Kamis, 20 Juni 2013 - 11 Sya'ban 1434 H 08:38:15 WIB
NASIONAL

Awal Puasa Berpotensi Beda

Pantauan Lapan terhadap Posisi Bulan

Padang Ekspres • Sabtu, 09/06/2012 14:12 WIB • * • 776 klik

Jakarta, Padek—Bulan de­pan, umat muslim mulai men­jalankan ibadah puasa. Disu­sul sebulan kemudian, merayakan hari keme­nang­an atau Lebaran. Seperti biasanya, penetapan awal puasa di Indonesia bakal mengalami perbedaan. Teta­pi penetapan 1 Syawal ber­po­tensi kompak antara se­jum­lah ormas dengan pe­merintah.

 

Perkiraan penetapan awal puasa dan Lebaran tadi dipa­parkan oleh Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Infor­masi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Dja­maluddin. Melalui email yang dia kirim langsung dari Wina kemarin (8/6), guru besar sekaligus anggota Badan Hisab dan Rukyat Kementerian Aga­ma (Kemenag) itu mema­par­kan hasil pengamatannya ter­hadap posisi bulan.

 

Thomas menuturkan, sete­lah mengamati posisi bulan dia menyimpulkan jika ada potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadhan. Dia menjelaskan, pemerintah melalui Kemenag akan menjalankan pengamatan bulan atau rukyatul hilal pada 19 Juli 2012 nanti.

 

Dari perjalanan bulan, dike­tahui bahwa pada maghrib akhir Sya’ban atau 19 Juli 2012 nanti bulan telah wujud atau tampak di Indonesia. Tetapi ketinggiannya kurang dari im­kan rukyat. Ketentuan Imkan rukyat menggunakan kriteria yang disepakati ketinggian bulan minimal 2 derajat.

 

Nah, karena pada 19 Juli 2012 bulan sudah wujud tetapi kurang dari 2 derajat, maka pengguna hisab wujudul hilal akan menetapkan awal Rama­dhan jatuh pada 20 juli. Peng­gu­na hisab wujudul hilal ini di anta­ranya adalah Muham­madiyah.

 

Sedangkan ormas yang me­ng­­gunakan hisab imkan ruk­yat akan menetapkan 1 Ramadhan pada 21 Juli. Se­men­tara itu, posisi hilal yang rendah tadi (antara 0-2 derajat) tidak mungkin akan berhasil di-rukyat pada 19 Juli. Maka peng­guna rukyat kemungkinan be­sar menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada 21 Juli. Pengguna rukyat ini di antaranya adalah pemerintah dan NU (Nahdlatul Ulama).

 

Thomas menyimpulkan, Muhammadiyah berpotensi mengawali berpuasa ketim­bang ketetapan pemerintah yaitu pada 20 Juli 2012. Semen­tara pemerintah dan biasanya diikuti ormas-ormas lain ter­utama NU, akan menjalankan ibadah puasa mulai 21 Juli 2012.

 

”Potensi perbedaan hanya pada 1 Ramadhan. Untuk 1 Syawal atau lebaran berpotensi kompak,” kata dia. Penetapan 1 Syawal yang kompak ini terja­di karena posisi bulan sudah cukup tinggi pada akhir Ra­madhan.

 

Sementara itu, potensi per­bedaan penetapan tanggal pen­ting dalam kalender Islam bakal terajadi saat penetapan Dzulqaidah 1433 H. Menurut perhitungan Muhammadiyah, 1 Dzulqaidah 1433 H jatuh pada 17 September 2012 M. Se­dangkan menurut ormas lain yang menggunakan kriteria imkan rukyat, 1 Dzulqaidah 1433 H jatuh pada 18 September 2012 M.

 

Thomas menuturkan, umat Islam di Indonesia sudah meng­awali permulaan kalender hijriyah dengan perbedaan. Ini terjadi ketika Muhammadiyah menetapkan 1 Muharram (bu­lan pertama hijriyah) 1433 H pada 26 November 2011. Se­mentara sebagian ormas lain yang mengghunakan hisab imkan rukyat menjatuhkan 1 Muharram 1433 H pada 27 November 2011.

 

”Sebenarnya kita bisa ber­satu, jika kita mau mem­per­satukan kriterianya,” tutur Thomas. Kriteria yang bisa diper­satukan menurut Thomas itu adalah, batasan yang menen­tukan awal bulan. Dia menya­yangkan gerakan tajdid atau pembaruan Muhammadiyah yang dipelopori KH Ahmad Dahlan tidak berlanjut.

 

Akibatnya, menurut Thomas, saat ini warga Mu­ham­ma­diyah gigih mempertahankan kriteria hisab wujudul hilal yang usang dan atas dasar taqlid (pengekor). ”Sejatinya, kita hanya selangkah lagi me­nyatukan kalender Islam di Indo­ne­sia,” ujarnya. (jpnn)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Masokisme Politik BBM

DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang me­ngi­ringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.

Perawat tak Familiar

-

Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar

Rabu, 19 Juni 2013

Siswa Luar Serbu Padang

Batambah macet Padang mah.....................................!


Angin Ribut Landa Solok

Hati-hati beko talendo..........................!


Hanya 67 Persen Nikmati Air Bersih

Lai ndak sakik diare salabiahnyo tu..........................................?