Senin, 21 April 2014 - 20 Jumadil Akhir 1435 H 01:23:07 WIB
NASIONAL

Berkat Pengalaman jadi Pembantu di Hongkong

Ani Ema Susanti, dari TKW jadi Produser Film Dokumenter

Padang Ekspres • Jumat, 01/06/2012 14:54 WIB • SEKARING RATRI A -- Jakarta • 980 klik

Ani menerima penghargaan dalam FFI 2011

Pengalaman menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong mengantarkan Ani Ema Susanti sukses di bidang film dokumenter. Berbagai penghargaan nasional dan internasional pun pernah diraihnya.

 

ANI Ema Susanti tumbuh dan besar di Desa Pulogedang, Kecamatan Tem­be­lang, Jombang. Di desa tersebut ham­pir se­bagian besar warganya ber­profesi TKW. Karena itu, sejak kecil Ani akrab de­­ngan berbagai hal yang berkaitan de­ngan kehidupan TKW. Dia sudah ter­bia­sa menyaksikan penderitaan keluarga para TKW maupun kisah TKW yang suk­ses di desanya.

 

Ani berasal dari keluarga pas-pasan. Orangtuanya hanya lulusan SD. Meski be­gitu, dia tidak mau menyerah dengan ke­adaan. Dia bahkan mewanti-wanti diri agar tidak ikut-ikutan menjadi buruh mi­gran seperti para tetangganya. Menu­rut perempuan berjilbab tersebut, kehidu­pan sebagian keluarga para TKW me­mang terkesan makmur.

 

Sebab, begitu pulang ke ta­nah air, mereka membeli sa­wah, membangun rumah, dan mem­borong perabotan rumah tang­ga. “Mereka juga beli motor,” ujar Ani saat ditemui di Ci­lan­dak Town Square, Rabu (30/5).

 

Tetapi, di balik “kemak­mu­ran” tersebut, Ani menyak­si­kan se­deret kenyataan pahit da­ri ke­hidupan para buruh mi­gran yang mengais peng­hidupan di ne­­geri orang tersebut. Banyak ke­­luarga TKW yang tidak ter­urus, bahkan kacau-balau, sete­lah ditinggal bekerja di luar ne­geri bertahun-tahun.

 

“Banyak juga yang pulang dari luar negeri malah cerai. Ada juga yang keluarganya telantar. Belum lagi yang dapat siksaan fisik dari majikan dan pulang dengan kondisi cacat atau sakit parah,” urainya.

 

Ketika Ani duduk di bangku SD, guru-gurunya rajin meng­ingat­kan agar tidak mengi­kuti je­jak warga yang menjadi TKW. Hingga SMA, nasihat gurunya ter­sebut terus terngiang dalam ingatan. Apalagi, Ani bersekolah di SMA favorit di Jombang. Meski keluarganya miskin, dia ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

 

Perempuan kelahiran 6 Agus­tus 1983 itu ingin meraih gelar sarjana dan menjadi guru seperti adik ibunya. Dia melihat ke­hidupan pamannya jauh lebih la­­yak bila dibandingkan dengan orangtuanya yang hanya buruh tani. Kendati demikian, ke­inginan Ani untuk mene­ruskan ku­liah didukung penuh orang­tua­­nya. Mereka berjanji akan be­r­u­saha membiayai kuliah Ani. Na­mun, usaha dan kerja keras Ani, tampaknya, belum mem­buahkan hasil. Dia gagal me­nem­bus ujian masuk pergu­ruan tinggi negeri.

 

Karena tidak mungkin me­lan­­­jutkan kuliah di pergu­ruan ting­gi swasta (PTS), Ani ak­hir­nya memutuskan untuk be­ker­ja. Dia berharap bisa me­ngum­­­pulkan uang untuk kuliah. Na­­mun, Ani hanya mampu men­­­dapatkan pekerjaan dengan gaji t­idak seberapa.

 

Ani lalu pindah ke UKM (usa­­ha kecil menengah). Na­mun, karena penghasilannya yang minim, Ani tidak bisa me­na­­bung maupun membantu orangtua. Dia kemudian men­co­ba untuk menjadi sales kos­me­tik keliling dari rumah ke ru­mah.

 

Pada saat yang sama, orang­tua Ani menghadapi ma­salah eko­nomi. Mereka terlilit utang di bank. Tidak ada pilihan, Ani ak­hir­­nya mengikut jejak para te­tang­ga­nya, menjadi TKW. Meski be­rat hati, dia tidak mau sem­ba­ra­ngan dalam menjalankan pro­fesi itu.

 

Petualangan Ani sebagai TKW pun dimulai. Dia men­daftar di sebuah PJTKI (penge­rah jasa tenaga kerja Indonesia) di Bekasi. Selama enam bulan dia tinggal di penam­pungan TKI un­tuk didi­dik dan diberi bekal ke­terampilan. Awalnya Ani me­nga­ku cukup ter­siksa dengan kon­disi di pe­nam­pungan yang pe­nuh lara­ngan dan serba ter­batas.

 

Kelar menjalani pelatihan se­lama enam bulan, 30 Juli 2001 Ani terbang ke Hongkong. Dia ting­gal di vila milik keluarga Mr Leung Yeuk Chung di kawasan New Territories. Awalnya dia su­lit berkomunikasi dengan ma­jikan karena bahasa yang di­gunakan Cantonese. Namun, la­ma-kelamaan dia mulai ter­biasa. Bahkan, Ani merasa beruntung karena bisa bekerja pada k­e­luarga tersebut. Mereka mem­be­ri­kan hak libur sehari dalam se­pe­kan. Ani juga leluasa men­ja­lankan ibadah shalat lima waktu. “Saya juga diperbolehkan me­ng­akses internet paling tidak sejam setiap hari,” ungkapnya.

 

Tidak hanya itu, dari kelua­r­ga ter­sebut, Ani belajar banyak ten­­tang pentingnya pendidikan. Ke­­­be­tulan Mr Leung Yeuk Chung dan istrinya bekerja di Chinese Uni­­v­ersity. Anak pert­a­ma mereka ku­­liah di  Inggris.  Me­r­eka sangat me­­ngutamakan pen­didikan aka­de­mik dan pem­bentukan ka­rakter.

 

Berdasar pelajaran itu, Ani pun bertekad tidak akan men­jadi TKW selamanya. Dia ingin ku­liah. Apalagi, tabungannya su­dah cukup untuk biaya kuliah dan membantu keluarga di desa. Te­­­pat dua tahun kontraknya ha­bis, Ani memutuskan untuk pu­lang ke tanah air. Istri Ibnu Nah­rozi tersebut tidak mem­buang wak­­tu lama-lama guna m­e­wu­judkan cita-citanya menem­puh pendi­di­kan tinggi. Sepulang ke tanah air, dia langsung men­daftarkan diri masuk Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Su­rabaya.

 

Dia memilih jurusan psi­ko­logi karena ingin me­wujudkan ke­inginan menjadi penulis no­vel.

 

Sejak saat itu Ani kerap me­ngirimkan tulisannya ke ber­bagai perlombaan menulis fik­si dan penerbit. Dia juga mem­bukukan pengalamannya men­jadi TKW di Hongkong dalam bukunya yang berjudul Once Upon Time in Hongkong. Na­mun, Ani kurang beruntung d­a­lam hal itu. Tidak ada satu pun kar­­yanya yang mampu me­nem­bus redaksi penerbit mau­pun memenangi lomba.

 

Tapi, dia tidak patah sema­ngat. Dia terus berkreasi. Pada semester tujuh, Ani secara tidak sengaja melihat iklan kompetisi film dokumenter amatir Eagle Awards yang diadakan Metro TV. Ani kembali mencoba pe­run­tungan di dunia tulis-me­nulis dengan membuat proposal film. Semula Ani malu dengan sta­tusnya yang mantan TKW. Na­mun, profesi itulah yang jus­tru menginspirasi ke­ikut­serta­an­nya dalam ajang kom­petisi film dokumenter tersebut.

 

Dalam film tersebut, Ani me­milih berada di balik layar. Dia mendokumentasikan kehi­du­pan rekannya sesama TKW di Hong­­kong. Tidak disangka, pro­po­sal film Ani terpilih. Dia dan Yunni, rekannya, lalu diundang ke Jakarta untuk memfilmkan nas­kah tersebut. Film yang di­beri judul Helper Hongkong Ngampus itu akhirnya berhasil masuk lima besar Eagle Awards 2007. Selain di Metro TV, film kar­ya perdana Ani bersama te­mannya tersebut diputar di ber­bagai event yang berkaitan de­ngan pemberdayaan perem­puan. Nama Ani Ema Susanti makin dikenal luas.

 

Itu berdampak pada novel Once Upon Time In Hongkong yang awalnya selalu ditolak pe­ner­bit. Akhirnya ada yang ter­ta­rik menerbitkan. Setahun ke­mu­­dian Ani berhasil menye­le­sai­kan ku­liah. Namun, dia ti­dak men­cari pekerjaan sesuai de­ngan bi­dangnya. Dia justru ke­tagihan un­tuk membuat film lagi. Tidak di­sangka, dia diun­dang ke Jakar­t­­a guna mengi­kuti workshop film yang dikelola Ford Foundation.

 

Di bawah bimbingan sineas te­nar Nia Dinata, Ani membuat film berjudul Mengusahakan Cin­ta yang kembali bercerita ten­tang TKW di Hongkong. Kali ini Ani harus kembali ke Hong­kong, namun bukan seba­gai TKW, melainkan sineas. Film pen­dek yang disatukan dalam film Pertaruhan tersebut juga kem­bali meraih penghargaan. Ti­dak tanggung-tanggung, film itu menang dalam Festival Film Ber­linale di Jerman.  (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!