Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 07:35:45 WIB
METROPOLIS

Pendidikan Lingkungan Hidup Masuk Kurikulum

SDN 13 Batugadang Raih Adiwiyata Mandiri

Padang Ekspres • Sabtu, 09/06/2012 13:16 WIB • EKA RIANTO -- Padang • 1256 klik

Murid SDN 13 Batugadang, Lubukkilangan

Adiwiyata bukan sekadar penghargaan bagi sekolah yang memiliki lingkungan sekolah yang rindang, bersih, memiliki banyak taman, atau memiliki bank sampah. Di balik itu, manajemen sekolah untuk tertib administrasi juga menjadi penilaian. Itulah yang membuat SDN 13 Batugadang, Lubukkilangan meraih Adiwiyata Mandiri.

 

HAWA sejuk begitu te­rasa. Dari sekolah terlihat pemandangan gunung dan hutan yang masih rimbun. Dengan penataan tanaman yang lengkap membuat se­kolah ini layak mendapatkan penghargaan itu.

 

Meski begitu, Adiwiyata bukan sekadar sekolah yang bersih dan suasana rindang saja. Mengelola sekolah me­lalui tertib administrasi juga menjadi poin penilaian. Di sinilah sekolah yang dipimpin Nazrita Nazar unggul diban­ding sekolah lain.

 

Bagaimana tertib ad­minis­tra­si yang dimaksudkan? Ya, se­­luruh agenda lingkungan hi­dup dilengkapi dengan do­ku­men.

 

Mulai dari surat edaran, undangan, bahkan daftar hadir kegiatan juga dilampirkan. “Ini saya ketahui setelah mema­hami konsep Adiwiyata yang se­be­narnya,” ujarnya saat dite­mui Pa­dang Ekspres, kemarin (8/6).

 

Wanita yang telah me­mim­pin sekolah ini lima tahun lalu, mencontohkan ketika me­nga­dakan sosialisasi Adiwi­yata dan membudayakan gotong royong di sekolah. Surat edaran kepala sekolah harus disampaikan pada seluruh guru. Ketika ke­giatan berlangsung, juga di­lengkapi dengan foto kegia­tan dan tanda hadir peserta.

 

Bahkan untuk goro, juga diperlukan surat edaran pada kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan, bahkan undangan bagi ma­syarakat sekitar.

 

“Dalam setahun, surat me­nyurat kegiatan Adiwiyata ini bisa mencapai puluhan. Jika dikumpulkan bisa setumpuk,” ujarnya sambil mem­per­lihat­kan dokumen Adiwi­yata tahun-tahun sebelumnya pada Pa­dang Ekspres.

 

Kunci lainnya, kata Nazrita Nazar, memahami konsep Adi­wiyata ini secara baik. Caranya, perlu kebersamaan. Nazrita tidak segan untuk mengundang dan meminta pendapat guru. Bahkan, bertukar pikiran de­ngan dinas terkait seperti Ba­dan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Ba­pe­dalda) dan Dinas Kesehatan melalui puskesmas.

 

“Konsep pemahaman Adi­wiyata yang diterjemahkan seko­lah ini, melestarikan ling­ku­ngan, mengurangi pence­ma­ran, dan mencegah bencana alam akibat ulah manusia,” sebutnya.

 

Konsep ini diaplikasikan dengan memberikan pe­ma­haman pada warga sekolah, terutama murid.  Hasilnya, ada beberapa program peduli ling­kungan terlaksana di sekolah ini. Seperti pengolahan sampah menjadi kompos, bank sam­pah, hutan sekolah, dan taman-taman yang ditanami berbagai macam tumbuhan termasuk tumbuhan obat-obtan.

 

“Secara bersama, warga sekolah membuat green house, kolam, bahkan taman. Pe­nge­lolaan diserahkan pada warga sekolah dengan me­nunjuk pe­nanggung jawab, yakni guru,” ujar Nazrita.

 

Meski ada penanggung ja­wab­nya, warga sekolah lain juga ikut menjaga kebersihan dan keindahan sekolah. Ketika ada sampah, warga sekolah akan segera memungutnya ke tong sampah. Ini dibuat me­narik dengan membuat yel-yel “Lala”. Artinya, Lihat ambil, langsung angkat.

Jika guru menyebutkan Lala, murid bergegas memu­ngut sampah. Itulah yang mem­buat murid dengan se­nang hati men­jaga kebersihan sekolah. Bahkan untuk taman, juga dibuat kom­petisi. Setiap semester, ada kelas yang men­dapatkan reward karena ber­ha­sil merawat taman tetap indah.

 

Reward yang diberikan bukan berupa uang atau benda berharga. Cukup memberikan stiker jempol pada pintu masuk kelas, ini akan membuat kelas tersebut jadi bangga,” ujarnya.

 

Bentuk keseriusan sekolah ini memperoleh Adiwiyata Mandiri, Nazrita tidak pernah bosan belajar dari sekolah yang sebelumnya telah menda­pat­kan Adiwiyata. “Ke depan, saya dan para guru berencana bela­jar ke salah satu sekolah di Jawa Timur yang memang bagus pelaksanaannya,” katanya.

 

Dalam implementasinya, materi ini dimasukkan ke da­lam kurikulum salah satu mata pe­lajaran, yakni pendidikan ling­kungan hidup setiap semester.

 

“Pelajaran ini membahas tentang tanah, air, energi, dan lainnya sehingga murid lebih me­mahami apa sebenarnya pe­duli lingkungan,” ungkap­nya.

 

Dengan begitu, katanya, karakter murid akan terbentuk. Ini terbukti di rumah pun para murid juga menerapkan ilmu lingkungan hidup yang dida­patkan.

 

Di rumah, peserta didik menerapkannya dalam ke­luarga seperti membuat pupuk kompos. Hal ini didukung sekolah dengan mengundang wali murid dan warga sekitar untuk memahami menjaga lingkungan hidup.

 

Sebagai peraih Adiwiyata Mandiri, sekolah ini melakukan pembinaan pada sejumlah se­ko­lah. Dua di antaranya meraih sekolah Adiwiyata Nasional, SDN 20 Indarung dan SMP Semen Padang. Binaan ini, mem­berikan pemahaman tentang Adiwiyata dengan cara berdis­kusi dan mengunjungi sekolah tersebut untuk melihat per­kem­bangannya. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!