Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 22:52:21 WIB
RAKYAT SUMBAR

Tolak Investor demi Anak Cucu

Melihat Hutan Nagari Simancuang, Solsel

Padang Ekspres • Selasa, 21/02/2012 12:29 WIB • Heri Faisal—Solok Selatan • 642 klik

Asri: Bukit Panjang dijadikan sebagai kawasan hutan nagari di Jorong Simancuang.

Apa jadinya bila seluruh belahan bumi ini menjadi kawasan perkotaan? Apa pula jadinya jika semua orang menjadi serakah dengan menguras seluruh hasil bumi? Bisa jadi, kiamat 2012 seperti ramalan suku Maya benar-benar terjadi.

Tapi tidak bagi warga Jorong Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Solok Selatan. Sadar ekosistem alam terancam punah, mereka sepakat mengelola hutan nagari. Bagaimana ceritanya?


Sabtu (11/2) sore, angin sepoi membelai lembut. Gumpalan awan di langit berarak mengubah bentuk. Dari putih bergumpal-gumpal menjadi hitam. Sedetik kemudian, gerak angin berubah kencang, menjatuhkan buliran tipis menetesi tanah merah yang mulai mengering. Gerimis lagi.
”Kalau rinai seperti ini, licin jalannya nanti bang,” kata Wendri sambil konsentrasi membonceng Padang Ekspres dengan sepeda motor.


 Jalan menuju Jorong Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo, Solok Selatan adalah jalan tanah. Kalau terjadi hujan, alamat sepeda motor sudah serupa dengan lumpur.


Dari Kecamatan Sangir, akses paling mudah untuk mencapai Simancuang adalah dengan menumpang jasa ojek, sejauh 7 km. Lebih setengahnya, adalah jalan tanah berlumpur. Cukup membayar Rp 15 ribu, kamu diantarkan menuju hamparan sawah yang luas. Ya, Jorong Simancuang adalah perkampungan dengan areal sawah sekitar 250 hektare. Rumah-rumah warga berdiri di antara bentangan sawah dalam jarak 50 hingga 200 meter dari rumah ke rumah.


Wendri, bocah 13 tahun itu sangat lincah mengendarai motor. Ia meliuk-liuk mengikuti bekas kendaraan yang sudah melintas dahuluan. ”Kalau lewat sini Bang, ikuti saja jejak roda kendaraan orang, kalau bikin rute sendiri bisa jatuh,” jelasnya.


Ia sesekali meminta Padang Ekspres turun, jika jalanan terlalu licin dan berlumpur dalam. Baru naik setelah melewati rintangan itu, jantung saya berdegup kencang melewati jalanan semacam itu. Wendri sendiri sudah biasa melewati jalan seperti itu. Bahkan bocah-bocah seusianya sudah terampil mengendarai sepeda motor melewati kubangan lumpur yang dalam. Karena memang itulah jalan satu-satunya yang menghubungkan daerah itu ke luar.


Kepala Jorong Simancuang, Jalaludin Dt Lelo Direjo mengatakan, sudah ada bantuan dari pemerintah kabupaten untuk pengerasan jalan tersebut. Namun panjangnya hanya 700 meter dari yang dijanjikan sepanjang 1.500 meter. ”Karena akses jalan yang susah inilah, hasil pertanian masyarakat sulit dibawa keluar,” katanya.


Ia menyebut setidaknya dalam sekali musim panen padi, 187 KK masyarakat Simancuang mampu menghasilkan padi sekitar 300 ton. Belum lagi hasil bumi lainnya seperti getah karet, kopi, dan kayu manis. Sayang, hasil panen itu hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga saja. Kalau sudah merasa lebih untuk kebutuhan sendiri, baru mereka jual ke pasaran.


Jorong Simancuang dikelilingi Bukit Panjang nan asri sepanjang 7 km. Menjulang tinggi di arah selatan kampung. Jika cuaca baik, puncak  gunung Kerinci berdiri pongah dari tenggara, menggabungkan harmonisasi alam yang indah. Di dalam hutan, ribuan spesies dan tumbuhan hidup rukun. Memberikan penghidupan pula bagi warga di sekitarnya.  


Sejak 8 Februari lalu, seluas 650 ha kawasan Bukit Panjang diresmikan pemerintah untuk dikelola menjadi hutan nagari atau hutan desa oleh masyarakat setempat. ”Kami merasa perlu menjadikan hutan ini menjadi hutan nagari. Karena kalau diberikan kepada investor, sudah pasti hutan kami akan dieksploitasi,” kata Edison, warga setempat yang diamanatkan menjadi Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Nagari (LPHN) Jorong Simancuang.


Ia menyebut sudah banyak investor yang melirik daerahnya. Apalagi kawasan hutan ditumbuhi ratusan jenis kayu langka yang banyak diincar orang, belum lagi potensi bawah tanahnya yang mengandung bijih besi. Pengusaha mana yang tidak tertarik. ”Kalau kami berikan, anak cucu kami kelak tidak akan dapat apa-apa,” katanya.


Makanya sejak 2009 lalu, dibantu Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, warga jorong Simancuang mengajukan pengelolaan hutan menjadi hutan nagari kepada pemerintah. ”Bumi ini perlu keseimbangan, hutan-hutan perlu diberdayakan dan dikelola dengan baik,” kata Riche Rahma Dewita, fasilitator KKI Warsi yang membantu masyarakat setempat mengalih fungsikan status dan pengelolaan hutan tersebut menjadi hutan nagari.


Dengan dijadikan hutan nagari, masyarakat setempat berhak dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan hutan tanpa merusaknya. ”Seluruh tim yang menjadi pengelola adalah masyarakat sendiri,” katanya.


Selama dua tahun lebih didampingi KKI Warsi, pemerintah akhirnya mengeluarkan izin pengelolaan hutan nagari kepada masyarakat setempat. ”Mereka sudah dapat izin melalui SK Menteri Kehutanan dan SK Gubernur yang dikeluarkan Desember lalu,” tambah Riche. Sebenarnya masyarakat hanya meminta areal hutan seluas 580 ha, tetapi oleh Gubernur Sumbar ditambah luasnya menjadi 650 ha agar bisa dimanfaatkan dengan lebih baik oleh masyarakat.


Hutan tersebut, kata Riche, akan dikembangkan untuk dikelola menjadi kawasan ekowisata, rehabilitasi hutan, dan labor alam untuk penelitian ilmiah dan lingkungan. Dengan begitu, keasrian dan keaslian alam tetap terjaga, serta bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat tanpa merusaknya. ”Kami sadar, alam adalah sumber kehidupan, kami tidak ingin alam rusak akibat ulah jahil manusia.

Dan berakibat fatal terhadap kehidupan manusia itu sendiri,” kata Edison. Ia menyebut warga Jorong Simancuang tidak masalah jika disebut terbelakang. Karena dari segi akses, kawasan itu memang sulit dijangkau, belum ada listrik, dan sulit pula sinyal telepon seluler. (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!