Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 07:46:41 WIB
NASIONAL

Ke Sentra Pertanian Organik, Pengolahan Kakao, Tomat dan Pabrik Makanan

Tomat Dijadikan Manisan, Dijual Rp40 Ribu Sekilo

Padang Ekspres • Kamis, 28/04/2011 11:23 WIB • (*) • 1415 klik

PETIK STROBERI: Wagub dan Ny. Ida Muslim Kasim memetik stroberi.

Perjalanan panjang dan cukup melelahkan serta penuh inspirasi telah dilakukan rombongan Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim bersama Ketua Komisi II DPRD Sumbar, Marlis bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait ke Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Barat, pekan lalu.


Agrowisata Stroberi
Mengawali kunjungan, rombongan bertolak ke Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya Kelompok Tani Karya Sari, Desa Candi Kuning, Bedugul Bali yakni kawasan Agrowisata Strawberry Stop. Kawasan pertanian holtikultura khusus stroberi dan sayuran. Di sini tersedia tempat pembibitan, pelatihan dan wisata buah.
Di kawasan ini, pengunjung bisa menikmati panking cake ice cream dan jus stroberi yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Pengembangan pertanian dilakukan masyarakat secara swadana.


Agrowisata ini dirintis I Nyoman Suta. Awalnya hanya usaha sambilan. Tapi karena cukup menjanjikan, maka I Nyoman Suta  bersama istri resign atau mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil (PNS).


Agrowisata ini juga membuka restoran dengan menu unggulan stroberi, ruang pertemuan, green house buah stroberi, tanaman hias, bunga kisan, cabe, pabrika, lahan tanaman stroberi, peternakan kelinci, pengolahan pupuk organik, taman bermain, guest house, dan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S).
“Mudah-mudahan Sumbar mampu menjadi produsen buah stroberi terbaik, dengan spesifik daerah dan kualitas produksi yang unggul di masa datang,” ujar Muslim Kasim.


Pertanian Organik
Selanjutnya, rombongan bertolak ke lokasi pertanian organik Golden Leaf Farm (GLF), Wanagiri Bedagul, Bali. Daerahnya sejuk, seperti Alahanpanjang, Kabupaten Solok. Tanaman organik tumbuh subur. Berbeda di Sumbar, kualitas tanaman dan kemasan belum mampu bersaing dengan produk luar, sehingga nilai produk rendah dan berimplikasi pada kesejahteraan petani.


Luas GLF 9,8 hektare, memproduksi 70 jenis sayur-sayuran dan 116 tanaman herbal. Perkebunan yang menggunakan pupuk organik ini berhasil meraup untung Rp250 juta per bulan. Pemasarannya ke hotel-hotel yang ada di Bali dan Jakarta.
Pimpinan Golden Leaf Farm Organic Agriculture Dipl. Kfm. Johannes H. Hassanusi menyebutkan, keberhasilan GLF bisa jadi motivasi petani dan pengusaha pertanian Sumbar untuk bangkit dan berinovasi. “Sebab, banyak lokasi yang bisa dikembangkan seperti di Bali ini,” katanya.


Pengolahan Coklat
Di Batu Bulan Ginanyar Bali rombongan mengunjungi industri rumah tangga pengolah coklat. Salah satunya, magic chocolate, The Original Bali Chocolate yang dikelola I Ketut Widaha. Peralatan dan cara kerja sederhana, seperti pengusaha coklat olahan di Sumbar.
Muslim Kasim menyebutkan, Bali bukan daerah penghasil coklat. Hanya ada beberapa kebun coklat yang dikelola sambilan dan tidak terlalu luas. Bahkan, industri pengolahan coklat ini, membeli coklat siap olah dari Tangerang, Banten. Namun, usaha yang mempekerjakan 6 pegawai itu mampu menangguk omset Rp125 juta perbulan. Modal awal pengadaan peralatan dan stok bahan olahan hanya Rp900 juta.


Sedangkan Sumbar sebagai pusat pengasil kakao wilayah barat Indonesia, belum mampu meningkatkan hasil pendapatan. Petani hanya menjual mentah, tanpa mengolah menjadi produk siap saji seperti home industry magic chocolate. Padahal, luas lahan kakao di Sumbar terus meningkat. Tahun 2007 21 hektare, dua tahun berikutnya menjadi 40 hektare.
“Kita sepakat kerja sama dengan magic chocolate. Sumbar menyediakan bahan baku, sedangkan magic chocolate membuka cabang pengolahan di Sumbar, sekaligus membina petani coklat kita,” jelasnya.


Manisan Tomat
Dari Bali, rombongan beranjak ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Meninjau home industry pengolahan manisan tomat, pala, kelapa, pabrik phonik mas, rumput laut dan kayu, yang dikenal dengan Ratna Shop. Toko yang berlokasi di kampung Rajunas, Desa Martas Kecamatan Batu Keliang, Kabupaten Lombok Tengah itu mengolah manisan menjadi kenyal, legit, manis dan krispi.


Tomat manisan tahan 8 bulan tanpa pengawet. Tomat seberat 8 kg dapat menghasilkan 1 kg manisan tomat. Awalnya, pengolahan dengan peralatan sederhana. Ketika dijual, 1 kg dihargai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. Bayangkan berapa keuntungan petani jika dibandingkan dengan harga jual tomat di tingkat petani di Alahanpanjang, Kabupaten Solok yang kini hanya dihargai Rp1.000 per kilo.
Padahal, produksi tomat di NTB sedikit dibandingkan Sumbar 38.981 ton. “Jika pengolahan manisan tomat dikembangan di Sumbar, tentu bisa dijadikan komoditi unggulan,” ungkapnya.


Pabrik Makanan
Selanjutnya ke PT Phoenix Mas Persada di Cakranegara Lombok. Perusahaan ini memproduksi makanan dari rumput laut, pengemasan manisan tomat, pala, dan kelapa telah standar ekspor ke Singapura, Malaysia, Thailand, RRC, dan Australia. (*)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Lokomotif tanpa Gerbong

KEPUTUSAN Ketua Umum Partai Persatuan Pem­ba­ngu­nan (PPP) Suryadharma Ali (SDA) berkoalisi dengan Partai Gerindra tanpa syarat, ternyata berbuntut panjang.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Rabu ,23 April 2014

18 Caleg Incumbent Lolos

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai...........................!

 

Kepsek Pemukul Siswa jadi Tersangka

Proses sesuai hukum, Pak polisi...................................!

 

DPRD Pessel Diisi Wajah Baru

Lah tibo lo masonyo mah..............................!