Senin, 21 April 2014 - 20 Jumadil Akhir 1435 H 14:06:40 WIB
RAKYAT SUMBAR

Berniat Pensiun dan Nikmati Hidup di Usia 40 Tahun

Dodi Febrizal, Owner CV Blesindo Sejahtera

Padang Ekspres • Minggu, 08/04/2012 11:42 WIB • Hijrah As, Padang • 1382 klik

Ingin Kebebasan Waktu: Dodi Febrizal saat jalan-jalan ke obyek wisata Malaysia,

Dodi Febrizal adalah anak dari Sekretaris Kota (Sekko) Padang, Emzalmi. Walau ayahnya seorang pejabat, tak serta merta membuat Dodi ingin menjadi pejabat atau pegawai negeri sipil (PNS).

Dia melihat, PNS baru bisa membeli mobil di usia 40 tahun. Sementara dia berniat di usia 40 tahun sudah bisa pensiun dan menikmati hasil usahanya. Dodi pun memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha. Seperti apa perjuangan alumni Fakultas Hukum Unand ini merintis usahanya?


Senja kemarin (7/4), kampus Unand terlihat lengang. Banyak mahasiswa sudah pulang, menghabiskan akhir pekan bersama-sama keluarga ataupun teman. Hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang di kampus.


Namun, di satu sudut kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), masih ada beberapa mahasiswa yang berkumpul di satu tempat bernama gazebo. Pertemuan itu dihadiri juga oleh Dodi Febrizal, salah satu pengusaha muda yang ingin ditemui Padang Ekspres untuk wawancara.


Walau sudah wisuda, ternyata tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan oleh junior-juniornya. Apalagi darah aktivis masih mengalir kencang di tubuhnya. Maklum, selain aktif di BEM, sejak dulu Dodi sudah aktif di berbagai organisasi. Bahkan, saat ini dia juga aktif di berbagai organisasi pengusaha. Misalnya Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Padang, Enterpreneur University dan lainnya.


Walau masih muda, Dodi Febrizal sudah memiliki beberapa jenis usaha. Mulai warung internet, penjualan alat-alat tulis, hingga grosir pakaian. Saat ini, dia juga sedang merintis usaha menjadi agen property. Yaitu membantu masyarakat yang ingin membeli toko, rumah, maupun ruko.


Dia menceritakan, hal itu dirintisnya sejak tahun pertama kuliah. Mulai jual buku-buku kuliah, kemudian berjualan parfum, jual pulsa hingga mendirikan mini market dan server pulsa. “Semuanya saya rintis dari tahun satu kuliah. Mulai dari rumah orangtua hingga sekarang sudah berdiri sendiri,” paparnya.  


Memang, sejak kelas III SMA, Dodi sudah bertekad untuk menjadi pengusaha. Bahkan, ketika itu dia meminta pada orang tuanya untuk tidak dikuliahkan, namun diberi modal dan kepercayaan untuk membuka usaha.


Namun, orangtuanya memintanya tetap kuliah sambil merintis usaha. Karena, walau bagaimana pun menurut orang tuanya kuliah itu perlu untuk membentuk pola pikir, menambah wawasan dan pengalaman, serta menambah relasi.


Sebagai anak Sekko, dia melihat bagaimana orangtuanya bekerja. Waktu diatur oleh aturan yang ada di kantor, penghasilan juga ditentukan pemerintah, untuk beli rumah saja harus berutang. “PNS, termasuk orangtua saya baru bisa membeli mobil di usia 40 tahun. Sementara pengusaha, satu tahun sudah bisa membeli mobil,” papar pria yang juga hobi olahraga beladiri ini.


Selain itu, dia melihat, ketika menjadi PNS atau karyawan bank sekalipun, kreatifitas kita hanya akan berguna bagi orang lain. “Sementara ketika jadi pengusaha, kreatifitas kita bisa langsung kita kerjakan tanpa harus menunggu persetujuan. Dan kalau ternyata kreatifitas itu menguntungkan, maka untungnya buat pribadi kita,” papar pria berkulit putih ini.


Dalam merintis usahanya, menurut Dodi, dia banyak belajar dari diskusi wirausaha yang diselenggarakan Unand dan organisasi pengusaha muda seperti Entrepreneur University, Entrepereneur Student Asociation, dan HIPMI. Selain itu, pelatihan dan kuliah umum yang diselenggarakan Unand juga sangat banyak membantunya terutama dalam hal motivasi.


“Jika belajar di kelas kita hanya belajar teori. Lucu saja belajar berusaha pada orang yang tidak memiliki usaha. Namun, ketika mendengar kuliah umum dari pengusaha besar, apalagi merintis dari nol, kita langsung diajarkan secara teknis. Sebenarnya kehadiran mereka adalah memberikan motivasi yang besar,” terang ayah satu anak ini, ketika dimintai pendapatnya mengenai kuliah umum kewirausaaan yang dilaksanakan Unand.


Dalam merintis usahanya, Dodi bukannya tak pernah gagal. Beberapa usahanya terpaksa dia tutup, ketika baru saja menikah sekitar dua tahun lalu.


Dia mengisahkan, ketika itu kebetulan dia melaksanakan pesta pernikahan di Medan, karena istrinya adalah orang Medan. Setelah pesta dan bulan madu selesai, dia pun kembali ke Padang. Ketika itu usaha server pulsa dan minimarket dipercayakan pada orang. Ternyata, jangankan untung yang ditemui, bahkan modal saja banyak yang hilang.


Akibatnya, dia harus mengambil keputusan untuk menutup usaha server pulsa dan mini market. Kemudian, dia fokus untuk memajukan warnet. Setelah keadaan mulai stabil, barulah Dodi merambah ke usaha lainnya.


Dia menegaskan, untuk menjadi pengusaha yang sukses, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seorang yang sedang merintis. Di antaranya, harus sabar, bisa memanajemen waktu dan uang. Lalu, senantiasa terus belajar, baik dari pengalaman sendiri, maupun pengalaman orang lain. Serta harus berani dan siap bekerja di bawah tekanan untuk mengangsur hutang bank dan mencapai target yang sudah ditetapkan sebelumnya.


Kepada generasi muda, terutama mahasiswwa dia mengimbau bahwa semua pekerjaan itu adalah baik. Namun, nabi menjelaskan 90 persen rezeki berada di sektor dagang. “Artinya, kenapa kita mesti berebut menjadi PNS atau karyawan yang hanya 10 persen, kalau ternyata yang 90 persen ini bisa kita laksanakan, walau harus bersusah payah merintis,” ujar suami Mitra Maulia Tamba ini.


Atas dasar itulah, walau ditawari bekerja di beberapa bank besar dan perusahaan besar lainnya, dia menolak. “Saat itu, penghasilan saya mungkin hanya sejuta sebulan, dan saya ditawari pekerjaan dengan gaji mencapai Rp5 juta sebulan. Namun, saya mantapkan hati menjadi pengusaha. Dalam waktu tidak terlalu lama, penghasilan saya sudah lebih baik dari mereka. Saya juga bebas mengatur waktu saya sendiri, tidak ada yang menyuruh-nyuruh saya,” papar pria kelahiran 23 Februari 1985 ini.


Untuk itu, dia mengimbau kepada mahasiswa, walau sedikit usahakanlah mencari tambahan penghasilan di luar kiriman dari orangtua. Karena saat kuliah itulah saatnya belajar menjadi pengusaha.


“Uang yang kita hasilkan sendiri, walaupun sedikit sangat berbeda nikmatnya jika dibandingkan kiriman orangtua. Kita juga kan menjadi lebih percaya diri dan tampil lebih baik apabila bisa mandiri dan tidak mengharap gaji dari orang lain,” tegas pria yang suka bertualang ini. (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Selesaikan Pemilu, Jangan Terlena Koalisi

LUPAKAN sejenak hiruk pikuk isu koalisi partai politik. Proses pemilihan umum legislatif 2014 masih berlangsung. Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum menyelesaikan rekapitulasi suara. Rencananya, KPU menetapkan hasil rekapitulasi suara pada 7 Mei 2014. Proses tersebut pun harus terus dikawal. Sebab, itulah yang nanti menjadi pijakan untuk proses berikutnya, yakni pengisian pejabat DPR dan pemilihan umum presiden (pilpres). Hasil penghitungan cepat memang bisa menjadi pedoman awal. Namun, bukan itu yang berlaku secara nasional.

Perbaiki Layanan RS Ahmad Muchtar

YTH bapak pimpinan Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukittinggi. Apa begitu pelayanannya, adik saya masuk rumah sakit pagi jam 9 dan pulang jam 4 sore tapi siangnya tidak dikasih makan. Padahal kami bayar cash. Tolong dijelaskan.

Senin, 21 April 2014

Jadilah Konsumen Cerdas

Parhatian bana kalau ka mambali-bali tuh. Jan sampai takicuah pulo........................................................!

 

Kadis dan Kabid DKP jadi Tersangka

Itulah Pak, jan buang sampah jo sambarangan.......................................!

 

Caleg Nasdem Dilaporkan Money Politic

 Lah ka salasai pemilu ko, banyak nan saliang malapor mah..........................!