Kamis, 20 Juni 2013 - 11 Sya'ban 1434 H 00:50:51 WIB
NASIONAL

Ingin Bedakan Kemiskinan, Beri Inspirasi kepada Santri

Menginap Bersama Dahlan Iskan di Ponpes Darul ‘Ulum, Padang

Padang Ekspres • Senin, 02/07/2012 12:57 WIB • GANDA CIPTA • 2311 klik

Meneg BUMN Dahlan Iskan meninjau salah satu kamar santri, di Pondok Pesantren Da

Sepuluh menit lewat dari pukul 00.00 WIB ketika Dahlan Iskan dan rombongan tiba di Pesan­tren Darul ’Ulum Aiapacah Padang, Minggu (1/7). Keda­tangannya disambut kesenian rebana oleh masyarakat sekitar pesantren, serta barisan para santri di kiri dan kanan gerbang pesantren tersebut.

 

SALAM hangat pun dila­ya­ngkan Menteri BUMN itu kepada para santri, pengurus pesantren dan masyarakat yang rela me­nung­gu kedatangan Dahlan Iskan hingga larut malam. Dahlan dan rombongan digiring ke aula ter­buka di tengah-tengah lokasi pesantren.

 

Setelah bertatap muka se­bentar dengan santri dan mas­yarakat sekitar, Dahlan pun pamit untuk menginap di Wisma Inda­ru­ng, PT Semen Padang. Namun sebelum mendapat izin tuan ru­mah, Dahlan ditawari menginap di sana. Tanpa basa-basi, mantan wartawan itu langsung mene­rimanya dan membatalkan ren­cana menginap di Wisma In­darung. Sejak diangkat menjadi Menteri BUMN enam bulan lalu, Dahlan Iskan intens memonitor BUMN di daerah-daerah. Di sela kunjungannya, mantan Dirut PT PLN (Persero) yang hidup mis­kin di masa kecil itu, tak jarang menginap di rumah warga. Sekalipun hanya beralaskan tikar di lantai tanah.

 

Bila selama ini para santri Darul ’Ulum dan masyarakat hanya menyaksikan gaya pak menteri yang spontan dan ren­dah hati di di televisi dan koran, dini hari kemarin disaksikan sendiri oleh mereka.

 

Di Darul ’Ulum, Dahlan tidur di sebuah bangunan yang luas­nya kurang lebih 10x15 meter. Gedung itu baru saja selesai dibangun dan direncanakan untuk asrama para santri. Di sana Dahlan tidur dengan Wali Kota Padang Fauzi Bahar, Dirut PT Semen Gresik Dwi Soetjipto serta sejumlah pejabat BUMN, pengurus pondok pesantren, dan empat orang wartawan.

 

Di gedung tersebut tersedia 10 spring bed lengkap dengan bantal, selimut, dan satu kipas angin. Hanya saja, malam itu Dahlan lebih memilih untuk tidur di atas karpet, bersama beberapa pengurus pesantren dan wartawan.

 

Sebelum tidur, Dahlan ke kamar mandi yang terletak agak sedikit jauh dari asrama. Untuk ke kamar mandi, Dahlan me­lewati beberapa kamar para santri. Usai dari kamar mandi, dengan hanya memakai kain sarung kotak-kotak biru putih, kaus oblong putih dan men­yandang handuk biru, Dah­lan menyempatkan diri me­ngun­jungi salah satu kamar santri.

 

Kamar tersebut terbuat dari kayu. Luasnya sekitar 3x3 meter. Saat itu, dalam kamar ada empat santri yang tertidur pulas. Di dalam kamar, ada dua tempat tidur bertingkat dan empat lemari. Kepada para santri yang masih bangun, Dahlan berpesan agar jangan patah semangat dengan kondisi seperti ini. “Saya juga pernah merasakan seperti apa yang kalian rasakan, malah lebih buruk kondisinya dari ini,” ujarnya.

 

Setelah itu, dia pun masuk kembali ke asrama tempat dia tidur. Di luar, beberapa mas­yarakat sekitar dan para santri mengintip pak menteri yang akan tidur. Mereka berbisik-bisik satu dengan yang lain. “Memang seperti itu pak men­teri kiranya. Yang di TV dan di koran-koran itu ternyata tidak dibuat-buatnya.”

 

Ya, berkunjung ke kam­pung-kampung, berbaur dan tidur bersama warga kecil dengan hanya beralaskan tikar di atas lantai, bukan suatu yang baru bagi Dahlan. Sebab, jauh se­belum menjadi pejabat negara, orangtua dari Azrul Ananda itu lahir dari keluarga miskin, tidak bersepatu ke sekolah dan pernah menempuh pendidikan di pe­santren.

 

Salah satu alasannya sering berjalan ke kampung-kampung dan tidur bersama warga se­tem­pat, khususnya di rumah warga miskin, untuk merasakan per­bedaan kemiskinan saat dia mis­kin dulu dengan kemiskinan pada hari ini di Indonesia. Dulu, tutur Dahlan, meski miskin rasanya tak pernah menderita karena semuanya miskin. Kini, hidup miskin rasanya menderita karena di sekitar kemiskinan terlihat orang-orang yang hidup dengan kemewahan.

 

“Hidup miskin hari ini terasa menderita. Persoalannya karena ada perasaan ketidakadilan. Di satu pihak banyak orang hidup miskin semiskin-miskinnya, dan di pihak lain segelintir orang hidup kaya raya,” ujarnya.

 

Sebab itu, kata menteri yang mengelola Rp 3.000 triliun kekayaan negara di BUMN, kemiskinan harus diatasi. Dari sepuluh program prioritas pe­merintah, satu hingga delapan adalah untuk mengatasi ke­mis­kinan. Selebihnya, perbaikan birokrasi dan peningkatan in­frastruktur. Dua hal terakhir itu, tujuan akhirnya tetap saja untuk mengatasi kemiskinan di negara ini.

 

Nah, sebagai anak bangsa yang dipercaya menjadi Menteri BUMN, Dahlan pun berikhtiar mengabdi untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia lewat jabatan yang dipercayakan kepadanya. Cita-citanya saat menjadi direktur utama PLN untuk mengalahkan listrik Malaysia, tetap menjadi ’dendam’ yang ingin dilampiaskannya sampai kini. Untuk itu, dia tetap menggenjot PLN segera men­ye­lesaikan pembangunan se­jum­lah pembangkit listrik di Su­matera, termasuk PLTU Teluk Si­rih di Padang.

 

Sebagaimana disam­pai­kan­nya pada Subuh Mubarakah di Ponpes Darul ’Ulum, Dahlan Iskan yakin, jika listrik di negara ini baik dan mengalir ke berbagai pelosok negeri, masyarakat dengan sendirinya akan berusaha lebih kreatif ke luar dari ke­mis­kinan.

 

Peningkatan produksi beras juga menjadi salah satu jalan yang ditempuh Dahlan Iskan lewat BUMN untuk mengatasi kemiskinan. Dia sangat me­nginginkan ke depan, produksi beras meningkat dari tahun ke tahun, meski dalam enam bulan terakhir sudah terjadi pe­ning­katan. Bulog sudah memiliki 3 juta ton stok beras di gudangnya.

 

Begitu juga BUMN lainnya, seperti semen dan perbankan. Dahlan ingin mengusahakan semen di Indonesia menjadi no­mor satu di dunia, yang kini menjadi terbaik di Asia Tenggara dan bersaing ketat dengan pro­duksi Thailand. Terhadap per­bankan, katanya, bank-bank BUMN sudah bisa bersaing dan bahkan mampu mengalahkan bank-bank Eropa. “Saya ber­harap masyarakat ikut serta menyokong semua ini. Dan mu­lai meningkatkan kepedulian dengan produk-produk Indonesia,” sebut menteri yang me­miliki akun twitter; @is­kan_dahlan, ini.

 

Dahlan Iskan pun mengajak pa­ra santri ikut serta mengatasi ke­miskinan. Caranya, selalu be­kerja keras dan tidak mudah pu­tus asa. Seperti dia, anak-anak ya­ng berasal dari pesantren bisa ju­ga memberi sumbangsih besar ke­pada negeri ini. “Saya juga dari pe­santren. Apa yang sudah saya la­kukan saat ini membuktikan anak-anak pesantren pun bisa diberi ta­ng­gung jawab besar mengelola negara. Intinya, selalu bekerja keras dan tidak menye­rah setiap berhadapan dengan  rintangan,” pesan Dah­lan.

 

Dia pun berharap serta be­ru­saha untuk selalu amanah. “Mudah-mudahan saya tetap amanah. Sebab, kalau tidak yang akan malu itu tidak saya sendiri, tapi juga seluruh pesantren di Indonesia,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan para jamaah, pengurus dan santri Darul ’Ulum.

 

Di sisi lain, kedatangan Dah­lan Iskan ke Darul ’Ulum men­jadi kebanggaan tersendiri bagi para santri Darul ’Ulum. Apalagi, bagi sebagian besar santri dan masyarakat sekitar, sebelumnya hanya mengenal Dahlan Iskan lewat TV dan koran.

 

Seorang santri, Khairul Fa­tah berujar, “Jangankan pejabat negara setingkat menteri, pe­jabat daerah saja jarang me­ngun­jungi kami.” Yang lebih membanggakan mereka lagi, Pak Menteri juga tidur di pe­san­tren mereka. “Ini pertama kali­nya seorang pejabat tidur di sini,” kata Khairul Fatah.

 

Mukhsin, alumni Ponpes Darul ’Ulum menyebutkan, pemimpin seperti Dahlan sangat jarang di negeri ini. Keda­tangan­nya ke ponpes telah memberi inspirasi kepada dirinya dan santri. “Anak pesantren juga bisa menjadi orang hebat di luar ilmu yang ditimbanya dalam bangku sekolah. Saya juga ingin seperti beliau, menjadi menteri dan bah­kan menjadi presiden,” ucap Muk­hsin yang kini mem­per­dalam ilmu di IAIN Imam Bonjol Padang.

 

Santri lainnya berharap Dah­lan selalu bisa menjadi pimpinan amanah. Ikhwanul Ihsan, santri lainnya, mengaku terkejut saat Dahlan menyebutkan dia men­teri yang mengelola keka­yaan negara sebesar Rp 3.000 triliun. “Wow, berarti menteri yang datang ini tidak saja menteri rendah hati, tapi juga menteri yang ’terkaya’ mengelola uang negara. Mudah-mudahan pak Dahlan bisa memegang ama­nah,” harap santri kelas tiga wustha (setingkat SMP) ter­sebut. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Masokisme Politik BBM

DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang me­ngi­ringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.

Perawat tak Familiar

-

Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar

Rabu, 19 Juni 2013

Siswa Luar Serbu Padang

Batambah macet Padang mah.....................................!


Angin Ribut Landa Solok

Hati-hati beko talendo..........................!


Hanya 67 Persen Nikmati Air Bersih

Lai ndak sakik diare salabiahnyo tu..........................................?