Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 18:36:18 WIB
METROPOLIS

Padang Potensi Gempa 8,9 SR

Padang Ekspres • Minggu, 15/01/2012 09:44 WIB • (mg8) • 3391 klik

Siaga Bencana: Workshop Penanggulangan Bencana di BPBD Sumbar di Hotel Pangeran

Padang, Padek—Sekali lagi, Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana, Andi Arief menyebut potensi gempa dengan magnitude 8,9 Skala Richter (SR) besar kemungkinan terjadi di Padang, atau pantai barat Sumatera secara keseluruhan. Pertengahan tahun lalu, tepatnya 19 Agustus 2011, dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, perkiraan itu juga disampaikan Andi.


Andi menyebut, potensi gempa 8,9 SR kemungkinan besar akan terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera dan selat Sunda. Bahkan dia menengarai magnitudonya bisa mencapai 9,2 SR. Sontak komentar itu menjadi kontroversi di beberapa media karena dianggap sebagai upaya pengalihan isu politik, dan membuat panik warga di sepanjang garis pantai barat Sumatera.


Tak terkecuali di Padang. Andi dinilai hanya mengumbar sensasi belaka. “Tak masalah jika dianggap kontroversi. Tetapi yang saya katakan itu, adalah prediksi berbagai pengamat, berdasarkan data dan siklus kegempaan.

Mungkin karena saya bagian dari politik maka persepsi masyarakat demikian,” kata Andi usai Workshop “Peran Jurnalis dalam Penanggulangan Bencana” yang digelar BPBD Sumbar di Hotel Pangeran Beach, kemarin (14/1).


Dia menegaskan gempa besar pernah terjadi di Padang. Pada setiap peristiwa gempa, siklus pengulangan selalu terjadi. “Saya kira lebih baik pahit dari awal, dengan mengatakan kepada masyarakat soal potensi bencana itu. Daripada ditutup-tutupi, hanya membuat masyarakat lengah,” terangnya.


Andi menunjuk contoh gempa dan tsunami di Sendai, Jepang awal tahun lalu. Potensi gempa 9 SR yang diamati ahli ditutup-tutupi oleh pemerintah. Sehingga masyarakat baru sadar ketika gempa itu benar-benar terjadi. Untung Jepang sudah memiliki sistem pengamanan dan mitigasi bencana yang terencana dengan baik. Jumlah korban tewas pun bisa diminimalisir.


“Nah, bayangkan kalau potensi sebesar itu terjadi di Indonesia dengan persiapan kebencanaan yang belum maksimal, bisa dihitung dampaknya,” tuturnya. Makanya dia menyebut prediksi para ahli itu perlu disebarluaskan untuk terus mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya yang mengancam.


Cuma masalahnya, tambah Andi, upaya penanggulangan yang dilakukan pemerintah masih terbilang lambat. Seperti jalur-jalur evakuasi masih banyak yang belum tuntas. Begitu juga dengan pembangunan shelter-shelter masih bisa dihitung jari.


“Untuk itu, mungkin pemerintah daerah perlu tegas. Kalangan menengah ke atas diminta membangun shelter sendiri. Sementara pemerintah fokus membangun shelter mini untuk masyarakat menengah ke bawah,” ulasnya.


Belakangan, kata Andi, mawas diri masyarakat terhadap bencana mulai tampak kurang. Padahal sejak zaman nenek moyang, mitigasi yang bersifat kearifan lokal. Sehingga perlu usaha bersama untuk menggali sejarah masa lalu tentang kebencanaan, melalui fable, folklore atau bentuk lainnya. Nilai-nilai itu menjadi referensi untuk mengukur potensi dan kemungkinan datang siklus berikutnya. Serta antisipasi secara tepat dan efisien dapat dilakukan.


Di tempat yang sama, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Yazid Fadhli menyebut pihaknya sudah menyusun protap penanggulangan bencana di Sumbar.

“Kami sudah petakan jalur-jalur evakuasi di Pessel, Padang, Pariaman, Padangpariaman, hingga Pasaman. Termasuk titik-titik shelter yang bisa menampung manusia dalam jumlah besar,” katanya.


Workshop ini ditujukan untuk memberikan pemahaman dan peringatan dini kepada masyarakat untuk memahami ancaman di depan mereka. Serta mampu mengambil sikap yang bijak untuk mengatasinya.


Wartawan pun, kata Direktur Eksekutif JJSB, John Nedy Kambang diharapkan memiliki pengetahuan dan merubah cara pandang terhadap pola pemberitaan kebencanaan di media massa.


“Kadang kita miris melihat media kita, hanya mengedepankan sisi tragis untuk diberitakan dari sebuah bencana. Cara pandang bad news is good news harus diubah,” katanya. 

Turut hadir, pemateri Ahmad Arif (Jurnalis Kompas) yang kenyang pengalaman liputan bencana, Dr Irene (Dinas Kesehatan Sumbar), Irwan Basyir (Dinas Sosial Sumbar) dan Ris Wijaya (Dinas Prasjaltarkim Sumbar). Mereka menjelaskan kaitan bidang mereka dalam penanggulangan bencana. (mg8)
    
 

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita
Dari : hafid
Minggu, 22/01/2012 - Jam 15:16 WIB
terjadi tak terjadinya gempa tersebut ada di tangan Allah.kita sebagai umat manusia hanya bisa bertawakal dan mendekatkan diri kepadaNya.
Dari : andika
Kamis, 19/01/2012 - Jam 17:23 WIB
Mestinya yang di blow up itu sistem penanggulangan bencananya, kenapa harus fokus ke sistemnya, bagaimana seharusnya, siapa yg bertanggung jawab dllllllll.... Lah ini udah workshop jurnalis, masih gini2 aja pemberitaannya.

Bikin bad mood aja!!!
Dari : zulindo
Senin, 16/01/2012 - Jam 15:21 WIB
Kita istiqfar dan mendekatkan diri kepada sang pencipta saja Pak, kalau kita selalu mendengar rumor yang berkembang takutnya merusak aqidah kita
Dari : wewenk
Senin, 16/01/2012 - Jam 07:53 WIB
tolong disampaikan kepada Bung Andi...

Anda itu staf khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana... kok malah kritik pemerintah soal upaya penanggulangan?? Lha bukannya itu tugas anda agar pemerintah lebih giat??
Anda ini perpanjangan tangan langsung dari Presiden lho...

Jadi orang jangan Cuma Omong Doang Mas!!!
Dari : armen
Minggu, 15/01/2012 - Jam 21:41 WIB
Kata Pak Andi Arif (Staf Khusus Presiden Bidang Sosial & Bencana) Potensi Gempa dgn Mag 8,9SR,besar kemungkinan terjadi di Padang.Tapi Pak Badrul Mustafa (Ahli Gempa Sumbar) membantah pernyataan Pak Andi Arif tersebut....Jadi,mana yang betul dan mana yang salah neh....Bengong jadinya


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!