Minggu, 26 Mei 2013 - 16 Rajab 1434 H 00:38:41 WIB
PRO SUMBAR

Aparat belum Berani Tindak Pungli

Padang Ekspres • Minggu, 29/04/2012 14:41 WIB • Hijrah Adi Sukrial • 3447 klik

Gaul: Angkot gaul dan nyentrik, ini menjadi ikon angkot di Kota Padang.

Berbicara angkot Padang, semua orang akan langsung berpikiran tentang mobil yang ceper, banyak stiker, sound system besar bersuara keras, dan aksesoris lampu warna-warni. Bahkan banyak pula yang pakai LCD, dan kemera pengawas penumpang. Namun, di sisi lain, sopir Padang juga harus rela menjadi “ladang” bagi oknum yang menarik pungutan liar dari mereka.


Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Padang, terdapat 2.772 unit angkot di kota Padang dengan jurusan atau trayek yang berbeda-beda. Masing-masing trayek memiliki jumlah angkot yang tidak sedikit tentunya. Menariknya, sebagian besar dari angkot tersebut melakukan modifikasi untuk menarik penumpang. Ada anekdot di kalangan sopir dan pengusaha angkot, jika tak mau modifikasi, tidak usah jadi pemilik atau sopir angkot.


Memang, hanya sebagian kecil angkot yang tidak melakukan modifikasi. Berdasarkan penelusuran Padang Ekspres, angkot yang melakukan modifikasi sebagian besar adalah angkot jurusan Pasar Raya-Lubuk Buaya, Pasar Raya-Tabing, Pasar Raya-Labor, dan Pasar Raya-Siteba, serta angkot yang beroperasi ke arah Selatan Padang, seperti Teluk Bayur.


Tak ada yang tahu persis kapan fenomena angkot modifikasi ala balap itu, mulai muncul. Namun menurut salah seorang pengusaha angkot, Edi, 45, modifikasi angkot nyentrik ini mulai marak sejak akhir 1990-an. Katanya, bagi pengusaha sebenarnya hal ini menjadi dilemma. Di satu sisi, setoran semakin berkurang dari tahun ke tahun, karena sulitnya angkot bersaing dengan sepeda motor dan ojek. Namun, di sisi lain mereka harus melakukannya, karena permintaan pasar yang mengharuskannya.


Jika kita lihat di kawasa Air Mancur Pasar Raya, tepatnya di depan Masjid Muhammadiyah, akan terlihat banyak mobil keren yang ngetem mencari penumpang. Misalnya, salah satu angkot carry bercat oranye yang melayani rute Pasar Raya-Lubukbuaya. Mobil yang dikemudikan oleh Romi itu itu nyaris penuh oleh stiker. Di bagian ban terdapat sayap. Begitu juga di bagian bemper depan penuh variasi. Lampu di bagian dalam, bernwarna biru kerlap-kerlip. Soundsytem, sudah tak standar lagi. Sebagai ruang penumpang bahkan dipenuhi speaker besar.


Menurut Romi, modifikasi ekstrem mulai terjadi sekitar tahun 2004.Hampir di semua jurusan dalam Kota Padang sudah seperti mobil balap. “Bahkan banyak yang pakai LCD, dan kamera sebagai aksesoris interior,” ujar Romi. Jika malam, tak jarang angkot-angkot Kota Padang ini sudah mirip diskotik berjalan saja. Bunyi dentuman musik yang keras, diiringi dengan lampu interior yang berwarna-warni berkerlap-kerlip.


Edo, 22, salah seorang sopir lainnya menceritakan modifikasi angkot ikut menentukan jumlah setoran ke juragan atau pemilik angkot. “Kalau modifnya sederhana, paling-paling setorannya antara Rp100 ribu sehari. Tapi jika full modif, bisa mencapai Rp150 ribu per hari,” bebernya.


Edo memaparkan, untuk modifikasi angkot biaya bervariasi harus dikeluarkan pemiliknya. Kisarannya antara Rp5 juta hingga Rp40 juta, sangat tergantung pada seberapa banyak modifikasi yang dilakukan. Dia merinci untuk sound system-nya bisa mencapai Rp28 juta. Belum lagi membuat fiber, dan tambahan aksesoris luar maupun dalam. “Rata-rata, untuk full modif, biayanya pada kisaran Rp40 juta lebih,” jelas Edo.


Objek Pungli
Walau sudah mati-matian memodifikasi mobil, namun sebagian sopir dan pemilik mengakui mereka makin terdesak dengan murahnya masyarakat mendapatkan sepeda motor. Hal itu diperparah dengan banyaknya pungli yang harus mereka bayar di sepanjang jalan.


Belakangan ini, para sopir angkot resah. Bukan akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) atau sepinya penumpang lantaran jumlah sepeda motor yang kelewat batas. Tapi, disebabkan pungutan liar di sejumlah titik.


Pungutan liar tersebut biasanya dilakukan oleh oknum pemuda setempat atau orang bagak dengan berbagai trik yang memaksa sopir merogoh uang ribuan dalam saku mereka. Trik itu, seperti memberikan tisu yang semestinya seharga Rp 500, tapi dijual Rp1.000- Rp 2.000. Ada juga yang menambahkan air mineral, yang bayarannya bertambah menjadi Rp 5.000.


Cara lainnya, menyemprotkan wewangian ke angkot. Para sopir cukup bayar Rp 500 - Rp 1.000 sekali semprot. Ada juga ketika hujan, membilas kaca mobil dengan air sabun agar kelihatan bersih. Aktivitas yang sering dilakukan anak-anak itu dibayar Rp 500 - Rp 1.000. Praktik pungli ini hampir merata terjadi di sejumlah jalur angkutan kota.


Pantauan Padang Ekspres, praktik liar itu terjadi di jalur angkot Kotomarapak (Kecamatan Padang Barat), Gunungpangilun, Tarandam, Lubuklintah, Tabing, Pegambiran, Bypass, Kuranji dan Airtawar.


Pungli berkedok menjual air mineral, tisu dan wewangian itu, sudah lama terjadi. Sudah berlangsung hampir lima tahun lalu. Keluhan para sopir angkot juga tak terhitung. Praktik itu menimbulkan ekonomi biaya tinggi bagi awak angkot. Meski begitu, hingga kini tidak ada langkah konkret aparat terkait menertibkan pungli tersebut. Kalaupun ada, terkesan hanya show alias tidak memberikan efek jera. 


Beberapa waktu yang lalu, sopir angkot di kawasan Kuranji harus menantang maut. Saat dia menolak membayar seperti yang diminta oleh oknum pemalak itu, dia harus menerima beberapa tusukan, dan dirawat di rumah sakit.


Salah seorang yang minta namanya tidak dituliskan mengatakan biasanya pungli dipungut pagi atau sore hari. Oknum yang meminta pungli ini biasanya berdiri di simpang-simpang jalan strategis atau di jalan dimana angkot biasanya berputar arah. “Jika dihitung, uang tak jelas yang dikeluarkan sopir ini mencapai Rp10 ribu per hari,” katanya.


Meski merasa keberatan dengan sikap pemuda ini, tapi dia mengaku tidak berani macam-macam. “Lebih baik dibayar saja daripada bermasalah. Saya pernah mendengar ada sopir yang berani tidak bayar dan oknum pemuda tersebut hampir saja mengeroyok si sopir dan merusak angkotnya. Kalau anak jalanan sih, jika tidak bayar mobil akan digores,” ungkapnya.


Bertahun-tahun hal ini sudah terjadi. Banyak pejabat yang berjanji untuk menindaknya. Namun, hingga sekarang hal itu masih terjadi tanpa solusi. (hijrah adi sukrial)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?