Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 13:13:32 WIB
RAKYAT SUMBAR

Tradisi Pakiah Tetap Lestari

Mengasah Sikap Mental Santri

Padang Ekspres • Jumat, 09/03/2012 17:25 WIB • - • 708 klik

Selain menyambangi rumah penduduk, sejumlah pakiah juga ada yang menyambangi kantor pemerintahan atau perusahan swasta lainnya. Biasanya masyarakat yang bersimpati dengan mereka, ada yang menyerahkan uang dalam jumlah tertentu, ataupun bantuan berupa beras lainnya.

Konon kabarnya, keberadaan pakiah di daerah ini tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam di daerah ini. Seperti diketahui, umumnya para pakiah berasal dari murid-murid pesantren di Padangpariaman dan sekitarnya. Pengalaman sebagai pakiah, sarat suka dan duka. Seperti diakui dua orang pakiah ini, Rahmad dan Hendri. Keduanya sering ditolak secara halus maupun kasar oleh warga. Perlakukan itu sudah menjadi santapan sehari-hari. ”Iyo kadang kadang memang sarupo itulah adonyo, tapi hal itu sudah biaso di kami untuak mangasah mental,” ungkap Rahmad.

Menjadi pakiah hanyalah untuk mengisi waktu luang bagi Rahmad dan Hendri. Dilakoni sekali atau dua kali seminggu, setiap Kamis atau Jumat. ”Selain itu, setiap harinya kami biasanya mendalami ilmu ilmu agama di pondok pesantren, terutama malam hari. Setelah Shalat Maghrib dan Shalat Subuh,” terangnya. Selama di pondok pesantren, keduanya lebih banyak mendalami tafsir Al Quran, di samping ilmu agama lainnya, termasuk kitab kuning atau kitab tidak berbaris lainnya. Sebagai santri pondok pesantren di Padangpariaman, Rahmad punya cita-cita mulia. Yaitu, ingin menjadi ulama yang istiqamah, untuk mengajak umat ke jalan kebenaran.

Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yakin, Tuanku Ali Basyar di Ambuang Kapuar, Kanagarian Sungaisariak, menyebutkan, mamakiah merupakan tradisi turun temurun di lingkungan Pondok Pesantren di Padangpariaman. Banyak pengalaman positif bisa didapati seorang pakiah saat bersosialisasi dengan masyarakat. Di antaranya, bisa mengenal sosial budaya dan karakter masyarakat. ”Pengalaman itu sangat berharga bagi mereka, terutama setelah menjadi ulama. Dengan begitu, mereka bisa lebih mudah menyesuaikan diri dengan masyarakat,” terangnya.

Tuanku Ali menambahkan, mamakiah pada prinsipnya bukanlah tujuan akhir dari proses yang dijalani seorang santri. Lebih dari itu, bagaimana mereka bisa mengambil hikmah dan pengalaman selama bersosialisasi dengan masyarakat. ”Uang yang terkumpul selama mamakiah tersebut, digunakan untuk mendukung biaya hidup selama belajar di pondok pesantren. Dengan begitu, mereka bisa tetap eksis menekuni pendidikannya,” terangnya. Hal senada dikatakan Tuanku Sidi Jalalain, tokoh ulama di Sungai Sariak. Menurutnya, kegiatan mamakiah pada dasarnya dimaksudkan untuk mengasah mental para santri sebelum mereka terjun ke tengah masyarakat. (***)

[ Red/ ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Menunda Akuisisi BTN

MASIH teringat dari layar TV, wajah Budi Gunadi Sadikin semringah sepekan lalu. Kegembiraan bos Bank Mandiri yang baru berumur 40 tahun itu disebabkan terwujudnya impian yang dia idam-idamkan sejak lama. Yakni, mem­bawa bank yang dipimpinnya menjadi salah satu bank yang patut diperhitungkan di kancah ASEAN.

Butuh Listrik

Yth. Bapak kepala PLN...Kapan kampung kami (Kabupaten Pessel, Kecamatan Sutera Kenagarian Koto Nan 3 Selatan) akan dialiri listrik, padahal kampung kami bukan kampung terpencil..kami sekampung sangat berharap perhatian dan tindak lanjut dari bapak. Atas perhtian Bapak kami skmpg mengucapkan terima kasih. Wassalam.

Jumat ,25 April 2014

Perempuan Berpeluang Pimpin DPRD

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai.............................!

 

Puluhan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Jan sampai ndak panen lo Pak, ka kida suok beko...............................!

 

Korban Gigitan Musang Meninggal

Inalilallahi, awak ikuik baduka pak.................................................!