Sabtu, 19 April 2014 - 18 Jumadil Akhir 1435 H 08:49:31 WIB
NASIONAL

Peran Mamak Menguat, Marga tak Lagi Penting

Perubahan Kultur Masyarakat Mandailing di Nagari Cubadak, Pasaman (1)

Padang Ekspres • Sabtu, 23/06/2012 16:34 WIB • GEBRIL DAULAI -- Pasaman • 2233 klik

Raja Sontang X Jamaan 1908-1939 bersama keluarga.

Cubadak di Dua Koto

Tigo Baleh Jorongnyo

Yo Baragam di Nagariko

Minang jo Mandailing Dipakainyo

 

DEMIKIAN pesan yang terpam­pang di Kantor Wali Nagari Cubadak saat Pa­dang Ekspres menyambangi kantor ter­sebut Kamis (14/6) lalu. Nagari Cu­badak, Kecamatan Duokoto, Kabu­paten Pasaman punya keunikan dalam hal adat dan budaya. Di sana bermukim orang Man­dailing dari marga Lubis dan Nasu­tion, tetapi dalam keseharian masyara­ka­t­nya memakai adat istiadat Minang.

 

Nagari Cubadak merupakan satu dari 32 nagari yang ada di Kabupaten Pasa­man. Luasnya 199,55 km2, berba­tasan de­ngan Nagari Simpangtonang sebelah uta­ra, sebelah selatan dengan Kecamatan Ta­­lamau, Pasaman Barat, sebelah timur de­­n­gan Kecamatan Panti dan Lubuk­sika­ping, sebelah barat dengan Keca­matan Gu­nungtuleh, Pasaman Barat.

 

Memasuki Nagari Cubadak, suasana asri, damai dan tentram sangat terasa. Maklum, secara topografi, nagari itu me­rupakan daerah perbukitan dengan ke­tinggian 600 meter dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 25 sampai  270C. Kiri kanan jalan dihiasi beragam pepo­ho­nan. Sebagian ditanami kebun karet dan coklat. Di nagari itu juga masih ada ra­tusan hektare tanah ulayat berupa hutan yang tidak boleh dikon­versi menjadi kebun untuk men­jaga keseimbangan alam. 

 

Pagi sampai jelang sore, kam­pung tampak sepi. Semua orang sibuk bekerja di sawah dan di ladang. Maklum, dari 14.357 jiwa penduduk, terdiri dari 6.756 jiwa laki-laki, dan 7.601 jiwa perempuan dengan jum­l­ah kepala keluarga 3.361 KK itu, bekerja sebagai petani sa­wah, ladang dan dagang.

 

Namun di beberapa tempat terdengar bunyi dentuman keras yang tak kunjung berhenti, me­mecah kesunyian. Dari kejauhan ter­lihat percikan api. Sebagian mas­yarakat juga ada yang beker­ja sebagai pandai besi. Di sepan­jang jalan, usaha itu bisa dite­mui. Saban hari mereka mengo­lah besi menjadi berbagai jenis pe­r­alatan, terutama alat-alat per­tanian seperti alat penyadap ka­rat, pisau, golok dan pedang.   

 

Untuk menjangkau Nagari Cu­badak, kita bisa masuk dari Lu­buksikaping melewati Keca­ma­tan Panti, memutar ke sebe­lah kiri dan menembus rimbo pan­ti. Jaraknya sekitar 50 km, da­pat dilalui dengan ken­daran ro­da empat dan roda dua. Dari dae­­rah itu juga bisa tembus ke Pa­saman Barat melewati Keca­matan Talamau. 

 

Kesejukan udara di nagari ini se­akan membuat masya­rakat­nya hidup tenang berkorong ber­kampung. Nagari ini terkenal de­­ngan keramahtamahan pen­du­duknya, suka bergotong ro­yong dan kekerabatan antara satu dengan yang lain terjalin baik.

 

Adat istiadat yang diwa­ris­kan para pendahulu nagari ini ma­sih terus terlestarikan. Sebut saja bahasa, tetap menggunakan ba­hasa Mandailing, tetapi adat is­tiadat yang dipakai mas­yara­kat, adat Minang. Kese­nian mas­yarakat di sana juga beru­bah. Tak ada lagi tor-tor dan gor­dang sem­bilan, onang-onang, andung dan lain seb­a­gainya yang men­jadi ciri khas masyarakat Man­dailing.

 

Lahir seni tradisi baru, yakni ronggeng. Seni tradisi itu masih ditampilkan dan lestari hingga kini. Kesenian ronggeng selalu menghiasai acara-acara adat, termasuk turun mandi anak. Adat Mandailing hanya lestari di dua daerah, yakni Sinuangon dan Sigalobur.

 

Sistem Kekerabatan

 

Dengan mengadopsi sistem matrilineal, sistem kekerabatan orang Mandailing yang patrili­neal otomatis hilang. Karena itu, marga yang biasanya diturunkan dari bapak menjadi tak penting lagi. Kalaupun dipakai di bela­kang nama, kesannya hanya sebagai “hiasan”, bukan identitas yang penting.

 

Kini, sistem kekerabatan mereka menurut garis keturu­nan ibu. Karena itu, struktur mas­yarakat juga berubah de­ngan meningkatnya peran m­a­mak dan  melemahnya peran ba­pak dalam struktur mas­yarakat. Struk­tur dan istilah yang digu­na­kan untuk setiap tingkatan da­l­am struktur masyarakat juga ber­­beda di setiap kampung. Pe­nye­butannya menggunakan cam­­puran bahasa Mandailing dan Minang.

 

Di Kampung Kambiri, Na­gari Cubadak misalnya, dike­nal is­tilah mamak kepala waris dan ma­mak kaum. Mamak kaum ini ter­diri dari empat orang yang di­se­but mamak na opat atau ma­mak yang empat karena di kam­pung tersebut asal usulnya ber­asal dari empat induk atau em­pat keluarga. Mamak na opat ini memilik nama yang berbeda. Ada Sutan Burain, Sutan Kebai­kan, Janaga dan Jama­ngatak. Fung­sinya mangurung dan ma­ngan­dangan anak kamanakan.

 

Di atasnya ada paduko alom atau yang disebut natobang, bertugas menyampaikan hasil musyawarah terkait berbagai persoalan di kampung kepada pucuk bulek. Nah, pucuk bulek inilah nanti yang akan meng­go­dok dan melakukan finalisasi, te­t­api hasilnya akan tetap disam­paikan ke forum mus­yawarah se­belum diputuskan melalui mus­yawarah mufakat.

 

Kemudian, ada yang disebut Da­­tuk Kando Marajo yang ber­pe­ran sebagai ujung lidah sam­bung kato atau juru bicara. Po­sisi ini diisi secara bergiliran oleh mamak na opat. Ada nama­n­ya Laut Api yang berpe­ran se­ba­gai tempat konsul­tasi. Posisi ini diisi secara turun temurun. Laut Api juga disebut Natoras Diuta (kampung, red) yang me­ru­pakan orang pertama mana­ru­ko kampung.

 

Ada lagi yang disebut Datuk M­udo. Ini merupakan kum­pu­lan orangtua para natoras atau natobang. Mereka dikasih ge­lar oleh anaknya yang mem­buka kampung. Ada lagi pemangku ibadat atau yang disebut sibijo pu­tih. Mereka terdiri dari kotik, imam, bilal dan tuo malin. Jadi se­cara keseluruhan di Kampung Kam­biri saja ada 12 ninik ma­mak. Ninik mamak ini bisa ber­tambah banyak sesuai de­ngan perkembangan masyarakat.

 

Di Kampung Paroman, te­tang­ga Kampung Kambiri yang masih dalam naungan Nagari Cu­badak berbeda pula istilah­nya. Mamak kepala waris tetap sama, tetapi di atasnya disebut ma­mak tuo na opat karena kam­pung itu awalnya dihuni empat in­duk atau kepala keluarga. Ma­mak tuo na opat ini terdiri dari mak tuo kewarisan raja ampung, mak tuo kewarisan natoras, mak tuo kewarisan jamanangi dan mak tuo kewarisan pangulu.

 

Di atasnya ada lagi natoras yang terdiri dari natoras paro­man dan rajo kampung. Natoras paro­man sifatnya turun temu­run dan rajo kampung dipilih. Na­toras pa­roman berperan se­ba­gai dewan per­t­imbangan agung karena men­jadi tempat kon­sultasi penye­le­saian ber­bagai persoalan yang ter­jadi di kampung. Pucek bulek tetap ada dan perannya sebagai pai tam­pek batanyo, pulang tampek ba­barito.

 

Pucuk bulek membahas dan me­nyampaikan menggodok ber­bagai persoalan dan hasilnya di­­sampaikan ke forum musya­wa­rah adat sebelum diputuskan. Se­be­lum itu dia akan ber­konsul­tasi dulu dengan natoras paro­man. Ada lagi yang disebut de­ngan tuo sumando yang me­ru­pa­kan kumpulan dari indek apak natoras atau orangtua na­toras. Sementara untuk pe­mang­ku ibadat tetap sama de­ngan kampung yang lain, ada imam, kotik, bilal dan tuo malin. 

 

Mandailing tak mengenal ke­datukan, tetapi mengenal ke­ra­jaan yang masyarakatnya di­ben­tuk berdasarkan marga-mar­­ga. Dalam masyarakat Man­dai­ling yang kekera­batannya pa­trilineal, hubungan keker­a­ba­tannya bisa ditinjau dari per­ta­lian darah dan perkawinan yang ter­pola. Dalam hal ini, orang Man­­dailing mengelompokkan diri menjadi tiga kelompok ke­ke­rabatan yang menjadi tum­puan dasar bagi berbagai akti­vitas sosial-budaya mereka.

 

Menurut adat-istiadat, keti­ga kelompok kekerabatan terse­b­ut masing-masing berke­dudu­kan sebagai mora, yaitu pem­beri anak gadis, anak boru, adalah penerima anak gadis, dan ka­hang­gi adalah kelompok kera­bat satu marga yang keti­ga­nya terikat satu sama lain ber­dasar­kan hubungan fung­sional dalam satu sistem sosial yang dinama­kan Dalian Na Tolu (tumpuan yang tiga).

 

Pada masyarakat Man­dai­ling juga ditemukan stra­tifikasi (pelapisan) social. Yaitu, (1) na mora-mora,  adalah golongan bangsawan; (2) alak na jaji atau si tuan na jaji, adalah orang kebanyakan atau rakyat biasa; dan (3) hatoban atau partangga bulu, adalah hamba sahaya.

 

Na mora-mora merupakan ke­lompok tersendiri dalam ke­lom­pok marganya, yang seca­ra pa­trilineal berasal dari pendiri per­tama kampung mereka. Ini me­nunjukkan bahwa pada mu­la­nya status kebangsawanan da­hulu tidaklah dibawa lahir, me­lainkan karena penghargaan yang tinggi dari anggota masya­ra­kat terhadap pendiri pertama kam­pung mereka tersebut. Sete­lah itu, barulah takhta kera­jaan di­wariskan secara berantai kepa­da keturunannya.

 

Sepertinya sebagian wadah atau kelembagaan yang gunakan di Nagari Cubadak, Duo Koto masih khas Mandailing seperti adanya Natoras dan Natobang te­tapi wadah itu diisi dengan prin­sip-prinsip Minangkabau se­perti adanya mamak kepala wa­ris dan mamak na opat yang me­w­akili keluarga dalam struk­tur masyarakat berda­sarkan garis keturunan ibu. Hal ini ber­dampak pada hilangnya sis­tem Dalihan Na Tolu yang men­jadi ciri orang Mandailing.  

 

Wali Nagari Cubadak M Dahril Lubis kepada Padang Eks­pres mengatakan, peng­gunaan sistem matrilineal dalam masyarakat Cubadak bukan ka­rena keterpaksaan, tetapi ke­ingi­nan sendiri. Itu menun­juk­kan mas­yarakat Cubadak sa­ngat me­megang prinsip “di mana bu­mi di­pijak, di situ langit di­junjung”.

 

Karena marga tak lagi turut mem­bentuk struktur masya­ra­kat, terkesan orang Cubadak me­nganggap marga sesuatu yang kurang penting. Mereka jarang me­nuliskan marga di ujung nama anak­nya yang menjadi kebiasaan dan kebangggaan orang Man­dailing. Marga yang me­reka mi­liki juga sumbernya be­ragam. Ada yang mengambil dari jalur ibu, tetapi masih ada juga yang dari bapak. Ada juga yang bi­ngung saat ditanya ten­tang mar­ganya. 

 

“Kalau kita, marga masih dari bapak,” ujar M Dahril Lubis. “Kalau saya dari ibu, tapi nama-nama di keluarga tidak ada yang di ujungnya memakai marga. Anak-anak saya juga begitu,” kata Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Cubadak  Ahmad Azizan. “Saya malah bingung marga saya dari ibu apa dari bapak karena tak pernah dibahas di keluarga,” sambung Kepala Jorong Hulu Pasaman Edefri.

 

Sistem matrilineal yang di­du­ga mulai diterapkan saat Raja Sontang III yang rajanya ber­nama Ninggil berkuasa perio­de 1681-1734 M, kini benar-benar me­lekat di tengah-tengah mas­ya­rakat. Mereka tak pernah lagi berpikir untuk kembali ke adat Mandailing. Orangtua yang akan me­nikahkan anaknya juga selalu memberi garisan harus suman­do (suami tinggal di tempat istri), ti­dak boleh manjujur (istri ting­gal di tempat suami) yang lazim di­gunakan dalam adat Man­dailing. Mereka kini benar-benar menjadi “orang Minang”.

 

”Bagi kami sistem sumando le­bih baik. Laki-laki dan perem­puan sama-sama bekerja. Mo­hon maaf ya, dalam sistem man­jujur, terkadang laki-laki jadi pe­malas, justru perempuan yang be­kerja.  Padahal dalam adat Man­dailing, tanggung jawab laki-laki sangat besar. Makanya di sini, tidak ada orangtua yang mau anak perempuannya kawin de­ngan sistem manjujur,” ujar Yunaidi yang juga Rajo Kam­pung di Kampung Paroman.

 

Sistem manjujur di Nagari Cu­badak secara umum hanya ber­laku bagi laki-laki yang meni­kah dengan orang luar dari nagari ter­sebut. Tapi aturan ini juga ti­dak berlaku mutlak. Yang ingin man­jujur juga dibolehkan dan tetap bisa diadati. “Yang berlaku umum sistem sumando, tapi kalau manjujur juga boleh dan te­tap bisa diadati tapi tidak ba­nyak yang melakukannya,” ujar­nya Yunaidi. “Tapi entah ke­napa kami merasa lebih dekat de­ngan keluarga ibu,” sambung Azizan.

 

Beda dengan adat Man­dailing dan Minang yang tidak bisa melakukan proses adat jika perkawinan dilakukan dengan orang di luar etnisnya. Proses adat baru bisa dilaksanakan jika orang non-Mandailing atau non-Minang itu melakukan integrasi melalui pemberian marga atau da­lam istilah Minang disebut de­ngan malakok melalui pem­be­rian suku. “Itulah uniknya di tem­­pat kita, sangat fleksi­bel. Ter­gantung kita mau pakai yang ma­na?” sambung Ahmad Azizan. (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!