Jeratan itu melilit semua sendi kehidupan berbangsa, terutama birokrasi. Jika bangsa Indonesia tak bisa melompati jebakan-jebakan itu, maka negeri ini tidak akan menjadi negara maju.

 

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mengemukakan itu ketika memberikan kuliah kewirausahaan di auditorium Gubernuran Sumbar, kemarin (1/7). Kendati memiliki waktu terbatas, Dahlan mampu membuka cak­rawala pe­­mikiran pe­serta ku­li­ah umum terdiri dari ma­hasiswa, pejabat daerah, anggota legislatif dan lainnya. Dahlan menyampaikan apa adanya, ter­masuk mengkritik birokrasi pemerintahan. 

 

“Birokrasi yang ada saat ini, tidak mendukung negara modern. Kalau tak berubah, maka bangsa Indonesia tak bisa meloncat menuju negara maju,”tegas Dahlan dalam acara yang dimoderatori Ketua Kadin Sumbar Asnawi Bahar. Elite daerah perlu memahami persoalan ter­sebut, dan harus mampu memetakan masalah yang ada.

 

Fase middle class income trap ini, menurut Dahlan, jamak terjadi di setiap negara yang akan menjadi negara modern atau maju. “Fase tersebut juga seperti sunatullah yang harus dijalani, bukan untuk dihindari,” ujar mantan Dirut PT PLN Persero tersebut. Ia mengatakan, masyarakat kelas menengah jumlahnya cukup besar dalam struktur masyarakat Indonesia. Masyarakat ini menginginkan alat transportasi yang canggih.

 

Mereka juga menginginkan akses internet serbacepat serta handphone dengan fitur-fitur canggih.  Dahlan menyebut mas­ya­rakat kelas menengah tersebut memiliki sisi positif dan negatif. “Masyarakat kelas menengah itu cenderung selalu ingin enak dan cepat. Misalnya, saat mereka memiliki kapasitas listrik 1.300 watt, namun memaksakan diri untuk menggunakan AC. Pa­da­hal, dengan kapasitas daya se­gitu, tidak boleh meng­gunakan AC,” sindirnya.

 

Demikian juga saat harga bahan bakar minyak (BBM) akan dinaikkan, banyak masya­rakat protes atas rencana ke­nai­kan harga minyak tersebut. Akibatnya, memicu lahirnya jebakan seperti kemacetan. Kini, persoalan kemacetan tak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga Padang.

 

“Banyak keluhan soal ke­ma­cetan dan menuntut pemerintah mencari solusinya. Bahkan, tak sedikit membanding-bandi­ng­nya dengan Singapura dalam penataan transportasi. Namun perlu diingat, Singapura me­nerapkan aturan ketat sebelum membeli mobil. Warga harus mendapatkan izin dari pe­me­rintah terlebih dahulu. Di mana harga izinnya jauh lebih mahal dibanding harga mobilnya,” jelas pria kelahiran 17 Agustus ter­sebut. 

 

Apakah masyarakat Indonesia mau seperti itu? Dahlan tidak yakin itu bakal terjadi. “Untuk rencana kenaikan BBM saja sudah banyak  masyarakat pro­tes, apalagi jika kebijakan itu juga diberlakukan di Indonesia,” ucapnya.

 

Lantas siapa menanam je­ba­kan itu? Dahlan men­yebutkan bahwa jebakan itu hadir dengan sen­dirinya. “Kita tak dapat me­nghindari jebakan tersebut, seperti remaja harus melewati masa pubertasnya. Namun, kunci untuk melompati jebakan itu diperlukan strong leadership (pemimpin yang tangguh). Saya sudah menerapkan itu pada se­luruh manajemen BU­MN­,”te­gasnya.

 

Saat ini, menurutnya, ban­yak orang takut dan berusaha menghindari jebakan di depan matanya. Sikap inilah mem­buatnya tidak pernah keluar dari jebakan itu untuk selamanya. Makanya, untuk keluar, tak ada pilihan selain melompat lebih tinggi dan menaklukan jebakan itu. “Jangan pernah takut atau menghindari dari jebakan itu. Hadapi dan taklukkan jebakan tersebut,”  ujar Dahlan memberi motivasi.

 

Kuatnya sikap pesimistis di tengah masyarakat, menurut Dahlan, juga menjadi hambatan tersendiri keluar dari jebakan. Mereka masih meragukan ke­mampuan bangsa sendiri. Buk­tinya, ketika Dahlan me­ngatakan Garuda Indonesia berhasil me­nga­lahkan Malaysia dan Singa­pura Airlines, banyak orang meragukan hasil penilaian ter­sebut. Padahal, itu kondisi riil­nya. Demikian juga saat semen Indonesia menjadi semen no­mor 1 di Asia Tenggara, ban­yak pihak menyangsikannya. Virus pesimistis itu kini menjalar sampai ke kampung-kampung.

 

“Akhir tahun ini, saya akan ganti nama semen Gresik men­jadi Semen Indonesia. Saat ini, satu-satunya lawan kita adalah semen dari Thailand. Makanya, untuk bisa mengalahkannya, Indarung VI  harus segera di­bangun,” katanya.

 

Dahlan mengatakan, tak banyak masyarakat tahu bahwa akhir tahun ini  perusahaan kelapa sawit Indonesia sudah mampu mengalahkan Malaysia. Bahkan, ekonomi Indonesia  juga telah mampu mengalahkan ekonomi negara Belanda. Dipre­diksi 2 tahun ke depan, ekonomi Indonesia akan mampu me­nga­lahkan Spanyol.

 

“Indonesia akan tumbuh dengan kekuatan ekonomi yang cukup besar. Saya sudah minta agar Pelindo dan Bulog segera berbenah. Saat ini, antrean kapal di pelabuhan berminggu-mi­nggu. Jika sudah masuk kapal Bulog, kapal lain tak bisa masuk. Saya sudah minta agar Bulog menggunakan kontainer dan tidak melakukan bongkar ba­rang di pelabuhan, karena akan memakan waktu lama. De­mi­kian juga untuk komoditi pupuk, saya juga minta diangkut dalam bentuk kontainer dan bukan dalam kantong ukuran 50 kg lagi,” paparnya.

 

Kapasitas pelabuhan juga akan ditingkatkan. Kalau seka­rang pelabuhan Belawan hanya mampu menjadi tempat men­darat 800 kontainer, pela­buhan Batam hanya mampu me­nam­pung 900 kontainer, pela­buhan Surabaya hanya mampu me­nampung 1.300 kon­tainer. Ke depan fasilitas pelabuhan di­perlebar, sehingga kapal-kapal besar bisa mendarat. Diha­rap­kan 3.000 kontainer  bisa men­darat ke pelabuhan-pela­buhan tersebut.

 

“Pelabuhan Teluk Bayur juga memiliki antrean cukup pan­jang, baik saat masuk atau bo­ng­kar. Kondisi yang sama juga terjadi di pelabuhan Dumai. Se­luruh pelabuhan  dari koridor ti­mur ke barat harus berbenah. Se­hingga, bisa lebih kompetitif dan efisien. Jika tak kompetitif dan efisien, maka tak akan ban­yak orang yang melirik,” jelas­nya. Selain Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, juga terlihat hadir anggota DPR Refrizal, COO Riau Pos Group Padang Sutan Zaili Asril, General Manager Padang Ekspres Marah Suryanto, dan lainnya.

 

Sebelum mengisi kuliah kewirausahaan, Dahlan berte­mu ibu-ibu majelis taklim In­do­nesia di Masjid Nurul Iman. Mereka berharap keda­ta­ngan Meneg BUMN bisa me­nin­g­katkan silaturahmi antar­pe­rusahaan BUMN dengan majelis taklim Indonesia. “Indonesia butuh figur seperti bapak Dah­lan. Zaman seka­rang mana ada pemimpin yang mau tidur di pesantren dan rendah seperti beliau. Apalagi sekelas menteri,” kata anggota majelis taklim, Ratna Wilis. Ketua Majelis Tak­lim Indonesia Padang Ratna Rid­wan mengatakan, opti­misme jamaah meningkat bahwa negeri ini masih ada pemimpin yang se­der­­hana dan sungguh berniat mengubah bangsa ini. (rdo/ayu/ad)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Masokisme Politik BBM

DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang me­ngi­ringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.

Perawat tak Familiar

-

Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar

Rabu, 19 Juni 2013

Siswa Luar Serbu Padang

Batambah macet Padang mah.....................................!


Angin Ribut Landa Solok

Hati-hati beko talendo..........................!


Hanya 67 Persen Nikmati Air Bersih

Lai ndak sakik diare salabiahnyo tu..........................................?