Minggu, 26 Mei 2013 - 16 Rajab 1434 H 13:48:57 WIB
METROPOLIS

Dari SD hingga SMA Langganan Kelas Akselerasi

Mefri Yulia, Sarjana Kedokteran Termuda di Sumatera

Padang Ekspres • Sabtu, 03/03/2012 10:12 WIB • Laporan Fajril Mubarak—Padang • 1438 klik

Termotivasi keluarga: Mefri Yulia ketika ditemui  di rumahnya,  di Aurduri, Pada

Ranah Minang sebagai industri otak bukan sekadar nostalgia. Dari rahim Minangkabau, terlahir ilmuwan muda di era digital ini. Prestasi anak-anak negeri ini membanggakan. Setelah Alexander Kam meraih dokter termuda di usia 20 tahun, prestasi baru diukir Mefri Yulia dengan menyandang predikat sarjana kedokteran (SKed) termuda di Universitas Andalas, yang tak lain adalah yunior Alexander Kam.


Meraih sarjana kedokteran di usia belia bukan pekerjaan semalam. Melainkan, ikhtiar panjang dalam rangkaian perjalanan hidup. Prestasi Mefri Yulia bukan saja kebanggaan keluarga, civitas akademika Unand, tapi menjadi kebanggaan Sumatera Barat. Mefri Yulia meraih sarjana kedokteran di usia 18 tahun 7 bulan. Mefri mengalahkan seniornya Alexander Kam, yang meraih gelar sarjana kedokteran saat usia 19 tahun 2 bulan.


Dari penelusuran Padang Ekspres, Mefri Yulia tercatat sebagai sarjana kedokteran termuda di Sumatera. Saat ini, sarjana kedokteran termuda di Indonesia dipegang Triffani Sharon Kairupan, mahasiswi Universitas Sam Ratulangi Manado dengan usia 17 tahun 7 bulan. Sementara dokter termuda di Indonesia dipegang Riana Helmi, yang berusia 19 tahun 9 bulan, mahasiswi Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.


Mefri telah diwisuda oleh Rektor Unand Werry Darta Taifur, Sabtu (25/2). Anak pasangan H Marhamis Hakim dan dr Hj Meiti Frida SpS (K) ini, sejak di bangku sekolah dasar memang sudah menorehkan prestasi akademik. Dari SD hingga SMA, Mefri selalu mengikuti kelas akselerasi. Sewaktu di SD Pertiwi 3 Jalan Kototinggi, Jati, Padang Timur, ia menamatkan sekolah hanya lima tahun. Pada kelas 5, Mefri langsung ujian akhir sekolah bersama pelajar kelas 6.


”Alhamdulillah, saya dapat menangkap pelajaran sangat cepat dan menamatkan sekolah hanya 5 tahun,” kata alumni SD tahun 1999-2004 itu. Siang itu, Padang Ekspres menyambangi rumah Mefri Yulia di Aurduri Indah No 11, Kecamatan Padang Timur. Mefri Yulia tampil dengan stelan jeans hitam dibalut kemeja motif kotak-kotak.    


Ibarat kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Otak encer gadis pemalu ini, ternyata ”warisan” dari kedua orangtuanya. Mefri Yulia terlahir dari keluarga berbasis pendidikan tinggi. Ayahnya seorang pengusaha dan ibunya dokter spesialis syaraf. Dua orang kakaknya juga bergelar dokter yang kini menempuh pendidikan spesialis. Seorang lagi sarjana teknik, persis di atasnya.


Gadis kelahiran 8 Juli 1993 ini, saat di SMPN 1 dan SMAN 1 Padang, juga mengikuti kelas akselerasi. Masing-masing tamat dua tahun. Tamat SMP tahun 2006, tamat SMA 2009. Meferi termotivasi melihat ketiga kakaknya yang boleh dikatakan berhasil. ”Apalagi mama pernah bercerita, selalu berprestasi dari SD hingga kuliah,” jelas Yulia, panggilan akrabnya.


Setamat SMA, Yulia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Unand. Di Kedokteran, Yulia juga berhasil menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu 3 tahun enam bulan. ”Di Kedokteran Unand kan tidak ada skripsi. Jadi dalam preklinik sebelum koas, ada 21 blok dan tiap semester 3 blok. Alhamdulillah, itu diselesaikan dengan baik,” kata Yulia yang meraih indeks prestasi kumulatif 3,32 ini.


Menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran bukan berarti selalu terus belajar. Gadis cantik ini mengaku tidak ada hal istimewa yang dia lakukan dalam belajar. Ia juga melakukan aktivitas kesehariannya sama dengan mahasiswa lainnya. ”Aktivitas belajar biasa-biasa saja. Paling kalau ada waktu jalan-jalan. Cara belajarnya juga santai,” kata Yulia.


Yulia merasa beruntung. Ketika terbentur dalam perkuliahan, ada mamanya yang juga dokter tempat bertanya. ”Kalo lagi nggak ada mama di rumah, belajar sendiri melahap buku perkuliahan. Juga melakukan diskusi dengan teman-teman se angkatan,” ujarnya.


Yulia mengaku tidak menemui banyak kesulitan selama menempuh studi di FK Unand. Tugas-tugas perkuliahan dikerjakan dengan riang. ”Awal-awalnya memang agak stres dan kagok, apalagi teman-teman rata-rata berusia di atas saya. Tapi, lambat laun semua bisa diatasi,” ujarnya.


Kepintaran Yulia tak terlepas dari kualitas pendidikan kedua orangtuanya di rumah. ”Papa dan mama menanamkan harus sekolah dan bertanggung jawab dalam bekerja. Karena itu tertular kepada anak-anaknya yang rajin dan tekun dalam studi,” ujar Yulia.


Setelah menyelesaikan gelar sarjana kedokteran, kini Yulia harus melanjutkan koas selama 1 tahun lima bulan atau dua tahun. ”Awal Maret ini saya mengikuti ujian untuk koas. Tanggal 19 Maret mendatang, kalau lulus mulai melaksanakan koas,” ucapnya.


Ke depan, Yulia berharap bisa lanjut ke pendidikan dokter spesialis. ”Ke depan, harapannya bisa lanjut ambil spesialis bedah syaraf atau syaraf. Planning-nya sih ambil spesialis di Jepang. Ini cita-cita dan keinginan saya,” tukasnya.  


Sang ibu dr Meiti Frida SpS (K) mengaku bangga atas prestasi Yulia. ”Saya dititipkan oleh Allah SWT anak-anak yang pintar dan mempunyai potensi. Dan, saya pun menyediakan segala kebutuhan yang ia mau plus perhatian serta kasih sayang,” katanya. (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?