Rabu, 22 Mei 2013 - 12 Rajab 1434 H 17:09:20 WIB
PRO SUMBAR

Zaleka, Hakim Ad-Hoc Pengadilan Tipikor Padang

Pernah Diancam dan Diintervensi

Padang Ekspres • Sabtu, 28/01/2012 13:58 WIB • (bis) • 295 klik

Zaleka

Menyandang tanggung jawab sebagai hakim Ad-hoc bukanlah sesuatu yang gampang. Banyak harapan ditopangkan masyarakat di pundak mereka. Terutama ketika memutus sebuah perkara korupsi.

Karena sama kita ketahui, perkara korupsi mendapat perhatian luas dari semua pihak. Namun demikian, apa yang diputuskan terhadap terdakwa korupsi tidak terlepas darimana kita memulainya. Apakah dimulai dengan niat yang baik atau malah sebaliknya. Bagaimana dengan hakim tipikor setiap kali memulai profesinya sebagai hakim?


Salah satunya Zaleka HG, SH. Dia adalah satu dari beberapa hakim Ad-hoc yang kini bertugas di Pengadilan Tindak pidana korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri (PN) Padang.


Sebelum berkarir sebagai hakim Ad-hoc wanita kelahiran 7 Mei 1962 itu sudah malang melintang dalam dunia hukum. Banyak sudah pengalaman hukum yang digeluti alumni Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) Padang angkatan 1981 tersebut.


Dia dilantik menjadi hakim Ad-hoc sejak tanggal 2 Mei 2011 lalu. Menjadi hakim adalah cita-citanya sejak tahun 1990-an. Sebelumnya dia pernah ikut tes hakim untuk peradilan umum. “Tapi gagal. Waktu itu saya ikhlas, mungkin waktu itu Tuhan belum mengizinkan saya,” tutur Zaleka.


Namun demikian, buah penantian panjang itu akhirnya terbayar. Dia malah diterima menjadi hakim Ad-hoc di Peradilan Tipikor. “Alhamdulillah cita-cita yang terpendam itu tercapai,” kata Zeleka kepada Padang Ekspres Kamis (26/1).


Dia merasa bahwa rahmat Allah itu sungguh-sungguh luar biasa. Dia percaya, dengan perjuangan keras yang terus dia lakukan, serta konsisten dengan apa yang dia kerjakan demi kebaikan masyarakat selama ini, akan dibalas Allah setimpal. Allah membuktikan itu.

“Allah memberikan rezeki dan pekerjaan yang baik kepada saya dan saya yakin itu,” ujar wanita yang juga pernah bekerja di Kantor Komnas HAM Sumbar ini.


Saat pembahasan UU Peradilan Tipikor yang diworshopkan di Sumbar, ketika itu Zaleka masih di berkecimpung di salah satu LSM, juga ikut membahas rancangan UU tersebut bersama  Saldi Isra.

Terutama dalam memberikan sumbang pemikiran terkait komposisi hakim Ad-hoc dan hakim karir, termasuk usia hakim Ad-hoc dan hakim karir. “Tapi tidak terbayangkan saat ini majelis hakim ini menjadi karir saya,” katanya dengan bangga bercampur haru.


Bagi Zaleka karir di dunia hukum bukan barang baru. Karirnya didunia hukum dimulai jauh sebelum dia menjadi hakim Ad-hoc. Sejak era 80-an dia sudah menjadi penyuluh hukum di salah satu radio di Padang . Kemudian berlanjut ke LBH Padang, LKBH Trisula hingga memimpin LBH Apik yang membela kaum perempuan.


Kecintaannya pada dunia hukum didasarkan pada kekhawatirannya terhadap proses hukum yang selama ini cenderung belum memihak pada orang-orang kecil. Atas dasar itu selama beberapa tahun dia mengabdikan diri sebagai “pelayan” bagi kaum-kaum lemah yang membutuhkan bantuan hukum.


Walau tak menafikan selama dia berprofesi sebagai orang yang konsisten memperjuangkan masalah hukum dan hak orang-orang lemah ini, tidak terlepas dari ancaman dan teror dan beberapa kali dapat intervensi.


Dia pernah di intervensi aparat, saat beberapa LSM memperingati hari perempuan nasional tahun 2009 lalu. Seperti biasanya dalam peringatan itu dilakukan orasi, tapi tidak secara anarkis. Dalam orasi itu dipertanyakan sejauh mana pemerintah sudah memperjuangkan hak-hak perempuan.

Usai orasi Zaleka diberita tahu temannya yang lain, bahwa ada beberapa nama yang sudah “ditandai” oleh aparat berwajib waktu itu. “Waktu itu secara tidak langsung saya dan juga kawan-kawan merasa diintimidasi walau caranya halus,” katanya.


Selain intimidasi Zaleka juga pernah mendapatkan SMS ancaman dari orang lain. Itu terjadi saat Zaleka mendampingi seorang klien yang tengah berperkara masalah harta. Anak dari salah satu pihak mengirim SMS ancaman kepada Zaleka. “Saya dituduh telah mengambil harta bapaknya. SMSnya berisi ancaman,” ujar Zaleka.


Menurutnya, selama ini masyarakat masih berpikir skeptis terhadap penegakan hukum. Namun selama proses penegakan hukum itu dilakukan sesuai rel-nya, dia percaya Allah akan selalu melindunginya dari ancaman-ancaman yang mungkin saja bisa membahayakan diri dan karirnya.

“Andai di rumah ada satpam tapi kalau Allah tidak berkenan segala sesuatu atas izin Allah. Segala sesuatu bisa saja terjadi, orang akan menghancurkan karir saya, membunuh saya, semua saya serahkan pada Allah. Yang penting kita punya niat, punya visi ke depan, bahwa penegakan hukum harus kita lakukan optimal denga niat yang baik dan selalu berkoordinasi dengan teman-teman dalam penegakan hukum di Sumbar,” aku Zaleka.


Berkenaan dengan penegakan hukum dan profesinya, dia selalu terus belajar menambah ilmunya serta kemampuannya sehingga bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.


Selain itu, dia tak lupa selalu berserah diri. Sebelum memulai hari-harinya di meja persidangan, dia selalu mengawalinya dengan menunaikan shalat Dhuha atau mengambil wudhu. “Saya punya pengalaman, waktu jadi pengacara tahun 1990-an, saat sidang hakim waktu itu tidak mau bicara karena diduga telah diguna-guna. Makanya saya selalu wudhu dan shalat Dhuha sebelum sidang. Dan malamnya saya Tahajud dan selalu berdoa agar bisa mengemban tugas dan bisa melaksanakan amanah dengan baik,” ujarnya.


Intinya bagi saya penegakan hukum harus dilakukan ecara bersama, dengan niat yang ikhlas dan tetap diatas relnya insyallah penegakan hukum itu akan berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.


Kendati punya agenda yang padat setiap senin-Jumat, selama hari libur Sabtu dan Minggu, Zaleka menyibukkan diri dengan agenda-agenda lain, mulai berkumpul bersama keponakannya dan mencoba resep makanan baru di majalah wanita yang dia baca.


Agar tidak monoton, banyak hal biasanya dia lakukan. Mulai dari berdiskusi dengan teman-teman di LSM juga meningkatkan kualitas diri sebagai wanita. Selain itu juga menyempatkan diri melakukan refhresing bersama para ponakan.


“Membaca majalah dan mencoba membuat resep baru makanan dan lain sebagainya. Selain itu terus belajar dan menimba ilmu dan pekerjaan lain yang menyangkut perempuan. Selain itu juga ikut majelis taklim dan karaoke di rumah,” sebut Zaleka. (bis)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kebangkitan, Manufacturing Optimisme

BERBICARA kebangkitan nasional di hari-hari seperti sekarang mungkin segera tergelincir ke arah pesimisme. Derasnya arus informasi memungkinkan manusia Indonesia menerima informasi jenis apa pun. Tetapi, kecenderungan ”naluriah” manusia selalu suka mengerumuni insiden. Karena itulah, jalanan kadang macet berat ketika ada kecelakaan, sekalipun orang yang celaka sudah minggir.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Rabu, 22 Mei 2013

Pelapor Bisa Ajukan Praperadilan

Jaan patah samangaik .................!

 

Disdik Siapkan PPDB Online

Lai dijamin ndak adoh titipan lai..............?

 

Lelang Proyek Gedung Parkir Dipertanyakan

Ado lo tacium baun busuk tu................................?