- 12:39 WIB
- 11:28 WIB
- 12:42 WIB
- 13:11 WIB
- 13:10 WIB
- 13:07 WIB
- 13:07 WIB
- 13:05 WIB
- 13:03 WIB
- 12:54 WIB
Jual Seragam di Koperasi Ditentang
Pedagang dan Pengusaha Konveksi Datangi DPRD
Padang Ekspres • Rabu, 13/06/2012 13:50 WIB • * • 287 klik

Sawahan, Padek—Pedagang pakaian seragam sekolah dan pengusaha konveksi kecewa tidak satu pun anggota DPRD Padang menemui mereka, kemarin. Setelah setengah jam menunggu, baru tiga anggota DPRD menerima aspirasi pedagang terkait penolakan baju seragam dijual di koperasi sekolah.
Setelah ditemui anggota DPRD tersebut, mereka mengadukan kebijakan Pemko Padang memerintahkan seluruh sekolah mengelola pakaian seragam melalui koperasi. Akibat kebijakan itu, pedagang merasa dirugikan.
Sebelum mendatangi DPRD, berdasar pengakuan pedagang, sempat bertemu dengan Wakil Wali Kota Mahyeldi Ansharullah dan Sekko Padang, Emzalmi di Balai Kota Padang. Tidak puas dengan jawaban kedua pejabat teras itu, akhirnya puluhan pedagang mengadu ke DPRD.
Saat itu, keluhan pedagang hanya didengar anggota DPRD di depan pintu gedung. Merasa dilecehkan, seorang pedagang protes keras.
Mendapatkan pertanyaan tersebut, Ketua Fraksi Demokrat DPRD, Erison lalu mengadakan pertemuan dengan puluhan pedagang di ruangan pertemuan lantai dua gedung DPRD.
“Kami hanya mempunyai kesempatan mencari hidup pada tahun ajaran baru. Tapi karena program Pemko memerintahkan seluruh sekolah pengelolaan pakaian seragam melalui koperasi, akibatnya kami terjepit dan tidak bisa lagi menjual pakaian seragam sekolah saat tahun ajaran baru,” kata salah seorang pedagang seragam sekolah bernama, Jasman, di hadapan anggota DPRD.
Jasman mengatakan bahwa saat ini banyak pedagang yang telah membeli stok seragam sekolah. “Namun, karena kebijakan itu, tak ada satu pun pembeli yang menghampiri pedagang pakaian seragam,” ucapnya.
Hal senada disampaikan pedagang pakaian seragam lainnya, David. Setelah keluarnya imbauan tersebut, transaksi konveksi berkurang. “Informasinya, pakaian seragam sekolah yang dijual di koperasi tersebut dipesan di luar Padang. Kalau seperti ini permainannya, lebih baik pengusaha kecil di Padang dibunuh saja,” ungkapnya.
Karena sepi pembeli, kata David, beberapa pemilik toko mengurangi gaji karyawan mereka. “Biasanya setiap tahun ajaran baru, karyawan toko mendapatkan kenaikan gaji. Tapi tahun ini malah dikurangi karena sepi jual beli,” ungkapnya.
Saat rapat dengar pendapat berlangsung alot, baru hadir Wakil Ketua DPRD Padang, Budiman, sekitar pukul 11.04. Tidak berselang lama, masuk Ketua DPRD Padang, Zulherman.
Menanggapi pengaduan ini, Zulherman berjanji mengkaji kebijakan itu bersama instansi terkait. “Kami akan menyelesaikan persoalan itu secepat mungkin,” katanya.
Budiman mengatakan, persoalan ini akan segera diagendakan dan dibicarakan dengan Komisi II dan Komisi IV.
“Kalau memang program ini membuat pedagang dan pengusaha konveksi yang masih berskala kecil mati, maka kami akan meminta Pemko membatalkan program tersebut. Dalam perdagangan tidak ada yang namanya monopoli, namun dalam kasus ini malah pemko yang terkesan melakukan monopoli,” tegasnya.
Budiman mengatakan, ketidakhadiran anggota DPRD karena tengah melakukan kunjungan kerja ke luar daerah. “Meski demikian, pada Senin (18/6) persoalan ini telah dikaji dan dibicarakan di tingkat komisi,” ungkap politisi PKS ini.
Sepi Pengunjung
Secara terpisah, pantauan Padang Ekspres di kompleks pertokoan Pasar Bertingkat Fase VI dan letter U, terlihat sepi pembeli pakaian seragam sekolah. Biasanya, menurut para pedagang tersebut, sehari pascalibur sekolah, para wali murid sudah berbondong-bondong mendatangi pertokoan itu.
“Ini harus dipertimbangkan kembali, karena dampaknya jelas merugikan kami. Bahkan di hari ini saja, belum satu pun para wali murid yang membeli seragam sekolah ke sini,” kata Ana, 25, pedagang seragam sekolah di kompleks Pasar Bertingkat Fase VI.
Idang, 60, didampingi Nurbidin, 61, PKL Pasar Raya yang menjual seragam sekolah mengaku penjualan mereka menurun. Itu diakibatkan karena kebijakan Pemko Padang. “Bahkan, hingga kini seragam sekolah yang saya sediakan, belum ada terjual,” tukasnya.
Linda, 36, pengunjung Pasar Raya mengaku anaknya sulungnya Mutia, baru saja lulus SMP. Namun dia mengaku bingung dengan kebijakan tersebut. Sebab, dia takut salah beli seragam sekolah, karena setiap sekolah itu, ada seragamnya yang berbeda-beda.
“Pemerintah harus mempertimbangkan kebijakan itu kembali. Sebab, kebijakan ini tidak hanya merugikan pedagang seragam sekolah, tetapi juga bikin repot para wali murid,” tukasnya. (kid/rdi)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?