- 06:26 WIB
- 06:25 WIB
- 06:24 WIB
- 06:23 WIB
- 06:19 WIB
- 06:16 WIB
- 06:08 WIB
- 06:06 WIB
- 06:05 WIB
- 12:39 WIB
Kredit Memiskinkan Masyarakat
Jangan Hanya Gaya-gayaan
Padang Ekspres • Minggu, 27/05/2012 09:22 WIB • * • 540 klik

Keberadaan lembaga pembiayaan kredit (leasing) di Sumbar terus tumbuh dan berkembang. Seiring dengan tingginya tingkat kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan barang dengan cara yang mudah dan biaya yang murah, leasing menggunakan berbagai cara untuk menarik minat konsumen dengan memberikan uang muka atau downpayment (DP) yang murah. Baik itu untuk kendaraan roda dua, roda empat hingga barang elektronik rumah tangga serta barang-barang kebutuhan teknologi lainnya.
Lembaga ini ada yang mengelola sistem penagihan kredit dengan cara yang elegan dan tidak mengelabui konsumen. Tapi ingat, ada juga yang dikelola dengan cara kasar, bahkan tak segan-segan menggunakan cara-cara perampasan meminta jasa dept collector (tukang tagih, red).
Tak salah jika sebenarnya banyak permasalahan yang dihadapi oleh pihak leasing terutama ketika menggunakan cara-cara yang kejam tadi.
Seperti diungkapkan Pengamat Ekonomi dari Universitas Bung Hatta Padang (UBH) Syafrizal Chan, realita yang terjadi dengan tumbuh kembangnya perusahaan leasing tersebut, semakin banyak pula kredit macet yang terjadi. Buktinya banyak kendaraan-kendaraan yang terpaksa harus dilelang.
Dia mengatakan, leasing mulai bertumbuh sekitaran tahun 1990 keatas. Leasing muncul karena besarnya potensi permintaan (potential demand) masyarakat untuk mendapatkan barang dengan cara mudah. Jika sebelumnya, masyarakat yang tidak punya uang sulit mendapatkan suatu barang, dengan hadirnya leasing impian mereka untuk mendapatkan barang dengan kemampuan keuangan yang minim itu bisa terwujud.
“Disinilah potensial demand yang saya maksud,” ujar Syafrizal.
Ketika potensi permintaan itu didukung dengan kredit, maka potensi permintaan itu bisa menjadi efektif demand yakni permintaan terhadap barang dan jasa yang disertai kemampuan membeli. Perusahaan leasing sangat pandai memanfaatkan potensi itu dengan memberi kredit pada masyarakat, sehingganya masyarakat akhirnya mempunyai daya untuk membeli suatu barang. Perusahan leasing dengan sendirinya menikmati keuntungan yang bagus dan terus berkembang.
Masalah akan muncul ketika pola belanja masyarakat sudah tidak lagi rasional. Parahnya lagi, sudahlah kemampuan keuangan masyarakat tidak memadai, mereka cenderung pula bersikap konsumtif dan gaya-gayaan, dan tidak lagi berdasarkan kebutuhan. Pola-pola konsumtif masyarakat seperti itu menjadi penyakit dalam ekonomi. “Sistem ekonomi kita mendidik masyarakat sepert itu, tidak didasarkan pada kondisi rill,” tuturnya.
Seperti misalnya, Asrul, 35, tukang ojek di kawasan Universitas Negeri Padang (UNP). Dia mengatakan, motor yang digunakan itu adalah motor kredit. Dia mengaku tidak punya uang membeli motor tunai.
Asrul terpaksa melakoni profesi tukang ojek, karena tak ada lagi pekerjaan lain yang bisa dilakukannya untuk menghidupi keluarga. Jika dilihat kemampuan finansialnya, Asrul bukanlah orang yang berada. Kebutuhan dapurnya ditumpangkan dari hasil mengojek. Tak ayal, kondisi itu membuat Asrul kalang kabut untuk mengejar setoran. Selain untuk bisa dibawa pulang, setiap hari mau tak mau Asrul harus mengumpulkan uang untuk membayar cicilan. “Mau gimana lagi. Kebutuhan dapur dan biaya anak sekolah tergantung dari motor ini. Kalau tidak, bisa-bisa anak saya tidak sekolah.
Asrul Nurwan, 56, warga Siteba, mengaku mengkredit motor karena kebutuhan juga. Motor itu dia beli selain untuk memudahkan pekerjaannya, juga bisa dimanfaatkan oleh anaknya yang kuliah. “Saya beli motor agar anak bisa pulang cepat ke rumah. Karena itu saya mengkreditkan motor untuk anak saya,” akunya.
Sementara itu, Amril,45 warga lain mengaku lebih suka membeli barang dengan cara tunai. Sebab menurutnya, membeli barang dengan cara kredit penuh resiko. Sementara jika membeli barang dengan tunai, bebas dari masalah.
Lain lagi dengan Franky,27 warga Belimbing, menyadari resiko pembelian barang dengan kredit. Pada dasarnya leasing tidak mau menerima alasan dari konsumen, ketika konsumen telat membayar. “Saya alami sendiri. Saat itu saya tidak bisa membayar cicilan 6 bulan karena saya tidak lagi bekerja. Padahal angsuran motor itu tinggal 8 bulan lagi. Tapi tetap saja, si kolektornya menyita motor saya tanpa mau member saya waktu,” sesalnya.
Melihat kondisi-kondisi diatas, Syafrizal Chan mengkhwatirkan akan menjadi bom waktu nantinya. Tanpa kelola yang baik, hal diatas akan menjadi penyakit ekonomi makro.
Penyebabnya karena ada ketimpangan aliran uang dari bawah ke atas melalui pemanfaatan teknologi dan pemanfaatan ekonomi. Sehingga terjadilah pengalihan sumber daya dari bawah ke atas. “Jika ini terjadi, maka betul jika hipotesa kita pola kredit ini adalah bentuk pemiskinan masyarakat. Sebab masyarakat mau tak mau harus membayar cicilan kredit, dengan pendapatan terbatas. Disamping terjadi pula pengalihan sektor yang tradisional kepada sektor modern,” jelas Syafrizal.
Penyakit ekonomi makro itu saat ini sudah mulai nampak. Banyak kredit macet yang terjadi. Dikuatirkan, perusahaan leasing terancam koleps (gulung tikar).
Dia menyarankan, agar masyarakat tidak bersikap konsumtif. Jika masyarakat membutuhkan kendaraan, minimal masyarakat harus punya usaha yang nanti dapat menutupi cicilannya. “Jangan hanya sekedar untuk memperlihatkan status sosial. Jangan memaksakan diri untuk memiliki kendaraan, harus dilihat dulu kemampuan secara finansial,” imbuh Syafrizal.
Kemudian adanya rencana pemerintah meningkatkan DP mencapai 30 persen dari yang sebelumnya 10 persen, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 43/PMK 010/2012 pada bulan Juni 2012, Syafrizal menilai upaya itu sangat tepat untuk pengendalian. Sebab, kegiatan ekonomi masyarakat tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar, perlu peranan pemerintah. Penerapan DP kendaraan itu, dengan sendirinya akan mengurangi daya beli masyarakat. “Untuk jangan panjang ini adalah upaya yang tepat,” ucapnya.
Kebijakan itu akan memberikan dampak yang sangat positif dalam jangka panjang untuk pengendalian kredit sehingga tidak terjadi penyakit ekonomi makro mulai dari kemiskinan, dan kesenjangan sosial, hingga pengangguran. “Kita pasti tidak ingin pemerintah kita bangkrut,” tuturnya. (bis/mg18)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?