Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 13:12:42 WIB
PRO SUMBAR

Pemimpin yang Baik

Padang Ekspres • Minggu, 05/02/2012 12:10 WIB • (***) • 506 klik

Pemimpin yang Baik

Meski pun hari libur keluarga Pak Arif tidak terlihat bermalas-malasan. Dari pagi mereka terlihat sudah bergotong royong. Sebelum bergotong royong Pak Arif membagi tugas pada ke tiga anaknya.


Angga dan Tuti, anaknya yang paling besar dan nomor dua bertugas membersihkan kaca dan jendela. Sedangkan Rani si bungsu menyapu seluruh ruangan. Ibu memasak di dapur dan Pak Arif sendiri membersihkan kebun dari rumput-rumput liar.


“Angga, kamu pimpin adikmu membersihkan kaca dan ruangan. Ayah bekerja di kebun membersihkan bunga-bunga kita dari gulma-gulma,” perintah Pak Arif pada anaknya.


“Ya Ayah,” kata Angga.
Dan mereka pun menjalankan tugasnya masing-masing. Awalnya mereka kompak dan terlihat akrab sekali. Sambil bekerja mereka bercanda dan tertawa.


Namun, setelah beberapa lama bekerja Angga mulai terlihat bosan. Ia hanya duduk-duduk saja, sementara adiknya bekerja.
“Kak, tolongin Tuti membersihkan kaca yang paling atas. Kacanya tinggi sekali,” pinta Tuti pada kakaknya, Angga.
“Ah, bersihin aja sendiri. Pakai kursi supaya kamu bisa membersihkannya,” kata Angga sambil terus membolak-balik majalah ayahnya.
Tuti terlihat kesal. Ia juga mulai lelah karena Angga tidak mau membantunya.


“Kak, bantuin Tuti dong. Biar cepat selesainya,” pinta Tuti lagi.
Angga pura-pura tidak mendengar.
“Kak !” panggil Tuti.


“Apa sih? Kamu gangguin kakak saja,” kata Angga.
“Bantuin Tuti dong. Ayah kan nyuruh kita ngerjainnya sama-sama”
“Tadi ayah bilang, pimpin adik-adikmu, berarti kakak pemimpinnya dong. Mana ada pemimpin ikutan bekerja” kata Angga.
“Ada kok Kak?”


“Gak ada. Kakak lihat di televisi pemimpin kerjanya hanya duduk-duduk saja.”
“Kakak gak adil !”
Mata Tuti terlihat berkaca-kaca. Sepertinya ia ingin menangis. Tapi Angga tetap tidak mempedulikannya. Akhirnya Tuti membersihkan kaca sendirian sambil menangis.


Tiba-tiba ayah datang dari arah belakang. Ayah kaget melihat Tuti membersihkan kaca sambil menangis sementara Angga sedang santai-santai duduk di sofa.
“Tuti kenapa kamu menangis Nak? Angga kenapa tidak membantu adikmu,” tanya ayah.
Angga kaget, tidak menyangka ayahnya akan datang. Tuti segera berlari memeluk ayahnya.


“Kakak gak mau bantuin Tuti Yah”
Tuti mengadukan Angga pada ayahnya.
“Benar Angga?” tanya ayah.
Angga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia tak tau harus menjawab apa pada ayahnya. Namun kediaman Angga sudah menjadi jawaban bagi ayah.


“Kenapa kamu tidak mau membantu adikmu? Bukankah tadi ayah sudah bagi tugas pada kalian?” tanya ayahnya lagi.
“Iya, tapi ayah bilang, pimpin adikmu, berarti aku pemimpin. Di televisi kulihat pemimpin tidak ikut bekerja. Mereka hanya perintah-perintah saja.”
Ayah geleng-geleng kepala mendengar jawaban putra sulungnya. Kemudian menasehati anaknya itu.
“Angga tau gak, pemimpin yang baik itu seperti apa?”
Angga menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang ikut bekerja bersama orang-orang yang dipimpinnya, tidak hanya bersantai dan melihat-lihat saja. Angga pernah dengar cerita nabi Muhammad gak?”
Angga mengangguk. “Pernah, ketika pelajaran agama.” Jawabnya.
“Nabi Muhammad itu adalah contoh pemimpin yang baik. Ia tidak hanya mengatur strategi perang melawan kaum kafir tapi juga ikut berperang melawan kaum kafir itu”


Angga mendengarkan nasehat ayahnya dengan seksama.
“Angga mau menjadi pemimpin yang baik bukan?”
Angga mengangguk.  “Tentu saja Ayah”
“Nah sekarang Angga tau kan apa yang harus Angga lakukan?”
Angga segera berdiri dari duduknya. Kemudian mulai membersihkan kaca lagi.
Pak Arif tersenyum melihat anaknya yang kini sudah mengerti bagaimana menjadi pemimpin yang baik.

 

Oleh : Mega Nofria
*Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unand, bergiat di Komunitas Tubuh Jendela

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Menunda Akuisisi BTN

MASIH teringat dari layar TV, wajah Budi Gunadi Sadikin semringah sepekan lalu. Kegembiraan bos Bank Mandiri yang baru berumur 40 tahun itu disebabkan terwujudnya impian yang dia idam-idamkan sejak lama. Yakni, mem­bawa bank yang dipimpinnya menjadi salah satu bank yang patut diperhitungkan di kancah ASEAN.

Butuh Listrik

Yth. Bapak kepala PLN...Kapan kampung kami (Kabupaten Pessel, Kecamatan Sutera Kenagarian Koto Nan 3 Selatan) akan dialiri listrik, padahal kampung kami bukan kampung terpencil..kami sekampung sangat berharap perhatian dan tindak lanjut dari bapak. Atas perhtian Bapak kami skmpg mengucapkan terima kasih. Wassalam.

Jumat ,25 April 2014

Perempuan Berpeluang Pimpin DPRD

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai.............................!

 

Puluhan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Jan sampai ndak panen lo Pak, ka kida suok beko...............................!

 

Korban Gigitan Musang Meninggal

Inalilallahi, awak ikuik baduka pak.................................................!