Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 13:14:22 WIB
RAKYAT SUMBAR

Melirik Unit Ramah Anak di Padusunan

Anak Pariaman tak Takut lagi ke Puskesmas

Padang Ekspres • Rabu, 30/11/2011 14:13 WIB • ZIKRINIATI ZN — Pariaman • 339 klik

Anak-anak adalah kelompok rawan korban kekerasan, pelecehan dan diskriminasi. Jika hak-hak hidup mereka tak dilindungi, negeri ini akan kehilangan generasi di masa mendatang.

 

BONUS demografi Indonesia pada 2020-2050, bisa berbuah petaka bagi Kota Pariaman bila tidak menyiapkan generasi berkualitas sejak sekarang. Tidak terpenuhinya hak-hak hidup anak, tumbuh menjadi generasi yang akan menjadi beban daerah.


Nasib generasi mendatang, ditentukan bagaimana generasi sekarang memperlakukan anak-anak di usia emas. Salah urus, bisa berakibat fatal. Di sinilah peran penting posyandu, dan puskesmas.  


Menyikapi itu, Puskesmas Padusunan Kota Pariaman membangun ruang Unit Ramah Anak. Di ruangan ini, juga ada ruangan Pojok ASI dan Unit Pemulihan Gizi. Unit yang baru diresmikan tiga minggu lalu ini, menjadi ruangan favorit anak-anak di Pariaman, khususnya anak Padusunan.


Di ruangan ini, banyak permainan edukatif yang bisa dimainkan anak, mulai dari balok, lego, bola plastik warna-warni hingga puzzle aneka hewan.  Sedangkan di dinding ruangan, dipenuhi poster pesan-pesan kesehatan yang dikemas semenarik mungkin sehingga mengundang anak untuk bertanya.


Kehadiran unit yang tergabung dengan pelayanan kesehatan anak ini sangat membantu orangtua yang ingin memeriksakan kesehatan dan tumbuh kembang anak.


“Awalnya, sulit sekali membujuk si kecil mau ke puskesmas karena takut disuntik.
Setelah saya bilang di puskesmas banyak mainan, baru dia menurut. Sampai di puskesmas, eh malah ndak mau pulang,” ujar Teti, warga Koto Marapak Padusunan kepada Padang Ekspres di puskesmas, kemarin.


Saat itu, Teti tengah menunggu resep obat anaknya di Unit Ramah Anak Puskesmas Padusunan. Anak Teti yang berusia enam tahun itu, terserang infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) sejak lima hari lalu. Awalnya, Teti mengatasi penyakit anaknya dengan obat-obat di warung. Namun karena tak kunjung sembuh, ia membawa anaknya ke puskesmas.


Ternyata di Unit Ramah Anak, Teti tidak hanya dapat mengobati anaknya, tetapi juga mendapatkan penjelasan dari tenaga medis tentang tumbuh kembang anaknya. Oleh tenaga medis, dia sarankan memperbaiki pola makan anaknya. “Idealnya, seusia anak saya, berat badan 18 kg. Sedangkan berat badan anaknya, 14 kg,” tuturnya.


Meski senang dengan tambahan pelayanan Unit Ramah Anak ini, namun Teti berharap Pemko Pariaman menambah fasilitas lainnya. Salah satunya, toilet. “Dari sekian banyak toilet, hanya dua berfungsi. Yang lainnya rusak,” ujar ibu tiga anak itu.


Di sebelah ruangan Unit Ramah Anak, terdapat ruangan pojok ASI. Pasien yang membawa bayi, tidak perlu lagi menyusui anak di ruang tunggu, tetapi bisa memanfaatkan ruangan ini. Di dalam ruangan ini, pasien juga bisa mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya ASI eksklusif.


Sementara untuk ibu hamil, ruangan ini dapat digunakan untuk mendapatkan pengetahuan tentang cara menyusui yang baik, dan perawatan puting susu sehingga memberikan ASI eksklusif untuk bayinya usai melahirkan nanti.


Fasilitas lain adalah ruang pemulihan gizi. Di ruangan ini, para orangtua mendapatkan penyuluhan tentang pola makan anak. Layanan ini terintegrasi dengan unit ramah anak.


Data Dinas Kesehatan Kota Pariaman mencatat angka gizi kurang di Pariaman tahun 2011adalah  0,1persen dari 8.000 balita.
“Pariaman telah ditetapkan sebagai Kota Layak Anak (KLA). Karena itu, Pemko Pariaman harus bisa melindungi dan memenuhi hak-hak anak yang terencana secara menyeluruh (holistik) dan berkelanjutan (sustainable),” Kepala Dinas Kesehatan Pariaman, Yanra Fery.


Salah seorang tim tenaga medis Unit Ramah Anak Puskesmas Padusunan, Badriayah mengungkapkan, sejak adanya Unit Ramah Anak ini, terjadi peningkatan kunjungan pasien di Puskesmas Padusunan. Jika sebelumnya rata-rata kunjungan pasien 10 orang sehari, kini naik 20 orang sehari.


“Mereka yang dulunya mengatasi penyakit anaknya dengan obat-obatan kampung, kini sudah mulai melirik puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Begitu juga warga lain, banyak yang memilih berobat ke Puskesmas Padusunan, karena mendengar adanya pelayanan khusus untuk anak,” pungkasnya. (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Menunda Akuisisi BTN

MASIH teringat dari layar TV, wajah Budi Gunadi Sadikin semringah sepekan lalu. Kegembiraan bos Bank Mandiri yang baru berumur 40 tahun itu disebabkan terwujudnya impian yang dia idam-idamkan sejak lama. Yakni, mem­bawa bank yang dipimpinnya menjadi salah satu bank yang patut diperhitungkan di kancah ASEAN.

Butuh Listrik

Yth. Bapak kepala PLN...Kapan kampung kami (Kabupaten Pessel, Kecamatan Sutera Kenagarian Koto Nan 3 Selatan) akan dialiri listrik, padahal kampung kami bukan kampung terpencil..kami sekampung sangat berharap perhatian dan tindak lanjut dari bapak. Atas perhtian Bapak kami skmpg mengucapkan terima kasih. Wassalam.

Jumat ,25 April 2014

Perempuan Berpeluang Pimpin DPRD

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai.............................!

 

Puluhan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Jan sampai ndak panen lo Pak, ka kida suok beko...............................!

 

Korban Gigitan Musang Meninggal

Inalilallahi, awak ikuik baduka pak.................................................!