Rabu, 16 April 2014 - 15 Jumadil Akhir 1435 H 20:05:01 WIB
NASIONAL

Urus Puluhan Lansia tanpa Harapkan Upah

Dewi Mahyuni, Pejuang Kaum Jompo di Sumbar

Padang Ekspres • Jumat, 25/05/2012 14:04 WIB • FAJAR RILLAH VESKY -- Limapuluh Kota • 1600 klik

Penghuni Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu, Jorong Lakuang, Nagari Situjuahbatu

Seorang ibu rumah tangga di Sumatera Barat, bertahun-tahun mengurus puluhan lelaki dan wanita lanjut usia, dalam sebuah panti jompo yang sudah lapuk dimakan waktu. Bagaimana ibu rumah tangga tamatan SMA itu bisa bertahan, sementara suaminya cuma pedagang kecil dan bantuan pemerintah seadanya?

 

DUA wanita dan seorang lelaki lanjut usia, bercengkerama di samping Masjid Mut­taqien, Jorong Lakuang, Nagari Si­tu­juahbatua, Kecamatan Situjuah Limo Na­gari, Kabupaten Limapuluh Kota, Pro­vinsi Sum­bar yang berada sekitar 135 km dari P­adang, Ka­mis (24/5) siang.

 

Saat didekati Pa­dang Ekspres, se­­orang di antara me­reka, berk­e­la­min wa­nita, me­ny­a­pa dengan  ra­ma­h­nya. “Man­caghi sia nak? Kalau Dewi, lai ado di dalam panti. Coliaklah ka kiun (Men­cari siapa Nak? Kalau Dewi, di da­lam panti. Lihatlah ke sana),” ujar wanita yang diketahui bernama Zainab, 85, asal Situjuah tersebut.

 

Dewi yang dimaksud Zainab adalah Dewi Mahyuni, 39, pengelola Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu. Pan­ti itu berada di samping Ma­s­jid Muttaqien Jorong La­kuang. Dulu, Jorong Lakuang bernama Dusun Lakung dan menjadi ba­gian dari Desa Serumpun. Te­tapi, sejak Pemkab Lima­puluh Ko­ta, mengembalikan sistem pe­merintahan dari desa ke na­gari awal tahun 2000, Desa Serum­pun hilang ditelan bumi.

 

Dua dusun yang ada di da­lam Desa Serumpun, yakni La­kung dan Bumbung, berganti na­­ma menjadi Jorong Lakuang dan Jo­rong Bambuang. S­e­lan­jut­nya, pe­merintahan di Jo­rong L­a­­kuang dan Jorong Bum­buang, digabung men­jadi Pe­me­rin­tah Nagari Si­tujuahbatua. Se­lain Bumbuang dan Lakuang, di Na­gari Sit­u­juahbatua terdapat pu­­la Jorong Ta­ngah, Jorong Ta­pi, Koto dan Jo­rong Ku­bang­bung­kuak.

 

Kendati nama Dusun La­kuang, Desa Serumpun sudah le­nyap, namun Panti Sasana Tres­na Werda Jasa Ibu yang ber­diri sejak tahun 1978, tetap di­tulis beralamat di Dusun La­kung, Desa Serumpun. Penu­li­san ini tentu semata-mata dila­ku­­­kan pengelola panti, agar pi­hak-pihak yang selama ini mem­beri ban­tuan, tidak menganggap Pan­ti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu su­dah mati atau pindah ala­mat.

 

Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu sendiri, bernaung di ba­wah Yayasan Jasa Ibu. Yaya­san ini didirikan oleh pasa­ngan sua­mi-istri almarhum Mahyuni Dt Ma­rajo Nan Gamuak dan Khu­zai­mah. Semasa hidupnya, Mah­yuni dikenal sebagai tokoh sen­tral di Kecamatan Situjuah Limo Na­gari, terutama di Nagari Situ­juahbatua.

 

Selain pernah menjabat se­ba­gai anggota DPRD Lima­pu­luh Ko­ta, Mahyuni me­rupakan pe­nu­lis sejarah peristiwa Situ­juah 15 Januari 1949, sebuah peris­tiwa heroik semasa Peme­rinta­han Darurat Republik Indonesia 1948-1949 di Sumatera. Adapun Khu­zaimah, merupakan pekerja so­s­­ial masyarakat teladan yang pa­da tahun 1987 meraih peng­hargaan dari Presiden Soeharto.

 

Sehingga tidak heran, bila di ta­ngan Mahyuni dan Khu­zai­mah, Yayasan Jasa Ibu ber­gerak sa­ngat dinamis. Yayasan yang di­d­irikan berdasarkan Akta No­taris No 10 Tahun 1991 ini, juga mam­pu mempertahankan kesi­nam­bungan Panti Sasana Tres­na Werda Jasa Ibu yang meru­pa­kan satu dari dua panti jompo di Provinsi Sumatera Barat.

 

Hanya saja, perjuangan Mah­y­uni dan Khuzaimah, mem­be­s­arkan Yayasan Jasa Ibu dan Pan­ti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu, tidak bisa bertahan lama. Ter­hitung sejak tahun 2007 lalu, Mah­yuni karena faktor usia mu­lai sakit-sakitan, hingga ak­hirnya me­ninggal dunia se­kitar dua ta­hun silam. Sedangkan Khu­zai­mah karena faktor kese­hatan, tidak bisa total lagi mengurus ya­yasan maupun panti.

 

Kondisi ini, tentu sangat dile­ma­tis, mengingat puluhan wa­nita dan lelaki lanjut usia dari ber­bagai daerah di Sumbar, ma­sih menjadi penghuni panti. Be­gitu pula masyarakat dari ber­ba­gai kabupaten/kota, masih suka mengantar orang-orang tua te­lantar ke Panti Sasana Tresna Wer­da Jasa Ibu di Jorong La­kuang, Nagari Situjuahbatua.

 

Dalam kondisi dilematis itu, muncul nama Dewi Mahyuni. Wanita kelahiran 13 Juni 1973 ini, mengambil alih peran Mah­yuni dan Khuzaimah me­ngelola Ya­yasan Jasa Ibu, sekaligus me­ngu­rus Panti Sasana Tresna Wer­da Jasa Ibu. “Saya mulai mengelola panti jompo ini sejak ta­hun 2007,” ucap Dewi saat ber­temu Padang Ekspres.

 

Bermula dari Keprihatinan

 

Dewi Mahyuni merupakan bung­su dari enam bersaudara, ha­sil pernikahan mendiang Mah­yuni Dt Marajo Nan Ga­muak dengan Khuzaimah. Ka­kak pertama Dewi, Sisderfi Dt Si­ngo, 50, merupakan seorang pe­nyu­luh pertanian di Kota Pa­ya­kumbuh. Sedangkan kakak ke­dua­nya, Melfi Mahyuni, 48, ber­domisili di Duri, Provinsi Riau.

 

Kakak ketiga Dewi, Linda Mah­yuni, 46, pegawai Dinas Ke­sehatan Limapuluh Kota. Ka­kak keempatnya, Hendra Mah­yuni, 44, mantan kapten kesebelasan Se­men Padang. Hendra atau Ma­mak seangkatan dengan pe­latih tim nasional Nilmaizar dan asis­ten pelatih Semen Pa­dang Del­vi Adri. “Sedang kakak keli­ma saya, Yos Hendri Mahyuni, me­rantau ke Bangka,” kata Dewi.

 

Sebelum mengelola Panti Sasana Tresna Werda Jasa Ibu, De­wi dan suaminya Zisferdi, 37, me­netap di Duri, Provinsi Riau. “Tapi sejak kondisi papa mulai sa­kit-sakitan, kami pulang kam­pung. Setiba di kampung, kami lihat papa dan mama tidak mam­pu lagi mengelola panti. Da­ripada pe­ng­huninya telantar, ka­mi pu­tuskan untuk ikut mem­ban­tu me­ngelola, sekalian bela­jar men­jadi orang lanjut usia,” ucap Dewi.

 

Awal mula mengelola panti, Dewi berhadapan dengan kon­disi lumayan memiriskan. Alum­ni

 

SDN 02 Situjuahbatua, SMPN 1 Situjuah dan SMAN 2 Pa­yakumbuh itu melihat, asra­ma panti seperti kurang terawat. Ma­kan para penghuni panti yang berjumlah sekitar 25 orang juga mulai tidak teratur.

 

“Dalam kondisi serba dada­kan, saya mulai merapikan asra­ma panti dan mengatur makan para penghuninya. Waktu itu, ti­dak ada motivasi lain kecuali pang­gilan kemanusiaan. Hati ke­cil saya, merasa kasihan saja me­lihat para lanjut usia hidup di pa­n­ti jompo. Saya berniat, mem­­ban­tu semampu saya,” ucap Dewi.

 

Setelah beberapa bulan me­ngu­rus Panti Sasana Tresna Wer­­da Jasa Ibu, Dewi mene­mu­kan berbagai kurenah lelaki dan wanita lanjut usia. Terka­dang, Dewi sering dibuat ter­se­nyum dan menangis sen­diri, dengan kurenah yang ada. “Siklus hidup manusia itu memang benar. Kita berawal dari bayi, kanak-kanak, re­maja, dewasa, tua dan kembali men­jadi kanak-kanak,” ucapnya.

 

Semua kurenah penghuni Panti Tresna Werda Jasa Ibu, dinik­mati Dewi layaknya menik­mati hidup. Wanita yang hobi membaca puisi dan menari ini, sama-sekali tidak merasa terbe­bani. Hanya saja, saat melihat ang­­garan pengelolaan panti yang terbatas, Dewi mula ber­pi­kir keras. “Ternyata, mengelola se­­buah panti jompo itu tidak gam­pang,” ucapnya.

 

Di Panti Tresna Werda Jasa Ibu, terdapat 25 lelaki dan wani­ta lanjut usia. Mereka tidak ha­nya datang dari kampung-kam­pung di Kecamatan Situjuah, te­ta­pi juga dari Padang, Batu­sang­kar, Bukittinggi, Agam.

 

Untuk seorang lanjut usia, pe­ngelola panti membutuhkan ba­nyak biaya. Sementara, subsi­di yang diberikan peme­rintah atau Kementerian Sosial Repu­blik Indonesia, hanya Rp 3.000 per hari. Sedangkan, Pemerintah Pro­vinsi Sumbar, baru mam­pu mem­bantu beras 4 ons per hari.

 

“Sedangkan dari pemerintah ka­bupaten, sejak beberapa ta­hun ter­akhir, sudah tidak ada lagi ban­tuan. Beruntung kita ma­sih pu­nya kerja sama dengan Ya­yasan Dhar­ma Bhakti Sosial ata­u Yaya­san Dharmais di Ja­karta,” ujar Dewi.

 

Dari Yayasan Dharmais, para penghuni panti mendapat sub­­sidi Rp 1 juta per bulan. “Peng­huni panti makan tiga kali se­hari. Untuk kebutuhan sara­pan pagi, setiap penghuni panti mendapat gula seperempat kg per minggu,” tutur Dewi.

 

Untuk menjaga kesehatan para penghuni panti, Dewi baru bi­sa menghadirkan tenaga me­dis dari Puskesmas Situjuah dua kali sebulan. “Untuk sekali pe­me­riksaan kesehatan, setiap lan­sia membutuhkan biaya kar­cis puskesmas Rp 4 ribu. Kalau obat, kita hanya memberikan buat yang benar-benar sakit. Se­bab kalau semuanya diobati, ang­garan tidak ada,” ujar Dewi.

 

Lantas, bagaimana kalau para lansia menginginkan roti atau cemilan? Di sinilah, Dewi ter­kadang kesulitan. “Anggaran un­t­uk itu, tidak ada. Kita hanya ber­harap bantuan dari donatur. Se­perti dari Isbanda (istri pega­wai Bank Nagari), Bha­yangkari (istri polisi), Persit Kartika Chan­dra Kirana (istri TNI), atau Ya­yasan Bundo Jakarta,” kata Dewi.

 

Sementara, anggaran untuk Dewi sendiri, sebagai pengola panti jompo ternyata tidak ada. “Kalau anggaran langsung tidak ada. Paling kalau ada yang ter­ma­kan oleh saya dari panti ini, seperti makanan yang dibawa oleh para donatur. Itu pun sebe­lum donatur pergi, saya sering sampaikan, kalau ada yang termakan oleh kami pengelola, mohon direlakan,” ucap Dewi.

 

Urus 25 Anak Asuh

 

Selain mengurus 25 lanjut usia, Dewi diam-diam juga mem­bantu sekitar 25 anak ya­tim, piatu dan anak-anak dari keluarga miskin. “Semua anak-anak itu dari Jorong Lakuang. Se­bab, baru itu yang bisa saya ban­tu dan saya asuh,” kata Dewi.

 

Bantuan yang diberikan Dewi, tidak langsung berupa uang ataupun benda, tetapi melalui keterampilan anak-anak menari dan membaca puisi.

 

“Setelah melihat penam­pi­lan anak-anak itu, biasanya ang­gota rombongan terketuk ha­tinya memberi bantuan. Bah­kan ada yang bersedia membiayai ku­liah. Sekarang, dari 25 anak asuh saya, sudah 2 yang kuliah di IAIN dan UNP,” ujar Dewi bangga.

 

Kendati merasa bangga bisa membantu kaum lanjut usia dan bo­cah yatim-piatu, Dewi tetap me­­mendam harapan. “Saya ber­harap, ada usaha ekonomi pro­duk­tif yang bisa diberikan pe­me­rintah ataupun swasta, un­tuk meng­hidupi panti ini. Se­lam­a ini, memang sudah ada ban­tuan sa­pi, tapi itu untuk jang­ka pan­jang. Untuk jangka pendek, ka­lau bisa juga ada usaha,” kata Dewi.

 

Ibu dari Rezifah Putri Widia, 13, dan  M Bima Rizky Mahesan ini, membayangkan panti jompo yang dikelolanya memiliki mobil pengangkut barang. “Suami saya pedagang kecil. Ia menjual beras dan berbagai kebutuhan pokok ke Riau. Setiap bulan, ia meren­tal mobil L-300. Kalau panti punya mobil, tentu suami saya bisa merental ke panti. Sehingga, pen­dapatan panti bertambah dan anggaran panti yang kurang ter­penuh,” kata Dewi.

 

Selain bisa menambah pen­da­patan, sebut Dewi, mobil itu di­perlukan jika ada penghuni pan­ti yang sakit. (***)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!