Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 15:52:14 WIB
PRO SUMBAR

Ditinggal Anak dan Suami, Kaki Mulai Lemas

Nurhayati, 18 Tahun Menderita Penyakit Ayan

Padang Ekspres • Minggu, 29/04/2012 14:42 WIB • Elfi Mahyuni - Pessel • 946 klik

Berharap Segera Sembuh: Sehari-hari, Nurhayati hanya bisa berdiam diri di rumah.

Umurnya baru sekitar 40 tahun. Namun, jika dilihat dari perawakannya, sudah seperti orang berusia 50 tahun. Tubuhnya kurus dan wajah pucat, disebabkan penyakit yang dideritanya semenjak dia masih kecil hingga sekarang.


Orang kampung menyebutnya penyakit sawan. Namun dalam ilmu kedokteran penyakit yang dideritanya sejenis penyakit ayan (epilepsi). Penyakit yang menderanya iu telah menyiksanya setiap waktu, dimana terkadang tanpa dia sadari tubuhnya jatuh ke tanah dan mengeluarkan suara mengerang dan air liur yang meleleh.


Sebenarnya penyakitnya itu sudah dideritanya dari kecil. Ia terlahir dari keluarga miskin maka pengobatan terhadapnya tidak lagi dilakukan secara berlanjut, kendati begitu pihak keluarga sudah pernah membawanya ke dokter dan pengobatan artenatif.


Menurut keterangan dokter, wanita ini ada gangguan pada jaringan syaraf kepalanya dan harus rutin untuk melakukan pengobatan dan minum obat. Masalah biaya juga yang menjadi kendala, maka pengobatannya tidak pernah selesai. Itulah gambaran kisah tentang seorang wanita separuh baya, bernama Nurhayati, warga Kampung Sawah Kenagarian Batu Hampar Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan.


Semenjak kecil, ia tinggal bersama kakak tertuanya Rosnia. Setiap hari, ia hanya bisa membantu kakaknya, seperti memasak dan mencari kayu bakar. Sekarang, kakaknya yang juga seorang janda hanya bisa memberikan Nurhayati sekedar makan dan minum. Untuk pengobatan, tidak pernah ia didapatkan semenjak 15 tahun ini, karena tak ada uang.


Ia hanya menunggu kiriman dari anaknya dari rantau dan itupun tidaklah seberapa, hanya cukup untuk beli beras dan lauk seadanya. Nurhayati bercerita, orang tuanya tinggal di Padang. “Sekarang, saya sulit sekali jalan, kaki sudah mulai lemas dan nafas sering sesak,” ujarnya.


Sedari kecil, ia tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Kemiskinan dan selalu sakit-sakitan itu menjadi alasannya tidak bersekolah. Selama hidupnya, ia hanya di rumah, tidak ada satupun tempat wisata dan saudara yang pernah dikunjunginya. “Mereka takut membawa saya, karena sewaktu-waktu penyakit saya kambuh dan terjatuh di tempat keramaian tentu akan menyulitkan,” ungkapnya.


Sebenarnya ingin rasanya pergi ke tempat wisata dan ke rumah saudara lainnya hanya sekedar silaturahmi. Namun apa hendak dikata, syukur setiap lebaran mereka datang menghampirinya, terobat sudah rasa rindu itu. Nurhayati sendiri memiliki lima orang saudara dan sebagian besar tinggal di Padang.


Penyakit yang dideritanya ini datangnya memang tidak selalu. Namun jika penyakit itu datang, dia akan pusing dan terjatuh, tak milih tempat, bisa jadi ketika dia mengangkat air, atau sedang di sumur. Air seninya akan keluar dan mulutnya mengeluarkan air liur dan mengerang seperti orang disembelih.


Sehingga banyak orang ketakutan, dan menjauh darinya ketika penyakit itu datang. Terkadang ketika dia jatuh, tidak ada orang yang tahu. Adakalanya dia jatuh di tungku tempat dia masak nasi, sehingga api juga pernah membakar tubuhnya. Baru ketika dia sadarkan diri, dia tahu tubuhnya sudah terbakar. Atau ketika dia di sumur terjatuh dan kepalanya terbentur dinding. Akibatnya, kepalanya luka dan harus dijahit.


Sekujur tubuhnya memang banyak ditemukan bekas luka bakar dan luka lainnya. Nurhayati hanya pasrah mungkin ini sudah menjadi takdirnya yang harus dijalaninya sampai ajal menjemputnya.


Sementara itu, Rosnia, 62, kakaknya mengatakan adiknya ini telah ikut bersamanya semenjak dia belum menikah. Dari kecil, dia memang sudah berpenyakitan, dia baru bisa berjalan ketika umurnya sudah lima tahun. Rosnia juga merasa iba dengan keadaan adiknya.


Pernah Nikah
Nurhayati pernah menikah pada usia 22 tahun dengan laki-laki sekampung, Syofyan. Ia memiliki seorang putra yang sekarang ini telah beranjak dewasa, bernama Indra, 20. Namun suaminya meninggalkan dia semenjak dia melahirkan anaknya itu dan menikah dengan wanita lain. Salah satu alasan suaminya meninggalkanya juga karena penyakitnya tersebut. Hingga kini, ia tidak pernah menikah lagi.


Sedangkan anaknya juga tidak besar bersamanya. Dia dibawa neneknya ke Padang dan bersekolah di sana.
“Uni tak pernah berhenti berharap untuk sembuh. Bosan, cuma hanya duduk dan tiduran tanpa bisa berbuat apa apa,” ujarnya. (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!