- 12:19 WIB
- 12:18 WIB
- 12:17 WIB
- 12:14 WIB
- 12:13 WIB
- 12:12 WIB
- 12:11 WIB
- 12:07 WIB
- 11:44 WIB
- 11:04 WIB
Haji Sukri, Nominasi Liputan 6 SCTV Award (1)
Belajar dari Alam, Menemukan Jagung Hibrida Unggul
Padang Ekspres • Minggu, 27/05/2012 09:29 WIB • GEBRIL DAULAI -- Solok • 649 klik

Meski belum berhasil sebagai pemenang, Nominator Liputan 6 SCTV Award bidang inovasi, Haji Sukri tetap dianggap figur yang sangat inspiratif. Pria kelahiran Saniang Baka 15 April 1949 yang hanya tamatan kelas 4 sekolah dasar ini mampu menemukan jagung hibrida unggul. Kini sudah 6 varietas yang dia temukan. Jagung unggul itu sudah diproduksi secara massal dan dipasarkan secara nasional.
Parasaian hidup membuat Haji Sukri tahun 1965 nekat merantau ke Jakarta dengan harapan bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak daripada sekadar menjadi petani di kampung. Saat itu umurnya baru 16 tahun. Di ibukota dia berjual pakaian di kaki lima. Ternyata tak mudah hidup di Jakarta. Kesulitan demi kesulitan dia alami sehingga Haji Sukri memutuskan pindah ke Kabupaten Preung Sewu, Lampung tahun 1968. Di sana di menjual berbagai macam jenis pakaian.
Petani cengkeh di Lampung saat itu sedang berjaya. Mereka kaya raya dari hasil cengkehnya. Sukri dan pedagang lainnya sering merasa dilecehkan dengan tingkah polah mereka. Para petani cengkeh itu seringkali saat membeli ke pasar menunjuk barang yang dibelinya dengan kaki.
Sejak saat itulah Sukri tertantang untuk pulang kampung, kembali menjadi petani. “Di Lampung petani bisa jaya, di Solok juga pasti bisa,” gumam Haji Sukri dalam hati. Namun Sukri masih tetap ingin bertahan. Dia masih punya optimisme bisa sukses di perantauan. Tahun 1969 Sukri memutuskan kembali ke Jakarta. Di sana dia kembali menjadi PKL tapi tak berlangsung lama.
Tahun 1969 Sukri pulang kampung karena ibunya meninggal. Dia pulang tanpa membawa keberhasilan. Sejak saat itulah dia memutuskan menjadi petani. Dia ingat betul petani di Preung Sewu Lampung Selatan yang bisa sukses dan kaya raya hanya dengan bertani.
Mulai lah Sukri kembali menjadi petani, mulai lah dia menanam bawang dan cengkeh, sambil menanam jagung di bedeng-bedeng ladangnya. Sukri memang punya hobi ke sawah dan ladang. Hari-harinya dihabiskan di sana. Tak lupa di membawa rantang berisi makanan untuk bekal sehingga tak perlu pulang ke rumah jelang siang.
Sukri memang hobi mengawinkan tanaman. Saat bertanam cengkeh dia sudah mencoba mengawinkan jambu keeling dengan cengkeh. Menurutnya karena varietasnya sama, otomatis bisa dikawinkan. Hasilnya memang tak sempurna tetapi Sukri tak putus asa.
Sifatnya yang selalu penasaran dan sangat mencintai pertanian membuatnya selalu melakukan uji coba terhadap tanaman. Pada tahu 1982, Sukri memfokuskan diri pada pengembangan cabe, jagung dan tomat. Namun dia lebih fokus pada jagung karena menurutnya lebih prospektif. Bagi Sukri menjadi petani tidak sekadar menerima benih yang dijual di pasaran. Dia menginginkan benih unggul yang punya produktivitas tinggi. Menurutnya, untuk memajukan pertanian, langkah awal yang harus dilakukan adalah menyediakan bibit unggul.
Namun Sukri tak punya pengetahuan yang cukup bagaimana cara mendapatkan benih unggul. Awalnya dia hanya melakukan cara-cara tradisional. Dia menanam jagung di sela-sela tanaman cabe. Setiap panen, diambilnya lima tongkol yang dianggap paling baik hasilnya dan digantungnya di sudut dapur sampai kering. Nanti benih jagung itu ditanam lagi dan seterusnya sampai benar-benar murni. Benih jagung yang murni ini kemudian dikawinkan sesamanya sehingga dia mendapatkan jagung hibrida.
Sukri tak sadar, apa yang dia lakukan itu ternyata merupakan bagian dari kegiatan pemuliaan tanaman. Untuk menyempurnakan metode yang dia lakukan, Haji Sukri mencari referensi dari berbagai buku. “Waktu itu saya dapat buku yang tidak utuh, hanya 10 halaman yang berisi tentang pemuliaan tanaman. Buku itu banyak membantu saya. Sekarang bukunya hilang entah kemana,” ujarnya di ruang kerjanya, Rabu lalu (23/5).
Kerja keras yang dilakukan Haji Sukri sejak tahun 1982 itu pun membuahkan hasil. Setelah melalui berbagai tes, benih unggul yang dihasilkan Haji Sukri lolos murni dan dilepas varietasnya oleh Kementerian Pertanian tahun 2000. Sejak saat itu di bawah bendera PT Citra Nusantara Mandiri, jagung hibrida temuannya diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan PT Pertani.
Hingga saat ini Haji Sukri sudah menemukan 6 varietas jagung unggul. Tiga varietas yang terakhir yakni N37, NT105 dan NT108 baru dilepas tahun ini. “Varietas baru itu harus memiliki keunggulan dibanding varietas sebelumnya. Jadi harus ada inovasi secara terus menerus, tidak boleh berhenti,” ujarnya.
Menurut Haji Sukri varietas lama bisa dirombak lagi dan dikawinkan dengan varietas lain. Yang penting dari setiap perkawinan tanaman yang kita lakukan ada nilai tambah. Karena itu, harus dikenali keunggulan dan kelemahan dari calon yang akan dikawinkan.
“Misalnya begini, anak kita mau kita kawinkan. Dari 10 indikator, dia unggulnya tujuh. Kita harus tahu apa yang tujuh keunggulannya itu dan tiga kelemahannya. Dari sana baru kita cari calon mantu yang punya keunggulan pada tiga kelemahan anak tadi,” ujarnya.
Haji Sukri menjelaskan jagung yang sudah murni bisa kembali menyimpang setelah 2 sampai 3 tahun dibudidayakan. Namun tidak setiap penyimpangan itu jelek. Penyimpangan itu juga bisa dikendalikan dengan mudah.
“Jagung yang menyimpang itu kita bungkus dengan rapat. Di dalamnya kan ada unsur rambut dan malai. Rambut betina dan malai jantan. Setelah ada serbuk pecah, jangan kita tunggu pecah sendiri semuanya tetapi kita yang pecahkan. Dalam dua kali kawin sudah bisa kembali normal,” jelasnya. (***)
[ Red/Administrator ]
Hari ini pengumuman ujian nasional (UN) SMA sederajat 2013 diumumkan kepada siswa. Rekapitulasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ada 2.678.575 siswa dinyatakan lulus ujian. Sedangkan 8.851 siswa lainnya divonis gagal atau tidak lulus. Di tingkat provinsi, Sumatera Barat tak masuk sepuluh besar nasional, jauh kalah dari Bali yang menempatkan 5 siswanya di 12 besar tertinggi dengan nilai UN murni.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Pelajar Sindikat Curanmor Diringkus
Kan di sakola ndak adoh diajakan maliang doh..........................................!
Masyarakat Sipil Meradang
Maju taruih.................................................!
Panwaslu Cuek, LSM Kapak Lanjut ke Pusat
Patuik didukuang tu.......................................!