Khilda Baiti Rohmah, ”Ratu Sampah” dari Bandung
Kulit Pisang Sisa Kera, Disulap jadi Minyak Wangi
Padang Ekspres • Rabu, 18/01/2012 13:40 WIB • Fajar Rillah Vesky—Payakumbuh • 2224 klik

Gadis itu bernama Khilda Baiti Rohma. Usianya baru 23 tahun. Ia bercita-cita menjadi tukang insinyur seperti sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”. Agar cita-citanya tidak kandas di jalan, Khilda menimba ilmu di Fakultas Teknik Lingkungan, Universitas Pasundan. Untuk itu, Khilda rela menjadi loper koran dan kerja serabutan. Tapi belum selesai kuliahnya, Khilda malah jatuh cinta dengan sampah.
PENGUJUNG tahun 2006, seorang gadis yang nyantri di Pesantren Persatuan Islam Bandung, tertegun melihat lelaki renta pengumpul sampah. Lelaki bernama Ujang itu, setiap hari datang memungut sampah ke rumah neneknya di Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.
“Lelaki tua itu sangat rajin sekali. Ia mengumpulkan sampah, dari satu rumah ke rumah lain,” ujar sang gadis bernama lengkap Khilda Baiti Rohma kepada Padang Ekspres, selepas menjadi pembicara dalam “Konvensi Nasional ke-4 Program Pengelolaan Sampah Pasar Menjadi Pupuk Kompos Berkualitas Tinggi” di Payakumbuh, Selasa (17/1) siang.
Penasaran dengan lelaki tua pengumpul sampah yang setiap hari datang ke rumah neneknya, Khilda mencoba untuk berkenalan. “Saya akhirnya tahu, kalau kakek pengumpul sampah itu bernama Ujang. Biar lebih keren, namanya saya ganti dengan Pak Teddy,” ucap Khilda tersenyum kecil.
Senyumnya itu, alamak, sungguh memikat hati.
Dari perkenalan singkat dengan Ujang alias Pak Teddy, Khilda akhirnya mendapat informasi, jika lelaki pengumpul sampah itu sudah mengabdi 35 tahun. “Pak Teddy punya 8 orang anak. Tapi gaji yang diterimanya setiap bulan, hanya Rp 250 ribu. Bayangkan, bagaimana seorang pengumpul sampah bisa makan, dengan gaji hanya Rp 250 ribu,” kata Khilda prihatin.
Tidak hanya prihatin, batin gadis kelahiran 14 Juli 1988 itu juga memberontak. Ia sedih melihat rendahnya kepedulian pemerintah terhadap para pengumpul sampah di Indonesia. Tapi, Khilda tidak mau mengutuk kegelapan. Bekas editor konten Paseban.com itu lebih memilih untuk mulai menyalakan lilin.
”Kisah Pak Teddy, memotivasi saya untuk membantu pendapatan para pengumpul sampah. Awal tahun 2007, bermodal uang saku yang pas-pasan, saya mengajak para pengumpul sampah di lingkungan terdekat, agar memilah sampah organik dan nonorganik. Sampah organik, diolah menjadi kompos. Sampah nonorganik, dibuat menjadi aneka kerajinan,” ujar Khilda.
Inspirasi membuat kerajinan dari sampah nonorganik, diperoleh Khilda sewaktu menjadi relawan korban tsunami Aceh. ”Waktu di Aceh, saya lihat ada aneka kerajinan dari sampah. Setelah saya tanya, perajinnya ternyata orang Bandung. Saya pikir, kenapa tidak bikin kerajinan sampah saja? Setelah latihan di Cimahi, saya bisa pula bikin kerajinan sampah,” ucap Khilda.
Usaha Khilda mengajak pengumpul sampah memilah sampah organik dengan nonorganik, awalnya sempat mendapat cibiran. Maklum saja, Khilda hanyalah gadis yang baru kuliah di Fakultas Teknik Lingkungan, Universitas Pasundan, Bandung. Kendati mendapat cibiran, tapi Khilda tidak patah arang. Pengalaman sebagai volunteer pada sebuah LSM sewaktu duduk di bangku SMU, membuat Khilda menjadi gadis tangguh.
Apalagi, LSM bernama Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi Bandung yang ikut membesarkan Khilda, bergerak di bidang pengolahan sampah.
Pengalaman Khilda makin bertambah, manakala kampus tempatnya kuliah, meminta Khilda menjadi pendamping masyarakat di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Cimahi. Tugas pendampingan selama 6 bulan itu, tidak disia-siakan Khilda. Ia mendorong masyarakat membuat kompos dan aneka kerajinan.
Pulang dari tugas pendampingan di Cimahi, Khilda tidak mau berkubang teori di kampus. Bersama dosen Universitas Pasundan, Khilda membuat pelatihan pengolaan sampah di berbagai di tempat. Tidak itu saja, bersama Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Khilda juga melatih warga Desa Cikidang, Sukabumi.
Selepas melatih warga mengolah sampah, Khilda mendapat kerja praktik di Kelurahan Baros dan Kelurahan Cigundul, Sukabumi. Selama praktik di kedua desa, Khilda berhasil mendorong puluhan ibu-ibu membuat kerajinan sampah. Khilda juga menggagas pasar rakyat untuk pemasaran kerajinan sampah.
Siapa sangka, upaya Khilda mendorong ibu-ibu membuat kerajinan sampah dan menggagas kehadiran pasar rakyat, mendapat perhatian dari Kementerian Dalam Negeri. Sekitar tahun 2009, Kemendagri menetapkan Kabupaten Sukabumi sebagai peraih Government Award bidang pengolahan sampah.
Prestasi Bercampur Duka
Sekelindan dengan keberhasilan Sukabumi meraih penghargaan dari Kemendagri, Khilda yang tinggal di Cibeureum, Cimahi Selatan, mendapat informasi dari teman-temannya sesama pegiat sampah, soal pemilihan pemuda pemimpin perubahan yang digelar sebuah lembaga bernama Ashoka.
Khilda disarankan ikut dalam pemilihan bertajuk Young Change Maker Ashoka tersebut. Setengah ragu-ragu, Khilda akhirnya mengirim gagasannya soal air dan sanitasi. Gagasan itu dikemas dalam tulisan berjudul ”Managemen Pengelolaan Sampah, Berbasis Peningkatan Kesejahteraan bagi Para Pengelola Sampah”.
Di luar dugaan, tulisan Khilda akhirnya ditetapkan sebagai tulisan terbaik nasional. Khilda pun dinobatkan sebagai peraih Young Change Maker Award 2009. ”Sebelum menjemput penghargaan, uang di kantong saya hanya Rp 3 ribu. Saya kemudian menemui kakek, untuk minta uang dan menyampaikan penghargaan yang saya dapat,” ujar Khilda.
Oleh kakek, Khilda diberi uang Rp 50 ribu. Waktu itu, Khilda sama-sekali belum tahu, bahwa dia akan dinobatkan sebagai pemenang. Sebab panitia baru hanya memberi tahu, bahwa Khilda termasuk nominator pemenang. Walau begitu, kakeknya dengan penuh keyakinan mengatakan, bahwa Khilda akan menjadi juara.
”Beliau, menyuruh saya untuk pergi. Sesampai di lokasi acara, saya ternyata memang diumumkan sebagai juara. Saya senang dan ingin mengabari kakek. Begitu acara usai, saya cepat-cepat pulang. Tapi sesampai di rumah, kakek sudah tiada. Itulah prestasi yang penuh duka bagi saya. Sampai sekarang, saya tak bisa melupakan,” cerita Khilda penuh haru.
Usai kepergian kakeknya, Khilda mencoba bangkit. Bermodal dana proyek Ashoka yang menobatkannya sebagai peraih Young Change Maker Award 2009, Khilda mengembangkan pengolahan sampah ke berbagai daerah. Saat itu, Khilda bertemu seorang wartawan Pikiran Rakyat yang kemudian mengusulkan Khilda, sebagai nominator Sampoerna Pejuang 9 Bintang.
Gelar Nominator Sampoerna Pejuang 9 Bintang, membuat nama Khilda semakin melambung. Ketika Bank Danamon kembali menggelar ajang Danamon Award, untuk mengapresiasi putra-putri bangsa yang memberi inspirasi, nama Khilda masuk nominasi. Dalam proses pemilihan, Khilda terpilih sebagai peraih Danamon Award 2011.
Kesuksesan itu, membuat Khilda semakin terkenal. Mahasiswi berkerudung ini bertemu dengan Herman Riyadi, akademisi dari Universitas Ciputra, Jakarta. Herman mengajak Khilda, bekerja sama mengelola sampah penangkaran kera di Tanggerang. Sampah penangkaran kera itu, berupa kulit pisang dengan jumlah 4 sampai 5 ton setiap bulan.
”Kulit pisang sisa monyet, kami kelola menjadi minyak sampah. Sekarang, sudah lewat masa uji coba dan desain proyek. Kami juga sudah temukan investor, tinggal menunggu realisasi pendanaan. Investor yang merupakan perusahaan minyak wangi dan kosmetik itu, tertarik menjadikan minyak sampah berbahan metanol, untuk minyak wangi dan kosmetik,” kata Khilda.
Khilda juga dipercaya mengelola sampah mal di Cikarang Barat, sampah pertambangan di Ternate dan Papua. Bersama Asosiasi Selebritis Indonesia atau anak-anak Menteng, dia ikut pasar rakyat di Den Haag memasarkan kerajinan sampah nonorganik. Akhir tahun 2012 juga ada tawaran untuk ke Australia.
Di ujung percakapan, Khilda yang masih tertutup bicara soal cinta, berharap kaum muda di Indonesia, tidak menganggap remeh sampah ataupun pengumpul sampah. ”Sampah bisa menjadi persoalan serius bila tidak dikelola. Pengumpul sampah adalah pahlawan yang perlu diberdayakan, sehingga bisa sejahtera,” ucap owner Sampahkoe ini.
Pada akhirnya, Khilda yang datang ke Kota Payakumbuh bersama Ketua Yayasan Danamon Peduli Boniara Siahaan, harus mengungkapkan dalam hatinya, Your Succes is Not Final. ”Hati kecil saya berbisik, kesuksesan kamu belum final. Hatur Nuhun, Uda,” ucap Khilda, seraya bersiap-meninggalkan Payakumbuh, di sore penuh gerimis itu. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]