Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 19:52:24 WIB
PRO SUMBAR

POLITIK ”LICIK”

Padang Ekspres • Minggu, 26/02/2012 12:29 WIB • (*) • 334 klik

Kata orang, politik adalah seni kemungkinan. Segala sesuatu memungkinkan terjadi dalam politik. Tak ada yang tak mungkin. Luka bisa dibalut dengan senyuman. Pedih bisa diselubung dengan gelak tawa. Musang bisa berbulu domba. Keburukan bisa tampil dalam wajah yang menyenangkan. Bahkan kebaikan dan keburukan bisa bersatu dalam dekapan. Semua memungkinkan dalam politik.


Kata orang, tak ada yang abadi dalam laku politik. Hari ini menang, besok bisa jadi kalah. Bisa juga pecundang jadi penguasa. Hari ini teman, besok bisa jadi lawan. Besok karib bisa juga ditikam. Tak ada yang abadi dalam politik kecuali kepentingan untuk meraih kemenangan dan kekuasaan yang lebih tinggi dan besar.


Kata orang, sistem politik yang efektif adalah membuat orang ketakutan. Semakin besar ketakutan seseorang pada kekuasaan, semakin besar pula kemungkinan untuk bertahan. Semakin luas ditanamkan rasa gentar, maka semakin besar pula akan dituai kesetiaan. Maka para penguasa, akan lebih senang menciptakan rasa takut ketimbang rasa sayang. Mereka lebih percaya pada kekuatan fisik ketimbang kekuatan cinta. Penindasan lebih dipilih dibanding memelihara.


Tapi tidak demikian dengan Islam. Politik memang seni kemungkinan. Hari ini roda di atas, pasti ada pula saatnya roda di bawah. Hari ini yang menang bisa menjadi kalah. Tapi tidak pernah ada selubung kepura-puraan. Yang baik tak pernah bercampur dengan yang buruk. Yang benar tak pernah larut dalam kesalahan. Musang akan selalu musang, tak pernah bisa menyaru sebagai ayam. Kemunkaran akan selalu disebut kemunkaran, tanpa harus memelintir fakta dan kenyataan.


Yang berlalu tak bisa kembali. Karena itu salah jika tak ada yang abadi dalam politik selain kepentingan politik itu sendiri. Lawan tak pernah bisa jadi kawan, kecuali dengan satu jalan, bertaubat dan mengakui kebenaran. Karib tetaplah karib dan haram ditikam. Kita harus mengembalikan laku pikir pada yang lurus dan benar, bahwa tak bisa melakukan manuver apa saja demi kemenangan. Siasat boleh, namun culas menjadi haram. Cerdik harus dicari jalannya, tapi kelicikan harus dibinasakan.


Berbuat karena cinta, selalu lebih baik dari hasil ketakutan. Politik Islam memiliki prinsip yang jelas, kebenaran dan cinta. Kebenaran harus ditegakkan, cinta dan salam harus disebarkan.


Untuk semua itulah kita ada. Tidak untuk larut dalam semua laku yang salah. Tidak untuk turut pada semua cara yang bubrah. Dalam kancah politik kita seharusnya seperti ikan yang tak pernah asin meski hidup di air garam. Tujuan utama tak mungkin dibelokkan dengan godaan-godaan semua yang memang menggiurkan.


Politik Islam adalah untuk menegakkan yang hak dan memerangi kemunkaran. Selamanya demikian. Selalu abadi pertempuran ini. Jangan pernah berkecil hati pada sebutan-sebutan yang menghinakan. Jangan pula memandang kekuasaan dengan tatap silau kekaguman. Kekuasaan memang harus direbut untuk menegakkan kebenaran. Membela yang lemah dan memerangi kemunkaran. Di mana pun kita berada, Muslim selalu punya konsep yang sama. Satu dalam kebenaran, satu dalam kebaikan, satu dalam keikhlasan.


Karena kita satu, sudah seharusnya ruang dan waktu tak lagi jadi penghalang. Mungkin kita berbeda partai, beda bendera dan organisasi, tapi hati kita satu. Mungkin kita berbeda cara namun tatapan pada akhir jalan kita sama. Kekuatan Muslim harus merebut kekuasaan. Tidak untuk berkuasa sih, tapi untuk meninggikan kalimatul haq dan mengejawantah arti Islam; menjadi rahmat bagi semesta alam. (*)

Oleh: Rahmat Hidayat

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!