Rabu, 19 Juni 2013 - 10 Sya'ban 1434 H 13:54:27 WIB
PRO SUMBAR

Kadang Dibayar dengan Sebungkus Rokok

Irman, 32 Tahun Lakoni Pijat Tradisional

Padang Ekspres • Minggu, 08/04/2012 13:47 WIB • Jufri Jao • 756 klik

Irman ketika sedang memijat kaki pelangannya dengan  pijatan refleksi dengan min

Sudah 32 tahun, Irman melakoni pekerjaan sebagai tukang pijat tradisional. Dari profesi itulah, ia menghidupi keluarganya dan  berhasil menyekolahkan enam anaknya. Bahkan dua di antaranya, telah menjadi sarjana. Keahlian sebagai tukang pijat itu,  didapatinya secara tak sengaja, berawal dari sebuah mimpi memijat dekat orang serba putih. Setelah itu, barulah Irman  melakoni pekerjaan tukang pijat itu secara terus menerus. Hingga akhirnya, pekerjaan itu menjadi salah satu sumber mata  pencaharian.         

 

Keringat yang menetes tak menghalangi gerakan tangan Irman, 60 tahun memeriksa setiap penyumbatan  di pembuluh darah pelanggannya. Bak sebuah mesin gerakan tangannya bergerak mencari sumber penyakit.  Sesekali ia berhenti dan menyeka keringat yang jatuh di dekat pelipis matanya. Raut wajahnya sedikit lelah, namun bapak enam anak ini terus saja melanjutkan pekerjaannya memijit.


“Profesi ini sudah saya tekuni bertahun-tahun. Dan profesi ini pulalah yang menjadi tumpangan saya menafkahi keluarga, saya bersyukur Allah beri kemampuan mengurut, semoga ilmu ini bermanfaat bagi orang lain,” ujar Irman kepada Padang Ekspres, di rumah  pelanggannya Perumahan Anai Lestari, Kuranji, akhir pekan lalu.


Ia mengatakan, sekitar tahun 70- an, ketika ia masih duduk di bangku SMEA. Ia bermimpi sedang memijat orang di depan bayangan putih. Seolah-olah, orang putih tersebut seperti guru yang mengajarinya ilmu memijat. Usai bermimpi itu, ia mulai memberanikan diri mengurut keluarga, tetangga, teman yang menderita sakit terkilir, pegal-pegal, keseleo dan ternyata bisa sembuh. Namun sebagai remaja yang masih hijau, ia belum berani untuk membuka praktik.


 “Saat itu, saya hanya berani mengurut keluarga saja. Lalu, merekalah yang mempromosikan ke yang lain. Dan setelah itu, orang-orang mulai datang ke rumah untuk dibetulin otot-otot mereka yang sakit,” ujar pecinta olahraga kebugaran ini tersenyum.


Sentuhan tangan suami dari Yusniah, 57, ini, berbeda dengan tukang urut tradisional kebanyakan, ia mengabungkan urut refleksi dengan urut tradisional biasa yang mengandalkan tangan. Dia tak hanya sekadar pandai memijat saja, namun ia juga piawai dalam meramu obat tradisional.
“Untuk ilmu meracik obat tradisional ini, saya mempelajarinya secara otodidak. Alhamdulillah, sudah banyak pelanggan saya yang sehat dengan obat racikan  saya ,” tuturnya.


Lelaki 60 tahun ini mengatakan badannya terasa pegal-pegal kalau tidak memijat orang. Terkadang, ia pulang sampai larut malam, karena pelanggannya banyak minta diurut selesai shalat Maghrib atau Isya. Pernah satu hari ia pulang pukul 02.00 WIB dinihari, keesokan harinya, malah ia yang masuk angin.


“Saya harus bisa juga men-service pelanggan, kalau disuruh datang ke rumah, saya pasti datang meskipun hari sudah larut malam. Saya tak mau  mengecewakan mereka. Makanya, meski sudah larut malampun, saya tetap datang ke rumah,” katanya.


Ia mengatakan, tidak pernah mematok harga urut ke pelanggan. “Saya bekerja dengan ikhlas, berapapun dikasih tak jadi masalah. Malah ada yang membayar saya sebungkus rokok. Alhamdulillah juga. Lucunya ada juga yang bayar dengan bensin,” kenangnya sambil mengulum seyum mengingat kejadian itu.


Dulu, sebelum memiliki sepeda motor ia memakai sepeda untuk menyambangi pelanggannya. Puluhan kilometer ia tempuh seharian menyusuri Kota Padang yang panas hanya untuk memuaskan pelanggan.

Tapi semangatnya tidak pernah kendor membantu mereka yang membutuhkan jasa urutnya. “Itu bagian dari masa lalu, saat ini saya sudah mempunyai motor dan memudahkan saya untuk mengunjungi pelanggan,” ucapnya.
Saat ditanya berapa penghasilannya sehari. Bapak berkumis itu mengatakan Rp60 ribu jika pelanggannya banyak yang nelpon. tapi kalau lagi sepi bisa Rp20-30 ribu sehari.


“Kalau hari hujan, ini terkadang yang membuat saya malas ke luar rumah,” ucapnya.
Di saat tidak ada pelanggan, Irman melakoni profesi tambahan sebagai tukang ojek dan tukang bangunan. Tapi beberapa tahun belakangan ia konsen menekuni profesi urut ini. Ia mengaku bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi karena keahlian urut yang ia miliki. “Saya tak ingin anak-anak hidup susah.


Dengan pendidikan orang bisa mengelola keuangan, meskipun dengan sekolah tinggi tak menjamin hidup seseorang lebih baik, tapi paling tidak mempunyai derajat yang tinggi di sisi Allah,” ungkapnya.


Irman mengatakan dari keahliannya memijat itulah ia berhasil menyekolahkan enam anaknya. Dua di antaranya telah menjadi sarjana. Dua anaknya itu, berhasil menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.


“Bagi saya, ini sungguh suatu kebahagian yang luar biasa. Karena saya bisa menyekolahkan anak hingga sarjana dari keringat saya memijat. Saya  tak malu melakoni keahlian ini karena tidak semua orang pandai memijit. Buah dari kerja keras, anak-anak saya bisa tamat sekolah jauh lebih tinggi ,” ucapnya.


Irman mengatakan hal yang membuat ia banyak pelanggan karena ia selalu menjaga hubungan silaturahmi dengan setiap orang yang menggunakan jasanya. Ia mengaku menyimpan nomor telepon pelanggannya di handphone dan menghitung sendiri jadwal kedatangannya ke rumah pelanggannya.


“Saya sering nelpon pelanggan, kalau dalam sebulan belum belum ada kabar, paling tidak menanyakan kondisinya setelah diurut bulan lalu. Tapi kebanyakan mereka suruh saya datang ke rumah, untuk minta urut lagi,” ujarnya sambil tersenyum.


Salah seorang pelanggan, Irman, Jhoni, warga Perumahan Anai Lestari menuturkan jika badannya pegal-pegal, ia selalu menghubungi Irman untuk dipijat.


“Kalau badan saya pegal-pegal pasti saya telepon bapak Irman untuk mengurut, sekalian saya suruh dia membawa obat tradisional racikannya yang manjur itu,” ujarnya.


Ia mengatakan setiap bulannya ia selalu memanfaatkan jasa pijat yang diberikan Irman. Ia sudah memanfaatkan jasa pijat Irman selama dua tahun. Usai dipijat, ia merasakan tubuhnya menjadi bugar.


“Makanya, saya suka memanfaatkan jasa Pak Irman, karena pijatannya membuat tubuh saya terasa nyaman. Sebelum, pijat dengan Pak Irman, saya ada juga pijat dengan orang lain, tapi rasanya berbeda. Sama Pak Irman jauh lebih  nyaman,” tuturnya. (*)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Masokisme Politik BBM

DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang me­ngi­ringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.

Perawat tak Familiar

-

Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar

Selasa, 18 Juni 2013

PPS Rawan Diintervensi

Paralu dijago bana tu.........................!


Sumbar Kecipratan Rp48 M

Lai ndak digigik mancik pulo beko tu....!


Tower Tumbang, Listrik Padam

Apo dek itu lampu acok mati kini...............?