Senin, 21 April 2014 - 20 Jumadil Akhir 1435 H 06:27:15 WIB
RAKYAT SUMBAR

Bareh Solok Dipalsukan

Pemko Patenkan Tiga Varietas

Padang Ekspres • Sabtu, 04/02/2012 12:01 WIB • (rzy) • 555 klik

Program Sukses: Wako Solok, Irzal Ilyas panen padi tanam sabatang.

Solok, Padek—Bareh solok yang beredar di pasaran saat ini, tidak lagi memiliki keistimewaan dibanding beras dari daerah lain. Ini disebabkan bareh solok yang kini beredar banyak oplosan atau dipalsukan.


Bareh solok oplosan tersebut ditemukan di sejumlah hueller (penggilingan padi). Pencampuran dilakukan saat penggilingan dengan mencampur padi asli Solok dengan padi dari daerah lain, seperti padi dari Sijunjung dan Dharmasraya.


Pencampuran itu diperkirakan 3 berbanding 1. Sehingga, sepintas beras itu sulit dibedakan oleh orang awam. Akibat pencampuran itu, cita rasa bareh solok sama saja dengan beras dari Bukittinggi dan Payakumbuh.


“Pedagang tidak salah mengatakan itu bareh solok asli, karena memang digiling di Solok. Cuma saja, ada sebagian dari beras itu dari padi Sijunjung, sehingga muncul istilah beras Solok padi Sijunjung,” ujar Wako Solok, Irzal Ilyas yang sebelumnya pedagang beras.


Dari sekian banyak varietas beras solok, Irzal menilai yang paling enak saat ini hanya verietas anak daro. Sementara beras solok varietas caredek, saribaganti dan randah kuniang, tak lagi bisa ditemui.


Kedua varietas itu sudah lama hilang karena tak diminati petani dengan alasan masa tanamnya lama. Varietas caredek baru panen setelah berumur enam bulan, sedangkan varietas randah kuniang panen berumur lima bulan. Sedangkan varietas anak daro, bisa dipanen saat berumur tiga bulan.


“Varietas anak daro sudah diakui Kementerian Pertanian RI sebagai beras unggul dari Solok. Varietas ini akan dijaga kemurniannya dan berasnya akan dikemas sebaik mungkin sehingga akan menjadi oleh-oleh khas Kota Solok,” kata Wako Solok yang berencana segera mematenkan varietas bareh solok tersebut.


Seperti diketahui, Kota Solok memiliki 1.254 hektare luas lahan. Dengan produksi mencapai 19 ribu ton gabah kering atau setara 12 ribu ton beras. Sehingga, secara logika dengan konsumsi beras di Solok yang mencapai lebih dari dua kali lipat, berarti hanya setengah warga Kota Solok yang mengonsumsi bareh solok. Belum lagi, bareh solok yang dijual di luar Solok dan Sumbar.


Di samping mempertahankan lahan yang ada, Dispernakhut Kota Solok juga melakukan upaya intensifikai lahan dengan cara induksi teknologi. Beberapa pola tersebut adalah program padi tanam sebatang (PTS), teknik komposting dan bantuan benih murni bareh solok.


“Program PTS cukup berhasil diuji coba meski kita harus mengubah pola petani tradisional. Sementara pada teknik komposting, kita memberikan insentif kepada petani yang tidak membakar jerami dan menjadikannya kompos,” ujarnya.


Laju pembangunan kompleks perumahan baru kini mengancam lahan sawah di Solok. Kalau dulu bareh solok bisa melengkapi ketiga kebutuhan tersebut (sandang, pangan dan papan), kini saling menggerus. Tuntutan perumahan membuat areal persawahan menyempit. Di sisi lain, kebutuhan pakaian dari hasil bersawah juga semakin sulit karena kebutuhan pangan tetap harus diimpor dari daerah lain.


Beruntung Kota Solok memiliki Pasar Raya, sehingga Bareh Solok yang berasal dari Saoklaweh, Cupak, Talang, Kotobaru dan Selayo tetap bisa dinikmati warga kota. (rzy)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!