Rabu, 22 Mei 2013 - 12 Rajab 1434 H 08:37:15 WIB
METROPOLIS

Oknum Polisi Diduga Aniaya Pelajar

Salah Sasaran, Dipicu Kaca Spion Mobil Patah

Padang Ekspres • Rabu, 13/06/2012 11:27 WIB • * • 475 klik

Korban Havif Al Farabi

M Yamin, Padek—Tindak keke­ra­san aparat terhadap masyarakat sipil kembali terjadi. Setelah kasus po­lisi koboi di sebuah kafe di Pa­saman Barat 23 Mei lalu, kini in­stitusi Polda Sumbar kembali dicoreng oleh tindak kekerasan anggotanya pada pelajar.

 

Kemarin (12/6), sekitar pukul 16.00, seorang anggota Polda Sumbar berinisial F, 30, diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang pelajar SMK Negeri I Padang bernama Havif Al Farabi, 16. Kasusnya telah dilaporkan ke Propam Polda Sumbar.

 

Akibat kejadian ini, remaja piatu yang tinggal di Sawahan Dalam I No 14, Padang Timur itu, mengalami luka lebam di bagian pipi sebelah kanan. Selain itu, pinggang, punggung serta kepala korban mengala­mi luka memar. Selain kekerasan fisik, jok motor korban Yamaha Mio warna merah bernomor polisi BA 5406 BC, juga dibakar oleh oknum polisi tersebut.

 

Informasi yang dihimpun Pa­dang Ekspres, sebelum dilaporkan ke Propam Polda Sumbar, kasus tersebut diadukan ke Sentral Pela­yanan Kepolisian (SPK) Polresta Padang. Setelah laporan korban dicatat dengan nomor LP/1002/K/VI/2012-Resta, korban langsung divisum ke RSUP dr M Djamil Padang.

 

Usai divisum, korban bersama tante dan neneknya, langsung me­la­porkan kejadian itu ke Pro­pam Polda Sumbar.

 

Pengakuan korban kepada Pa­dang Ekspres, kejadian itu terjadi sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, Selasa (12/6). Saat itu, dia dengan li­ma temannya melintas di Jalan Su­dirman dengan dua motor ber­bon­cengan. Satu motor di antara­nya, berbonceng tiga.

 

Setiba di depan Kantor Guber­nur Sumbar, motor berbonceng tiga yang dikendarai temannya bernama Defan, menyenggol kaca spion mobil Innova yang diken­da­rai polisi itu. Akibatnya, spion se­belah kanan mobil tersebut patah.

 

“Setelah menyenggolnya, te­man saya langsung melarikan diri ke arah Jati.

 

Saya yang juga merasa ta­kut, juga ikut melarikan diri. Na­­mun setiba di depan ger­bang RSUP dr M Djamil, ban mo­tor saya kempes,” kata kor­ban kepada wartawan di SPK Pol­resta Padang, kemarin (12/6).

 

Saat berhenti, lanjutnya, ti­ba-tiba oknum polisi itu lang­sung menangkapnya. Se­dang­kan temannya yang berbon­ceng­an dengannya langsung ka­bur. “Saya awalnya juga be­ru­saha melarikan diri, tapi jari telunjuk kaki saya sebelah kiri sakit, Bang, sehingga saya hanya berdiam diri,” ungkap­nya.

 

Setelah ditangkap, oknum polisi itu langsung memukul kor­ban beberapa kali. Kemu­di­an, memaksanya naik ke mo­bil polisi itu dan kembali me­ng­hajarnya.

 

“Di dalam mobil, saya dito­dong dengan pistol. Bahkan dia (oknum polisi, red) itu, juga sempat memukulkan ga­gang pistolnya ke kepala saya,” kata korban dengan suara terbata-bata.

 

“Saya kemudian dibawa ke kawasan Rimbokaluang, Jl Raden Saleh. Setiba di sana, ada sekitar lima orang lebih ber­pakaian preman. Mereka juga ikut mengebukin saya ber­gantian, Bang. Punggung sa­ya juga dilempar dengan ba­tu bata,” kata korban sem­bari mengaku seluruh tulang pung­gung dan pinggangnya masih sakit.

 

Usai disiksa oleh oknum polisi itu, sekitar pukul 03.00 dini hari, dirinya kemudian di­bawa ke Polresta Padang. “Ke­pada petugas SPK Polresta Pa­dang, oknum itu menuduh sa­ya telah melakukan pengru­sa­kan terhadap mobil milik polisi itu. Namun karena saya takut, semua tuduhan itu ter­pak­sa saya terima,” imbuh korban. 

 

Dia juga menilai polisi salah tangkap karena yang menyenggol spion mobil polisi itu temannya. “Kenapa harus saya yang ditangkap dan disik­sa,” tanya korban.

 

Corry Diana Fetrisia, 38, tante korban, menegaskan akan membawa kasus ini hing­ga ke pengadilan. “Setelah ke­po­nakan ini divisum, saya lang­sung mendatangi Propam Polda Sumbar untuk mela­por­kan oknum polisi itu, karena telah menyiksa keponakan saya. Apalagi keponakan saya tidak ada salah apa-apa,” ujar Corry didampingi nenek kor­ban Syamsu Niar, 59.

 

Menanggapi itu, anggota Police Watch Sumbar, Ilhamdi Taufik menyayangkan perilaku polisi tidak kunjung berubah, meski telah berulang kali diso­rot publik karena bertindak kasar. Seorang anggota polisi telah diajarkan proses penyi­dikan dan penyelidikan yang benar, bukan dengan pende­katan kekerasan.

 

“Mestinya ditanyakan dulu apa benar melakukan pengru­sakan itu korban atau tidak? Kalaupun iya, proses hukum­nya kan ada. Jadi polisi tidak bo­leh arogan, apalagi main ha­kim sendiri. Sebab, setiap ke­salahan oknum polisi, itu ada hukumannya,” kata Ilhamdi.

 

Karena itu, Ilhamdi me­min­ta Kapolda memberikan sank­si tegas kepada oknum po­lisi tersebut, jika terbukti ber­salah. Ilhamdi mendukung tin­dakan keluarga korban yang me­laporkan keja­dian ini ke Pro­vost atau Pro­pam Polda Sum­bar. “Kasus ini harus di­tin­dak hingga tuntas. Baik da­lam pelanggaran kode etik, mau­pun pidana umum,” ujar­nya.

 

Pjs Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Mainar Su­gian­to ketika dikonfirmasi, mene­gas­kan tidak akan memberi­kan ampun kepada oknum polisi yang melakukan tinda­kan kejahatan. “Tidak ada am­pun untuk anggota polisi yang bermasalah,” tegas mantan Kabid Propam Polda Sumbar itu saat dihubungi Padang Ekspres via handphone, kema­rin. (rdi)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Harapan Realistis di Piala Sudirman

PEREBUTAN lambang supremasi bulu tangkis dunia beregu campuran, Piala Sudirman, mulai berlangsung Minggu (19/5) di Kuala Lumpur, Malaysia. Tim-tim unggulan dengan mudah melewati hadangan pertama dengan mengalahkan rival-rivalnya secara meyakinkan. Tiongkok yang berada di grup 1 A secara meyakinkan menggilas India dengan skor telak 5-0. Begitu juga Denmark yang menjadi unggulan di grup 1 D menundukkan Singapura 4-1.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Selasa, 21 Mei 2013

Kesejahteraan Dokter Minim

Pi umumnyo dokter ko kayo ndak........?

 

Dana Bantuan tak Kunjung Turun

Juluak lah rami-rami .................................!

 

Lareh Sago Halaban Berjaya

Rakyaik lai sejahtera lo................................?